
...***...
Raden Cakara Casugraha tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Patih Wenda Sekatara. Ia hanya ingin menyelesaikan penyatuan raga. Ia tidak mau tersiksa berlama-lama karena masalah yang ia hadapi sekarang. Memang Patih Wenda Sekatara memiliki ilmu kanuragan yang mempuni, sehingga mampu menahan hawa kegelapan dari pedang pelebur sukma.
"Yunda, raden rajaswa. Sebaiknya menjauh dari sini. Aku akan menggunakan jurus cakar naga cakar petir."
"Baiklah rayi prabu."
"Sandika gusti prabu."
Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani mengetahui keganasan jurus itu. Jurus yang mengubah angin menjadi jurus yang sangat mematikan. Tentunya mereka harus menjauh dari sana, jika tidak tidak ingin celaka akibat dari jurus itu.
"Jadi kau akan menggunakan cara yang sama, seperti waktu itu?."
"Kau masih ingat dengan jurus ini?. Baguslah. Akan aku berikan dua kali lipat dari yang sebelumnya."
"Keluarkan saja semua kepandaian yang kau miliki. Aku telah menemukan lawan dari jurus yang kau miliki."
Pertarungan ilmu kanuragan dari dua insan yang saling mempertahankan diri. Menimbulkan dampak yang lumayan berat untuk sekitarnya. Patih Wenda Sekatara memainkan jurus angin memutar kincir. Itu jurus yang ia pelajari selama ini?. Entahlah, tapi ia harap jurus itu mampu menandingi jurus cakar naga cakar petir.
Mereka kembali mengadu kesaktian, menyerang satu sama lain. Sesekali bila ada kesempatan, mereka menyerang musuh. Menyerang atau diserang, kalah atau menang?. Pertarungan dahsyat itu telah membuat mereka memiliki ambisi untuk mengalahkan musuhnya.
Sedangkan Putri Agniasari Ariani, Putri Andhini Andita, dan juga Raden Rajaswa Pranawa merasakan hawa sekitar menjadi lebih merinding. Benturan dua kekuatan yang tidak ingin mengalah. Padahal mereka sudah menjauh dari sana, namun tetap saja dapat merasakan bahaya dari benturan kedua tenaga dalam mereka.
"Kau pasti akan aku bunuh hari ini juga jaya satria. Kau akan membayar mata kananku ini."
"Allah SWT tidak pernah dendam pada umat-Nya. Harusnya kau tidak menyia-nyiakan kesempatan yang masih ada. Sungguh malang sekali nasibmu, menyimpan dendam padaku."
"Diam kau!."
Dengan tenaga dalam yang masih tersisa, karena tenaga dalamnya seperti tersedot oleh Pedang Pelebur Sukma. Ia tidak akan membiarkan dirinya gagal dalam menuntaskan dendam yang selama ini ia simpan.
Raden Cakara Casugraha memasukkan tenaga dalamnya ke dalam pedang Pelebur Sukma. Sehingga Jurus cakar naga cakar petir semakin meningkat.
__ADS_1
"Keghaaaaaakh."
Patih Wenda Sekatara berteriak kesakitan, karena jurus cakar naga cakar petir semakin menggerogoti tubuhnya.
"Sebaiknya kau menyerah, dan kau perbaiki kesalahanmu. Bertaubatlah kau, dan carilah jalan kebenaran."
"Diam!. Aku tidak butuh nasihat dari kau!. Aku pasti akan membunuhmu!."
Sebenarnya Raden Cakara Casugraha tidak ingin membuat masalah dengan siapa saja. Namun kejahatan yang dibuat oleh Patih Wenda Sekatara sudah sangat keterlaluan. Raden Cakara Casugraha membacakan QS. An Nisa ayat 17.
"إِنَّمَا ٱلتَّوْبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Artinya: Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera. Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
Suara Raden Cakara Casugraha terdengar sangat keras, namun Patih Wenda Sekatara memang tidak mau lagi menerima apa yang dikatakan Raden Cakara Casugraha. Bahkan ketika Raden Cakara Casugraha membacakan
QS. An Nisa ayat 18. Namun Patih Wenda Sekatara masih juga belum terketuk hatinya?.
"وَلَيْسَتِ ٱلتَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ إِنِّى تُبْتُ ٱلْـَٰٔنَ وَلَا ٱلَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
"Hentikan!. Percuma saja kau membacakan apa yang sama sekali tidak aku mengerti!. Kau akan mati hari ini juga!."
Karena merasakan tenaganya terkuras habis. Patih Wenda Sekatara mengeluarkan jurus terakhirnya, jurus api menyembur bumi. Jurus yang sangat berlawanan dengan jurus api.
Raden Cakara Casugraha terkejut, karena jurus api yang dikeluarkan oleh Patih Wenda Sekatara tiba-tiba menyembur ke arahnya. Jika saja ia tidak segera menghindar dengan menggunakan pedang pelebur Sukma, maka tubuhnya akan diterkam oleh api itu. Hanya lengan kanannya saja yang terluka kena bakar api itu, karena melindungi wajahnya.
Setelah itu Raden Cakara Casugraha melompat ke atas atap istana, api itu semakin membesar karena pengaruh jurus angin petir yang ia miliki. Halaman Istana terbakar, dan ia tidak akan membiarkan Istana ini juga ikut terbakar.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja." Raden Cakara Casugraha merasa prihatin, apalagi ketika melihat tubuh Patih Wenda Sekatara telah ditelan api jurus miliknya sendiri.
Raden Cakara Casugraha menatap langit, dan berdoa kepada Allah SWT, agar diturunkan hujan.
"Laa ilaaha illallaahul ‘azhiimul haliimu, laa ilaaha illallaahu rabbul ‘arsyil ‘azhiimi, laa ilaaha illallaahu rabus samaawaati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil kariimi. Yaa hayyu, ya qayyuumu, bi rahmatika astaghiitsu."
__ADS_1
Atas izin Allah SWT, hujan lebat turun, mematikan api yang ada di halaman Istana. Raden Cakara Casugraha merasa sangat bersyukur.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin ya Allah, engkau mengabulkan doa hamba."
Setelah itu ia turun, memastikan tidak ada yang terluka. Maksudnya ia ingin memastikan bahwa kedua kakaknya juga Raden Rajaswa Pranawa tidak terluka.
"Rayi prabu."
Putri Andhini Andita langsung memeluk adiknya dengan eratnya. Jantungnya bergemuruh gelisah, tidak bisa tenang karena pertarungan tadi.
Hujan yang sempat mengguyur halaman Istana telah reda. Dalam keadaan basah kuyup, mereka masih bertahan di sana.
"Oh rayi prabu. Lenganmu terbakar. Kita harus segera mengobatinya."
"Aku tidak apa-apa yunda. Ini hanyalah luka kecil saja. Yunda tidak usah khawatir."
"Rayi prabu. Mari kita ke ruang pengobatan. Luka bakar itu harus segera diobati. Apa kata ibunda nanti, jika melihat lenganmu kena luka bakar."
"Aku mohon dengarkan aku rayi prabu. Aku sangat mencemaskan dirimu rayi prabu."
"Baiklah yunda. Tapi perintahkan pada prajurit, untuk menguburkan jenazahnya. Perbaiki apa saja yang rusak terbakar."
"Baiklah rayi prabu. Kami akan melakukan apa yang rayi prabu perintahkan. Tapi mari kita ke ruang pengobatan."
"Baiklah yunda."
"Rayi agniasari ariani. Tolong perintahkan prajurit istana menguburkan jenazah orang itu. Dan perintahkan juga untuk memperbaiki apa saja yang rusak. Aku akan membawa rayi prabu ke ruang pengobatan."
"Baiklah yunda. Mohon yunda segera membawa rayi prabu ke ruang pengobatan."
Setelah itu Putri Andhini Andita membimbing adiknya menuju ruang pengobatan. Karena ia tidak mau terjadi sesuatu pada adiknya. Meskipun ia mencoba menghapus rasa cintanya pada adiknya Raden Cakara Casugraha, namun dalam keadaan yang seperti ini, hatinya kembali bergemuruh karena melihat kondisi adiknya setelah bertarung.
"Tidak bisakah aku tidak mengeluarkan perhatian ku yang berlebihan pada mu cakara casugraha?. Tapi rasanya aku sangat mencemaskan dirimu cakara casugraha." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa gelisah yang luar biasa.
__ADS_1
Perasan itu kembali hadir, dan ia tidak dapat menahan perasaan itu. Mengapa ia belum juga bisa melupakan perasaan itu pada adiknya?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana caranya Putri Andhini Andita menghilangkan rasa cintanya itu?. Temukan jawabannya.
...***...