RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
GEJOLAK HATI


__ADS_3

...**...


Di sebuah tempat yang sepi, hutan yang masih belum dijamah oleh tangan manusia. Hutan yang sangat menyeramkan jika dilihat dari sisi yang berbeda.


"Bukalah matamu cah ayu!." Suara seorang laki-laki tua berkata pada seorang wanita muda. Perlahan ia membuka matanya karena ia sangat mematuhi apa saja yang dikatakan oleh gurunya itu.


Manik hitam itu melihat dengan jelas senyuman gurunya?. "Kenapa tiba-tiba saja membangunkan aku guru?! Apakah sudah saatnya?."


"Ya, sudah saatnya kau terbangun." Balasnya.


"Tapi apa alasannya?."


"Sudah saatnya kau menguji ilmu kanuraganmu." Ia terkekeh kecil. "Tidak baik cah ayu sepertimu terlalu lama bertapa." Tawanya semakin terdengar. "Nanti kurus kering tidak enak untuk dipandang mata, jika dalam hampir dua purnama ini kau tidak mencicipi makanan apapun." Ucapnya dengan bercanda.


Wanita itu tersenyum kecil, ia melompat mendekatinya. "Guru ini bicara apa? Jangan berkata yang tidak-tidak!." Menyerang gurunya, dan gurunya menepis semua serangannya dengan tenang tanpa ada kemarahan sedikitpun.


Pukulan yang dilepaskan wanita muda itu terasa kuat, sangat bertenaga, hingga lelaki itu sedikit kewalahan menghadapinya. Sepertinya ilmu kanuragan, ilmu kadigjayaan yang ia ajarkan pada wanita muda itu tidak sia-sia.


"Kau ini cepat sekali marahnya, apakah tidak ada yang lebih halus lagi pada orang tua sepertiku?." Ucapnya seakan-akan ia adalah orang yang paling dianiaya.


"Jangan banyak bermain sandiwara kau guru! Kenapa orang tua seperti kau sangat menyebalkan sekali pada anak muda seperti aku?!." Dari suaranya terdengar sangat jelas jika ia sangat marah dan kesal


Bukan hanya pukulan saja, namun sepakan wanita itu hampir saja mengenai tubuhnya jika ia tidak segera menghindar. Walaupun usianya mulai senja?. Namun ia masih memiliki kemampuan yang sangat luar biasa sehingga ia masih bisa mengajar seorang wanita muda cantik dalam masalah ilmu kanuragan.


"Janganlah kau menuruti kemarahanmu cah ayu." Lelaki tua itu menertawakan wanita muda itu. "Lebih baik tenangkan dirimu, maka kekuatan yang akan kau lepaskan akan lebih berkali lipat dari pada mengikuti amarahmu." Lanjutnya.


"Itu karena guru mengatakan aku kurus kering! Aku tidak terima itu." Wanita muda itu terlihat merajuk setelah ia mengatur hawa murninya. "Aku ini tidak kurus sama sekali!." Ia semakin kesal dan jengkel.


...****...


Di Istana Kerajaan Suka Damai.


Saat itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Hadyan Hastanta sedang membahas sesuatu. Keduanya tampak sangat serius membahas masalah itu.


"Ibunda Ratu gendhis cendrawati tampak cemas melihat kedekatan jaya satria dengan rayi andhini andita, perasaannya sebagaai seorang ibu sangat cemas sekali rayi prabu."


"Wajar saja seorang ibu akan cemas ketika anak gadisnya bersama seseorang raka, apa lagi jika lawan jenis, pastilah sangat cemas luar biasa jika anaknya akan mencintai laki-laki itu dengan sangat berlebihan."


"Lantas apa yang akan kita lakukan rayi? Aku hanya tidak ingin melihat ibunda berwajah sedih terus."


"Aku akan mencoba mengatasi ini raka, kita ini semua keluarga, jangan sampai terpecah karena masalah asmara."


"Ya, kau benar sekali rayi."


"Kalau begitu kita awasi saja mereka dahulu raka, kita tidak boleh lengah, dan saat ini perasaan yunda andhini andita sangat rawan."


"Kau benar rayi prabu, dulu kata ibunda perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta memang aneh."


Sepertinya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Hadyan Hastanta sangat cemas dengan kedekatan Putri Andhini Andita dengan Jaya Satria, mereka hanya tidak ingin Ratu Gendhis Cendrawati pun merasakan kecemasan takut anaknya berubah karena perasaaan cinta yang berlebihan pada seseorang.


Sementara itu Jaya Satria saat ini sedang berada di sebuah desa kecil yang cukup ramai penduduknya, matanya memperhatikan orang-orang yang melakukan kegiatan jual beli di sana, namun saat itu matanya tertuju pada sosok yang dilewati banyak orang.


Deg!.


Jaya Satria menyadari sosok itu, ia langsung mendekati sosok itu dengan hati-hati, supaya tidak menimbulkan curiga walaupun semua orang telah mengetahui jika ia adalah Jaya Satria, abdi setia Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Sampurasun." Bisiknya dengan hati-hati.


Namun belum ada tanggapan sama sekali dari sosok itu karena ia tidak percaya jika Jaya Satria menyapa dirinya?.


"Tuan jaya satria."


Sesekali mereka yang melewati Jaya Satria menyapanya dengan senyuman ramah.


"Kakek, kenapa kita tidak berbicara di sana saja? Jika kakek berdiri di sini terus-menerus kakek tidak akan ditanggapi siapapun."


Deg!.


Sosok kakek itu sangat terkejut mendengarkan ucapan Jaya Satria. "Jadi? Kau bisa melihat aku anak muda?."


Jaya Satria hanya mengangguk saja, setelah itu ia berjalan duluan, ia tidak mau dianggap gila berbicara sendirian di tengah keramaian.

__ADS_1


"Siapa anak muda ini? Kenapa setelah sekian lama aku berada di sana? Baru kali ini ada yang bisa melihat aku?." Dalam hati sosok kakek misterius itu kebingungan.


...****...


Tempat Putri Gempita Bhadrika.


Pertarungan keduanya masih berlanjut, Putri Gempita Bhadrika sangat kesal karena seperti dipermainkan oleh gurunya. Dengan sepenuh hati ia terus menyerang gurunya sebagai ungkapan kekesalan yang ia rasakan.


"Ahahaha! Aku hanya bercanda cah ayu!." Beberapa kali ia menghindari serangan yang datang padanya. "Jangan mudah tersinggung." Lagi-lagi ia tertawa.


"Teruslah guru tertawa! Sampai gigi guru copot semua." Ia mendekati pondok kecil yang tak jauh dari mereka.


"Weleh! Weleh! Cah ayu? Cah ayu?." Ia juga ikut menuju pondok kecil itu. Mereka berdua beristirahat setelah hampir satu purnama wanita muda itu melakukan semedi.


"Aku merasakan kekuatan yang guru berikan padaku merupakan kekuatan yang luar biasa." Ia menuangkan air putih itu kedalam cangkir, ia teguk air itu untuk menghilangkan dahaga yang ia rasakan. "Tidak salah aku berguru padamu walaupun sudah tua."


"Kekuatan itu sebenarnya menuruti perasaan suasana hatimu." Ia memperhatikan gadis cantik itu dengan senyuman lembut. "Semakin perasaanmu berkobar karena kemarahan? Maka kekuatan itu semakin berkobar juga hawa murni yang kau miliki." Sekilas ia melihat apa ada di dalam diri wanita muda itu.


"Apakah memang seperti itu guru?."


"Ya, memang seperti itu, tapi kau harus berhati-hati, jangan sampai kau lengah." Nasihatnya.


"Aku pasti akan bersungguh-sungguh berhadapan dengan musuhku, aku tidak akan kalah lagi." Tekadnya.


"Apa yang akan kau lakukan setelah berhasil menguasai semua ilmu kanuragan yang aku ajarkan padamu cah ayu?." Ia menerima segelas air putih dari muridnya itu. "Apakah kau yakin akan membalaskan dendam mu itu?."


"Aku akan kembali pada dua orang itu!." Amarahnya kembali membesar jika ia ingat bagaimana nasib ayahandanya. "Menuntut balas kematian ayahandaku, serta mereka yang telah membela kerajaan kegelapan! Aku pasti akan membunuh mereka semua!." Hatinya saat itu hanya diisi dengan perasaan dendam yang sangat luar biasa besarnya.


"Hufh!." Lelaki tua itu menghela nafasnya dengan pelan, ia tidak bisa mencegahnya. "Dendam kegelapan yang pekat telah menyelimuti hatimu cah ayu." Ia memang sangat jelas melihat hawa kegelapan yang menyelimuti tubuh Putri Gempita Bhadrika. "Aku sedikit merinding merasakan hawa yang kau pancarkan saat ini."


"Dendam kematian ayahandaku, prabu wajendra bhadrika!." Putri Gempita Bhadrika merasakan bara api yang semakin besar. "Dendam itu telah mengunci hatiku, menambah kegelapan yang memang aku bawa sejak lahir." Ia genggam erat cangkir itu, seakan hendak ia pecahkan cangkir itu sebagai bentuk pelampiasan kemarahannya. "Aku tidak akan pernah mengampuni siapa saja yang telah membunuh ayahandaku!."


"Anak kegelapan memang sangat mengerikan." Dalam hati lelaki tua itu merinding melihat hawa kegelapan yang semakin besar.


"Aku pasti akan membunuh mereka berdua!." Suasana hatinya memang sangat buruk jika ingat kejadian itu. "Tidak akan aku beri kesempatan pada mereka untuk mengalahkan aku ketika kami bertemu nanti." Ia sedang membayangkan dirinya yang berhasil mengalahkan musuhnya. "Akan aku selimuti mereka dengan racun kegelapan, hingga mereka mati dalam kegelapan yang membuat mereka menderita."


Lelaki tua itu semakin merinding, karena hawa kegelapan kental menguar dari tubuh wanita muda itu. Lelaki tua itu teringat saat pertama kali ia bertemu dengan wanita muda itu. Tatapan penuh kebencian. Ingin membunuh siapa sja yang berani mencoba untuk menghentikan langkahnya.


"Ya, ya, ya, tapi jangan di sini juga kau tunjukkan kemarahanmu itu cah ayu!." Ia menjauh dari Putri Gempita Bhadrika. "Kasihan pondokku yang sudah tua ini ketakutan merasakan hawa murnimu yang gelap itu."


"Hemph." Ia memalingkan wajahnya, ia semakin kesal karena gurunya terus saja mengejeknya.


"Ahahaha! Santailah sedikit, nanti cepat tua macam diriku ini loh?." Meskipun ia adalah guru dari golongan pendekar hitam, namun tidak membuatnya kehilangan jiwa humornya. Ia masih sempat memberikan guyonan, walaupun aslinya ia memang merinding merasakan hawa jahat itu.


...****...


Di Istana Kerajaan Suka Damai.


Putri Andhini Andita sedang berada di biliknya, ia sedang merenungi dirinya yang merasa sangat aneh dan tidak biasanya.


"Sepertinya memang ada yang aneh dengan diriku ini." Keluhnya dengan herannya. "Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada jaya satria?." dalam hatinya bertanya-tanya. "Apa yang salah sebenarnya dengan diriku ini?." Kembali ia bertanya. "Tapi kenapa wajah jaya satria harus sama persis dengan wajah rayi cakara casugraha?." Suasana hatinya mendadak gelisah. "Jika aku jatuh cinta pada jaya satria? ya, aku memang jatuh cinta pada jaya satria, bukan pada rayi cakara casugraha, mereka hanya memiliki wajah yang sama saja, ya hanya mirip saja." Ia sedang berusaha meyakinkan dirinya jika memang ia hanya jatuh cinta pada Jaya Satria, bukan pada adiknya Raden Cakara Casugraha.


Sementara itu di Kaputren.


"Aku sangat cemas rayi dewi, meskipun jaya satria adalah orang kepercayaan nanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati memang tampak sangat cemas. "Namun entah kenapa hatiku sangat tidak bisa menerima kedekatan mereka rayi."


"Yunda tenang saja, nanda jaya satria tentu saja mengetahui batasannya, nanda jaya telah menceritakannya padaku yunda."


"Benarkah?." Terlihat seperti ada harapan di matanya saat itu.


"Yunda tenang saja, nanda jaya satria tidak mungkin akan berani membalas perasaan ananda putri andhini andita." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum kecil. "Karena sesungguhnya sebenarnya nanda jaya satria adalah nanda cakara casugraha." Dalam hatinya juga sangat cemas.


Kembali ke masa itu.


"Apa yang akan nanda lakukan? Sepertinya yundamu andhini andita jatuh hati pada nanda." Ratu Dewi Anindyaswari duduk bersama anaknya Jaya Satria, atau lebih tepatnya Raden Cakara Casugraha.


"Nanda akan berusaha menghindari itu ibunda, jangan sampai rahasia nanda terbongkar hanya karena nanda terbawa perasaan yunda andhini andita." Jaya Satria terlihat menghela nafasnya.


"Ibunda mohon pada nanda agar berhati-hati, jangan sampai menyakiti perasaan yundamu."


"Ibunda tenang saja, nanda akan selalu berhati-hati dalam bertindak." Janjinya. "Nanda tidak menyangka jika yunda andhini andita memiliki perasaan terhadap sosok jaya satria."

__ADS_1


"Itu juga termasuk ujian yang harus nanda hadapi, karena cobaan tidak akan datang satu arah saja."


"Ya, ibunda benar, semoga saja ini cepat berlalu."


Kembali ke masa ini.


...****...


Sepertinya Putri Gempita Bhadrika terlihat lebih tenang dari yang sebelumnya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini? Kau mau langsung balas dendam atau bagaimana?." Rasa penasaran menyelimuti hati lelaki tua itu.


"Aku ingin mengumpulkan semua bangsa jin yang masih setia pada ayahanda Prabu." Jawabnya dengan sangat yakin. "Aku akan membuat lagi kekacauan di kerjaan suka damai." Ia sedang membayangkan melakukan itu dengan sangat sadis. "Akan aku buat mereka sibuk menghadapi anak buahku, setelah itu akan aku bunuh mereka semuanya."


"Astaga." Keluhnya dengan berat. "Kau memang cantik cah ayu? Tapi auramu sangat tidak cantik sekali! Aku merasakan sesak! Ohok! Ohok! ohok!."


"Tidak bisakah guru tidak menyebutnya seperti itu? Aku sedang serius guru." Wanita muda itu yang tidak lain adalah Gempita Bhadrika. Ia berguru pada Ki Petapa Sepi, seorang pendekar golongan hitam yang terkenal dengan jurus hawa serap jiwa yang sangat mematikan.


"Ya, baiklah." Ia terkekeh kecil. "Aku akan berhenti mengatakannya? Asalkan kau atur dulu hawa murnimu itu!." Itulah yang menjadi keluhannya. "Tenangkan hawa serap jiwamu yang kau keluarkan itu? Yang ada? Kau bisa membunuhku perlahan-lahan cah ayu!." Kali ini ia tampak kesal.


"Hehehe! Aku tidak bermaksud untuk melakukan itu guru, tidak sengaja." Putri Gempita Bhadrika melihat gurunya yang terbatuk-batuk. "Karena dendam yang aku rasakan, tanpa sadar aku menggunakan jurus yang guru ajarkan." Ia sedikit merasa bersalah. "Maafkan aku guru, sungguh aku tidak sengaja."


Karena terbawa suasana, tanpa sadar ia menggunakan jurusnya. Ia hanya nyengir kecil, merasa bersalah pada gurunya.


"Huh! Untung saja kau muridku yang cantik! Kalau tidak-?." Ia menatap jengkel, karena sembarangan melepaskan jurus berbahaya itu.


"Kalau tidak? Guru akan mengajariku jurus baru lagi? Jurus apa guru?." Ia malah tertawa, melihat gurunya yang semakin jengkel.


"Hadeh! Aku sedang kesal padamu cah ayu! Tapi kau malah memintaku mengajari jurus baru? Benar-benar menyebalkan sekali kau ini!."


Ki Petapa Sepi ngomel-ngomel. Ia kesal sendiri karena putri Gempita Bhadrika yang belum bisa sepenuhnya bisa mengendalikan hawa serap jiwa yang ada di dalam dirinya. Ia akan berhati-hati setelah ini agar ia tidak mati perlahan-lahan karena hawa murni kegelapan yang dimiliki oleh Putri Gempita Bhadrika telah menyatu dengan jurus yang ia ajarkan padanya.


"Putri kegelapan belajar dengan serius, menyerap semua kegelapan yang ada di jurus itu." Ia mengamati bagaimana aliran kegelapan itu menyelimuti tubuh Putri Gempita Bhadrika.


"Sudah banyak pendekar golongan hitam yang berguru padaku, namun belum ada yang benar-benar memiliki hawa murni kegelapan yang seperti ia miliki, sangat alami, murni, dan lahir dari hatinya." Dalam hatinya dapat merasakan betapa gelapnya kegelapan yang dimiliki Putri Gempita Bhadrika.


Tapi setidaknya ia bersyukur, sikap putri gempita bhadrika telah berubah. Perlahan-lahan ia dapat mengendalikan amarah putri gempita bhadrika, meskipun tidak sepenuhnya.


"Tapi untuk satu purnama ini tetaplah berada di sini."


"Kenapa?."


"Apakah kau tega meninggalkan aku dengan keadaan tua rentan begini?." Entah mengapa hatinya merasa iba, jika memang benar Putri Gempita Bhadrika akan pergi meninggalkannya.


"Aku akan tetap kemari, guru tidak perlu bersandiwara bersedih seperti itu! Rasanya aku ingin secepatnya pergi dari sini." Balasnya sambil tertawa geli.


"Sungguh tega sekali kau cah ayu?." Ki Petapa Sepi semakin bersedih.


Meskipun hanya hubungan murid dan guru. Namun keduanya sudah seperti anak dan bapak. Saling menghormati satu sama lain, hingga tanpa sadar terjalin hubungan yang begitu dekat diantara keduanya.


Tapi, pertanyaannya apa yang akan dilakukan oleh putri gempita bhadrika setelah ini?.


...****...


Jaya Satria dan sosok itu berada di sebuah rumah yang terpencil, di sana tidak ada apa-apa lagi kecuali bekas rumah yang sudah lama tak dihuni.


"Jadi kakek tinggal di sini?."


"Dahulunya aku memang tinggal di sini, namun aku mati karena aku kelaparan."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, apakah kakek tidak memiliki keluarga lagi? Sehingga kakek kelaparan?."


"Aku ini sudah sangat tua rentan anak muda, memangnya anak mana yang sudi memiliki orang tua rentan seperti aku?." Terlihat sangat jelas bagaimana kesedihan yang ia rasakan saat itu. "Aku sangat sedih sekali anak muda, ketika keluarga yang aku besarkan dengan pengorbanan? Namun justru mereka malah membuang aku ketika aku sudah dalam keadaan tua seperti ini."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah , sungguh tega sekali mereka itu." Jaya Satria terbawa amarah mendengarnya. "Apakah kakek bisa memperlihatkan padaku bagaimana gambaran keluarga kakek?."


"Tidaka apa-apa anak muda, lagi pula aku sudah memaafkan mereka." Dengan senyuman yang lembut ia berkata seperti itu. "Itu sudah sangat lama berlalu, aku hanya tidak ingin mereka merasa berat dalam menjalani hidup jika aku masih menyimpan perasaan dendam."


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah yang akan dilakukan Jaya Satria ?. Temukan jawabannya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2