
......***......
Sepertinya keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sudah baikan, dan saat ini keduanya sedang berada di ruang pribadi raja. Ratu Dewi Anindyaswari nampaknya ikut serta di dalam ruangan itu.
"Oh? Putraku." Ia memeluk erat keduanya, sambil menangis sedih?. Menangis haru?. Perasaannya sangat bercampur aduk setelah mendengarkan penjelasan dari keduanya. "Kalian telah melakukannya dengan sangat baik." Ratu Dewi Anindyaswari tidak bisa membayangkan bagaimana anaknya menahan perasaan ketika berada di lingkungan istana namun tidak bisa berkomunikasi dengannya. "Pasti sangat berat sekali, namun nanda telah berusaha dengan baik." Tangannya mengelus kepala Jaya Satria.
"Kami akan selalu menjaga ibunda." Jaya Satria mencoba menahan tangisnya.
Setelah pelukan itu selesai, Ratu Dewi Anindyaswari menatap kedua anaknya dengan penuh kasih sayang yang sangat dalam.
"Ibunda, berjanjilah agar ibunda merahasiakan semuanya dari siapapun juga." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mohon dengan sungguh-sungguh.
"Ibunda harus berjanji pada kami." Jaya Satria juga tampak sangat memohon.
"Ibunda janji, ibunda janji nak." Ia mengelus kepala keduanya, dan ia mencium kening mereka satu persatu. "Kalian tenang saja, ibunda pasti akan menjaga rahasia ini dengan sangat baik."
"Terima kasih ibunda, terima kasih." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menggenggam erat tangan kanan ibundanya, dan Jaya Satria menggenggam erta tangan kiri ibundanya. Keduanya mencium tangan Ratu Dewi Anindyaswari dengan haru.
"Ya Allah, apakah jaya satria adalah anak yang seharusnya lahir, sebagai kembaran dari putraku cakara casugraha?." Dalam hatinya masih mengingat kepahitan masa lalu. "Apakah boleh hamba beranggapan seperti itu ya Allah." Dalam hatinya menyimpan kesedihan yang sangat dalam mengingat masa lalu.
"Terima kasih ibunda, maafkan anada selama ini ibunda, nanda tidak bisa menceritakan pada ibunda." Ia kembali mencium tangan ibundanya, ia melimpahkannya rasa syukurnya.
"Tidak nak, nanda tidak salah, itu adalah keputusan ananda." Ratu Dewi Anindyaswari memahami situasi anaknya. "Jika itu juga ayahandamu, ibunda tidak bisa menyalahkan nanda, apa lagi ini semua karena saran dari ayahandamu yang juga ingin melindungi kalian, ayahanda sangat sangat menyayangi kalian." Air matanya mengalir begitu saja mengingat betapa besarnya rasa sayang Prabu Kawiswara Arya Ragnala pada anaknya Raden Cakara Casugraha.
"Ya, tentu saja kami dapat merasakan kasih sayang dari ayahanda Prabu." Jaya Satria dapat merasakan itu. "Ayahanda selalu memberikan perhatian yang sangat lebih pada nanda, bahkan keputusan ayahanda yang mengatakan supaya nanda masuk agama islam." Jaya Satria tidak akan pernah lupa dengan kejadian itu.
"Ayahanda Prabu adalah sosok yang sangat luar biasa, ayahanda Prabu selalu memikirkan nanda, bahkan ketika nanda menjalani hukuman buang, ayahanda selalu datang untuk melihat keadaan nanda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menangis haru sambil mengingat bagaimana kejadian di masa lalu yang ia lewati besama ayahandanya Prabu Kawiswara Arya Ragnala atau nama aslinya Raden Bahuwirya Dihyan Darya.
"Kalian terlihat sangat bahagia bisa melewati hari yang sangat luar biasa bersama ayahanda kalian." Ratu Dewi Anindyaswari terharu mendengarnya.
"Tentu saja ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sangat setuju dengan itu.
"Kalau begitu, untuk nanda jaya satria." Ratu Dewi Anindyaswari menatapnya dengan lembut. "Tetaplah menjadi putra ibunda, walaupun topeng ini menutupi wajahmu." Ia usap wajah anaknya. "Agar tiada satu orangpun yang tahu, kalau kau adalah putra ibunda." Meskipun hatinya terasa berat, namun ia harus tabah menghadapi kenyataan ini.
"Ya, tentu saja ibunda." Jaya Satria tentunya memahami perasaan itu. "Biarlah tubuh ini yang menjadi wadah keburukan putra ibunda." Walaupun terasa sakit?. Namun itu tidak bisa ia bantah lagi.
"Nanda jangan berkata seperti itu, nanda tetaplah putra ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari merasa sangat sedih dengan ucapan itu.
Dan hari itu, Ratu Dewi Anindyaswari seharian bersama keduanya. karena setelah ini mereka akan bersikap biasa-biasa saja. Seakan Ratu Dewi Anindyaswari telah mengerti, bahwa Jaya Satria hanyalah bawahan anaknya prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Bukan putranya Raden Cakara Casugraha yang selama ini memang bersembunyi dibalik topeng itu.
......***......
Masih dilingkungan Istana. Tepatnya di kaputren.
Ratu Gendhis Cendrawati menceritakan sedikit masa lalu Ratu Dewi Anindyaswari pada anak-anaknya, termasuk putri Agniasari Ariani yang tidak mengetahui tentang fakta yang tersembunyi selama ini.
"Mungkin rayi dewi anindyaswari begitu merasa kehilangan putranya." Ratu Gendhis Cendrawati mengingat masa lalu. "Putra yang harusnya lahir anak kembar saat itu."
"Kembar?."
Terlihat sangat jelas dari raut wajah mereka bagaimana mereka sangat terkejut mendengarkan ucapan itu.
"Jadi rayi cakara casugraha memiliki kembaran?." Putri Andhini Andita merasa tidak enak hati.
"Ya, nanda cakara casugraha anak pertama, dan kembarannya adalah nanda cakara haryatma." Ratu Gendhis Cendrawati terlihat menghela nafasnya. "Namun sangat disayangkan sekali kondisinya sangat lemah ketika mengalami kebakaran saat itu." Hatinya sangat sedih jika mengingat masa lalu.
"Kebakaran?."
Kembali mereka terkejut mendengar itu, dan tentunya mereka tidak menduga ada cerita yang tersembunyi di dalam keluarga Bahuwirya selama bertahun-tahun sejak kelahiran Raden Cakara Casugraha?.
"Ya, kebakaran yang aku dan yunda ardiningrum bintari yang melakukannya." Jawabnya dengan sangat jujur.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Putri Agniasari Ariani seperti ingin menangis mendengarnya.
"Ibunda? Mengapa ibunda melakukan itu?." Putri Andhini Andita sangat tidak percaya. "Kenapa ibunda?." Hatinya bergetar ketika mendengarkan pengakuan ibundanya mengenai masalah berat itu.
"Ibunda sangat menyesal telah melakukannya nak." Tanpa sadar Ratu Gendhis Cendrawati menangis sedih mengingat itu semua. "Ibunda sangat berdosa pada rayi dewi, pada nanda Prabu, pada ayahanda kalian." Hatinya sangat sakit, dan sesak. "Mungkin karena itulah ibunda mendapatkan karma melalui nanda cakara casugraha yang tidak bisa akur dengan ibunda ketika itu."
Tentu saja Ratu Gendhis Cendrawati memikirkan itu, mungkin itulah alasan kenapa ia tidak pernah bisa dekat dengan keluarga Ratu Dewi Anindyaswari.
"Ibunda jangan berkata seperti itu." Putri Agniasari Ariani mencoba untuk menenangkan dirinya. "Walaupun rasanya nanda tidak bisa menerima kenyataan jika sebenarnya rayi cakara casugraha memiliki kembaran? Namun itu adalah masa lalu." Putri Agniasari Ariani tidak ingin terbawa amarah setelah mengetahui kenyataan mengejutkan itu. "Nanda yakin ibunda telah menyesali perbuatan itu.
"Benar yang dikatakan rayi agniasari ariani, masa sekarang kita telah berubah." Putri Andhini Andita juga menangis mendengarkan itu.
"Benar ibunda, ibunda juga harus membayar kesalahan itu dengan selalu berada di samping ibunda dewi, serta menyayangi rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta juga menguatkan hati ibundanya.
"Ibunda akan mengusahakannya nak." Hatinya sangat sedih, dan sakit jika mengingat kesalahan apa saja yang telah ia lakukan dimasa lalu.
"Apakah karena itu ibunda Ratu dewi menganggap jaya satria adalah kembaran dari rayi Prabu?." Putri Agniasari Ariani sangat penasaran.
"Ibunda rasa memang seperti itu." Ratu Gendhis Cendrawati memahaminya.
"Tapi ibunda? Mengapa nanda sama sekali tidak mengetahui jika adik nanda kembar?." Putri Agniasari Ariani kembali merasa pensaran.
"Iya ibunda, kami sama sekali tidak mengetahuinya." Putri Andhini Andita juga merasa penasaran.
"Coba ceritakan pada kami ibunda, apakah kami boleh mengetahui alasan itu?." Raden Hadyan Hastanta juga penasaran.
"Ayahanda kalian lah yang merahasiakan kematian raden cakara haryatma, agar tidak ada yang mengingat hari duka itu, kejadian itu membuat kanda Prabu terluka sangat dalam." Hatinya kembali merasa bersalah mengingat bagaimana perlakuan Prabu Kawiswara Arya Ragnala padanya setelah kejadian itu.
__ADS_1
......***......
Di Belakang istana, Syekh Asmawan Mulia sedang melatih prajurit, dan dibantu oleh paman perapian Suramuara.
"Apa yang akan kakang lakukan setelah ini? Apakah kakang akan kembali bebas seperti burung?." Syekh Asmawan Mulia penasaran?.
"Aku tidak cocok berada di sekitar istana, jadi aku akan kembali ke alam ku yang penuh kebebasan adi."
"Tapi setidaknya katakan pada nanda prabu dan nanda jaya Satria dulu. Supaya mereka tidak kecarian kakang nantinya, kasihan mereka yang begitu perhatian pada kakang."
"Tentu saja adi, aku akan minta izin pada keduanya. Saya merasa lega, karena keduanya sudah baikan adi."
"Tapi bagaimana mungkin kakang bisa mengetahui tentang keduanya?."
"Saya ini sudah tua, adi." Paman Perapian Suramuara terkekeh kecil. "Suasana yang kaku seperti ini sangat tidak cock denganku yang sudah tua ini." Lanjutnya lagi. "Para bangsawan memiliki aura yang sangat berbeda dengan orang biasa."
"Kakang ini bicara tentang apa? Aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang kakang katakan." Syekh Asmawan Mulia bingung dengan ucapan itu.
"Aura keturunan bangsawan terasa menguar, bahkan marahnya itu berbeda." Jawabnya. "Ketika ia menyamar menjadi pendekar biasa ataupun ketika ia menjadi Raja, awan-awan putih selalu mengikutinya, seakan tidak akan membiarkannya merasa kepanasan." Lanjutnya lagi. "Aura yang ditunjukkan raden cakara casugraha sangat berbeda dari yang lainnya, auranya sangat khas sekali." Rasanya ia sangat ingat dengan kesan pertama kali bertemu dengan Jaya Satria. "Dulu aku sampai bergidik ngeri melihat kemarahannya itu, rasanya aku hampir saja mati karena kekuatan kemarahannya yang sangat ganas, aku kira tidak bisa lagi melihat dunia ini adi."
Syekh Asmawan Mulia terkekeh kecil, ia juga pernah mengalaminya dulu. "Mata kakang sangat jeli sekali." Syekh Asmawan Mulia sangat memahami ucapan itu. "Pandangan yang sangat luar biasa." Syekh Asmawan Mulia sangat terkesan. "Itulah kenapa aku dulu harus berhati-hati dalam berkata padanya, karena nanda prabu orangnya sensitif, apalagi jika menyangkut hati dan perasaan wanita."
"Perasaanya terhadap wanita?." Mendadak Paman Perapian Suramuara malah bingung.
"Maksudnya mengenai seorang ibu kepada anaknya, atau anak kepada ibunya." Jawabnya. "Hatinya cepat panas jika melihat ada seseorang yang menyakiti seorang wanita, baik itu secara fisik ataupun ucapan." Syekh Asmawan Mulia memperbaiki ucapannya.
"Jadi begitu? Aku rasa memang seperti itu." Paman Perapian Suramuara sangat merasakan itu.
"Kakang sangat luar biasa dapat memahami sifat jaya satria yang seperti itu." Puji Syekh Asmawan Mulia.
"Kau tidak perlu memuji ku seperti itu adi." Paman Perapian Suramuara malah menghela nafasnya. "Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan." Lanjutnya. "Dan aku tidak menyangka, seorang pemarah seperti raden cakara casugraha bisa menghormati ibundanya, namun sangat mengerikan jika ia sedang marah." Perasaan amarah Jaya Satria tidak akan pernah ia lupakan begitu saja.
"Nanda prabu, raden cakara casugraha sangat menyayangi ibunda kakang, bahkan aku sering mendengarkan cerita itu dari mendiang gusti prabu kawiswara arya ragnala."
"Jadi adi sempat bertemu dengan mendiang gusti prabu kawiswara arya ragnala?."
"Iya kakang, itu sudah sangat lama sekali, lima tahun yang lalu, saat nanda prabu benar-benar memutusakan masuk islam."
Keduanya kembali melatih prajurit, agar siap dalam keadaan apapun. Mungkin setelah itu mereka tidak akan bertemu lagi, karena kembali menjalani aktivitas masing-masing seperti sebelumnya.
......***......
Lanjut dengan cerita mereka.
"Pantas saja ibunda begitu perhatian pada jaya satria." Putri Agniasari Ariani memikirkan itu. "Karena ia seperti melihat kembaran rayi prabu, sangat mirip sekali, sehingga susah untuk dibedakan jika mereka berdiri berdampingan." Putri Agniasari Ariani dapat merasakan itu, bagaimana kasih sayang yang ibundanya berikan pada Jaya Satria.
"Kasihan sekali ibunda ratu dewi, pasti sangat sedih kehilangan anak yang dicintai." Hatinya merasakan simpati yang sangat dalam. "Saat putranya besar, ada seseorang yang sangat mirip dengan rayi prabu, ibunda dewi telah menganggap jaya satria sebagai kembaran rayi prabu yang terlahir kembali." Putri Andhini Andita merasa simpati dengan apa yang dialami oleh Ratu Dewi Anindyaswari dimasa lalu.
"Itu semua juga salahku, aku yang berbuat jahat pada rayi dewi dimasa lalu, sehingga ia kehilangan anaknya, oh? Betapa berdosanya aku." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati merasakan penyesalan atas perbuatannya.
Apakah ia masih bisa dimaafkan?. Hanya waktu yang menjawabnya, dan sikap Ratu Dewi Anindyaswari yang masih belum bisa melupakan anaknya?.
...****...
Masih di kawasan lembah Kegelapan Setan kesurupan.
Putri Gempita Bhadrika sedang melatih ilmu Kanuragannya. Meskipun masih golongan bangsa jin, kekuatan mereka sama dengan manusia, bisa berkurang, dan juga bisa bertambah. Namun kekuatannya tinggal setengah, setelah mendapatkan sambaran dari keris terkutuk itu.
"Resapi sakit, sakit yang menusuk membuat tulang-belulang di dalam raga ku mengingat semua dendam." Ia seakan sedang merangkai kata-kata yang membuat kekuatannya kembali.
"Rasakan kepedihan, rintihan seorang anak yang kehilangan ayahandanya, ia menangis di sudut malam karena merindukan ayahandanya." Saat itu ia merapalkan sebuah syair yang sangat sedih.
Aura kegelapan mulai keluar dari tubuhnya, dan ia semakin mempertajam pandangannya. Ia salurkan tenaga dalamnya melalui telapak tangannya.
"Binasa lah orang yang telah membuat anak itu kehilangan orang yang dikasihinya, dan hancurkan dia seperti kegelapan yang melebur. Hyah!."
Ia lepaskan tenaga dalamnya ke arah sebuah pohon yang ada di dalamnya, sehingga daun-daun dipohon itu layu menghitam.
Sementara hatinya dipenuhi amarah saat melantunkan syair-syair yang mengandung hawa kegelapan. Ia melatih kembali ilmu Kanuragan yang sempat diajarkan oleh Nini Kabut Bidadari dulu.
"Hei! Kau kegelapan yang bersemayam di dalam tubuhku! Jangan kau tahan rasa sakit yang kau rasakan! Bebas lah sebebas-bebasnya! Tunjukan padanya bagaimana kemarahan yang kau rasakan! Akibat luka yang dia berikan padamu!."
Asap hitam disertai racun membuat kegelapan sekitar terasa makin kental, sehingga suasana di sekitar menjadi semakin gelap.
"Tuan putri gempita bhadrika sangat kuat, dan kita tidak boleh membiarkan ia bertarung sendirian." Ia sangat kagum melihat kekuatan itu.
"Kau benar." Ia sangat setuju. "Aku telah membuat keputusan akan menjadi abdi setianya, karena aku yakin ia bisa menjadi raja yang kuat walaupun seorang wanita."
"Ya, aku setuju untuk itu."
Setan Kesurupan, Setan Gelap urat dan Gelap Nadi sedang memperhatikan putri Gempita Bhadrika sedang latihan. mereka sangat mengagumi kekuatan tuan putri dari raja Kegelapan.
"Ayahanda, kematian ayahanda akan ananda jadikan kekuatan untukku melawan mereka nantinya." Dalam hatinya telah bertekad untuk membalaskan semua sakit hati yang ia rasakan. "Orang bertopeng itu, dia tidak hanya membunuh ayahanda." Hatinya sangat dipenuhi dengan dendam yang sangat membara. "Namun ia membunuh ki dharma seta, membunuh nini kabut bidadari, dan bahkan dia juga membunuh orang yang memiliki kemampuan menyegel serta membuka kekuatan orang lain." Dalam latihannya, ia masih ingat siapa saja yang dekat dengannya, tewas ditangan orang bertopeng itu juga Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Aku akan mencari guru yang sangat hebat, untuk mengalahkan orang itu dengan sekuat tenaga, aku tidak akan kalah saat pertemuan berikutnya." Dalam hatinya telah membuat rencana untuk mengalahkan orang bertopeng itu. Ia tidak akan tenang sebelum ia berhasil membunuh orang yang telah membunuh orang itu.
......***......
Telah terjadi pertarungan beberapa pendekar di sebuah desa yang masih wilayah kerajaan Suka Damai. Tiba-tiba saja ada beberapa orang yang datang membuat kekacauan. Setelah memainkan beberapa jurus, mereka beristirahat mengatur hawa murni mereka.
__ADS_1
"Tidak biasanya seorang pendekar berada di sebuah desa untuk berjaga-jaga, dibayar berapa kalian sampai rela melakukan hal seperti itu?." Seorang laki-laki tegap tinggi berkumis, yang sama sekali tidak bersahabat dengan mereka.
"Aku melakukan ini tidak perlu dibayar!." Balasnya dengan sangat marah. "Aku melakukannya karena kewajiban kami pendekar membela rakyat suka damai! Karena kami telah diizinkan tinggal dan berkeliaran di wilayah kekuasan gusti prabu asmalaraya arya ardhana!." Lanang sejagad merasa kesal karena ada orang yang berani berbuat kerusuhan di wilayah ini.
"Bicara apa kau ini?!." Ucapnya dengan sangat kesal.
"Aku sudah diberi kewenangan gusti prabu asmalaraya arya ardhana untuk menjaga wilayah ini! Jadi, siapa saja yang membuat keonaran? Akan berhadapan denganku!." Itulah tanggung jawab yang ia emban.
"Kalau begitu? Kau dulu akan aku habisi sebelum aku bertemu dengan orang bertopeng bernama jaya satria." Ia menantang dengan sikap sombong.
"Pendekar bertopeng siapa yang kau maksudkan?."
"Namanya jaya satria!."
"Untuk apa kau ingin bertemu dengan pendekar jaya satria?."
"Tentu saja aku akan membunuhnya, karena dia telah membunuh adikku seruni yuniarti. Hyah!."
Mereka melanjutkan pertarungan mereka, sebagai pendekar yang memiliki ilmu Kanuragan yang mempuni. Mereka saling menyerang, tidak akan mereka biarkan lawan melukai, atau mencuri kesempatan untuk menang.
Sepakan dan pukulan mereka yang beradu dengan kuat, luka atau goresan tidak mereka hiraukan lagi, yang pasti mereka sedang mempertahankan harga diri mereka sebagai seorang pendekar yang tak terkalahkan.
"Setan belang! Rupanya kau cukup sakti juga!." Lanang sejagad merasa kewalahan menghadapi orang itu, ia tidak akan kalah begitu saja, ia menggunakan jurus andalannya. Ajian Setapak dewa, jurus yang banyak menggunakan tenaga dalam. Yaitunya jurus dengan gerakan melayang sambil menyatukan kedua tangan, setelah itu tenaga dalam tersebut dialirkan ke telapak tangan, dan kemudian diarahkan ke lawannya.
Musuhnya yang melihat serangan berbahaya itu awalnya memang bisa menghindarinya, namun siapa sangka setelah serangan ketiga, ia lengah karena tidak sempat berpijak, ia terkena serangan itu, dan terlempar jauh.
Lanang sejagad kembali menjejakkan kakinya ke tanah, dan mengatur hawa murninya, agar nafasnya kembali tenang.
"Ilmu cetek seperti itu mau melawan pendekar jaya satria? Melawanku saja kau sudah terlempar seperti kapas yang melayang! Dasar tidak tahu diri! Hanya membuang-buang waktuku saja!." Ia merasa kesal karena waktunya terganggu karena kedatangan orang yang tidak ia inginkan. Ia sangat heran dengan orang aneh itu. "Entah apa maunya? Dasar orang aneh!." Keluhnya.
"Tapi benarkah pendekar jaya satria membunuh orang? Bukankah pendekar jaya satria adalah orang kepercayaan gusti prabu? Ah! Sudahlah, tidak ada gunanya aku berpikir hal-hal yang tidak aku ketahui sama sekali." Pikirannya dalam hati merasa kusut karena memikirkan Jaya Satria.
"Aku rasa dia itu salah orang, mana mungkin pendekar jaya satria yang baik hati itu membunuh orang lain." Ia ingat bagaimana dulunya ia pernah berhadapan dengan Jaya Satria, ia mendapatkan ampunan dari Jaya Satria. Ia yang kini mengabdi pada raja karena saran jaya Satria, dan ia ragu jika Jaya satria melakukan kejahatan seperti yang dikatakan oleh orang itu .
Sementara itu, orang yang terlempar jauh itu mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang terasa sakit.
"Sial! Ternyata di kerajaan ini ada pendekar yang menjaga desanya? Kenapa itu bisa terjadi?." Ia merintih sakit.
"Aku akan memberitahu kepada kakang kawah ijen, bahwa tidak mudah masuk ke wilayah kerajaan suka damai, jaya satria si bedebah itu memiliki anak buah yang cukup kuat juga." Setelah itu ia pergi dari sana untuk melaporkan apa yang ia alami pada kakak tertuanya. dan mungkin ia juga akan mempelajari ilmu Kanuragan baru agar dapat membalaskan kekalahan yang ia alami.
Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
......***......
kembali ke istana
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Ratu Dewi Anindyaswari, dan Jaya Satria keluar dari ruang pribadi raja. mereka sudah ditunggu oleh putri Agniasari Ariani, putri Andhini Andita, Gendhis Cendrawati dan Raden Hadyan Hastanta.
"Sungguh maafkan aku jaya satria, aku pasti telah membuatmu tidak nyaman berada di istana ini."
"Tidak apa-apa gusti ratu, hamba memakluminya, maafkan hamba jika memiliki wajah yang sama dengan gusti Prabu."
"Jadi, rayi prabu dan jaya satria telah menjelaskan semuanya pada ibunda?."
"Benar yunda, sekarang ibunda telah mengetahui siapa jaya satria sebenarnya."
"Ibunda." Putri Agniasari Ariani memeluk ibundanya.
"Putriku, maafkan ibunda yang membuatmu cemas nak."
"Tidak apa-apa ibunda, tapi sekarang ibunda harus lebih kuat, masih ada kami semua ibunda."
"Ya, nanda putri benar." Ia mencoba untuk tersenyum kecil, agar mereka tidak mencemaskan dirinya.
"Syukurlah jika ibunda ratu dewi sudah mengerti, kami semua begitu khawatir pada ibunda dewi." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa lega. Ia ikut merasa senang melihat senyuman Ratu Dewi Anindyaswari yang mulai ceria.
"Syukurlah semuanya baik-baik saja. Nanti aku akan minta maaf dengan baik padanya." Begitu juga dengan ratu Gendhis Cendrawati yang mengingat kesalahannya dimasa lalu.
"Sepertinya semuanya bisa berjalan dengan normal kembali, rayi prabu dan jaya satria memang pandai menyelesaikan masalah." Raden Hadyan Hastanta merasa kagum dengan adiknya itu.
"Kalau begitu hamba akan kembali bertugas seperti biasanya." Jaya Satria hendak pamit pada mereka.
"Jangan lepaskan topeng itu, ya?." Putri Andhini Andita seakan-akan memberikan penekanan.
Sehingga ia menjadi pusat perhatiaan saat itu.
"Kenapa seperti itu rayi?." Raden Hadyan Hastanta merasa curiga dengan adiknya.
"Itu karena aku rasa cukup hanya ada satu saja yang bernama cakara casugraha di sini." Putri Andhini Andita terlihat menghela nafasnya.
"Apa maksudmu yunda?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat heran, dan marah?."
"Apa maksud yunda berkata seperti itu? Coba jelaskan pada kami." Putri Agniasari Ariani sedikit jengkel.
"Satu orang yang bernama cakara casugraha saja telah membuat kita kewalahan menjaganya, bayangkan saja ada dua orang cakara casugraha yang memerintah istana ini? Aku bisa gila membedakannya, kepalaku bisa pusing jika ada dua wajah yang sama berdiri di hadapanku." Keluhnya sambil menahan amarah. "Aku tidak ingin kerepotan hanya untuk membedakan siapa cakara casugraha, siapa jaya satria." Ucapnya dengan gregetnya.
Seketika suasana saat itu mendadak pecah karena suara tawa mereka, tentu saja mereka sangat memahami apa yang dikatakan Putri Andhini Andita mengenai alasan kenapa ia lebih meminta Jaya Satria menggunakan topeng itu.
"Aku rasa yunda benar." Putri Agniasari Ariani sangat setuju dengan itu. "Istana ini juga akan gempar jika mereka tidak bisa membedakan rayi Prabu dengan jaya satra nantinya."
__ADS_1
Begitulah suasana hangat saat itu tercipta, mereka mencoba menciptakan kembali suasana keluarga yang hangat. Mereka telah mencoba untuk melupakan kejadian masa lalu yang sangat menyakitkan walaupun?. Rahasia sang Prabu masih man.
...***...