
...***...
Jaya Satria terpaksa mengenakan topeng. Karena ia tidak mau wajahnya dilihat oleh Putri Cahya Candrakanti.
"Jaya satria?." Putri Cahya Candrakanti melihat Jaya Satria yang sedang berhadapan seseorang.
Namun ia dikejutkan oleh kedua orang itu melompat ke arahnya. Jaya Satria berusaha melindunginya dari serangan orang asing itu.
"Berani sekali kau ingin menyentuhnya!." Jaya Satria segera melindungi Putri Cahya Candrakanti. "Aku tidak akan mengampunimu." Kemarahan terlihat jelas di sorotan matanya yang tajam itu. Sedangkan Sabisana Duryana malah tertawa keras.
"Ternyata memang benar. Dia adalah kekasih barumu raden cakara casugraha." Ucapnya sambil tertawa kerasa.
"Raden cakara casugraha?." Dalam hati Putri Cahya Candrakanti sedikit heran. "Bukankah itu nama asli dari prabu asmalaraya arya ardhana?." Dalam hatinya bertanya-tanya.
Sementara itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang masih berada di Istana Kerajaan Angin selatan merasakan kegelisahan. Karena melihat apa yang dilihat oleh mata Jaya Satria.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Jaya Satria, aku mohon suruh orang itu pergi. Untuk sementara waktu jangan sampai terlibat dengannya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat gelisah. Jika Putri Cahya Candrakanti sampai melihat wajah Jaya Satria.
"Hamba akan mengusahakannya gusti prabu. Semoga saja hamba bisa." Balas Jaya Satria.
"Nanda prabu?." Ratu Dewi Anindyaswari sedikit mencemaskan anaknya yang tiba-tiba saja menepi sendirian. Meskipun acara telah selesai.
"Ada apa nak?. Apakah terjadi sesuatu pada nanda prabu?."
"Tidak apa ibunda. Nanda baik-baik saja." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha meyakinkan ibundanya, bahwa ia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk."
"Mari ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyembunyikan kegelisahannya karena ia tidak mau ibundanya cemas. Apalagi keadaan Jaya Satria yang sekarang.
Rahasia itu harus tetap terjaga. Jika dirinya semakin terhubung kuat dengan Jaya Satria. Kadang mereka berbagi penglihatan dengan Jaya Satria, sehingga Sang Prabu benar-benar harus fokus dengan apa yang ia lihat. Anatar pandangan Jaya Satria dengan dirinya. Begitu juga dengan Jaya Satria. Antara pandangannya dengan pandangan sang Prabu.
Karena itulah mereka harus tetap waspada. Bisa jadi, apa yang mereka lihat diwaktu yang bersamaan benar-benar akan mengganggu konsentrasi mereka. Rahasia itulah yang harus mereka waspadai. Bisa jadi itu adalah titik kelemahan mereka. Jika salah satu dari mereka tidak bisa membagikan pandangan mereka. Dan itu juga alasan mengapa sang Prabu selalu berada di ruang pribadinya, karena ia tidak mau mengacaukan pandangan fokus Jaya Satria saat berhadapan dengan musuhnya.
Tapi sekarang ia sangat cemas, karena tidak mungkin ia menyepi di acara penting ini bukan?. Tapi semoga saja dengan selesai acara perkenalan tadi. Ia bisa beristirahat di wisma tamu kehormatan raja. Ia bisa memberikan waktu fokus pada Jaya Satria untuk menghadapi musuhnya itu.
...***...
Kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai.
"Kau jangan asal bicara. Aku bukanlah raden cakara casugraha." Ucap Jaya Satria mengenaskan bahwa dirinya memang bukan Raden Cakara Casugraha.
"Kau tidak usah berpura-pura lagi raden cakara casugraha. Atau kau tidak ingin kekasihmu mengetahui betapa bengisnya kau dimasa lalu." Entah mengapa hatinya sangat panas. Mengapa Jaya Satria tidak mau mengakui siapa dirinya. "Dan kau malah mengatakan dirimu jaya satria?. Apa kau sedang membodohi aku juga kekasihmu itu hah?." Emosi yang dirasakannya semakin besar. Mengingat kekalahan masa lalu yang ia alami sangatlah memalukan.
"Sebaiknya kau pergi dari sini." Jaya Satria memberi kode pada Putri Cahya Candrakanti agar menjauh darinya. "Hamba mohon gusti putri menjauh sementara." Bisiknya dengan pelan, agar hanya Putri Cahya Candrakanti yang mendengarkan apa yang ia katakan.
"Hamba mohon carilah tempat berlindung untuk sementara waktu." Lanjutnya lagi. "Baiklah jaya satria." Putri Cahya Candrakanti yang sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi saja.
Sepertinya Jaya Satria sedang serius, karena itulah ia tidak mau mengganggu Jaya Satria untuk saat ini.
"Heh!." Lagi, Sabisana mendengus kesal melihat itu. "Ternyata kau orang yang baik juga." Ucapnya dengan nada merendahkan Jaya Satria. "Aku yakin kau tidak ingin kekasihmu terluka, makanya kau menyuruhnya-."
__ADS_1
"Diam kau!. Aku tidak butuh kritikan apapun dari seorang laki-laki yang tidak memiliki perasaan belas kasihan pada wanita." Bentak Jaya Satria dengan penuh amarah. Ia masih ingat bagaimana perlakukan Sabisana terhadap kekasihnya, dan bagaimana dengan teganya ia membunuh putri Tanjung Raya yang mengalami kebutaan demi melindunginya dari serangan ayahandanya waktu itu. Setelah itu Putri Tanjung Raya malah dicampakkan olehnya hingga menemui kematiannya dengan cara bunuh diri.
"Aku tidak akan mengampuni perbuatanmu!." Jaya Satria menyerang Sabisana Duryana. Ia tidak akan membiarkan orang itu mengacaukan semuanya. Membongkar identitas masa lalunya dihadapan Putri Cahya Candrakanti.
Sementara itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk fokus, meskipun ia saat ini sedang berada di ruang tamu kehormatan Raja. Siapa sangka, Prabu Kawanda Labdagati masih ingin bersamanya juga keluarganya yang lainnya.
Hatinya sangat gelisah, ia khawatir tidak bisa membuat Jaya Satria tidak bisa fokus. "Ya Allah. Apa yang harus hamba lakukan. Hamba mohon lindungilah jaya satria." Dalam hatinya berdoa kepada Allah SWT. Ia takut Jaya Satria tidak bisa fokus, karena suasana hatinya yang sedang gelisah.
Ia melihat bagaimana musuhnya yang sedang gencar berhadapan dengan Jaya Satria. Ia merasakan suasana hati Jaya Satria yang sedang bimbang.
"Tenanglah gusti prabu. Hamba mohon gusti tetap tenang. Tatap saja ibunda, semoga dengan menatap ibunda. Hamba bisa lebih fokus lagi." Jaya Satria mencoba untuk menenangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang tidak bisa menutup penglihatannya pada sekitarnya.
"Baiklah jaya satria. Semoga dengan begitu kau lebih fokus untuk menghadapinya." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat berharap.
Namun di sisi lain. Putri Bestari Dhatu menyadari kegelisahan yang dirasakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Apakah gusti prabu sedang terhubung dengan jaya satria?. Apakah terjadi sesuatu dengannya?. Sehingga gusti prabu terlihat berusaha untuk menutupi dirinya?." Putri Bestari Dhatu mencoba untuk melihat gerak gerik dari sang Prabu yang tidak nyaman sama sekali.
Kembali pada Jaya Satria.
Satu dua jurus telah mereka mainkan. Namun belum ada yang mau mengalah diantara keduanya. "Aku katakan sekali lagi padamu sabisana duryana. Sebaiknya kau tinggalkan tempat ini. Atau kau akan menerima hukuman dariku." Jaya Satria mencoba untuk mengancam Sabisana Duryana. Akan tetapi, pemuda itu lagi-lagi tertawa dengan kerasnya.
"Kau tidak usah mengancamku raden-."
"Kau ini memang keras kepala. Jangan salahkan aku, jika aku memang mengusirmu dari sini dengan paksa. Huaaaa." Jaya Satria melompat ke arah Sabisana Duryana. Hatinya dipenuhi kemarahan.
Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Merugikan sekali jadi pembaca gelap, karena tak komen tak follow. Tak kasih hadiah maka tak follow. Tak kenal maka tak follow.
__ADS_1
...***...