
...***...
Saat ini Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang berkumpul di balai pertemuan Istana. Mereka membahas masalah persiapan perang dengan petinggi istana, termasuk Syekh Asmawan Mulia yang turut hadir.
"Saya mewakili keluarga istana, mengucapkan terima kasih karena para sepuh dan petinggi istana lainnya. Karena mau bergabung dengan kami hari ini, untuk membahas masalah yang akan menimpa kerajaan ini." Sang prabu memulai pertemuan itu.
"Kami juga mengucapkan terima kasih pada nanda prabu. Karena masih mau mendengarkan pendapat dari kami yang sudah mulai tua ini." Salah satu sepuh istana, Sepuh Nismara merasa terhormat hadir dalam pertemuan itu.
"Syekh guru juga mengucapkan terima kasih, karena telah mengundang syekh guru untuk membahas masalah perang ini." Begitu juga dengan Syekh Asmawan Mulia.
"Sama-sama syekh guru." Balas sang Prabu. "Kami yang masih muda ini. Masih terlalu dini untuk mengambil keputusan." Lanjutnya lagi. "Kami ingin mendengar masukan-masukan, serta pendapat para sepuh yang lebih berpengalaman dari kami dalam siasat berperang." Sang prabu menatap mereka semua dengan penuh harapan.
"Terima kasih sekali lagi nanda prabu. Karena telah memberikan kepercayaan kepada kami semua, untuk membantu melakukan persiapan perang." Mereka senang, karena masih bisa mengerahkan ide mereka untuk membantu kerajaan ini. Mereka mulai membahas bagaimana strategi perang, mereka telah merebahkannya dengan matang dan penuh persiapan. Para sepuh istana membagi pengalaman perang mereka, dan juga mendengarkan pendapat yang muda. Begitu juga dengan Syekh Asmawan Mulia yang memberikan saran dengan cara perang islam yang pernah ia dengar melalui sejarah zaman dahulu.
Bagaimana persiapan perang mereka?. Temukan jawabannya.
***
Sementara itu, dipihak prabu Rahwana Bimantara juga telah melakukan persiapan. Mereka juga melatih para prajurit agar lebih kuat lagi.
"Lihatlah raka. Mereka berlatih lebih keras lagi, supaya mereka benar-benar menguasai arena perang." Putri Ambarsari memperhatikan prajurit yang berlatih di halaman istana.
"Mereka harus ditempa dengan baik. Dalam setengah purnama ini mereka harus kuat, agar mereka dengan mudah mengalahkan prajurit kerajaan suka damai" Raden Gentala Giandra sangat setuju dengan apa yang dikatakan adiknya.
"Kita juga harus melakukan persiapan dengan baik. Agar kakek prabu bangga dengan hasilnya nanti raka." Putri Ambarsari terlihat sangat berambisi dalam mengambil hati Prabu Rahwana Bimantara.
"Selain itu kita juga memikirkan sesuatu." Raden Gentala Giandra tersenyum aneh.
"Apa maksud raka?." Putri Ambarsari tidak mengerti sama sekali.
"Dia. Orang yang bertopeng itu." Jawabnya.
"Raka benar. Aku yakin, dia pasti akan ikut campur dalam perperangan nanti." Putri Ambarsari tidak akan pernah melupakan sosok itu, sosok yang berhasil menggagalkan rencana mereka waktu itu.
"Kita harus memberi tahu pada kakek prabu, untuk mewaspadai orang itu. Karena dia akan menjadi ancaman terbesar kita nantinya." Raden Gentala Giandra memikirkan cara untuk mengatasi orang itu.
"Itu harus raka. Supaya kakek prabu waspada saat menyerang istana nanti." putri Ambarsari juga mengingat bagaimana orang itu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Namun bukan hanya itu saja rayi. Masih ada dua orang yang harus kita beri pelajaran." Raden Gentala Giandra terlihat geram mengingat kejadian itu. "Hadyan hastanta, dan juga andhini andita." Rasa sakit hati telah membuncah di dalam hatinya saat ini.
"Akan aku hajar mereka berdua Jika aku bertemu dengan mereka nanti. Aku tidak perduli lagi dengan mereka. Aku benar-benar benci dengan penghianat seperti mereka." Betapa geramnya ia dengan perlakukan Putri Andhini Andita waktu itu.
Tapi yang pasti, selain menghancurkan istana, tujuan mereka adalah membunuh orang-orang yang setia mengikuti prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Apakah tidak ada kata damai lagi di dalam hati mereka?. Apakah mereka mampu melakukannya?. Temukan jawabannya.
...***...
Kembali ke istana Suka Damai.
"Kita berperang bukan untuk ambisi membunuh lawan. Tapi untuk membela kebenaran." Syekh Asmawan Mulia dipercayai untuk memimpin pasukan yang akan berjaga di sungai kecil yang ada di dekat pembatas istana.
"Kita melakukan pelatihan ini bukan hanya tujuan perang. Namun untuk melatih fisik dan mental kita semua. Apakah kita siap mengangkat senjata, untuk saling membunuh satu sama lain?." Syekh Asmawan Mulia memperhatikan prajurit yang sudah siap siaga.
"Dalam perang yang dilakukan nabi Muhammad Saw. Beliau mengumandangkan takbir, untuk menyemangati saudara-saudaranya. Semoga disaat perang nanti sebisa mungkin kita melakukannya, untuk menyemangati saudara-saudara kita nantinya." Syekh Asmawan Mulia menjelaskan kepada mereka semua tentang perang zaman dahulu, dan mereka akan melakukan hal yang sama?. Bisa saja hal itu terjadi.
__ADS_1
"Allahuakbar!." Suaranya terdengar keras menyemangati prajurit.
"Allahuakbar!." Sambut sebagian prajurit yang sudah memeluk agama islam.
"Selain itu kita tidak perlu memaksakan latihan. Namun bukan berarti kita menjadi seorang pemalas." Syekh Asmawan Mulia kembali memberikan penjelasan kepada mereka.
"Karena tubuh kita juga harus dalam keadaan sehat dalam berperang. Kita tidak boleh lelah sebelum berperang. Kenapa?." Syekh Asmawan Mulia melemparkan pertanyaan pada mereka semua. Namun mereka hanya diam, saling bertatapan satu sama lain, karena tidak mengetahui jawabannya sama sekali.
"karena, jika kita sudah kelelahan duluan sebelum berperang. Musuh akan dengan mudah mengalahkan kita. Karena itulah kita harus tetap menjaga kesehatan fisik kita sebelum berperang." Syekh Asmawan Mulia menjelaskan kepada mereka semua.
"Selain itu, kita juga harus memiliki hati yang kuat. Sambil terus mengingat Allah ketika perang. Semoga Allah SWT memberikan keselamatan bagi kita saat perang terjadi. Tetaplah waspada saat berlangsungnya perang." Syekh Asmawan Mulia benar-benar memberikan arahan pada mereka semua.
Apakah mereka bisa menghadapi masalah yang terjadi?. Temukan jawabannya.
...****...
Di sisi lain di Istana.
Jaya Satria dan Raden Hadyan Hastanta sedang melatih Putri Andhini Andita, untuk menguasai beberapa jurus agar bisa bertahan saat perang nanti. Dengan sabar keduanya mengajari beberapa gerakan yang mudah.
"Inti dari gerakan silat yang kita gunakan hanya untuk pertahanan. Selain itu hati kita yang mengendalikannya." Jaya Satria sedikit memberikan arahan pada Putri Andhini Andita. "Jurus itu berbahaya atau tidak, kita yang mengatur dari hawa murni yang ada di dalam diri kita masing-masing." Lanjutnya lagi.
"Mengatur hawa murni yang didalam tubuh kita. Berbahaya atau tidak, kita yang mengaturnya." Ulangnya sambil melakukan gerakan jurus memukul di ruangan tanpa udara. Pukulan itu cukup bertenaga, hingga menimbulkan tekanan angin disekitarnya.
"Luar biasa. Hanya beberapa kali melihatnya, dan hanya mendengarkan arahan dari jaya Satria. Rayi andhini andita menguasai dengan cepat." Raden Hadyan Hastanta tidak menyangka adiknya secepat itu menguasai jurus itu?. Sangat luar biasa sekali untuk seorang pemula.
"Gusti putri sebenarnya orang yang cerdas. Tapi maaf, hanya saja malas untuk berlatih." Jaya Satria tersenyum kecil.
Putri Andhini Andita mengatur hawa murninya, ia mendaki mereka dengan wajah cemberut.
"Jangan mudah cepat merajuk rayi. Kau terlihat lucu dengan wajah seperti itu." Raden Hadyan Hastanta tidak dapat lagi menahan tawanya.
"Benar sekali raden. Apalagi sifat pemarahnya itu. Hamba khawatir dengan lawannya, yang terkena dampak amarahnya nanti." jaya satria malah ikutan tertawa.
"Kalian ini menyebalkan. Akan aku beritahu rayi prabu, bahwa kalian berdua telah mempermainkan aku." Putri Andhini Andita semakin merajuk, ia merasa jengkel karena ditertawakan oleh mereka.
"Yaaah malah mengadu pada rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta malah mengejek adiknya.
Putri Andhini Andita yang sedang cemberut, namun malah ditertawakan oleh Raden Hadyan Hastanta dan Jaya Satria. Akan tetapi pada saat itu mereereka terlihat akrab, seakan tidak terjadi apa-apa diantara mereka sebelumnya.
"Rasanya aku sedang berbicara dengan rayi prabu. Ketika kami masa kecil, sebelum kami terhasut oleh ucapan ibunda kami." Dalam hati Raden Hastanta seakan merasakan seperti itu. Entah mengapa berbicara dan bercanda seperti ini dengan Jaya Satria, ia seakan merasakan kehadiran adiknya Cakara Casugraha
Dulu mereka sempat akur saat usia sepuluh tahunan. Namun saat mereka beranjak remaja, mereka malah saling bermusuhan, karena ucapan dari ibunda mereka yang tidak pernah bisa bersama.
"Maafkan aku selama ini, yang dengan bodohnya tidak menyadari kebenarannya rayi prabu." Dalam keadaan seperti ini, Raden Hadyan Hastanta merasa bersalah pada adiknya. Ia sangat ingin dekat dengan adiknya, namun dalam keadaan seperti ini rasanya mustahil. Tapi apakah setelah ini ia bisa melakukannya?. Dalam hatinya ia berharap itu akan terjadi setelah ini.
"Rasanya memang sedang berbicara dengan rayi prabu, dengan keadaan normal sebelum ia menjadi raja." Putri Andhini Andita juga merasakannya. Ia tidak tahu perasaannya yang mulai nyaman berbicara dengan Jaya Satria.
"Sebenarnya siapa jaya satria?. Kenapa ia memiliki aura yang sama dengan rayi prabu?." Dalam hatinya bertanya-tanya. Siapa sebenarnya dibalik sosok bertopeng itu?. Raden Hadyan Hastanta dan Putri Andhini Andita merasakan perasaan rindu untuk berkumpul dan berbincang-bincang dengan adiknya itu.
...****...
Malam ini terasa sepi. Putri Andhini Andita masih terbangun, karena ia tidak bisa tidur. Itulah alasan kenapa ia pergi ke taman Istana meskipun sudah larut malam.
__ADS_1
"Apa yang dilakukan seorang putri raja malam-malam seperti ini?." Jaya Satria duduk di tempat biasa. Namun kali ini putri Andhini Andita dapat melihat senyuman itu.
"Oh, kau rupanya jaya satria." Ia tersenyum kecil. Ia sudah terbiasa melihat kehadiran Jaya Satria sekarang. Ia mendekati Jaya Satria dan duduk di sampingnya.
"Haruskah aku berterima kasih padamu. Karena kau telah menyadarkan aku dari kebodohan, yang selama ini aku lakukan pada rayi prabu?." Ia menatap langit malam yang kadang berkelipan oleh bintang,
Jaya Satria tersenyum mendengarnya. "Hamba hanyalah bawahan raja. Gusti prabu hanya tidak menginginkan perpecahan antara kita semua. Jadi sudah menjadi kewajiban hamba untuk melakukannya." Suara itu terdengar tulus, dan menyentuh.
"Jadi maksudmu, kau melakukan semua ini karena perintah rayi prabu?." Ia ingin tahu apakah itu benar atau tidak.
"Gusti putri jangan salah faham dulu." Mata itu melirik ke arah putri Andhini Andita. Ia tidak ingin Putri Andhini Andita berpikir lain tentang sang prabu.
"Um." Ia menganggukkan kepalanya. Matanya menatap teduh ke langit, senyumannya mengembang di wajahnya. "Setidaknya, melaluimu rayi prabu memang ingin kami bersatu tanpa adanya permusuhan." Tatapan mata itu sangat tulus, juga senyumannya. "Aku mengerti sekarang." ia menopang dagunya dengan bersandar di lututnya.
"Jika rayi prabu yang langsung melakukannya. Akan semakin besar kebencian kami padanya." Senyum itu berganti dengan kesedihan. "Aku masih ingat ketika kau mengubah wajahmu menjadi wajah rayi prabu waktu itu. Seketika rasa kebencian di dalam hatiku keluar begitu saja." Ia masih ingat dengan kejadian itu.
"Mungkin rayi prabu menghindari hal seperti itu. Dengan menyuruhmu untuk menggantikannya. Sedangkan menurut pandangan kami, dia seakan berpura-pura tidak peduli pada kami. Tapi melaluimu, dia mempercayakan kami padamu." Ia menatap mata jaya Satria. "Sungguh. Rasanya aku sangat berdosa padanya." Ia mencoba menghela nafasnya. Jaya Satria senang mendengarnya, ia juga tersenyum melihat ketulusan itu.
"aku juga berterima kasih kepadamu. Karena telah menyadarkan aku. Menyadarkan betapa bodohnya aku. Aku lah yang membuatnya menjadi orang pemarah. Membuatnya pernah menjadi orang yang buruk di masa lalunya." Penyesalan itu timbul menusuk hati.
"Allah SWT maha pengampun. Memaafkan umatnya. Hamba yakin sekali jika gusti prabu mau memaafkan gusti putri." Ucap Jaya Satria. "Semua orang pernah melakukan kesalahan. Entah itu disengaja, atau tidak disengaja." lanjutnya.
"Tapi kesalahan yang aku lakukan sangat sengaja. Sengaja mencari-cari kesalahan rayi prabu, agar ia selalu salah di mata ayahanda prabu. Hingga ia menjadi pribadi yang buruk. Namun siapa sangka, saat masuk Islam ia menjadi lebih baik. Bahkan lebih baik dari pada aku." Putri Andhini Andita mengingat semua yang ia lakukan pada adiknya.
"Sudahlah gusti putri. Tidak ada gunanya menyesali masa lalu. Ada hal yang lebih penting sekarang, yaitu memperbaiki kesalahan di masa lalu, agar bisa melangkah menuju masa depan yang lebih baik."
"Kau benar. Aku akan mencoba melakukan yang terbaik untuk rayi prabu. Aku akan memperbaiki semua kesalahan yang telah aku lakukan padanya." Itulah janjinya.
Malam itu mereka habiskan dengan mengobrol satu sama lain. mengungkapkan kesalahan masa lalu, yang membuat mereka menyadari, bahwa setiap manusia pasti akan pernah mengalami perubahan. Ke arah yang lebih baik, atau ke arah keburukan.
Tapi dalam hati mereka masih berharap perang ini tidak terjadi. Kenapa?. Karena ada korban tidak berdosa berjatuhan. Siapa mereka?. Yaitunya penduduk yang berada tak jauh dari lokasi perang. Bukan hanya itu saja, ketakutan menghantui pikiran mereka yang takut akan kematian sebagai korban perang. Tidak ada yang baik dari perang yang akan terjadi. Apakah mereka bisa menghindari perang? Temukan jawabannya.
...****...
Di Istana Mekar Jaya.
"Jadi orang misterius, yang membongkar kelicikanku itu, adalah bawahannya nanda prabu?." Prabu Rahwana Bimantara sedikit terkejut, ia tidak menyangka itu.
"Benar kakek prabu. Kita harus waspada terhadapnya." Raden Gentala Giandra memberitahu pada kakeknya.
Saat ini mereka masih terjaga karena mereka membahas siapa saja yang kemungkinan yang akan ikut dalam perang itu.
"Tapi kakek prabu tenang saja. Aku dan raka gentala giandra akan mengatasi orang itu dengan jurus yang kami miliki." Putri Ambarsari terlihat memiliki maksud tertentu.
"Kalau begitu aku serahkan dia pada kalian." Sang Prabu merasa terbantu dengan apa yang mereka lakukan, dengan begitu ia tetap bisa fokus melawan prabu Asmalaraya Arya Ardhana nantinya.
Namun di saat mereka sedang membahas masalah persiapan perang, tiba-tiba Prabu Rahwana Bimantara merasakan sakit di bagian perut kirinya. Seakan ada yang menusuk-nusuk di sana. Sang prabu merintih kesakitan, sehingga membuat mereka semua terkejut.
"Kakek prabu!." Raden Ganendra Garjitha, juga kedua adiknya panik, mereka tidak mengerti mengapa Prabu Rahwana Bimantara kesakitan.
"Kakek prabu!." Mereka sangat panik karena prabu Rahwana Bimantara pingsan, tidak sadarkan diri?.
"Bangun kakek prabu." Mereka semua berusaha membangunkan sang prabu, namun tidak ada tanggapan sama sekali. Apa yang terjadi sebenarnya?. mengapa sang prabu mendadak pingsan?. Apakah perang itu akan terus berlanjut?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...