
...***...
Angin kencang disertai asap hitam menerpa mereka. Raden Cakara Casugraha berusaha untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, agar tidak terbawa arus itu. "Apa yang terjadi sebenarnya?." Raden Cakara Casugraha mencoba untuk melihat ke depan. Ia sangat terkejut saat melihat ada dua sosok yang sangat mengenaskan.
"Itu adalah akibat dari dampak buruk dari kekuatan pusaka jahat iblis yang tidak bisa ditampung oleh tubuh mereka." Kakek tua itu sangat hafal bagaimana mereka yang gagal mendapatkan kekuatan itu.
"Benarkah itu eyang?. Tapi sepertinya mereka sudah mati eyang?." Raden Cakara Casugraha melihat ada yang aneh dengan tubuh mereka. Berjalan seperti mayat hidup yang tidak bisa menggunakan akal pikiran jernih yang mereka miliki.
"Itu sangat benar cucuku. Mereka telah mati. Mereka berjalan menuju sungai hulu, menjatuhkan diri ke sana. Hingga akhirnya mereka akan ditemukan oleh warga yang berada di aliran sungai hulu ini." Kakek tua itu menjawab ucapan Raden Cakara Casugraha.
"Apakah tidak bisa melakukan sesuatu eyang?." Matanya menangkap mereka yang semakin mendekati dirinya. Ada seorang wanita muda dan laki-laki yang sudah tua.
"Bunuh saja mereka. Karena jiwa mereka akan tersiksa, menangis sepanjang sungai hulu. Jika tidak dibakar dupa persembahan, maka roh mereka akan merasa hanyut terus di sungai ini."
"Jadi aku harus membunuh mereka yang telah mati itu eyang?."
"Itu lebih baik. Jika mereka masuk ke dalam sungai hulu, roh mereka hanya akan gentayangan di sungai ini."
"Baiklah eyang. Saya akan menggunakan pedang sukma naga pembelah bumi untuk membebaskan roh mereka agar kembali ke sang pencipta." Raden Cakara Casugraha mengeluarkan pedang Panggilan Jiwa pedang Sukma Naga Pembelah Bumi.
"Itu lebih baik cucuku. Lakukan dengan baik agar mereka bisa kembali dengan tenang." Kakek tua itu menyingkir dari sana, dan ia ingin melihat seberapa besar kekuatan yang dihasilkan oleh pedang itu untuk menenangkan mereka dari alam kematian yang menyiksa.
Raden Cakara Casugraha menarik pedang Sukma Naga Pembelah Bumi dari warangkanya. Pedang yang memiliki pamor yang luar biasa. Angin sekitar semakin kencang, dan menambah suara horor sekitar. Raden Cakara casugraha memainkan satu jurus gerakan dari pedang Sukma Naga Pembelah Bumi, setelah itu mengayunkan dua kali tebasan pedangnya ke arah dua orang yang hampir saja mendekatinya itu.
__ADS_1
Keduanya berteriak sangat keras, karena sukma mereka yang telah terlepas dari tubuh mereka. Namun bukan hanya sampai di situ saja, angin kencang menerpa tubuh keduanya hingga wanita muda itu terlempar dari sana.
"Kau telah melakukannya dengan baik raden cakara casugraha." Kakek tua itu tersenyum lembut. Setelah itu pergi meninggalkan tempat.
Kembali ke masa ini.
Mereka semua bertanya-tanya, ada yang aneh dari cerita Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "bagaimana mungkin wanita itu mengetahui namamu rayi, jika pada saat itu ia telah mati?." Putri Andhini Andita hampir tidak percaya dengan cerita itu.
"Entahlah yunda. Pada saat itu aku memang tidak berbicara apapun dengan mereka. Mungkin kesadaran mereka masih ada, tapi tidak sepenuhnya mati. Mungkin saja wanita itu mengenali aku yunda." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga merasa heran dengan apa yang terjadi.
"Jadi pada hari itu mereka telah mati karena berusaha untuk mengambil kekuatan pusaka jahat iblis di desa hulu?." Raden Jatiya Dewa masih penasaran alasan mengapa mereka meninggal sebelum bertarung dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Ya, raden benar. Begitulah yang dikatakan kakek itu padaku." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kami semua memang pernah mendengarkan rumor itu. Guruku pernah mengatakan, jika ia ingin memiliki kekuatan yang setara dengan dewa. Karena itulah ia datang ke sana untuk mendapatkan kekuatan pusaka jahat iblis. Tapi aku tidak menyangka akan berakhir dengan kematian." Tangkas Baron menceritakan kejadian pada saat sebelum gurunya pergi ke desa hulu. "Pada saat itu aku hendak menyusul guruku. Tapi saat aku tiba di sungai hulu, aku melihat raden cakara yang membunuh guruku." Lanjutnya dengan perasaan sedih.
"Jadi begitu?. Tapi sayangnya adikku bertemu dengan gurumu dalam keadaan sekarat. Sangat disayangkan sekali." Putri Andhini Andita merasa miris mendengarkan cerita itu.
"Lalu bagaimana denganmu?. Apakah hampir sama saja ceritanya?." Putri Agniasari Ariani yang kali ini bertanya.
"Ya. Kekaksihku mengatakan, ia akan meningkatkan ilmu kanuragan yang ia miliki. Selain itu ia akan pergi ke desa hulu. Desa yang katanya menyimpan benda pusaka jahat yang mampu mengambilkan keinginan siapa saja jika berhasil menaklukkan pusaka jahat itu." Jawab Soban Arus. Ia tidak menyangka jika kekasihnya akan berakhir dengan mengenaskan.
"Maafkan aku. Karena aku terpaksa melakukan itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa bersalah pada Tangkas Baron dan Soban Arus. "Jika aku tidak melakukannya, kemungkinan sukma mereka akan semakin tersiksa. Gentayangan sepanjang sungai hulu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberikan pengertian pada keduanya.
__ADS_1
"Gusti prabu telah menyelamatkan sukma orang-orang yang kalian sayangi. Bayangkan saja jika pada saat itu gusti prabu tidak ada di sana." Raden Jatiya Dewa membela Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Pasti kalian tidak akan bisa lagi melihat orang-orang yang kalian cintai. Karena jatuh ke dalam sungai hulu, dan mayatnya ditemukan oleh warga desa yang mungkin saja mengurus mereka, atau malah membiarkan mereka dimakan buaya sungai hulu yang katanya sangat lapar akan daging manusia." Lanjut Raden Jatiya Dewa.
Keduanya tampak berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Raden Jatiya Dewa. Mereka menatap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Sorot mata itu sungguh-sungguh, dan tidak berbohong sama sekali. Sangat menyimpan kejujuran yang luar biasa.
"Maafkan kami gusti prabu. Maafkan kami yang telah salah dalam berpikir, dan tidak mengetahui kebenarannya." Tangkas Baron menangis sedih.
"Hamba juga minta maaf gusti prabu. Bukan hamba bermaksud untuk lancang pada gusti prabu. Hanya saja hamba sangat takut karena kekasih hamba telah dibunuh." Soban Arus juga menyadari kesalahannya.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin jika kalian mau mendengarkan apa yang telah kami jelaskan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat lega. Karena masalah ini dapat diatasi dengan baik.
"Kalau begitu kalian beristirahat lah sampai keadaan kalian benar-benar pulih. Setelah itu tergantung keputusan kalian mau pergi kemana." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya merasa kasihan dengan keadaan mereka yang saat ini sedang terluka.
"Terima kasih atas kebaikan yang gusti prabu berikan pada kami."
"Terima kasih atas kebaikan yang gusti prabu. Semoga saja kami bisa membalasnya suatu hari nanti."
Tangkas Baron dan Soban Arus memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Mereka semua telah tenang saat mendengarkan cerita dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Deg!!!
Raden Jatiya Dewa sangat takut, saat melihat Putri Andhini Andita yang menatap tajam ke arahnya. Seakan-akan ingin menerkam dirinya dan membelah tubuhnya.
"A-a-ada apa gusti putri?." Raden Jatiya Dewa mendadak terkena penyakit gagap. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...