RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MASIH BISA DISELAMATKAN KAH?.


__ADS_3

...***...


Mereka semua masih penasaran dengan kelanjutan cerita tentang Raden Cakara Casugraha selama menjalani hukuman buang. Mereka ingin mendengarnya dari orang-orang yang menjadi saksi apa saja yang dilakukan Raden Cakara Casugraha.


"Dari hamba, mungkin hanya itu saja. Karena Mamasa cakara casugraha setelah itu meninggalkan tempat hamba."


"Rayi prabu meninggalkan tempat aki? Tapi mengapa?."


"Bukankah aki mengatakan jika rayi prabu adalah anak yang baik?. Tapi mengapa rayi prabu malah pergi dari sana?."


"Apakah nanda prabu tidak kerasan berada di sana?. Sehingga rayi prabu pergi."


Aki Jarah Setandan tersenyum kecil menatap mereka semua. Entah itu rasa cemas atau curiga, rasanya hampir mirip?. Entahlah, namun yang pasti mereka saat ini sangat peduli dengan Raden Cakara Casugraha. Namun mereka merasa lega, setelah mendengarkan penjelasan dari Aki Jarah Setandan.


"Nanda cakara casugraha pergi, karena beliau ingin mengembara. Katanya ingin menambah pengalaman baru. Karena itulah beliau pergi dari tempat hamba."


"Jadi begitu rupanya. Syukurlah. Kami sangat gemas mendengarnya."


"Iya yunda. Tadi kami hampir saja berpikiran yang tidak-tidak pada rayi prabu."


"Tapi maafkan hamba, karena hamba tidak bisa melanjutkan cerita tentang raden cakara casugraha."


"Tidak apa-apa aki. Setidaknya kami bisa mendengarkannya dengan baik."


"Tidak menyangka, jika rayi prabu melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan di istana."


"Tidak yunda ratu. Dulu rayi prabu sering membantu aki puasa merawat kuda-kuda yang ada di istana. Hanya kami saja yang sering mengejeknya, sehingga ia marah dan kemudian menghajar kami."


"Jadi karena itu nanda diserang oleh nanda prabu?."


"Benar ibunda. Kamilah yang bersalah. Karena kami yang memancing amarah rayi prabu."


Mereka mengingat apa saja yang telah mereka lakukan. Hanya untuk memancing amarah Raden Cakara Casugraha, yang berujung mereka yang kena hajar.


"Lalu bagaimana dengan syekh asmawan mulia?. Bagaimana bisa rayi prabu bisa masuk agama islam?."


"Ya, kami sangat penasaran sekali syekh. Apakah rayi prabu masuk islam dengan suka rela atau dipaksa?."


"Jika masalah itu, hamba saat itu sangat terkejut. Saat gusti prabu kawiswara arya ragnala membawa raden cakara casugraha keluar dari hutan ranting panjang."

__ADS_1


"Hutan ranting panjang?. Bukankah hutan itu dihuni oleh dewa tuak gila?. Yang menguasai jurus cakar naga cakar petir?."


"Benar kakang. Kebetulan rumah saya tidak jauh dari sana. Saat itu saya hendak mengambil kayu bakar, dan tidak sengaja bertemu dengan gusti prabu yang berusaha untuk meredakan kemarahan raden cakara casugraha."


"Jurus cakar naga cakar petir memang bukan jurus sembarangan. Karena jurus itu sangat menyakitkan jika mengenai musuhnya."


Ratu Dewi Anindyaswari menghela nafasnya. "Kanda prabu pernah mengatakan, jika kanda prabu mendapatkan wangsit. Bahwa satu-satunya cara untuk mengendalikan amarah kutukan nanda cakara casugraha adalah masuk agama islam. Meskipun pada saat itu aku tidak setuju."


Ratu Dewi Anindyaswari mengingat apa


yang dikatakan oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala padanya.


...***...


Kembali ke masa itu.


Ratu Dewi Anindyaswari sangat khawatir, mendengarkan kabar mengenai anaknya di luar sana. Sedangkan suaminya Prabu Kawiswara Arya Ragnala baru saja keluar dari ruang pribadi Raja.


"Mohon ampun kanda prabu. Tolong kanda prabu jemput nanda cakara casugraha. Dinda sudah tidak tahan lagi kanda prabu."


"Tenanglah dinda dewi. Ada hal yang ingin kanda sampaikan pada dinda dewi."


"Kanda mendapatkan sebuah wangsit, dari tapa yang kanda lakukan."


Ratu Dewi Anindyaswari menunggu dengan sabar, apa yang akan disampaikan oleh suaminya.


"Putra kita nanda cakara casugraha harus masuk agama islam, agama yang mampu mengendalikan kutukan kemarahan yang dimiliki oleh putra kita."


"A-a-apa yang kanda prabu katakan?. Kita sudah lama menganut agama hindu-budha. Mana mungkin putra kita bisa menganut agama yang berbeda dengan kita kanda prabu."


"Apakah dinda dewi tidak kasihan pada putra kita nanda cakara casugraha?. Jika nanda cakara casugraha tidak bisa mengendalikan kekuatan kutukan itu?. Apakah dinda dewi ingin, putra kita tetap seperti itu sampai ia dewasa nanti?."


Tentunya Ratu Dewi Anindyaswari semakin menangis mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Oh putraku. Malang sekali nasibmu nak. Entah itu di istana, ataupun di luar sana. Nanda selalu saja mendapatkan cobaan yang berat. Rasanya ibunda ingin menyusul nanda ke sana."


"Tenanglah dinda dewi. Kanda juga merasa sedih dengan keadaan putra kita. Tapi kanda janji pada dinda dewi, bahwa kanda akan berusaha untuk membawa putra kita."


"Terima kasih, karena kanda prabu masih peduli pada nanda cakara casugraha."

__ADS_1


"Tentu saja kanda peduli pada putra kita. Kanda memberikan hukuman buang, bukan berati kanda memusuhi putra kita. Kanda hanya ingin menjauhkan nanda cakara casugraha dari mereka semua."


Prabu Kawiswara Arya Ragnala memeluk istrinya. Ia mencoba untuk menenangkan istrinya yang sedang menangis sedih. Apakah ia mampu menolong anaknya keluar dari masalah yang dihadapi?. Ia hanya berharap, anaknya akan baik-baik saja.


Dua hari mungkin telah berlalu. Di Hutan Ranting panjang. Setelah bertarung dengan dua orang Pendekar yang juga ingin mendapatkan jurus cakar naga cakar, Raden Cakara Casugraha seakan dituntun oleh seseorang untuk memainkan jurus ganas tersebut.


Raden Cakara Casugraha, dibawah alam sadar, terus memainkan jurus itu. Ia sama sekali tidak menyadari bagaimana dampak yang ditimbulkan dari jurus itu.


Pada saat itu, Prabu Kawiswara Arya Ragnala datang. Ia berusaha untuk menenangkan putranya. Sehingga mereka bertarung dengan sengitnya.


"Dewata yang agung. Jurus yang dimainkan putraku sangat ganas sekali." Dalam hati Prabu Kawiswara Arya Ragnala mencoba untuk menenangkan anaknya.


Pertarungan itu terus berjalan, hingga hampir keluar dari hutan Ranting panjang. Tentunya pertarungan itu membuat seseorang yang sedang mencari kayu bakar terkejut.


DUAKH!!!.


Prabu Kawiswara Arya Ragnala terkena hantaman keras, sehingga tubuhnya terkena jurus cakar naga cakar petir. Akan tetapi sang prabu masih bisa membentengi dirinya. Hanya luka kecil yang ia dapatkan.


Sementara itu, orang yang melihat itu, langsung membantu sang prabu. Orang tersebut menotok kuat Raden Cakara Casugraha, sehingga tidak bisa bergerak lagi.


"Terima kasih kisanak, uhuk. Saya merasa terbantu sekali."


"Apakah kisanak tidak apa-apa?. Tadi itu adalah pukulan jurus dari cakar naga cakar petir. Apakah kisanak tidak terluka?."


"Saya baik-baik saja kisanak. Meski terluka sedikit, tapi saya baik-baik saja."


"Alhamdulillah hirobbil'alamin, jika kisanak baik-baik saja. Sebab, jurus cakar naga cakar petir itu jurus sangat mematikan. Tidak ada yang selamat dari jurus itu. Alhamdulillah, kisanak masih selamat dari jurus itu."


"Apakah saya boleh minta bantuan dari kisanak?."


"Apa yang bisa saya bantu kisanak?. Katakan saja. Semoga saya bisa membantu kisanak."


"Apakah saya bisa menopang di tempat kisanak, untuk mengobati putra saya?."


"Jadi anak muda ini adalah putra kisanak?. Kalau begitu, mari kita segera membawanya ke gubuk milik hamba yang tidak jauh dari sini kisanak."


"Terima kasih atas bantuannya kisanak."


Mereka menuju gubuk orang tersebut. Apakah Raden Cakara Casugraha bisa diselamatkan?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2