RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KABAR DARI JAYA SATRIA


__ADS_3

...***...


Jaya Satria sengaja singgah ke desa damai setia. Ia menemui Lingga dan adiknya ayu.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Jaya Satria mengucapkan salam pada seseorang yang sedang bersih-bersih di halaman padepokan.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Jaya satria?." Lingga sangat terkejut melihat kedatangan Jaya Satria yang tidak pernah ia duga. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, pendekar jaya satria." Mereka semua menyambut ramah kedatangan Jaya Satria. Meskipun ia mengenakan topeng penutup wajah, namun sedikit banyak mereka mengetahui jika Jaya Satria adalah abdi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Orang yang mendirikan padepokan ini.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Bagaimana keadaan kalian semua?. Apakah puasa lancar?." Jaya Satria sangat senang melihat mereka semua.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Kami semua baik-baik saja." Jawab semua mereka semua termasuk Lingga. "Puasa kami lancar. Dan malam ini rencana kami masih akan mengadakan tadarus Alquran." Lingga dengan senang berkata seperti itu.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Aku sangat senang mendengarnya." Jaya Satria tersenyum kecil.


"Mari masuk. Mungkin ada hal yang penting yang ingin kau sampaikan jaya satria." Lingga mempersilahkan Jaya Satria masuk ke dalam pondok.


"Terima kasih lingga." Balas Jaya Satria.


Setelah itu mereka masuk ke dalam. Membicarakan hal yang sangat penting?. Mereka duduk di ruangan yang cukup luas. Duduk bersila sambil mendengarkan kabar baik yang akan disampaikan oleh Jaya Satria.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Jaya Satria kembali mengucapkan salam pada mereka.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Jawab mereka semua.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin, kita ucapkan kepada Allah SWT, karena telah memberikan kita kesempatan untuk berkumpul bersama hari ini." Jaya Satria membuka topeng penutup wajahnya dihadapan mereka semua.

__ADS_1


"Alhamdulillah hirabbli'alamin." Mereka juga bersyukur atas apa yang mereka rasakan saat ini.


"Hari ini saya datang untuk membawa kabar. Bahwa dalam waktu yang tak lama, ada seorang pangeran dari kerajaan buana dewa yang akan belajar bersama kalian. Saya harap kalian bisa mengajarinya dengan baik. Karena berbeda keyakinan dengan kita, namun saya harap kalian bisa saling toleransi." Jaya Satria menyampaikan maksud kedatangannya. Namun mereka tidak menyangka jika akan ada seorang pangeran ingin belajar bersama mereka?.


"Mohon maaf jaya satria. Bagaimana bisa seorang pangeran dari kerajaan buana dewa mau belajar dengan kami di pondok kecil ini." Lingga mewakili mereka semua.


Jaya Satria tersenyum kecil menanggapi ucapan Lingga. "Sebelumnya saya baru saja pulang dari kerajaan buana dewa. Karena ada sedikit masalah yang harus saya selesaikan. Saya harap kalian nanti bisa menerima kedatangannya dengan baik." Jawab Jaya Satria.


"Kami akan menyambut siapa saja dengan baik jaya satria." Lingga tidak merasa keberatan. Mereka juga dengan senang hati jika memang seorang pangeran yang akan belajar bersama mereka.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin jika kalian menyambutnya dengan baik. Nanti aku akan mengiringinya ke sini." Jaya Satria bersyukur karena mereka tidak protes atau mengeluh. Setelah itu mereka mendengarkan tausiah yang disampaikan oleh Jaya Satria pada mereka semua.


***


Di sebuah tempat. Ada dua pendekar yang sedang bertarung. Mereka bertarung karena mempertaruhkan apa yang mereka anggap benar. Mereka saling menyerang satu sama lain, dengan senjata yang ada di tangan mereka masing-masing.


Setelah itu mereka melompat, saling menyerang dengan menggunakan tenaga dalam mereka miliki. Karena benturan tenaga dalam yang cukup kuat, keduanya terlempar. Sehingga terpental saling menjauh, dan menimbulkan ledakan.


"Kegh." Serangan tenaga dalam itu sempat mengenai tubuh mereka. Membuat keduanya mengalami luka yang juga menguras tenaga dalam mereka.


"Heh! Boleh juga kau." Ia menyeka darah yang terasa aneh di bibirnya. "Tapi sayang. Dengan kekuatan yang kau miliki tidak akan mampu menandingi kekuatan cakara casugraha. Jadi aku rasa kau pulang saja. Biar aku saja yang berhadapan dengan si ganas jaya satria." Ia mendengus kesal.


"Hah?. Kau tidak usah banyak bicara!. Jika aku mau!. Akan aku bunuh kau dengan jurus pengunci ular pemakan mangsa. Aku hanya tidak ingin membuang tenaga dalamku. Hanya untuk membuktikan seberapa kuatnya aku padamu!." Ia sangat tidak suka, ada orang yang berani merendahkan dirinya. "Aku memiliki dendam yang harus aku selesaikan dengannya. Jadi kau tidak usah banyak mengatur aku!." Bentaknya dengan suara yang tinggi. Amarahnya sedang memuncak saat ini.


"Jadi kau memiliki dendam dengannya?." Ia menatap heran dengan musuhnya itu. "Aku juga ingin membalaskan dendamku pada cakara casugraha. Karena dia telah membunuh guruku." Ia mengepal kuat tangannya. "Aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah ia lakukan pada saat itu. Aku melihat guruku yang dihajar sampai mati olehnya." Lanjutnya lagi. "Lalu bagaimana denganmu?. Dendam apa yang ingin kau sampaikan padanya?." Matanya menatap lurus ke arah lawannya tadi.


"Dia telah membunuh kekasihku!. Aku tidak terima atas apa yang telah ia lakukan pada kekasihku!. Padahal sebentar lagi kami akan menikah. Tapi malah dibunuh oleh cakara casugraha. Dan aku tidak menyangka, jika dia adalah seorang pangeran dari kerajaan suka damai." Hatinya merasa sakit, karena sedang dipenuhi oleh dendam dan amarah yang membara.

__ADS_1


"Baiklah. Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk membalaskan rasa sakit hati yang kita rasakan sela ini padanya."


"Baiklah jika memang kita memiliki tujuan yang sama. Kita akan pergi ke istana suka damai. Mari kita tuntaskan masalah dendam masa lalu dengan membunuh cakara casugraha."


"Tapi sebelum itu, mari kita pulihkan dulu tenaga dalam kita. Supaya lebih baik saat menghadapi cakara casugraha nantinya."


"Aku setuju. Mari kita cari tempat untuk memulihkan tenaga kita."


"Mari."


Setelah itu keduanya pergi meninggalkan tempat. Apakah yang akan mereka lakukan?.


...***...


Jaya Satria telah sampai di Istana Kerajaan Suka Damai. Kedatangannya disambut oleh Putri Andhini Andita.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, yunda."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Rayi cakara casugraha." Senyumannya terlihat sangat manis ketika menyambut adiknya yang asli. "Bagaimana keadaan di sana?. Apakah sudah aman?. Aku harap mereka tidak menghadiahkan mu seorang putri raja, sebagai ucapan terima kasih padamu." Putri Andhini Andita melirik adiknya yang kini melepaskan topeng yang menutupi wajahnya.


"Kenapa yunda malah menghakimi ku seperti seorang istri yang tidak mau dimadu oleh suaminya." Jaya Satria yang tak lain Raden Cakara Casugraha merasa miris dengan ucapan kakaknya. Meskipun itu hampir terjadi, tapi ia telah menolaknya.


"Hanya firasatku saja yang mengatakannya." Balasnya dengan senyuman kecil. "Lalu bagaimana dengan pangeran sombong itu?. Apakah dia menyusahkan mu rayi?."


Mereka masuk ke dalam istana. Karena yang lainnya telah menunggu kedatangan Jaya Satria. "Alhamdulillah hirobbil'alamin, semuanya baik-baik saja yunda. Karena itulah aku pulang dengan tenang."


"Alhamdulillah hirobbil'alamin, jika memang seperti itu rayi." Putri Andhini Andita sangat senang mendengarnya. Ia hanya khawatir saja, jika adiknya dapat masalah di sana.

__ADS_1


...***...


__ADS_2