
...***...
Setelah selesai mengumandangkan adzan. Jaya Satria turun ke bawah, mendekati pemuda yang mengamuk itu. Selanjutnya ia mendekati pemuda itu, menyentuh kepala pemuda itu, membacakan ayat kursi, surat al-fatiha, surat Al-Ikhlas, Al-alaq, dan An-Nas.
"Siapa dia? Sepertinya dia memang memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi, hingga dia mampu mengatasi orang kesurupan itu."
"Ya, dia memang sakti."
Sedangkan warga desa hanya menyaksikan apa yang dilakukan oleh Jaya Satria dengan terheran-heran. Mereka tidak menduga jika ada pemuda hebat yang dapat menenangkan orang yang sedang dalam keadaan kesurupan.
"Maaf semuanya? Apa yang terjadi pada dirinya sehingga ia mengamuk?."
"Dia kesurupan tuan pendekar."
"Kesurupan?."
"Benar tuan pendekar, dia belajar ilmu dukun dari ki sawitrah."
Mereka semua melihat ke arah dukun itu, membuat Ki Sawitrah terkejut. Tidak menduga jika mereka melihat ke arahnya dengan tatapan melotot?.
"Astaghfirullah hal'azim." Jaya Satria melihat ke arah orang tua itu. "Apakah di desa ini tidak ada pemangku agama sehingga di desa ini mempelajari ilmu sesat?."
Mereka semua terdiam, tertunduk karena memang tidak ada yang seperti itu di desa ini. Karena memang tidak ada yang seperti itu di desa mereka.
"Tidak ada tuan pendekar, karena kampung kami berada di perbatasan antara dua kerajaan besar, Antara kerajaan tiga telapak dan kerajaan mekar jaya."
"Ya, tuan pendekar, lagi pula kami dari dulu masih bingung mau masuk daerah mana karena tidak tau ini wilayah kerjaan mana."
"Jadi begitu?."
"Lalu apa yang harus kami lakukan tuan pendekar?."
"Untuk saat ini, kalian berhentilah belajar ilmu yang menyesatkan selain ilmu agama islam, belajar ilmu dukun hanya akan merugikan diri sendiri." Ia melihat ke semua arah, termasuk ke arah aki sawitrah.
"Heh!." Aki Sawitrah mendengus kesal, ia sangat tersinggung.
"Maafkan saya aki, bukan bermaksud saya untuk menggurui aki." Jaya Satria memberi hormat. "Namun dengan kerendahan hati saya meminta agar aki tidak mengajarkan ilmu sesat itu pada siapapun."
"Baiklah tuan pendekar, saya janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Ia terpaksa mengiyakannya karena tatapan warga desa yang sangat menusuk.
"Alhamdulillahirobbil a'lamin jika aki mau mendengarkan apa yang saya ucapkan."
"Lalu bagaimana dengan kami tuan pendekar?."
"Atau tuan pendekar yang mau mengajari kami semuanya belajar ilmu agama islam yang baik dan benar."
"Karena wilayah ini masih belum diketahui milik wilayah siapa? Saya tidak bisa berbuat sesuka hati di wilayah manapun."
"Tapi tuan pendekar?."
"Saya sebagai utusan Prabu asmalaraya arya ardhana akan mencoba untuk berunding dengan prabu rahwana bimantara, dan prabu guntur herdian, semoga saja keduanya menanggapi perihal ini dengan baik."
"Jadi tuan pendekar adalah utusan dari gusti prabu asmalaraya arya ardhana dari kerajaan suka damai?."
"Ya, itu benar."
"Oh? Dewata yang agung? Sesuai dengan nama, ardhana yang artinya membawa perdamaian."
"Kami mohon tolong bantu kami tuan pendekar."
"Kami tidak ingin mengalami hal yang buruk."
Mereka semua merasa bersyukur karena setelah bertahun-tahun hidup di desa perbatasan yang tidak tahu masuk wilayah mana. Hari ini mereka sangat bahagia karena ada utusan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang kebetulan melewati desa ini?.
"Untuk saat ini saya harap kalian semua tetap tenang beraktifitas seperti biasanya." Jaya Satria mencoba menenangkan mereka. "Tapi saya harap jangan ada lagi yang belajar ilmu dukun atau semacamnya."
"Baiklah tuan pendekar."
"Kami akan menunggu kabar baik dari tuan pendekar."
"Kalau begitu saya mohon pamit, sampurasun."
"Rampes."
Jaya Satria meninggalkan desa itu. Ia berharap mereka benar-benar meninggalkan hal buruk itu. Menunggunya kembali ke desa ini dengan kabar yang baik.
...***...
Di istana Kerajaan Suka Damai.
"Kakek prabu? Apa yang terjadi sebenarnya pada kakek prabu? Mengapa kakek prabu datang ke istana ini dalam keadaan terluka?." Air itu jatuh berderai menandakan betapa sedihnya hatinya saat ini.
Sementara itu Ratu Dewi Anindyaswari, Ratu Gendhis Cendrawati, Putri Andhini Andita, putri Agniasari Ariani, dan Raden Hadyan Hastanta melihat itu dengan simpati.
"Hatiku sangat hancur, terluka sangat dalam sekali nanda Prabu." Prabu Rahwana Bimantara menangis sedih, karena mengingat apa yang ia alami.
__ADS_1
"Putri yang aku besarkan dengan sepenuh hati? Kasih sayang yang tak pernah putus aku berikan padanya? Serta cucu-cucu yang aku banggakan? Malah menghadapkan ujung keris kepadaku nanda prabu."
Deg!.
Mereka semua sangat terkejut mendengarnya, apakah mereka salah dalam pemikirannya yang mengatakan?.
"Pemberontakan?!."
Setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya saat itu, mereka takut memberikan pendapat seperti itu. Namun Prabu Rahwana Bimantara sendiri yang mengatakannya pada mereka.
"Mereka semua melakukan pemberontakan padaku, aku sangat terluka." Terlihat sangat jelas bagaimana perasaan hatinya hancur dengan sikap mereka. "Hatiku, perasaanku, bahkan ragaku juga ikut terluka nanda prabu."
"Kakek prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasakan itu, perasaan yang sangat sakit. "Ananda harap kakek prabu bersabar, karena Allah SWT sedang menguji kakek prabu."
"Kakek prabu? Kami semua akan membantu kakek prabu untuk memberi mereka pelajaran." Putri Andhini Andita terlihat sangat marah.
"Tenanglah yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memperingati kakaknya. "Jangan sampai terbawa amarah, biarkan kakek prabu tenang dulu."
"Benar yang dikatakan nanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari sangat setuju. "Kita jangan sampai memanasi situasi yang sedang berduka." Ia usap bahu Putri Andhini Andita dengan lembut. "Kemarahan yang dirasakan didalam kesedihan hanya akan menimbulkan dendam dan ingin balas dendam, itu sangat tidak baik."
"Maafkan saya ibunda, rayi prabu." Putri Andhini Andita mencoba untuk menenangkan dirinya. "Saya sangat sedih karena perlakuan mereka pada kakek prabu." Dari matanya terlihat sangat jelas bagaimana kesedihan itu ia rasakan. "Apalagi saat kami datang ke istana kerajaan waktu itu? Raka ganendra garjitha menikam rayi prabu dengan keris miliknya, saya tidak akan pernah melupakan kejadian itu." Hatinya sangat sakit mengingat itu, tanpa sadar air matanya menetes begitu saja ketika melihat ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Deg!.
Ratu Dewi Anindyaswari, Ratu Gendhis Cendrawati, Putri Agniasari Ariani, Raden Hadyan Hastanta sangat terkejut mendengar itu.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, benar kah itu putraku?." Ratu Dewi Anindyaswari sangat terkejut mendengarnya. "Kenapa nanda tidak menceritakannya pada ibunda?." Ratu Dewi Anindyaswari sangat sedih mendengarnya.
"Maafkan aku atas kejadian itu nanda putri dewi anindyaswari, maafkan atas kelalaianku karena tidak bisa menjaga putramu ketika masa pedang yang telah aku ciptakan karena ucapan mereka." Prabu Rahwana Bimantara sangat sedih mengingat itu. "Sungguh! Maafkan aku." Hatinya juga sedih jika teringat kejadian menyakitkan hari itu.
"Kakek prabu, tidak apa-apa." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa tidak enak hati. "Ibunda, itu hanyalah kesalahpahaman saja, itu sudah berlalu, nanda baik-baik saja ibunda."
"Oh? Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari hanya mencoba bersabar saja.
"Yunda andhini andita, jangan mengungkit yang telah berlalu, pasti sangat menyakitkan jika diingat terus."
"Tapi itu memang sangat keterlaluan rayi Prabu, dia menikam mu di depan mataku, hatiku sangat sakit mengingatnya." Putri Andhini Andita semakin menangis saat berkata seperti itu.
"Nanda ganendra garjitha melakukan itu pada nanda prabu?." Begitu juga dengan Ratu Gendhis Cendrawati. "Kenapa dia begitu jahat padamu nanda Prabu? Tidak punya perasaan sama sekali." Ratu Gendhis Cendrawati tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat itu.
"Ibunda Ratu gendhis cendrawati?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terkejut mendengarnya.
"Keterlaluan sekali, ia mencelakai seroang adik, juga seorang raja?." Bahkan Putri Agniasari Ariani juga marah. "Apakah dia tidak memiliki hati nurani? Apakah dia tidak mengetahui jika kita ini bersaudara? Tapi kenapa dia sangat kejam padamu rayi Prabu?." Putri Agniasari Ariani juga merasa sakit hati mendengar ucapan itu.
"Yunda agniasari ariani." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat bagaimana reaksi dari kakaknya.
"Yang berlalu biarlah berlalu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menenangkan mereka semua. "Namun yang saat ini, kita harus memulihkan keadaan kakek Prabu." Matanya kembali tertuju pada Prabu Rahwana Bimantara. "Setelah itu kakek prabu yang berhak untuk menentukan apa yang akan dilakukan? Nanda hanya mengikuti apa yang ingin kakek prabu lakukan."
"Terima kasih, nanda prabu begitu perhatian padaku yang sudah tua ini." Hatinya semakin sedih atas apa yang telah terjadi.
"Kakek Prabu jangan berkata seperti itu, meskipun kita tidak memiliki ikatan darah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum ramah. "Namun kakek prabu adalah mertua dari mendiang ayahanda prabu, orang yang dihormati oleh mendiang ayahanda Prabu, itu artinya kita ini adalah keluarga kakek prabu."
"Oh? Nanda prabu?." Hatinya semakin tersentuh dengan ucapan itu. "Sungguh mulia sekali hati nanda prabu, sama seperti mendiang menantuku Prabu kawiswara arya ragnala yang selalu memperlakukan aku dengan sangat baik." Prabu Rahwana Bimantara sangat mengingat bagaimana perhatiannya mendiang gusti Prabu Kawiswara Arya Ragnala padanya. Ia semakin menangis sedih mengingat bagaimana situasi saat itu. "Oh? dewata yang agung? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Maafkan aku." Dalam hatinya sangat sedih yang menjadi-jadi.
Saat itu prabu Asmalaraya Arya Ardhana membacakan sholawat badar, untuk membuat hati prabu Rahwana Bimantara sedikit tenang.
"Suara ini? Aku sangat merindukan suara ini." Dalam hati Prabu Rahwana Bimantara mencoba untuk meresapi merdunya suara prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
...***...
Di istana Mekar Jaya
"Bagaimana jika kakek prabu sampai di istana suka damai raka prabu?."
"Pilihannya hanya satu! Perang dengan kita karena kakek prabu mengadu semua apa yang kita lakukan padanya? Namun aku berharap jika kakek prabu mati di jalan, karena tidak mungkin bagi kakek prabu menahan luka akibat kerisku!."
"Kalau begitu kita harus mempersiapkan kemungkinan itu nanda prabu! Jika pasukan kerajaan suka damai datang menyerang? Kita sudah melakukan persiapan perang."
"Ibunda benar raka prabu, kita harus mempersiapkan segalanya."
"Baiklah! Aku setuju! Sebab yang akan kita hadapi adalah rayi prabu, dan juga orang bertopeng itu! Aku yakin kekuatan mereka saja mampu mengatasi prajurit kita."
"Nanda prabu bisa menyewa pendekar sakti mandraguna untuk mengatasi mereka berdua, sisanya nanda Prabu, nanda gentala giandra pasti bisa mengatasinya tanpa kendala."
"Ibunda sangat pintar, penasehat yang cerdas."
"Terima kasih atas pujian nanda Prabu."
Mereka semua tersenyum puas.
"Nanda akan mengutus paman rangga palapati, untuk menghimpun semua pendekar hebat, untuk bergabung dengan kita."
Mereka mempersiapkan segala kemungkinan yang akan mereka hadapi. Tanpa memikirkannya dengan hati nurani. Hanya mengikuti hawa nafsu ingin berkuasa. Serta mengumbar keinginan-keinginan yang membuat mereka lupa, siapa yang mereka perangi.
...**...
__ADS_1
Sementara itu, putri Ambarsari di biliknya merasa gelisah, sedih, tidak percaya dengan apa yang ia saksikan pada hari itu. Hatinya sangat sedih, merintih ratapan pilu melihat bagaimana kedua kakaknya dengan tega menyerang Prabu Rahwana Bimantara.
"Kakek prabu? Semoga kakek prabu baik-baik saja." Dalam tangisnya, ia sangat berharap jika Prabu Rahwana Bimantara masih selamat.
"Yunda? Jika hati nurani sudah dipenuhi dengan keinginan-keinginan busuk? Maka ia tidak akan memiliki akal yang sehat untuk menyadari apa yang ia lakukan itu salah." Ucapan Putri Andhini Andita masih terngiang-ngiang di dalam ingatannya. "Suatu hari nanti, aku akan membalas perbuatan raka ganendra garjitha karena dia telah melukai adikku!." Dengan amarah yang sangat membara ia berkata seperti itu. "Aku akan menghajarnya! Sebagai seorang kakak yang sakit hati karena adiknya disakiti! Aku pasti akan memberikannya pelajaran padanya suatu hari nanti! Yunda harus ingat itu! camkan baik-baik ucapanku ini." Amarahnya sangat membara setelah apa yang terjadi pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Raden Cakara Casugraha kala itu.
"Dewata yang agung? Apa yang harus hamba lakukan?." Hatinya dipenuhi oleh kegundahan yang luar biasa. "Kemarahan rayi andhini andita sangat murni saat itu, ia telah berubah, ia membela rayi cakara casugraha dengan segenap hatinya sebagai saudara." Dalam hatinya tidak menduga jika adiknya Putri Andhini Andita akan berkata seperti itu sebelum ia pergi meninggalkan istana Kerajaan Mekar Jaya.
Di saat yang bersamaan, ia juga mengingat apa yang dikatakan oleh adiknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Ketika hati kita gundah memilih sesuatu? Tanyakan pada hati nurani kita yang masih menginginkan kebaikan." Dengan senyuman ramah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berkata seperti itu. "Janganlah turuti bisikan yang akan membuat kita menyesal seumur hidup, hati nurani kita yang masih bersih dapat memilih mana yang baik mana yang benar." Lanjutnya dengan ucapan yang baik. "Maka ikutilah, karena jawaban yang sesungguhnya terletak pada kesabaran hati yang mampu menilai sebuah kebenaran atau kesalahan."
"Kakek Prabu, maafkan aku." Ia semakin menangis terisak, hatinya iba mengingat bagaimana perlakuan saudara-saudaranya pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ketika datang ke istana ini. Serta perlakuan buruk pada prabu Rahwana Bimantara yang jelas-jelas mau menampung mereka setelah apa yang mereka lakukan pada Kerajaan Suka Damai, rumah mereka sendiri?.
Putri Ambarsari menghapus air matanya. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya. Mempersiapkan barang-barang yang akan ia bawa.
"Baiklah! Aku memutuskan untuk kembali ke istana kerajaan suka damai, tapi kepergianku tidak boleh sampai diketahui oleh mereka, atau aku akan dalam bahaya?."
Tentunya ia harus waspada. Karena ia tidak mau mendapatkan masalah karena ini. Ia telah memutuskan untuk mengikuti hal yang baik. Ia bersumpah masih memiliki hati nurani yang baik untuk menyadari kelakuan jahat yang dilakukan oleh ibundanya, serta kedua kakaknya.
Apakah putri Ambarsari akan berhasil pergi dari istana kerjaan mekar jaya dengan aman tanpa ada kendala?. Temukan jawabannya.
...**...
Jaya Satria sudah sampai di istana. Ia langsung menemui Prabu Asmalaraya Arya Ardhana di ruang pribadi raja.
"Jadi kakek Prabu dilukai oleh mereka? Sangat kurang ajar sekali."
"Aku merasa prihatin dengan apa yang menimpa kakek Prabu."
"Hamba juga merasakannya Gusti, kesedihannya? Kemarahannya? Ketidakberdayaannya karena orang yang ia hadapi adalah darah dagingnya sendiri."
"Kita harus bijak mengambil keputusan agar tidak menimbulkan perang saudara lagi."
"Tapi hamba rasa itu sangat sulit untuk menghindarinya, mengingat bagaimana sikap mereka yang tidak mau menerima apa yang kita katakan, terutama pada gusti Prabu, hamba sangat yakin itu."
"Astaghfirullah hal'azim ya allah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya.
"Sebenarnya hamba ingin membahas masalah desa gamang, tapi rasanya ini bukan waktu yang tepat."
"Ya, kau benar, kondisi kakek prabu yang sekarang sangat memprihatikan, juga tidak mungkin aku mengutusmu ke sana lagi."
"Kalau masalah kerajaan telapak tiga, hamba rasa, kirimkan saja surat untuk menyampaikan apa yang terjadi pada desa itu."
"Ya, itu benar, aku akan memerintahkan utusan untuk mengantar surat itu."
"Lalu bagaimana dengan keamanan kerajaan ini gusti? Apakah hamba akan menjaga keamanan?."
"Jika masalah keamanan, aku rasa serahkan pada senopati mandaka sakuta."
"Baiklah, hamba juga akan memerintahkan para pendekar untuk berjaga-jaga di tiap desa."
"Ya, kita harus selalu waspada." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa terbantu dengan adanya Jaya Satria.
"Kalau begitu, kita pikirkan cara menyembuhkan kakek prabu, karena obat yang aku berikan padanya hanyalah penahan rasa sakit sementara, aku takut sakitnya sewaktu-waktu kambuh lagi"
"Kalau begitu, hamba akan pergi ke pantai selatan untuk menemui nyai bestari dhatu, semoga beliau mau datang ke istana ini untuk mengobati kakek prabu."
"Ya? Nyai bestari dhatu terkenal dengan keahliannya dalam ilmu pengobatan, saat itu aku disembuhkan olehnya ketika aku berada di bawah pengaruh pendekar jahat yang ingin memperbudakku."
Rasanya prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak ingin mengingat kejadian itu. Namun ia bersyukur karena Allah SWT masih menyayanginya melalui bantuan wanita ahli obat itu.
"Tapi setidaknya ilmu pengobatan yang kita miliki, karena belajar dari nyai bestari dhatu, bukan?."
"Ya, itu sangat benar." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil mengingat bagaimana waktu itu ia belajar cara mengobati.
"Kalau begitu hamba mohon izin untuk segera berangkat ke sana"
"Kau baru saja sampai jaya satria, ibunda sangat ingin bertemu denganmu, ibunda sangat mencemaskan keselamatanmu, ibunda bahkan mendapatkan firasat buruk sebelum kau diserang dua orang pendekar pemburu benda pusaka itu"
"Hamba akan menemui ibunda, setelah itu hamba akan pamit pada ibunda untuk menemui nyai bestari dhatu, kita tidak boleh membuang waktu, atau kita akan kehilangan kakek prabu."
"Tapi aku harap kau berhati-hati saat menjelaskannya pada ibunda tentang tujuanmu pergi ke pantai selatan."
"Sandika Gusti prabu, tapi hamba yakin ibunda akan setuju mengingat kondisi kakek prabu yang sekarang."
"Semoga saja."
Sungguh ia sangat cemas dengan apa yang terjadi.
"Ya Allah, semoga semuanya baik-baik saja. Berikanlah keselamatan kepada kakek prabu."
"Aamiin ya Allah, aamiin ya rabbal 'aalamiin."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria berdoa kepada Allah SWT, tentu saja mereka menginginkan kebaikan bagi semuanya.
__ADS_1
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Prabu Rahwana Bimantara bisa diselamatkan dari sakitnya?. Temukan jawabannya.
...***...