RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERTARUNGAN DAHSYAT


__ADS_3

...***...


Istana Kerajaan Suka Damai.


"Diam kau! Aku sudah muak dengan apa yang kau katakan!." Renjana Kala menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan ganasnya. Sementara itu Ratu Gempita Bhadrika berhadapan dengan Jaya Satria.


"Aku tidak akan mengampuni kau! Akan aku bunuh kau!." Ratu Gempita Bhadrika memainkan jurus hawa serap jiwa kegelapan miliknya.


"Kau pikir aku tidak bisa memainkan jurusku? Kau juga akan merasakan jurus yang sama!." Jaya Satria memainkan jurus Cakar Naga Cakar Petir.


Keduanya sama-sama menggunakan jurus serap jiwa Kegelapan. Pertarungan hidup atau mati? Siapakah yang akan bertahan? Siapakah yang akan mati?. Hanya waktu yanga akan menjawab itu semua.


"Hai sang penguasa kegelapan malam tiada ujung? Aku membawa pasukan jiwa melayang yang menginginkan wadah untuk bernaung! Kau yang tak bisa merasakan cahaya, merasakan sinar rembulan!." Ratu Gempita Bhadrika kembali melantunkan syair itu. "Hanya pandai berbisik diujung malam sambil menunggu fajar? Namun tak kau dapatkan! Hanya ada sakit hati dan kekecewaan! Hai! Kau jiwa yang malang"


Mantram-mantram yang dibacakan oleh Ratu Gempita Bhadrika semuanya mengandung mantram pemanggil kegelapan didalam diri seseorang. Termasuk kegelapan yang ada di hati Jaya Satria yang merupakan wadah kemarahan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Kegh." Jaya Satria meringis kesakitan karena hawa kegelapan yang ia miliki perlahan-lahan keluar dari tubuhnya. "Kenapa syairnya malah menarik kegelapan yang ada di dalam pedang pelebur sukma?." Dalam hatinya bertanya-tanya.


Sementara itu, di saat yang bersamaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang bertarung melawan Renjana Kala juga sedang meringis sakit. Terlihat hawa hitam keluar dari tubuhnya, sama persis dengan Jaya Satria?.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk menguatkan dirinya untuk tidak panik dalam keadaan seperti itu.


...***...


Deg!.


Ratu Dewi Anindyaswari sangat terkejut dengan perasaan yang dirasakan, saat itu kilasan putranya terlihat dengan jelas dalam bayangannya.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari semakin cemas. "Putraku, ibunda mohon, nanda jangan sampai terluka." Hatinya sangat cemas dengan keselamatan anaknya. "Kenapa hamba tidak bisa tenang dengan keadaan putra hamba." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja.


"Rayi dewi? Tenanglah, jangan menangis rayi dewi." Ratu Gendhis Cendrawati juga sangat cemas. "Semoga saja nanda Prabu, putra putri kita baik-baik saja."


"Semoga saja yunda, aku hanya takut terjadi sesuatu pada mereka semua."


"Maafkan aku sebelumnya rayi, karena aku memang telah berbuat jahat padamu." Ucapnya dengan perasaan bersalah. "Rasanya aku sangat berdosa padamu, pada anak-anakmu, aku adalah sosok ibunda yang sangat jahat bagi anak-anakmu rayi." Hatinya sakit dan sesak mengingat kejadian masa lalu.


"Tenanglah yunda, itu telah lama berlalu." Ratu Dewi Anindyaswari sedikit bingung, kenapa alasan Ratu Gendhis Cendrawati meminta maaf padanya?.


"Kini aku merasakannya rayi dewi, rasanya kesialan ini adalah sumber dari kejahatan yang telah aku lakukan pada kalian."


"Jangan berkata seperti itu yunda, aku tidak tega mendengarnya."


"Tapi itulah kenyataannya rayi dewi."


"Sudahlah yunda, jangan ingat-ingat lagi masa lalu yang menyakitkan itu, mari kita sama-sama melangkah ke arah yang lebih baik lagi."


"Apakah itu artinya kau mau memaafkan aku rayi dewi?."


"Tentu saja yunda, aku telah memaafkanmu."


"Oh? Rayi dewi, sungguh! Kau baik sekali." Ratu Gendhis Cendrawati menangis sambil memeluk Ratu Dewi Anindyaswari, hatinya sedikit terasa lapang ketika mendengarkan kata maaf itu.


Ratu Gendhis Cendrawati telah berjanji, bahwa ia akan mengubah dirinya, tidak akan bersikap seperti dahulu, tidak akan mengulangi pemikiran yang salah seperti dahulu lagi?. Apakah bisa?. Simak dengan baik kisahnya.


...***...


Di Alam bawah sadar Putri Ambarsari.


"Keinginan kuat yang Gusti Putri rasakan saat itu dapat menggetarkan hati hamba." Sukma Dewi Darmani tersenyum kecil sambil menjelaskannya. "Getaran itu telah menembus alam sukma hamba hingga dapat mengguncang kekuatan pedang panggilan jiwa, hamba rasa itulah alasan kenapa Gusti Putri bisa menggunakan pedang panggilan jiwa yang telah disimpan Gusti Prabu bahuwirya jayantaka byakta di dalam pilar berdirinya kerajaan suka damai." Lanjutnya.


"Apakah memang seperti itu eyang Prabu?." Putri Ambarsari masih penasaran.


"Ya, memang seperti itulah alasan kenapa kau bisa menggunakan pedang panggilan jiwa."


"Tapi apakah pedang panggilan jiwa itu hanya sebanyak lima saja? Kenapa raka ganendra garjhita, dan raka gentala giandra tidak bisa menggunakan pedang panggilan jiwa?." Masih banyak yang ingin ia tanyakan.


"Sebenarnya banyak pedang panggilan jiwa yang berhasil aku kumpulkan untuk menjadi pilar berdirinya kerajaan suka damai, hanya saja ada lima pilar utama yang merupakan inti dari itu semua."


"Banyak pedang panggilan jiwa?."

__ADS_1


"Apakah ayahandamu tidak menjelaskan silsilah tentang keturunan bahuwirya yang mewariskan pedang panggilan jiwa?."


"Ayahanda menjelaskannya, hanya saja ananda belum mengerti, terutama alasan kenapa rayi cakara casugraha menjadi raja? Pada hal jika dipikir-pikir ia tidak pantas menjadi Raja karena sikapnya di masa lalu sangat tidak baik." Suasana hatinya goyah ketika mengingat masa lalu adiknya. "Itulah alasan kenapa ibunda, dan raka tidak bisa menerima itu, dan malah menjadi jahat seperti itu." Ia kembali menangis mengingat bagaimana sikap jahat kedua kakaknya terhadap Prabu Rahwana Bimantara, kakek kandung mereka.


"Alasan kenapa mereka tidak bisa menggunakan pedang panggilan jiwa? Karena sikap mereka yang seperti itu tidak dimiliki oleh salah satu pedang panggilan jiwa yang aku simpan." Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta melihat ke arah Sukma Dewi Darmani. "Aku tidak mungkin memasukkan hawa jahat untuk menjadi pilar kerajaan, aku tidak ingin memberikan hal-hal yang buruk dalam penopang kerajaan yang aku dirikan, dan yang akan aku wariskan pada kalian."


"Jadi? Alasan seperti itu? Tapi kenapa rayi cakara casugraha bisa menggunakan pedang panggilan jiwa? Jika memang ia memiliki watak yang jahat?."


"Apakah ananda percaya dengan adanya takdir?." Dengan lembut Sukma Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta bertanya.


"Ya, tentu saja eyang Prabu."


"Salah satu ke isitimewaan keturunanku yang akan menjadi calon Raja? Dia yang mampu menguasai dua alam sekaligus tanpa harus memasuki alam sukma."


Deg!.


Putri Ambarsari sangat terkejut, ia tersadar begitu saja, ia tidak menduga akan terbangun mendadak dari semedinya.


"Dewata yang agung, aku belum mengetahui alasan kenapa rayi cakara casugraha bisa menjadi Raja?." Putri Ambarsari masih sangat penasaran. "Apakah aku akan semedi lagi untuk menemukan jawabannya?."


"Tenanglah Gusti Putri, semuanya akan terjawab dengan seiringnya waktu." Balas Sukma Dewi Darmani yang menjawab itu.


"Kenapa?."


"Gusti Putri bisa mengamatinya, dan menemukan dengan baik, jika bersama saudara Gusti Putri nantinya."


Putri Ambarsari menghela nafasnya dengan pelan, ia mengingat semua yang telah dilalui bersama selama masa kecil. "Apakah memang seperti itu? Tapi apa yang dimaksud dengan bisa menguasai dua alam tanpa harus memasuki alam sukma? Aku sama sekali tidak mengerti." Dalam hatinya masih belum bisa mencerna ucapan itu.


...***...


Istana Kerajaan Suka Damai.


"Sudah aku duga bahwa kalian memang saling terhubung satu sama lain." Ratu Gempita Bhadrika tersenyum puas melihat itu.


"Kalau begitu, akan aku bunuh kau, raja bodoh banyak bicara." Renjana Kala yang melihat hawa kegelapan yang keluar dari tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia menatap remeh ke arah sang prabu dengan tatapan memangsa, seakan-akan ia sanggup mengalahkan musuhnya hanya dengan sekali pukulan?.


"Lailahaillallah wahdahulaa syarikalah lahulmulku walahul hamdu wahua'ala qullisyai inkhodir! Lahaula walakuata illabillahia'liyusazim!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengatur hawa murninya, hingga hawa Kegelapan itu menghilang. Begitu juga dengan Jaya Satria yang melakukan hal yang sama.


Setelah itu keduanya menancapkan pedang pelebur Sukma ke tanah. Keduanya kembali mengatur hawa murni, setelah itu mengeluarkan pedang Sukma Naga Pembelah Bumi. Keputusan yang sangat tepat menggunakan pedang Sukma Naga Pembelah Bumi untuk mengalahkan mereka.


"Pedang apa lagi itu?." Ratu Gempita Bhadrika terkejut melihat pedang yang memiliki pamor aura merah. "Berapa banyak senjata aneh yang mereka miliki?!." Ia sangat kesal karena musuhnya terlihat unggul darinya?.


"Aku baru melihat pedang yang seperti itu! Apakah mereka selama ini adalah orang jahat yang sebenarnya?." Renjana Kala sampai harus menutup matanya saking silaunya cahaya yang dipancarkan pedang Sukma Naga Pembelah Bumi.


"Kali ini aku serius akan membunuh kalian berdua!." Ancam Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Tidak akan aku ampuni kalian berdua! Karena telah membuat kerajaan suka damai ditutupi oleh hawa kegelapan busuk kalian!." Jaya Satria terlihat sangat marah.


Setelah itu keduanya melompat bersamaan, bergabung menjadi satu kekuatan?. Saat ini ada dua pedang yang mereka gunakan. Pedang pelebur Sukma dan pedang Sukma Naga Pembelah Bumi yang memiliki pamor yang sangat mengerikan seiring dengan kemarahan pemiliknya.


"Kurang ajar! Aku tidak akan membiarkan kalian bertindak sesuka hati!." Ratu Gempita Bhadrika benar-benar geram melihat itu. "Aku tidak akan kalah dari kalian!." Gejolak di dalam hatinya masih kuat untuk mengalahkan musuhnya.


Apalagi keduanya membuat gerakan yang sama, meskipun tangan kiri mereka sakit, namun masih bisa memainkan jurus pedang dengan baik?. Itu adalah hal yang sangat luar biasa, dan tidak semua orang mampu melakukan itu.


"Gusti Ratu!." Renjana Kala mendekati Ratu Gempita Bhadrika. Karena ia merasakan angin disekitar mulai berubah aneh. "Mereka ini sangat tangguh juga." Dalam hatinya sangat kesal ketika melihat jurus-jurus yang dimainkan musuhnya.


...***...


Raden Hadyan Hastanta masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan adiknya?.


"Apakah benar kau tidak bisa berkomunikasi dengan pedang panggilan jiwa rayi?."


"Apakah menurut raka aku berbohong?!."


"Maaf, bukan aku bermaksud untuk meragukan ucapanmu, hanya saja itu terasa aneh."


Raden Hadyan Hastanta sedikit gugup karena ditatap tajam oleh Putri Andhini Andita.


"Sudahlah raka, tidak usah banyak bicara lagi, sebaiknya kita langsung saja ke istana." Putri Andhini Andita menahan amarahnya. "Jangan buang-buang waktu hanya untuk bertanya hal yang sama sekali tidak aku mengerti."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu mari kita lanjutkan."


"Raden? Gusti Putri?."


Namun ketika mereka hendak melanjutkan perjalanan?. Mereka tidak sengaja bertemu dengan Rapi Jaga, Lanang sejagad dan beberapa pendekar lainnya.


"Apa yang kalian lakukan di sini? Apakah kalian tidak melakukan penjagaan di setiap desa yang diperintahkan rayi Prabu pada kalian?."


"Mohon ampun Raden, kami semua telah melakukanya, hanya saja kami melihat ada hawa kegelapan yang tidak biasa di atas langit istana kerajaan, kami menuju istana karena takut terjadi sesuatu di istana."


"Seperti itulah Raden."


"Baiklah, kalau begitu mari kita segera menuju istana."


"Sandika Raden."


Setelah itu mereka semua segera menuju istana, tentu saja mereka akan membantu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria untuk mengalahkan Ratu Gempita Bhadrika.


...***...


Istana Kerajaan Suka Damai.


"Kita hadapi bersama, kita gabungkan kekuatan kita!." Ratu Gempita Bhadrika tidak mau kalah begitu saja. "Aku tidak akan membiarkan mereka menghajar aku begitu saja!."


"Baiklah Gusti Ratu!." Renjana Kala mengerti. Ia juga tidak mau kalah begitu saja dari musuhnya. "Akan hamba bunuh mereka malam ini juga!." Ia menggunakan jurus andalannya.


Hawa sekitar benar-benar terasa mengerikan, angin bertiup kencang, seakan ingin menerbangkan apa saja, tidak melihat apa lagi yang dilalui.


"Hatiku mati! Hatiku sepi!." Ratu Gempita Bhadrika kembali melantunkan syairnya. "Jangan tanyakan padaku kenapa kegelapan menyapa diriku?! Datanglah penguasa kegelapan! Berdirilah engkau dibarisan terdepan! Jangan tahan lagi amarah yang memuncak! Bunuh semua amarah dan musnahkan semua musuhmu!" Ratu Gempita Bhadrika membacakan mantram-mantram yang ia kuasai.


Sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria membacakan Sholawat badar dengan suara yang lantang. Tentu saja keduanya juga memiliki tameng yang sangat kuat untuk menghadang syiar kematian yang dibacakan Ratu Gempita Bhadrika.


Angin sekitar mengantar suara mereka hingga terdengar jelas sholawat badar ke telinga Renjana Kala dan Ratu Gempita Bhadrika. Keduanya mulai merasakan sakit, sakit yang mengganggu konsentrasi dalam mengeluarkan jurus andalan mereka.


Bukan hanya sholawat badar saja yang dilantunkan oleh keduanya. Melainkan ayat kursi, surat Al-Ikhlas, Al-falaq, dan surat An-Nas. Keduanya benar-benar kesakitan. Ditambah mereka terkena dampak jurus cakar naga cakar petir tingkat dua yang dimainkan oleh keduanya.


"Kgah! Sakit sekali!." Ratu Gempita Bhadrika merintih sakit. Tubuhnya sakit semua, begitu juga dengan Renjana Kala yang tidak bisa bergerak lagi.


"Berhenti! Lawan aku dengan ilmu Kanuragan yang kalian miliki dari pada membacakan mantram aneh itu! Kalian benar-benar pengecut!." Renjana meracau tidak karuan, karena rasa sakit yang ia terima.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria menatap fokus ke arah Renjana Kala dan Ratu Gempita Bhadrika. Keduanya menyalurkan tenaga dalam mereka ke dalam pedang pelebur Sukma. Setelah itu keduanya melompat ke arah musuh dengan sangat cepat, menusukkan pedang pelebur Sukma tepat di dada kiri mereka.


"Kghak!." Keduanya berteriak kesakitan.


Namun setelah itu malah terbatuk, memuntahkan darah segar. Dada mereka terasa sakit karena cengkraman yang kuat mereka rasakan, pedang itu mengalirkan tenaga petir yang sangat menyakitkan. Itu karena dialiri dengan jurus Cakar Naga Cakar Petir yang dapat menggerogoti tenaga dalam mereka.


Pedang pelebur sukma telah menancap di dada mereka, itu artinya pedang itu telah menyerap hawa kegelapan yang ada didalam diri mereka. Karena itulah keduanya semakin berteriak kesakitan, tenaga dalam mereka seakan dicabut paksa keluar dari tubuh.


"Kalian akan menerima hukuman dariku!." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria bersamaan. Begitu besar gejolak yang ada di dalam hati keduanya saat itu.


Akan tetapi Ratu Gempita Bhadrika dan Renjana Kala tidak lagi bisa terlalu merespon, karena keduanya sedang kesakitan. Sakit yang tidak bisa ditahan lagi. Sementara itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria memainkan jurus pedang Sukma Naga Pembelah Bumi. Keduanya memang serius ingin membunuh musuhnya dengan kekuatan yang mereka miliki.


"Aku tidak boleh mati disini!." Dalam hati Ratu Gempita Bhadrika. "Aku harus membalaskan dendam kematian ayahanda Prabu." Ia ingin sekali pergi dari tempat itu, akan tetapi tenaga dalamnya seperti sedang tertahan.


Hatinya sangat tidak menerima itu, apalagi ketika matanya menangkap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria mengarahkan sebuah ayunan pedang ke arah mereka. Di saat itulah jiwa mereka seperti sedang ditebas oleh benda tajam yang tak kasat mata.


Renjana Kala ambruk ke tanah, karena jiwanya yang ditebas oleh pedang Sukma Naga Pembelah Bumi dan pedang Pelebur Sukma, mana mungkin bisa bertahan dari kekuatan kedua pedang ganas itu?. Renjana Kala telah menemui ajalnya dengan keadaan mengenaskan. Tubuhnya yang seperti hangus terbakar, karena hawa kegelapan yang ada di dalam tubuhnya telah diserap habis oleh pedang pelebur Sukma.


Lalu bagaimana dengan Ratu Gempita Bhadrika?. Sepertinya agak sulit membunuhnya, karena jiwanya yang tidak mau juga lepas dari raganya. Meskipun menggunakan pedang Pelebur Sukma?. Rasanya belum cukup untuk melumpuhkannya, Ratu Gempita Bhadrika memang sangat tangguh, meskipun sudah terkena dua jurus berbahaya milik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria mengeluarkan keris pusaka kembar, keris Naga Penyegel Sukma.


"Jika cara pertama tidak berhasil? Bukan berarti kami melepaskan nyawamu begitu saja." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melompat ke belakang.


"Kau tidak akan kami lepaskan begitu saja setelah melakukan keonaran, menebarkan ketakutan di kerajaan ini!." Jaya Satria yang berdiri di hadapannya terlihat menyeringai lebar. "Terimalah hukuman dariku wahai wanita kegelapan."


"Sialan! Mereka benar-benar berniat membunuhku?." Dalam keadaan hampir sekarat seperti itu, ia masih bisa melihat bagaimana dan apa saja yang dilakukan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. "Sepertinya aku telah meremehkan kemampuan mereka." Dalam hatinya sangat kesal.


Matanya melihat bagaimana jurus yang pernah dimainkan Jaya Satria ketika hendak membunuh ayahandanya dengan menggunakan pusaka kembar, keris Naga Penyegel Sukma. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?.

__ADS_1


...***...


__ADS_2