
...***...
Saat ini Raden Jatiya Dewa sedang berada di kerajaan Tapak Tiga. Ia hanya tidak suka ada yang berbuat kasar pada seorang wanita. Hanya itu saja tujuannya dalam masalah ini.
"Jadi kau melihat anak saya diperlakukan kasar oleh raden pradhana angksa?. Kau tidak berbohong pada saya bukan?." Prabu Guntur Herdian masih tidak percaya dengan apa yang dijelaskan oleh Raden Jatiya Dewa.
"Hamba telah mengatakan yang sejujurnya. Itu semua tergantung pada gusti prabu." Raden Jatiya Dewa tersenyum kecil. Setelah itu ia memberi hormat pada Prabu Guntur Herdian. "Jika hamba tidak diperlukan lagi, hamba akan kembali ke kerajaan suka damai. Karena hamba telah memastikan jika tuan putri kembali dalam keadaan baik-baik saja." Lanjutnya lagi.
"Terima kasih, karena kau telah menolong ku-." Putri Cahya Candrakanti belum mengetahui nama orang yang telah menolongnya.
"Nama hamba jatiya dewa gusti putri." Raden Jatiya Dewa memberi hormat pada Putri Cahya Candrakanti.
"Terima kasih jatiya dewa. Kau orang yang sangat baik." Putri Cahya Candrakanti tersenyum kecil. Entah mengapa ia mengagumi sosok itu.
"Kalau begitu hamba pamit dulu, assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Raden Jatiya Dewa merasa tidak enak berada lama-lama di sana. Ia meninggal ruangan itu. Ia akan kembali ke Kerajaan Suka Damai. Kembali pada tujuannya belajar agama Islam.
Namun saat ia hendak meninggalkan halaman istana, suara Putri Cahya Candrakanti menghentikannya. "Tunggu!." Putri Cahya Candrakanti segera mendekati Raden Jatiya Dewa saat melihat orang yang ia tuju menghentikan langkahnya.
"Ada apa tuan putri?. Apa yang tuan putri inginkan dari hamba?." Raden Jatiya Dewa penasaran, apa yang membuat Putri Cahya Candrakanti memanggilnya.
"Maafkan saya. Apakah kau tidak bisa tinggal di sini barang sejenak?. Apakah kau tidak mau berbicara denganku walau hanya sebentar saja?." Putri Cahya Candrakanti menatap Raden Jatiya Dewa dengan penuh harapan.
"Maafkan hamba tuan putri." Raden Jatiya Dewa memberi hormat. "Ada yang harus hamba lakukan saat ini. Karena hamba sedang berjuang untuk mendapatkannya. Jadi hamba tidak boleh terkena hanya karena hamba merasa berjasa, setelah hamba mengantar seorang putri raja. Sekali lagi maafkan hamba tuan putri." Raden Jatiya Dewa hanya tidak ingin memberikan harapan palsu pada Putri Cahya Candrakanti.
__ADS_1
"Jadi begitu?. Semoga saja kau mendapatkan kebahagiaan yang kau inginkan." Putri Cahya Candrakanti sepertinya tidak memiliki harapan untuk mendapatkan orang baik yang baru saja ia kenal. Lagi, ia harus merasakan pahit berkenalan dengan orang yang sangat baik. Apakah hidupnya akan dipenuhi oleh penderitaan dalam masalah asmara?. Siapa yang bisa menebaknya.
...***...
Sementara itu, Putri Andhini Andita sedang berhadapan dengan Raden Bumi Putra. Mereka benar-benar mengeluarkan kesakitan yang mereka miliki. Meskipun luka yang mereka alami begitu banyak, namun mereka masih belum mau menyerah?. Tidak, Raden Bumi Putra menyarung kan kembali pedang miliknya.
"Boleh juga kau. Meskipun seorang wanita, tapi kemampuan yang kau miliki sangat hebat." Raden Bumi Putra memuji seorang wanita yang baru saja berhadapan dengannya?.
"Heh!. Aku tidak perlu pujian darimu. Jika kau masih mau bermain-main denganku maka aku akan melakukannya." Putri Andhini Andita tidak merasa keberatan sama sekali.
"Kali ini kau boleh bergerak bebas di wilayah ini. Tapi jika kau berani berbuat ulah. Maka aku sendiri yang akan memenggal kepalamu itu." Raden Bumi putra menatap tidak suka. Ia tidak menduga sama sekali, jika ia berhadapan dengan Pendekar wanita pengembara yang cukup tangguh.
"Aku juga tidak akan mengampunimu, jika kau berani berbuat kurang ajar pada yang sama sekali tidak bisa menghargai orang lain." Putri Andhini Andita sangat kesal, namun setelah itu ia pergi meninggalkan tempat, bersama orang yang telah ia bantu sebelumnya.
...***...
Kembali ke Raden Jatiya Dewa yang kini sedang dalam perjalanan menuju istana Kerajaan Suka Damai. Ia tidak akan bimbang dengan keputusan yang telah ia tetapkan.
"Tujuan ku hanya untuk belajar dengan baik. Semoga saja aku bisa membuat hati putri andhini andita suatu hari nanti luluh padaku. Dan mau menerima perasaan yang aku miliki." Dalam hatinya membayangkan, jika ia bersanding dengan Putri Andhini Andita. Ia membayangkan hal-hal baik yang ia lewati bersama Putri Andhini Andita.
Tapi tunggu. Disisi lain, pikiran anehnya mengatakan. "Bukankah kau tidak menyukai wanita galak jatiya dewa?. Lalu kenapa kau malah menolak tuan putri yang baik hati, yang mencoba untuk mendekatimu jatiya dewa?." Itulah pikiran lainnya yang mencoba untuk menantang dirinya untuk melakukan itu. "Dibandingkan dengan wanita galak itu, harusnya kau mengerti. Bahwa tuan putri yang kau selamatkan tadi lebih ramah dari pada dia." Pikirannya sendiri lah yang mencoba untuk meracuni hatinya sendiri agar berbelok.
Raden Jatiya Dewa menggelengkan kepalanya. "Tidak!. Aku tidak akan mudah dia galak, aku yakin dia lebih baik. Dan suatu hari nanti, aku yakin dia tidak akan galak padaku!." Raden Jatiya Dewa mencoba untuk menguatkan hatinya.
__ADS_1
"Siapa yang kau bilang galak jatiya dewa?." Seakan-akan itu adalah suara Putri Andhini Andita, Raden Jatiya Dewa malah bergidik ngeri sendiri. "Aku yakin dia pasti bisa menerima dirimu jatiya dewa. Bismillahirrahmanirrahim." Raden Jatiya Dewa menguatkan langkahnya, karena ia sangat takut membayangkan jika Putri Andhini Andita menolaknya dengan cara yang sangat tidak baik. Ia hanya berharap, suatu hari nanti bisa berbicara dengan baik bersama Putri Bestari Dhatu.
...***...
Sementara itu, Putri Andhini Andita. Ia bersama seorang pemuda yang ia tolong tadi. Ia merasa bersimpati padanya, karena ia diperlakukan tidak baik oleh prajurit istana.
"Apa yang membuatmu diperlakukan seperti itu oleh mereka?. Mengapa kau tidak melawan sama sekali?." Putri Andhini Andita sedikit heran.
Sedangkan pemuda itu saat ini memiliki sorot pandangan yang lurus, namun tatapannya sangat kosong, dan tidak memiliki energi kehidupan di sana. "Aku hanyalah seorang pangeran terhina karena kebutaan yang aku rasakan bertahun-tahun." Jawabnya dengan perasaan yang sangat sedih.
"Buta?." Putri Andhini Andita hampir saja tidak percaya, namun saat ia memastikannya sendiri. Pemuda itu bahkan tidak berkedip sama sekali ketika ia melambaikan tangannya ke hadapan pemuda itu.
"Ya. Aku mengalami kebutaan, setelah pulang dari sebuah tempat." Hatinya sangat sedih, memikirkan apa telah ia alami selama ini. "Sejak saat itu, aku hanyalah jadi orang terbuang, dan tidak berguna sama sekali." Senyumannya mengandung rasa pahit, yang sulit ia telah, ataupun ia muntahkan.
"Jika hamba boleh mengetahui, siapakah nama raden?. Mungkin ini akan menjadi pengembaraan yang akan sedikit sulit." Putri Andhini Andita mencoba untuk tersenyum.
"Namaku raksa wardhana." Jawabnya dengan senyuman ramah. Meskipun matanya tidak bisa melihat, namun senyumannya tidak akan luntur begitu saja.
"Sungguh nama yang sangat bagus. Aku sangat suka." Putri Andhini Andita merasa kagum dengan nama pangeran yang telah ia selamatkan.
"Lalu siapa nama nisanak?. Apakah aku boleh mengetahui siapa nama kisanak?." Raden Raksa Wardhana juga ingin mengetahui siapa nama orang yang telah menolongnya.
"Nama hamba adalah putih. Hamba hanyalah seorang pengembara." Putri Andhini Andita menyebutkan namanya sebagai Putih?. Apakah Raden Raksa Wardhana akan percaya?. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...