RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
DAPAT MELIHAT


__ADS_3

...***...


Jaya Satria saat itu menuju taman istana. Malam ini ia ke sana tanpa adanya kakaknya Putri Andhini Andita yang biasanya selalu menghampirinya. Namum kakaknya itu telah pergi meninggalkan istana ini untuk melakukan pengembaraan.


"Apakah kau malam ini sendirian sendirian saja?." Jaya Satria melirik seseorang yang ikut duduk dengannya.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Kenapa kau malah ikut duduk bersamaku di sini wahai wanita berbaju putih." Jaya Satria sangat terkejut, ia tidak menyangka akan ditemani oleh makhluk halus berbaju putih.


"Tempat ini sangat nyaman sekali gusti prabu. Hamba ingin menikmati malam ini dengan tenang di sini." Jawabnya dengan santainya tanpa perasaan takut sama sekali.


"Tapi bagaimana jika prajuritku yang melihatmu. Dan mereka malah lari ketakutan?. Kau ini jangan mencoba-coba menakuti mereka. Atau kau akan menjadi santapan sukma naga kegelapan yang ada di dalam pedang pelebur sukma." Jaya Satria sedikit mengancam wanita berpakaian putih itu.


"Hihihi, hamba hanya lewat saja gusti prabu. Kalau begitu hamba pamit dulu. Sampurasun." Karena takut dengan ancaman Jaya Satria. Ia segera meninggalkan tempat itu. Ia takut dibunuh dengan menggunakan pedang Pelebur Sukma, jadi ia memilih untuk pergi.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Hamba jadi ingat ketika kecil, hamba teringat ketika waktu itu hamba baru mengetahui jika hamba memiliki mata yang berbeda dari saudara-saudara hamba yang lainnya." Jaya Satria teringat dengan kejadian waktu itu.


...***...


Kembali kejadian dimana Raden Cakara Casugraha berumur enam tahun.


Dari tadi Raden Cakara Casugraha kecil menangis terus, membuat kakaknya Agniasari Ariani merasa khawatir. "Tenanglah rayi. Aku akan menemui ibunda, ataupun ayahanda." Putri Agniasari Ariani sangat khawatir dengan keadaan adiknya yang tak kunjung juga mau berhenti menangis.


"Jangan ke sana yunda. Di sana ada orang seram. Dia sedang menatap seram ke arah sini." Raden Cakara Casugraha menahan kakaknya agar tidak pergi ke arah sana.

__ADS_1


"Tapi rayi, aku harus menemui ibunda." Putri Agniasari Ariani bingung dengan adiknya. Tapi beruntung, saat itu ayahanda juga ibundanya datang.


"Oh, putraku." Ratu Dewi Anindyaswari langsung memeluk anaknya yang terus menangis.


"Ibunda. Nanda takut sekali. Di sana ada kakek seram tinggi yang terus saja melihat ke arah nanda." Raden Cakara Casugraha kecil menunjuk ke arah sosok tinggi seram yang berada di pohon taman istana.


"Ibunda tidak melihat sama sekali nak." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk menenangkan anaknya. "Kanda prabu. Apa yang dikatakan putra kita kanda?. Dinda sama sekali tidak bisa melihatnya." Ratu Dewi Anindyaswari sangat gelisah. Ia takut terjadi sesuatu pada anaknya.


"Dinda. Bawa kedua anak kita dari sini. Biar kanda yang mengatasi masalahnya." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tentunya melihat apa yang dilihat oleh anaknya.


"Baiklah kanda prabu. Dinda harap kanda prabu berhati-hati." Ratu Dewi Anindyaswari sama sekali tidak mengerti, tapi ia rasa ada sesuatu yang aneh. "Nanda Putri, mari ikut dengan ibunda nak." Ratu Dewi Anindyaswari mengulurkan tangannya ke arah anak perempuannya. Setelah itu ia pergi meninggalkan tempat.


Sedangkan Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengeluarkan pedang panggilan jiwa miliknya. Pedang Sukma Elang Emas, pedang yang memiliki hawa sukma elang emas yang mampu membinasakan makhluk gaib dalam sekali tebasan saja.


"Rampes." Balas sosok tinggi itu.


"Apa yang membuat eyang masuk ke wilayah istana ini?. Eyang telah menakuti anak saya. Saya harap eyang mencari tempat lain. Karena tidak baik eyang berada di sini." Prabu Kawiswara Arya Ragnala masih mencoba untuk bernegosiasi dengan baik. "Anak saya memiliki kemampuan yang berbeda. Ia dapat melihat makhluk halus tanpa memasuki alam sukma. Karena itulah saya mohon pada eyang agar meninggalkan tempat ini."


"Kau tidak berhak mengusir aku. Karena pohon ini sangat nyaman untuk aku tinggali." Sepertinya sosok tinggi menyeramkan itu tidak mau meninggalkan tempat itu. Sehingga membuat Prabu Kawiswara Arya Ragnala terpaksa menggunakan kekerasan. Sang Prabu menarik pedang yang dari tadi ia Pengan.


"Kau tidak akan bisa mengusir aku begitu saja!." Tampaknya sosok itu sangat marah. Hingga ia menyerang Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Terjadilah pertarungan antara Prabu Kawiswara Arya Ragnala dengan sosok tinggi menyeramkan itu. Namun akhirnya pertarungan itu dimenangkan oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Karena belum ada yang bisa mengalahkan pedang Sukma Elang emas.


Kembali ke masa ini.

__ADS_1


...***...


Di sebuah tempat, hampir tengah malam. Putri Andhini Andita baru saja memasuki sebuah desa. Ia masih melihat orang-orang yang melakukan aktivitas. Ia melihat ada sebuah kedai makan, dan kebetulan perutnya agak lapar. Namun ketika ia hendak masuk ke warung itu, ada seorang nenek-nenek yang mencegahnya masuk.


"Maaf nek. Kenapa nenek menghalangi jalan saya?. Apakah ada sesuatu yang nenek inginkan dari saya?." Putri Andhini Andita merasa heran dengan nenek itu.


Namun bukannya menjawab, nenek itu malah menyeretnya menjauh dari sana. Setelah agak merasa aman nenek itu menatap tajam ke arah Putri Andhini Andita. "Kau adalah anak yang baik, dan tempat itu isinya setan semua. Kau akan rusak jika kau masih bersikeras untuk masuk ke sana."


"Apa maksud nenek?. Saya sama sekali tidak mengerti." Putri Andhini Andita mengernyit heran.


"Fuuh." Nenek itu meniup mata Putri Andhini Andita dengan pelan. "Sekarang kau lihat yang ada di dalam sana." Nenek itu menunjuk ke arah rumah makan itu.


"Hii, astaghfirullah hal'azim ya Allah." Putri Andhini Andita merinding ngeri melihat apa yang ada di dalam rumah makan itu. Banyak sekali makhluk gaib menyeramkan berada di sana.


"Jika kau pergi ke sana, kau tidak akan bisa keluar lagi dari desa ini. Jadi aku harap kau lebih berhati-hati lagi saat singgah ke sebuah tempat. Kau masih akan melakukan perjalanan yang sangat panjang. Kau harus bisa menjaga dirimu dengan baik cah ayu." Nenek itu mencoba memperingati Putri Andhini Andita agar tidak ceroboh saat mendatangi sebuah tempat.


"Terima kasih karena nenek telah menyelamatkan saya." Putri Andhini Andita tersenyum kecil menatap nenek tersebut.


"Jika kau merasa lapar, kau bisa datang ke tempatku. Aku masih memiliki beberapa makanan yang bisa kau makan." Ia mengerti jika Putri Andhini Andita lapar. "Kalau begitu mari ikuti aku." Ajaknya dengan sopannya.


"Terima kasih nek. Semoga Allah SWT membalas kebaikan nenek." Putri Andhini Andita mengikuti nenek itu. Karena ia tidak mau menjadi korban penglaris di sebuah tempat makan. Namun ia tidak menyadari, jika mata batinnya telah dibuka oleh Nenek itu. Artinya setelah ini ia akan melihat apa saja yang berhubungan dengan makhluk gaib. Apakah Putri Andhini Andita sanggup melewati harinya jika ia melihat hal yang tidak wajar setelah ini?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2