RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MENEKAN PERASAAN HATI


__ADS_3

...***...


Telaga Warna Bidadari.


Putri Andhini Andita sangat kesal karena musuh terlihat seperti sedang mempermainkan dirinya.


"Baiklah, jika kalian memang ingin bermain-main denganku."


"Rayi? Tenangkan dirimu."


Raden Hadyan Hastanta sangat cemas melihat adiknya yang mengeluarkan pedang panggilan jiwa pedang Pembangkit Raga Dewi Suarabumi.


"Jangan sembarangan gunakan pedang itu jika tidak dalam keadaan gawat rayi."


"Raka! Pulang saja duluan ke istana, biar aku yang menghadapi mereka berdua!."


"Tapi rayi?."


"Pergi lah raka! Jangan buang-buang waktu di sini!."


Deg!.


"Ba-baik lah, cepat susul kalau telah selesai."


Raden Hadyan Hastanta segera melompat meninggalkan tempat itu setelah mendapatkan air telaga warna bidadari. Sebenarnya ia juga tidak ingin berlama-lama berada di sana, namun sepertinya ia juga takut dengan adiknya yang sedang mode ganas jika sedang marah.


"Nah? Siapa yang terlebih dahulu ingin dicium pedang ku ini?."


"Kurang ajar! Kau jangan sombong dulu hanya karena memiliki pedang seperti itu!."


"Kami juga memiliki senjata yang akan membunuhmu!."


"Maju saja kalau kalian memang berani."


Putri Andhini Andita segera melompat ke arah sepasang pendekar itu, ia tidak akan mengampuni mereka karena telah berani mengganggunya.


Dengan kemampuan yang ia miliki, serta pedang panggilan jiwa?. Putri Andhini Andita tampak percaya diri berhadapan dengan musuhnya. Langkahnya kali ini tampak ringan karena dipadu dengan jurus langkah angin, jurus yang ia pelajari dari Satria.


...****...


Putri Agniasari Ariani telah sampai di pondok dengan aman. Nafasnya sedikit memburu karena ia berlari dengan sangat cepat, hingga Nyai Senada tampak keheranan.


"Ada apa ndok? Sepertinya kau terlihat sangat terburu-buru sekali? Apakah ada seseorang yang mengikutimu?."


"Tadi, ketika saya mengambil air? Saya melihat ada beberapa orang prajurit yang membawa anjing berburu, sehingga saya harus melarikan diri darinya."


Deg!.


Nyai Senada terkejut mendengarnya, ia tidak menduga jika itu yang dikatakan Putri Agniasari Ariani.


"Ini gawat ndok, syukurlah kau tidak terlihat oleh mereka, bisa gawat jika mereka mengikuti kau sampai ke sini."


"Saya hanya ingat pesan nyai saja."


"Kau mengikuti apa yang aku katakan?."


"Itu karena saya tidak ingin membuat nyai kerepotan nantinya, saya juga tidak mau menjadi orang yang durhaka jika tidak mendengarkan perkataan orang tua."


Deg!.


Entah terkejut atau apa?. Namun Nyai Senada sangat kagum dengan sikap seperti itu.


"Aku tidak menduga kau akan mendengarkan ucapan ku ndok, syukur lah kau mendengarkan ucapanku." Ada perasaan haru di dalam hatinya. "Aku hanya tidak ingin kau celaka, hanya itu saja." Ia mendekati Putri Agniasari Ariani, memeluknya dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak ingin kau celaka, apa lagi sekarang menjadi pendekar pengembara, hidupmu akan menjadi lebih tersiksa jika kau sampai dicelakai oleh orang biadab itu." Rasanya hatinya tidak terima sama sekali dengan apapun yang berhubungan dengan Senopati Bumi Sejagad.


"Saya akan baik-baik saja nyi." Putri Agniasari Ariani tentunya sangat memahami perasaan takut itu. Bukan berarti ia lemah, hanya saja ia tidak ingin membuat Nyai Senada cemas akan keselamatannya selama berada di desa itu.


"Sepertinya nini cempaka putih sangat menurut sekali atas apa yang dikatakan nyi senada." Dalam hati Mayang Sari. "Pada hal ia adalah seorang pendekar, tapi kenapa dia malah bersikap lemah seperti itu?." Dalam hatinya sangat bingung dengan apa yang ia lihat saat itu.


...****...


Istana Kerajaan Mekar Jaya.


Dengan hati-hati Putri Ambarsari masuk ke dalam bilik ibundanya, sekali lagi mencoba untuk berbicara dengan ibundanya.


"Untuk apa kau datang ke sini? Tidak ada gunanya kau mengajak aku berbicara! Kau bukan anakku!."


"Ibunda."


Hatinya sangat sakit melihat kebencian dari ibundanya, namun ia menahan perasaan itu.


"Mari kita bicara layaknya anak dan ibu seperti sebelumnya ibunda."


"Tidak! Aku telah mengatakan padamu! Jika kau bukan anakku! Pergilah!."


Deg!.


"Ibunda, ananda mohon, jangan sampai putuskan hubungan kita sebagai anak dan ibu." Putri Ambarsari menekan perasaan sakit di dalam ucapannya. "Jika memang ibunda menginginkan raka ganendra garjitha menjadi seorang Raja agung? Mari kita ubah bersama-sama apa yang telah kita lakukan pada kakek Prabu, apakah ibunda mau melakukannya ibunda?."


"Tidak! Aku sangat yakin kau akan menjebakku lagi ambarsari! Sama seperti yang telah kau lakukan sebelumnya!."


Dengan perasaan yang sangat marah Ratu Ardningrum Bintari berkata seperti itu, Ratu Ardningrum Bintari sudah tidak percaya lagi dengan apa yang telah diucapkan putrinya.


"Baik, ananda akan-." Putri Ambarsari sedang menahan perasaan sesak yang ada di dadanya. "Akan memikirkan lagi, sepertinya ibunda memang tidak bisa diajak untuk berbicara lagi." Langkahnya terasa berat ketika meninggalkan bilik ibundanya.


"Aku tidak akan pernah percaya dengan apapun yang kau katakan ambarsari! Kau bukan anakku!." Teriak Ratu Ardiningrum Bintari dengan suara yang sangat keras.


"Sakit sekali rasanya, kenapa keluargaku malah seperti ini?." Dalam hati Putri Ambarsari ingin meledak, hatinya sudah tidak sanggup lagi.

__ADS_1


Apakah ia akan memutuskan hal yang nantinya akan bertentangan dengan apa yang telah ia lakukan sebelumnya?. Simak dengan baik kisahnya.


...****...


Istana Kerajaan Suka Damai.


Raden Hadyan Hastanta telah sampai, tentu saja dengan membawa air telaga warna bidadari. Mereka menyambutnya dengan hati yang lega, namun saat itu mereka menyadari tidak ada putri Andhini Andita di sana.


"Syukurlah kau telah kembali putraku, tapi di mana rayimu andhini andita? Kenapa ia tidak datang bersamamu?."


"Tenanglah ibunda, rayi andhini andita baik-baik saja, saat ini ia hanya sedang menenangkan diri saja, ia merasa tidak enak hati jika melihat pengobatan rayi Prabu, juga jaya satria."


"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai saja."


"Mari masuk."


Raden Hadyan Hastanta terpaksa berbohong karena tidak ingin membuat Ratu Gendhis Cendrawati ibundanya merasa cemas. Apa lagi dalam kondisi yang seperti itu?. Ia sangat yakin ibundanya akan menangis jika mengetahui anak perempuannya memaksa untuk berhadapan dengan sepasang pendekar.


Sementara itu Putri Andhini Andita yang masih bertarung dengan sepasang pendekar itu?. Sepertinya Putri Andhini Andita tampak unggul dengan menggunakan pedang panggilan jiwa pedang Pembangkit Raga Dewi Suarabumi. Musuhnya terpaksa mengakui kekalahan itu, hingga terpaksa mundur agar tidak mengalami luka yang lebih serius lagi.


"Heh! Jangan sombong dulu hanya karena kalian menang jumlah!." Putri Andhini Andita mendengus kesal. "Aku telah mengasah kemampuanku dengan baik, dan aku tidak akan kalah begitu saja dari kalian!." Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan tempat, ia juga ingin memastikan bahwa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria bisa disembuhkan hari ini oleh Nyai Bestari Dhatu.


...****...


Desa Rembung Hilir.


Senopati Bumi Sejagad dan rombongannya telah selesai dengan segala persiapan, mereka berburu di tepian hutan itu. Berburu kijang, atau bahkan jika melihat babi hutan mereka hajar saja. Hingga mereka selesai berburu di sana dengan membawa hasil buruan berupa kijang yang cukup besar.


"Jala, apakah kau tidak melihat ada gadis cantik di hutan tadi?."


Mereka semua tertawa mendengarkan ucapan Senopati Bumi Sejagad, entah kenapa ucapan itu terasa lucu bagi mereka.


"Babi hutan betina mungkin ada Gusti."


"Hush! Masa aku tertarik sama babi hutan? Kau ini kurang ajar ternyata ya?."


"Hahaha! Hamba tidak bermaksud begitu Gusti."


Kembali mereka tertawa karena merasa itu adalah sebuah candaan.


"Kalau begitu panggil kepala desa itu, apakah dia telah menyiapkan gadis perawan untukku atau tidak?."


"Tampaknya mereka telah datang Gusti."


Mata mereka tertuju pada beberapa orang yang telah datang bersama kepala desa.


"Bagaimana perburuan kali ini Gusti? Apakah Gusti merasa senang?."


"Tentu saja aku sangat senang, hanya saja rasanya masih kurang, tentunya kau mengerti dengan apa yang aku katakan ini, bukan?."


"Baguslah kalau memang seperti itu." Senopati Bumi Sejagad tersenyum lebar. "Jika kalian tidak melakukannya? Maka anak buahku akan membunuh kalian semua."


Deg!.


Tentu saja mereka sangat terkejut mendengarkan ancaman itu. Tentunya ucapan itu tidak main-main, nyawa menjadi taruhannya.


Tak jauh dari tempat itu.


Dorma, Sejara, dan Teluk mendatangi pondok Nyai Senada. Tujuan mereka datang ke sana untuk meminta pendapat dari wanita itu mengenai rencana untuk menyingkirkan Senopati Bumi Sejagad.


"Nyi? Nyi senada? Apakah nyai berada di dalam?."


"Ya, aku ada di dalam." Sahutnya.


Nyai Senada keluar dan melihat siapa yang datang, ia mempersilakan mereka untuk masuk. Namun saat itu mereka terkejut melihat ada orang asing di rumah itu. Dorma memberi kode pada Sejara untuk menemui kepala desa.


"Ada apa kalian datang ke tempatku?."


"Oh? Tidak nyi, kami hanya ingin memastikan jika nyai baik-baik saja."


"Aku baik-baik saja."


"Sepertinya nyai berbaik hati mau menampung wanita kotor itu."


Mata mereka semua tertuju pada Mayang Sari yang sedang menggendong anaknya.


"Apakah nyai tidak takut? Jika hidup nyai akan mengalami kemalangan hanya karena menampungnya di sini?."


"Sudahlah, itu tidak akan lama."


"Oh iya nyi? Siapa wanita ini? Aku tidak pernah melihatnya berada di desa ini."


"Dia cucu sahabatku, dan kalian? Jangan berani-berani mengganggunya!."


Sorot matanya tampak sangat tajam, seakan-akan Nyai Senada menyadari ada hal berbahaya yang akan dihadapi Putri Agniasari Ariani nantinya.


...***...


Istana Kerajaan Suka Damai.


Di bilik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Syekh? Mohon bacakan air telaga warna bidadari ini dengan ayat suci Alquran." Nyai Bestari Dhatu meminta bantuan. "Semoga saja dengan ayat suci Alquran, air telaga warna bidadari ini? Tubuh gusti prabu dan jaya satria menerima air ini dengan baik." Nyai Bestari Dhatu menyerahkan botol yang berisikan air Telaga Warna Bidadari itu.


"Baiklah nyai." Syekh Asmawan Mulia mengambil botol kecil itu. Membacakan ayat kursi, surah Al-fatihah, surat Al-Ikhlas, Al-falah dan An-Nas sebanyak tiga kali. Setelah itu ia serahkan kembali pada Nyai Bestari Dhatu.


"Terima kasih syekh." Nyai Bestari Dhatu tersenyum kecil karena tidak merasakan pengaruh apalagi pada air itu.

__ADS_1


"Mohon ampun Gusti Ratu? Apakah Gusti Ratu bisa berbaring diantara Gusti Prabu dan jaya satria? Setelah itu gandeng kedua tangan mereka dengan erat, agar Gusti Ratu bisa terhubung dengan keduanya di alam sukma." Nyai Bestari Dhatu memberi pengarahan pada Ratu Dewi Anindyaswari.


"Baiklah nyai." Ratu Dewi Anindyaswari melakukan apa yang dikatakan Nyai Bestari Dhatu. Ratu Dewi Anindyaswari tidak mengerti namun ia harus melakukannya dengan baik, demi keselamatan kedua anaknya.


"Sementara syekh? Saya mohon bacalah ayat suci alquran, untuk menuntun mereka nantinya keluar dari alam gaib, ketika Gusti Ratu telah berhasil membawa Gusti Prabu dan jaya satria keluar dari alam sukma." Kali ini Nyai Bestari Dhatu minta bantuan Syekh Asmawan Mulia.


"Baiklah nyai, saya akan terus membacakan alquran, jika itu dapat membantu mereka bertiga nantinya." Syekh Asmawan Mulia dengan senang hati melakukannya.


"Terima kasih Syekh." Nyai Bestari Dhatu sangat merasa terbantu. "Sementara itu saya dari luar akan memurnikan tubuh keduanya."


"Mari kita mulai pengobatannya."


Ya. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera memulai pengobatan itu. Tentu saja mereka ingin Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sehat kembali.


"Baiklah! Gusti Ratu? Hamba mohon dengarkan apa yang hamba katakan."


"Ya."


"Pejamkan mata Gusti Ratu dengan pelan, rasakan hawa sekitar, tenangkan pikiran gusti ratu, atur nafas gusti ratu dengan pelan, perlahan-lahan mulailah merasa kantuk." Nyai Bestari Dhatu memberikan arahan pada Ratu Dewi Anindyaswari. Perlahan-lahan mata merasa kantuk, karena ucapan Nyai Bestari Dhatu.


Setelah itu.


Perlahan-lahan ia membuka matanya, suasana sekitarnya terasa gelap, membuatnya sedikit sesak nafas.


"Tenanglah Gusti Ratu, dengarkan suara hamba, ikuti apa yang hamba katakan." Nyai Bestari Dhatu menuntut Ratu Dewi Anindyaswari untuk mencari keberadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria di alam Sukma.


"Baiklah, mohon bimbingannya." Ratu Dewi Anindyaswari menguatkan hatinya demi kesembuhan kedua putranya.


"Berjalanlah terus Gusti Ratu, gunakan naluri gusti ratu untuk menemukan keberadaan mereka." Lagi, Nyai Bestari Dhatu memberikan pengarahan pada Ratu Dewi Anindyaswari melalui suara.


"Putraku? Kalian berada di mana nak? Apakah kalian bisa mendengarkan suara ibunda?." Hatinya gelisah karena tidak bisa melihat kedua anaknya. "Putraku nanda cakara casugraha? Nanda ada di mana nak? Apakah nanda bisa mendengarkan suara ibunda?."


Ratu Dewi Anindyaswari terus berjalan, mencari keberadaan kedua anaknya. Ratu Dewi Anindyaswari tidak akan menyerah mencari kedua anaknya.


"Putraku nanda cakara casugraha? Apakah nanda bisa mendengarkan suara ibunda? Putraku nanda cakara casugraha?."


"Ibunda!."


Deg!.


Suara itu?. Ya, tidak salah lagi itu adalah suara kedua anaknya. Namun ia belum melihat keberadaan kedua anaknya. Hanya mendengar suara anaknya yang memanggilnya.


"Putraku nanda Prabu? Nanda jaya satria? Di mana kalian nak?." Hatinya tidak sanggup menahan tangisnya lagi. Ia ingin segera bertemu dengan kedua anaknya.


"Ibunda! Tolong kami ibunda!." Suara kedua anaknya seperti sedang kesakitan. Sangat kesakitan, hingga Ratu Dewi Anindyaswari dapat merasakan rintihan kedua anaknya.


"Kalian di mana nak? Katakan pada ibunda? Katakan pada ibunda nak, ibunda ingin bertemu dengan kalian." Ratu Dewi Anindyaswari merasa bimbang. Matanya juga melihat keberadaan kedua anaknya. Sedangkan telinganya masih mendengar suara rintihan keduanya.


"Ibunda? Bacalah sholawat ketika hati ibunda sedang gundah, semoga dengan bersholawat ibunda bisa merasa lebih baik." Dalam keadaan seperti itu, Ratu Dewi Anindyaswari masih mengingat apa yang dikatakan putranya.


Ratu Dewi Anindyaswari membacakan Sholawat badar, berharap hatinya yang gundah bisa lebih baik. Berharap hatinya benar-benar tenang mencari keberadaan kedua anaknya.


...***...


Di sebuah tempat.


Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra saat itu sedang berunding mengenai apa yang akan mereka lakukan setelah berhasil menguasai ilmu kanuragan yang sangat kuat menurut mereka?.


"Untuk sementara waktu kita jangan bergerak memaksa masuk istana mekar jaya."


"Kenapa seperti itu raka? Bukankah tujuan kita sudah pasti?."


"Jangan hanya berdua saja, kita akan kewalahan."


"Lantas? Apa yang akan kita lakukan?."


"Kita harus memikirkan hal lain, misalnya mencari pendekar yang mau kita ajak untuk bekerjasama."


"Sama seperti sebelumnya? Apakah raka yakin akan berhasil?."


"Kau tenang saja rayi, para pendekar itu hanya akan menjadi tumbal saja."


"Jadi raka hanya akan menjadikan mereka umpan saja untuk menarik perhatian kakek Prabu?."


"Tentu saja, kita tidak perlu susah-susah hati membuang tenaga untuk membawa ibunda keluar dari sana, cukup kita gunakan saja para pendekar untuk berbuat kerusuhan di sana."


"Aku rasa itu ide yang sangat bagus raka."


"Tentu saja itu ide yang bagus."


Dengan penuh percaya diri ia berkata seperti itu, ia sangat bangga dengan kecerdasan yang ia miliki.


"Tapi raka? Bagaimana caranya kita mencari pendekar agar mau bergabung dengan kita?."


"Masalah itu tidak perlu dipikirkan, sekarang kita telah memiliki kemampuan yang lebih, dengan itu kita bisa menundukkan mereka."


"Ya, raka benar, kita sekarang telah menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya, jadi kita tidak perlu takut lagi untuk menghadapi siapapun."


"Kita harus bisa menaklukkan mereka, sehingga kita bisa menaklukkan dunia ini dengan mudahnya."


"Kita sekarang kuat raka, kita taklukkan mereka semua."


Apakah mereka bisa melakukannya?. Apakah memang benar mereka kuat?. Sehingga mereka ingin menaklukkan dunia ini dengan kemampuan yang mereka miliki saat ini?. Simak dengan baik kisah lanjutannya.


Next halaman.


...****...

__ADS_1


__ADS_2