RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERASAAN HATI


__ADS_3

...***...


"Itu wajar saja jika kau curiga rayi." Putri Ambarsari merasa sangat sedih, hatinya sangat sedih mengingat apa yang telah terjadi. "Itu semua tergantung penilaian darimu rayi, saya tidak ingin membela diri."


"Sudahlah raka, yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba memberikan peringatan pada mereka. "Percayalah jika semuanya akan baik-baik saja." Dengan senyuman lembut sang Prabu menatap keduanya. "Jangan ada lagi dendam diantara kita, percayalah jika yunda ambarsari datang ke sini memang sangat cemas dengan keadaan kakek Prabu."


Tidak ada tanggapan dari Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta, mereka hanya diam saja, rasanya percuma saja melawan ucapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


...***...


Desa Gamang kuasa.


Perlahan-lahan mereka mengalami perubahan, mereka yang mau belajar dengan baik mengenai agama islam, dan berusaha dengan baik meninggalkan perangai buruk yang telah mereka lakukan sebelumnya.


Pada saat itu Syekh Asmawan Mulia dan Raden Harjita Jatiadi yang sedang membantu beberapa anak muda membawa kayu besar untuk bangunan mushola kecil yang akan mereka dirikan bersama-sama.


"Mohon maaf, jika kami telah membuat Syekh guru dan Raden terlibat dalam pembangunan ini."


"Tidak apa-apa, ini juga demi kebaikan kita semua."


"Saya juga ingin melakukan yang terbaik untuk kita semua." Raden Harjita Jatiadi terlihat kesusahan, namun berusaha untuk menutupi itu. "Saya juga ingin merasakan dekat dengan rakyat biasa."


"Wah? Sangat luar biasa sekali Raden." Ia merasa kagum. "Tidak biasanya anak seorang Raja mau berbaur dengan kami rakyat kecil."


"Memangnya kau rakyat mana?." Ucapnya dengan nada bercanda.


Hingga saat itu gelak tawa pecah begitu saja, mereka bisa berbaur dengan sangat baik, saling dekat sebagai anak muda.


Sementara itu Putri Cahya Candrakanti sedang memasak dengan beberapa anak gadis desa. Mereka memasak untuk pemuda yang sedang gotong royong mendirikan mushola.


"Maaf, saya memang tidak pandai dalam urusan memasak." Putri Cahya Candrakanti tersipu malu. "Tapi saya mohon ajarkan saya cara memasak."


"Tentu saja nimas, anggap saja ini balasan karena nimas telah bersedia mengajari kami banyak hal tentang agama."


"Terima kasih saya ucapkan."


Putri Cahya Candrakanti bukan hanya mengajar saja, namun ia juga belajar dengan baik dengan mereka semua. Apakah akan berjalan dengan baik?. Simak terus ceritanya.


...***...


Istana Mekar Jaya.


Saat itu mereka sedang berunding mengenai Putri Ambarsari yang mungkin saja telah sampai di kerajaan Suka Damai?.


"Sudah hari ketiga, aku yakin rayi ambarsari telah sampai di kerajaan suka damai." Ucapnya dengan sangat yakin.


"Benar raka prabu." Ia sangat setuju. "Aku yakin rayi ambarsari sedang tertawa bahagia karena telah mendapatkan mahkota kakek Prabu." Dari raut wajahnya terlihat sangat jelas.


"Kita hanya menunggu dengan sabar." Ratu Ardiningrum Bintari tersenyum puas sambil membayangkan bagaimana keadaan putrinya. "Setelah itu, mahkota kebesaran kerajaan mekar jaya akan terpasang dengan indahnya di kepalamu, putraku." Ada kebanggaan yang ia rasakan di dalam hatinya.


"Tentu saja ibunda." Ia menopang dagunya. "Aku yakin rayi ambarsari melakukannya dengan baik, karena ia tidak pernah mengecewakan aku." Senyuman percaya diri terlihat sangat jelas di wajahnya yang gagah itu.


"Ya, semoga aja seperti itu putraku, ibunda tidak sabar lagi menunggu kepulangan ananda putri datang ke istana ini sambil membawa mahkota itu."


akan tetapi pada saat itu ada itu ada seorang prajurit yang datang masuk menghadap.


"Hamba menghadap gusti Prabu."


"Ada apa prajurit?."


"Mohon ampun gusti prabu, di depan gerbang istana rakyat mengamuk, mereka menuntut gusti Prabu."


"Apa?! Sungguh kurang ajar sekali mereka!."


"Ayo kita lihat raka Prabu."


"Ibunda tunggu di sini saja." Ia memberikan peringatan pada ibundanya. "Biar aku, rayi gentala giandra yang melihat ke sana."


"Berhati-hatilah putraku." Ada perasaan cemas yang ia rasakan saat itu. "Jangan biarkan mereka menyakitimu nak." Ratu Ardiningrum Bintari sangat takut jika terjadi sesuatu pada anaknya.


Setelah itu ia pergi ke sana bersama adiknya, melihat situasi di depan gerbang istana. Perasaanya sangat bergemuruh ketika melihat mereka yang mengamuk sambil menyebut nama Prabu Rahwana Bimantara.


"Hentikan!." Suaranya yang keras membuat rakyat mekar jaya terkejut, dan berhenti mendesak untuk masuk.


"Siapa kau?! Dimana raja kami prabu rahwana bimantara?."


"Ya?! Dimana gusti prabu rahwana bimantara?! Mengapa beliau tidak lagi melakukan kunjungan terhadap rakyatnya?."


"Diam kalian!."


Mereka terdiam, suara itu sanga keras, dan membuat mereka semua terkejut, termasuk prajurit.


"Aku! Bahuwirya ganendra garjitha yang akan menjadi raja kalian! Kakek prabu rahwana bimantara telah memberikan tahta ini padaku!."


Mereka semua tidak percaya dengan ucapan itu.


"Akulah Raja kalian sekarang!."

__ADS_1


"Kalian harus tunduk dan patuh pada perintah raja baru kalian!." Raden Gentala Giandra menambahkan.


"Itu tidak mungkin! Kami tidak mendengar kabar apapun dari Raja kami."


"Ya! Kakek prabu belum mengumumkan pada kalian semua! Tapi setelah ini kalian akan mendengar kabar bahagia itu."


Akan tetapi mereka tidak terima, tidak mungkin prabu Rahwana Bimantara mengangkat raja baru tanpa sepengetahuan rakyatnya. Mereka yang tidak terima, mencoba masuk mendesak prajurit.


"Raka prabu, sepertinya mereka tidak bisa diajak bicara dengan bahasa yang baik."


"Kau benar rayi."


Keduanya menyiapkan tenaga dalam mereka setelah itu Ia arahkan ke rakyat yang sedang dorong-dorongan dengan prajurit istana.


Terdengar suara teriakan rakyat serta prajurit yang terkena serangan itu. Sampai hati kedua pangeran itu menyerang mereka semua?.


"Pergilah kalian dari istanaku! Atau akan aku menghabisi kalian satu persatu!."


"Pergilah! Sebelum aku mengamuk!."


Keduanya mengancam rakyat dengan raut wajah yang gahar, sehingga mereka ketakutan dan terpaksa meninggalkan istana. Sedangkan prajurit yang ikut terluka mecoba untuk bangkit. Mereka menepi karena tidak mau terluka.


"Kita tidak boleh lemah terhadap mereka raka prabu."


"Ya, aku tidak mau diserang oleh mereka seperti cakara casugraha waktu itu diserang rakyatnya?."


"Jangan sampai itu terjadi raka prabu, kita serang saja mereka dengan tenaga dalam kita! Jika perlu kita bunuh siapa saja yang berani membangkang pada perintah atau perkataan raka prabu."


"Heh! Kau sangat pintar rayi."


"Tentu saja aku pintar raka prabu, ibundanya pintar? Tentu anaknya juga."


Keduanya tertawa bahagia dengan percakapan itu. Entah apa yang tertawakan, namun hati mereka puas setelah mengancam rakyat.


...***...


Kembali ke istana Suka Damai


"Bfh!"


"Heh!"


"Ups." Ia pura-pura tidak tahu.


"Sudahlah yunda! Tenanglah! Jaya satria tidak akan macam-macam, hanya satu macam saja, yaitunya tuan putri andhini andita."


"Kau hanya menghibur saja rayi?." Ia duduk di samping adiknya.


Putri Andhini Andita dan Putri agniasari Ariani saling berpandangan. Namun seelah itu, putri Agniasari Ariani malah tertawa.


"Yunda tahu tidak? Jika yunda andhini andita menyukai jaya satria loh."


"Ih! Rayi?! Kau sangat tidak sopan menyebarkan berita itu pada yunda ambarsari." Ia merasa kesal pada adiknya hingga ia mencubitnya.


"Aduh! Aduh! Sakit! Yunda ambarsari! Aku dicubit yunda andhini andita!."


Putri Agniasari Ariani menghindarinya, namun kakaknya tidak membiarkan adiknya lari begitu saja. Sedangkan Putri Ambarsari tercengang, pada akhirnya ia tertawa melihat itu.


Masih di lingkungan istana.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Jaya Satria dan Nyai Bestari Dhatu.


"Sepertinya putri andhini andita menyukaimu, Raden."


Keduanya saling bertatapan.


"Aku dapat merasakan bagaimana ia bersikap pada Raden, bagaimana kecemburuannya saat melihatku yang begitu akrab dengan Raden."


Belum ada reaksi dari keduanya.


"Rasa cemburu itu seperti ingin menikamku, mungkin putri andhini andita hanya segan, karena aku adalah kenalan gusti Prabu." Ia dapat merasakan itu, meskipun beberapa hari berada di istana ini. Ia dapat melihat itu. Bagaimana Putri Andhini Andita yang terlihat mulai cuek padanya?.


"Aku tidak bisa bayangkan jika putri andhini andita tahu siapa yang ia cintai?."


"Itulah yang seharusnya aku hindari dengan bertugas di luar, karena aku tidak mungkin membalas perasaannya."


"Raden memang selalu menjaga perasaan wanita."


"Lalu bagaimana dengan perasaan nyai sendiri terhadap raka hadyan hastanta?."


Nyai Bestari Dhatu terdiam dengan pertanyaan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Kalau masalah itu, aku takut untuk merasakan kembali perasaan itu."


Keduanya tersenyum kecil. "Aku yakin raka juga menyukai nyai." Ia yang tadinya berdiri, sekarang mendekat duduk di samping Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Mengapa Raden bisa seyakin itu?."

__ADS_1


"Karena aku bisa melihat tatapan kecemburuan dari matanya saat nyai bersama gusti Prabu."


Keduanya tertawa kecil, membuat Nyai Bestari keheranan.


"Aku harap istana ini tidak terbakar karena dipatik api cemburu."


"Ya, Gusti prabu benar, cinta memang sangat mengerikan."


Nyai Bestari Dhatu mencoba untuk tersenyum mengingat masa lalunya yang hancur karena cinta.


"Tapi nyai tenang saja, cinta itu berbagai bentuknya, Allah SWT menciptakan hati untuk menilainya." Sang prabu tersenyum kecil.


"Allah SWT selalu menyayangi umatnya dengan adanya masalah, menguji iman, mungkin kegagalan yang nyai alami dimasa lalu itu, karena Allah SWT ingin menguji seberapa kuat iman nyai." Lanjut sang prabu.


"Semua yang terjadi pada nyai telah hilang sejak mengobati orang lain, itu karena nyai menyembuhkan mereka dengan perasaan hati yang bahagia, karena itulah nyai ingin terus mengobati orang lain." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengerti dengan itu.


"Ya, Gusti Prabu benar, hamba memang merasakan seperti itu ketika mengobati orang lain, entah kenapa rasa bahagia itu seakan-akan mengobati perasaan susana hati hamba." Nyai Bestari Dhatu tersenyum kecil.


"Itulah bukti bahwa Allah tidak jahat pada umatnya, bahkan ketika umatnya bersedih karena masalah dunia, Allah SWT segera menggantikannya dengan kebahagiaan yang lain."


"Rasanya aku sangat senang bisa berbicara dengan Raden dan Gusti Prabu setelah sekian lama tidak bertemu."


"Alhamdulillah hirobbil alamin, kami juga senang nyai."


Mereka merasa bersyukur karena bertemu dengan orang-orang baik.


"Tapi aku merasa sedih karena raga Raden jaya satria terluka? Maka Gusti Prabu juga akan terluka, apakah itu tidak apa-apa?."


"Itu semua sudah kehendak Allah SWT, kami tidak menghindarinya."


"Benar nyai." Jaya Satria tersenyum kecil. "Di dunia ini ada nasib yang bisa kita ubah, ada juga yang tidak bisa kita ubah, tapi kami tetap bersyukur kepada Allah SWT, kami akan saling menjaga satu sama lain."


"Aku akan selalu mendoakan Raden serta gusti prau baik-baik saja."


"Terima kasih nyai." Ucap keduanya.


"Jika memang nyai memiliki perasaan pada raka hadyan hastanta, nanti aku akan mecoba mendekatkan dengannya."


"Ya, aku tidak mau dibakar api kecemburuannya, rasanya tidak nyaman sekali." Jaya Satria sampai bergidik ngeri.


"Maafkan aku karena telah merepotkan Gusti Prabu, juga Raden."


"Aku tidak merasa direpotkan, asalkan demi kebahagiaan saudaraku, tentunya akan aku lakukan, juga kebahagiaan nyai yang telah aku anggap seperti yundaku sendiri."


"Terima kasih atas perhatian yang gusti prabu berikan padaku, rasanya aku sangat terharu, meskipun jauh dari keluargaku saat ini."


"Sebagai sesama saudara? Berbagi kebahagiaan adalah hal yang paling membahagiakan, semoga nyai tidak dikecewakan oleh raka hadyan hastanta."


"Jika nyai dikecewakan raka hadyan hastanta, aku sendiri yang akan menghukumnya."


Nyai Bestari Dhatu tidak dapat menyembunyikan kebahagiannya. Ia tidak menyangka Gusti prabu dan Jaya Satria begitu memperhatikan kebahagiannya.


"Oh dewata yang agung, setelah kesendirian hamba bertahun-tahun? Apakah hamba bisa merasakan kasih sayang dari seseorang lagi?." Dalam hatinya berharap ada kebahagiaan yang akan ia dapatkan setelah sekian tahun menyendiri, menjadi ahli obat yang menyembuhkan siapa saja.


...**...


Di Desa Gamang Kuasa.


Syekh Asmawan Mulia, Putri Cahya Candrakanti, dan Raden Harjita Jatiadi merasa senang. Karena seminggu lebih ini ada perubahan yang pesat mereka lihat di desa ini.


Mereka beristirahat di rumah yang memang dikhususkan untuk ketiganya bermusyawarah. Namun jika untuk tidur, mereka diberikan dua rumah. Satu rumah tinggal Syekh Asmawan Mulia, dan Raden Harjita Jatiadi, sementara Putri Cahya Candrakanti tinggal sendirian.


"Alhamdulillah syekh, atas bantuan dan bimbingan syekh, warga desa gamang kuasa sudah ada yang masuk agam islam."


"Alhamdulillah Gusti Putri, ini juga berkat bantuan dari Gusti Putri dan juga Raden yaang dengan sabar mengajari mereka."


"Kami sangat berterima kasih syekh, mungkin tugas ini tidak akan berjalan dengan lancar jika tidak dibimbing oleh syekh, jujur awalnya saya takut karena mereka tidak mau menerima kedatangan kami."


"Saya sudah melakukan banyak penyebaran agama islam di desa lainnya, di wilayah kerajaan suka damai karena permintaan gusti prabu asmalaraya arya ardhana."


"Jadi syekh kenal dengan gusti prabu asmalaraya arya ardhana?."


"Ya, saya kenal beliau, saya abdi beliau dalam masalah urusan penyebaran agama islam, hampir setengah dari wilayah kerajaan suka damai, rakyatnya sudah memeluk agama islam."


"Subhanallah, sungguh Raja yang memperhatikan rakyatnya."


"Ya. Mungkin saya akan menyarankan ayahanda untuk melakukan hal yang sama. Ini demi kebaikan kita bersama agar tersebarnya agama yang membawa perdamaian bagi kita semua."


"Alhamdulillah nada prabu selalu memikirkan kebaikan setelah menyatakan dirinya sebagaai seorang muslim."


"Jadi gusti prabu asmalaraya arya ardhana adalah seorang mualaf?."


Ia jadi teringat dengan jaya satria yang mengatakan ia juga seorang mualaf.


"Ya, karena ayahandanya menganut agama hindu, sapi sang prabu masuk agama islam karena saran dari ayahandanya."


Syekh Asmawan Mulia menceritakan sedikit tentang prabu Asmalaraya Arya Ardhana pada mereka tanpa menyinggung Jaya Satria, karena janjinya untuk tetap menyimpan rahasia sang prabu.

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Next.


...***...


__ADS_2