RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
SEMUA DEMI IBUNDA


__ADS_3

...***...


Dengan langkah tertatih, Pendekar Segala Tahu mendekati Jaya Satria. Hatinya yang sedang membara, dendam yang ada di dalam hatinya telah membuncah. Jaya Satria tidak bisa bergerak lagi, karena tenaganya terkuras habis. Pertarungan itu telah membuat ia kehilangan tenaganya. Ia telah mengerahkan semua tenaga dalamnya. Sementara itu, Ratu Dewi Anindyaswari yang melihat itu, hatinya bergetar takut. Sementara itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang tak jauh dari tempat Jaya Satria, melihat raut wajah ketakutan ibundanya.


"Kau akan mati ditanganku raden cakara casugraha. Begitu juga dengan kau tiruannya."


"Tidak!. Jangan bunuh putraku!. Aku mohon jangan bunuh putraku."


"Ibunda. Ibunda." Hatinya menangis sedih, melihat ibundanya yang ketakutan, akan kehilangan anaknya.


"KAU AKAN MATI DITANGANKU RADEN CAKARA CASUGRAHA!."


Dengan sisa tenaga dalam yang ia miliki, Pendekar Segala Tahu hendak mengambil Mustika Naga Merah Delima yang ada di dada kanan Jaya Satria. Namun apa yang terjadi?.


DUAKH!!


Terdengar hantaman pukulan yang sangat kuat. Membuat mereka semua terkejut, melihat ke arah sumber suara. Mata mereka semua melotot tidak percaya, termasuk Jaya Satria.


"Bfuuh."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memuntahkan darah, setelah ia menjadi tameng pelindung Jaya Satria. Dengan sekuat tenaga ia tadi bangkit untuk melindungi Jaya Satria. Sehingga ia yang terkena hantaman pukulan itu. Sementara itu, Jaya Satria juga terbatuk darah. Sedangkan mereka yang melihat itu?.


"RAYI PRABU!."


"NANDA PRABU!."


"Kau!. Kalau begitu, kau duluan yang akan mati!." Pendekar Segala Tahu menyalurkan tenaga dalamnya, ia menghancurkan Mustika Naga Merah Delima yang ada di dalam dada kanan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Kau memang tidak bisa diberi ampun." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dapat merasakan, jika Mustika Naga Merah Delima yang ada di dalam tubuhnya telah retak. Namun ia tidak akan mudah menyerah begitu saja. "Kau boleh membunuhku. Tetapi kau tidak akan bisa menyentuh diriku yang lain." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencengkeram kuat tangan Pendekar Segala Tahu. Sementara itu tangan satunya lagi mengeluarkan pedang pelebur Sukma. "Aku tidak akan mengampunimu!."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendorong kuat Pendekar Segala Tahu, agar sedikit menjauh darinya. Setelah itu, ia tebas leher musuhnya dengan kuat, sehingga terlepas kepala itu dari badannya.


"Kegh."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meringis sakit. Tubuhnya benar-benar sakit, dan ia ambruk.


Lalu bagaimana dengan Jaya Satria?. Ia yang hampir kehilangan kesadaran sayup-sayup melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang mendekati dirinya.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin, aku.. aku berhasil melindungimu. Jaya satria. Ah tidak,,, raden cakara casugraha."


"Gusti prabu."

__ADS_1


Keduanya menangis?. Entahlah.


Sementara itu, Pendekar yang lainnya mulai mundur, karena ketua mereka tewas dibunuh oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari bergegas mendekati kedua anaknya.


"Ibunda dewi."


"Rayi dewi."


Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara, dan Ratu Gendhis Cendrawati juga mengejar, mendekati sang prabu.


"Rayi prabu." Putri Andhini Andita dan yang lainnya juga.


"Jaya satria." Paman Perapian Suramuara membantu Jaya Satria untuk duduk.


"Nanda jaya satria." Syekh Asmawan Mulia juga mendekati Jaya Satria. "Bertahanlah nanda."


"Putraku." Rasanya sangat menyakitkan, melihat anaknya saat ini lemah tidak berdaya.


"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menggenggam erat tangan ibundanya, serta mencium tangan ibundanya dengan sayang. "Ibunda." Suaranya terdengar lemah karena menahan sakit.


"Nanda prabu. Bertahanlah nak. Mana yang sakit nak?. Katakan pada ibunda."


"Rayi prabu. Katakan pada kami, jangan kau simpan sendiri rasa sakit yang kau rasakan rayi prabu."


"Katakan pada kami rayi prabu."


Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani menangis sedih melihat keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Namun mereka semua terkejut, melihat tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana perlahan-lahan menghilang.


"Nanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari melotot tidak percaya. Hatinya semakin bergemuruh dipenuhi ketakutan yang luar biasa.


"Ibunda. Nanda telah berhasil melindungi jaya satria." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja. "Nanda telah memenuhi janji pada ibunda. Bahwa nanda akan selalu melindungi jaya satria demi ibunda. Demi kebahagiaan ibunda."


"Tidak nak. Ibunda juga tidak mau kehilangan nanda. Nanda adalah putra ibunda. Jangan tinggalkan ibunda."


"Terima kasih, ayahanda. Karena telah memberikan kesempatan pada nanda. Untuk membahagiakan ibunda. Ibunda jangan menangis, karena putra ibunda. Akan selalu bersama ibunda. Nanda sangat mencintai dan menyayangi ibunda. Terima kasih ibunda."


"Tidak nak. Jangan berkata seperti itu. Ibunda juga ingin bersama nanda."


"Nanda akan selau bersama ibunda. Nanda tidak akan pernah pergi dari ibunda. Karena nanda sangat menyayangi ibunda. Sangat sayang pada ibunda."

__ADS_1


"Rayi prabu. Apa yang rayi prabu katakan?."


"Ibunda janji tidak akan menangis, kan?. Tetaplah tersenyum."


"Putraku." Memang berat mendengarkan apa yang dikatakan oleh anaknya. Hatinya terasa sangat sakit, seakan anaknya sedang merangkai kata untuk menyenangkan hatinya.


"Terima kasih untuk semuanya nak. Nanda adalah putra yang ibunda banggakan." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk erat anaknya. Kasih sayangnya yang tiada batas terhadap anaknya.


"Rayi prabu." Putri Andhini Andita menangis sedih melihat itu. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka yang menyaksikan itu ikut menangis sedih.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, ibunda. Nanda pamit." Setelah membisikkan kalimat itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghilang, dan sukmanya masuk ke dalam tubuh Jaya Satria yang sedang digendong oleh Syekh Asmawan Mulia.


"Rayi prabu."


"Nanda prabu."


Mereka semua terkejut tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghilang?. Bagaimana bisa itu terjadi?. Mengapa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghilang?.


"Ibunda dewi. Kemana pergi rayi prabu?. Mengapa rayi prabu menghilang?."


"Ibunda dewi?. Katakan pada kami apa yang terjadi?."


"Ibunda dewi. Katakan pada kami, jawab ibunda."


Ratu Dewi Anindyaswari bangkit, ia menatap Jaya Satria yang berada digendongan Syekh Asmawan Mulia.


"Syekh, tolong bawa putraku ke biliknya. Segera obati putraku cakara casugraha. Hanya dia satu-satunya putraku yang aku miliki."


"Sandika gusti ratu." Syekh Asmawan Mulia segera membawa Jaya Satria ke dalam istana. Tentunya mereka bertanya-tanya, mengapa Ratu Dewi Anindyaswari berkata seperti itu?.


"Hamba juga akan membantu gusti ratu." Paman Perapian Suramuara juga menyusul Syekh Asmawan Mulia. Mungkin dengan ikut serta dirinya, ia berharap dapat menyembuhkan Jaya Satria. Lebih tepatnya Raden Cakara Casugraha.


"Terima kasih paman perapian suramuara." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk menenangkan dirinya, setelah kehilangan putranya. "Nanda putri bestari dhatu. Ibunda mohon, agar nanda juga membantu syekh asmawan mulia untuk mengobati putraku."


"Baiklah ibunda dewi. Nanda akan melakukannya sebisa ananda. Mohon pamit, sampurasun."


"Rampes."


Putri Bestari Dhatu juga bergegas menyusul Syekh Asmawan Mulia dan Paman Perapian Suramuara. Kini tinggal Putri Agniasari Ariani, Putri Andhini Andita, Raden Hadyan Hastanta, Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara yang ingin mendengarkan penjelasan dari Ratu Dewi Anindyaswari.


"Ibunda. Nanda mohon jelaskan pada kami semuanya. Apa yang terjadi sebenarnya?."

__ADS_1


Bagaimana jawabannya?. Simak terus ceritanya.


...***...


__ADS_2