RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PANGGILAN


__ADS_3

...***...


Putri Agniasari Ariani mencoba untuk melakukan sebisanya, hingga ia berhasil membantu wanita itu.


"Bagaimana ndok? Apakah bisa?."


"Alhamdulillah hirobbil'alamin bisa nyi."


"Sykurlah kalau begitu."


Keduanya menatap wanita muda yang kini tertidur setelah menjalani persalinan. Bayinya juga telah dimandikan dengan air hangat, semuanya telah berjalan dengan aman.


"Untuk sementara waktu, saya mohon agar nyai mengizinkan kami tinggal di sini, saya cemas dengan keadaannya."


"Itu tidak masalah bagiku." Wanita setengah baya itu tersenyum padanya. "Apakah dia adalah ayuk mu?."


Putri Agniasari Ariani terdiam sebentar. "Sebenarnya bukan nyi, saya hanya seorang pengembara." Putri Agniasari Ariani melihat ke arah wanita muda itu. "Ketika saya hendak meninggalkan penginapan? Saya melihat ia sedang dikeroyok oleh beberapa lelaku yang sangat kurang ajar!." Entah kenapa hatinya sangat kesal mengingat itu.


"Aku pikir kau saudaranya, karena kau sangat perhatian padanya."


"Bagi saya membantu seseorang tidak perlu memiliki hubungan darah nyi." Jawabnya dengan sangat yakin. "Saat itu saya hanya merasa terpanggil untuk membantunya, saya kasihan melihatnya."


"Untuk apa kau kasihan? Pada orang yang dengan mudahnya memberikan mahkota miliknya pada lelaki mata keranjang?."


Deg!


"Nyai mengetahui tentang wanita ini?." Putri Agniasari Ariani sangat terkejut. "Lantas bagaimana dengan orang tuanya?.


"Aku hanya melihatnya hidup menderita setelah ia berhasil digauli senopati bumi sejagad, dia itu memang lelaki bejad!." Terlihat hawa kemarahan yang sangat kental darinya. "Bahkan sejak saat itu kedua orang tuanya sama sekali tidak mau mengakuinya sebagai seorang anak saking malunya." Ia terbawa suasana. "Sebaiknya kau jangan sampai bertemu dengannya cah ayu!." Sorot matanya terlihat sangat tajam. "Kau akan menjadi rusak seperti dia!."


"Mohon maaf nyai, apakah tidak ada yang bisa menghentikannya? Kasihan sekali nasib para wanita yang menjadi korbannya nyai."


Nyai Senada menghela nafasnya dengan pelan. "Tidak ada yang berani menghadapinya, karena ia memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi." Kembali ia menghela nafasnya. "Aku harap kau jangan berpikir untuk terlibat dengannya, karena begitu banyak pendekar hebat yang menjadi pengawalnya, kau akan habis jika berhadapan dengannya."


Putri Agniasari Ariani tidak menjawabnya, matanya memperhatikan wanita muda cantik yang masih terbaring di dipan itu dengan wajah yang pucat.


"Untuk beberapa hari ini kau tetaplah di sini ndok, akan berbahaya jika kau meninggalkan desa ini, aku hanya tidak ingin kau menderita seperti dia." Ia juga melihat ke arah wanita muda malang itu. "Dengarkan apa yang aku katakan ini! Pokoknya kau jangan sampai pergi dari sini sebelum lelaki jahanam itu pergi dari desa ini!." Ucapnya dengan penuh penekanan.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, Apa yang harus hamba lakukan?." Dalam hatinya merasa sangat gelisah.


Apakah yang akan dilakukan Putri Agniasari Ariani?. Apakah ia akan diam saja?. Simak dengan baik lanjutannya.


...***...


Istana Kerajaan Suka Damai.


Putri Andhini Andita dari tadi bolak-balik di depan bilik tamu milik Nyai Bestari Dhatu, ia juga takut mengganggu tamu.


"Apa yang harus aku lakukan?." Putri Andhini Andita malah bimbang dengan perasaannya. "Aku harus segera bertemu dengannya, dan menyampaikan padanya, bagaimana caranya menyembuhkan rayi Prabu, juga jaya satria?." Putri Andhini Andita sangat gelisah.


Rasanya ia tidak bisa menunggu terlalu lama, hanya saja ia teringat jika Nyai Bestari Dhatu sedang melakukan semedi, sehingga ia tidak berani untuk mengganggunya.


"Oh dewata yang agung? Semoga saja nyai bestari dhatu juga mendapatkan petunjuk cara menyembuhkan rayi Prabu, juga jaya satria." Dalam hati Putri Andhini Andita sangat berharap itu terjadi. "Rayi Prabu, jaya satria, aku mohon pada kalian agar tetap bertahan, kami pasti akan membantu kalian." Dalam hatinya sangat cemas.


Sementara itu.


Dibawah alam sadar Nyai Bestari Dhatu, dalam semedinya, saat ini seperti sedang dituntun oleh seseorang berjalan menuju ruang utama Istana Kerajaan Suka Damai. Matanya menangkap seseorang yang sedang duduk di Singgasana kerajaan Suka Damai.


"Hormat hamba Gusti Prabu." Nyai Bestari Dhatu sedikit berdegup kencang, karena yang ia lihat bukanlah prabu Asmalaraya Arya Ardhana ataupun Prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Aku terima salam hormatmu cah ayu." Senyumnya begitu ramah, dan suara itu sangat bersahabat. "Duduklah cah ayu." Lanjutnya mempersilahkan Nyai Bestari Dhatu duduk di kursi yang ada dihadapannya.


"Terima kasih Gusti Prabu." Nyai Bestari Dhatu duduk dengan tenang. Mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terlihat gelisah.


"Kau tenang saja cah ayu, aku lah yang memanggilmu ke sini." Ia masih tersenyum ramah. "Aku adalah Prabu bahuwirya jayantaka byakta, terima kasih kau mendengarkan panggilanku dalam semedimu ndok." Ternyata beliau adalah Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.


"Pantas saja hamba seperti dituntun untuk mengarah ke sini, maafkan hamba jika lancang Gusti Prabu." Nyai Bestari Dhatu merasa bersalah.


"Tidak apa-apa cah ayu, aku merasakan kegundahan hatimu, apa yang membuatmu gelisah cah ayu?." Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta bertanya.


"Mohon ampun gusti prabu." Nyai Bestari Dhatu memberi hormat. "Hati hamba sedang gelisah, karena Gusti Prabu asmalaraya arya ardhana dan jaya satria, saat ini sedang dalam keadaan bahaya." Raut wajahnya terlihat sangat sedih ketika mengucapkan kalimat itu. "Hamba tidak bisa mengobati keduanya, karena belum bisa menemukan obat penawarnya Gusti Prabu."


Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta dapat menyimak kegelisahan itu, dipenuhi ketakutan-ketakutan yang sangat luar biasa.


"Tenangkan dirimu cah ayu." Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta tersenyum kecil. "Jangan biarkan kegelisahan mempengaruhi kemampuanmu, sebagai seorang tabib yang mengobati siapa saja." Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta tersenyum kecil.


"Hamba sudah berusaha untuk bersikap tenang gusti." Ya, namun hasilnya belum terlihat?. "Tapi rasanya sangat berat, karena keduanya orang yang sangat baik, hanya saja masa lalu mereka yang tidak baik." Sedikit banyak Nyai Bestari Dhatu mengetahui bagaimana masa lalu yang dilalui oleh keturunannya itu.


Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta kembali menyimak apa yang dikatakan Nyai Bestari Dhatu, memperhatikan kecemasan yang dirasakan wanita muda itu karena tidak bisa menyembuhkan cicitnya?.


"Apa yang harus hamba lakukan Gusti Prabu? Hamba mohon petunjuk dari Gusti Prabu." Nyai Bestari Dhatu berharap bahwa Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta bisa memberinya petunjuk.

__ADS_1


Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta menatap Nyai Bestari Dhatu dengan senyuman lembut. "Nanda prabu asmalaraya arya ardhana adalah anak yang baik, sama seperti mendiang ayahandanya." Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta seperti sangat kenal dengan sifat Raden Cakara Casugraha. "Aku selalu menjadi saksi apa saja yang ia lakukan selama di istana, ataupun di luar istana, aku mengetahui segala yang ia lakukan." Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta menerawang jauh.


Kali ini Nyai Bestari Dhatu yang diam sambil menyimak dengan baik apa yang akan dijelaskan Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.


"Di dunia ini? Ada air segar, namun tidak semua air bisa menghilangkan dahaga, ada tempat wadah penampung air namun bukan lautan ataupun danau." Prabu Bahuwirya Jayantaka seakan sedang membacakan syair. Karena suara itu sedikit berbeda jika hanya berbicara seperti normal biasanya.


"Apa maksudnya itu?." Dalam hatinya sedang mencerna ucapan itu.


"Kasih sayang seorang ibu yang dapat menyambut anaknya, juga bacaan yang lebih indah dari syair manapun yang ada di dunia ini."


"Apa maksud dari perkataan Gusti Prabu? Hamba sama sekali tidak mengerti." Namun ketika ia hendak bertanya lebih lanjut lagi. Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta menghilang dari pandangannya.


Perlahan-lahan matanya terbuka, ia menatap lurus ke depan, ia telah kembali ke alam bawah sadarnya?. Ternyata ia diseret oleh panggilan dari Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.


"Masih menjadi teka teki." Dalam hatinya sangat gelisah dengan itu semua. "Aku tidak mengerti apa yang dikatakan Gusti Prabu bahuwirya jayantaka byakta." Hatinya masih dipenuhi oleh kegelisahan. Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta sepertinya mengenali Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Mungkin karena keturunannya langsung, beliau merasa cemas hingga memanggilnya?.


...****...


Istana Kerajaan Mekar Jaya.


Putri Ambarsari saat itu terburu-buru mencari keberadaan Prabu Rahwana Bimantara. Kakinya melangkah dengan sangat cepat, hingga saat itu ia melihat Prabu Rahwana Bimantara berada di taman istana.


"Hormat saya kakek Prabu."


"Duduklah ananda Putri."


Putri Ambarsari duduk dengan tenang, namun sorot matanya terlihat sangat serius.


"Ada apa ananda Putri? Sepertinya ada hal yang sangat penting yang hendak kau sampaikan."


"Maaf, jika saya sedikit lancang kakek Prabu." Ada perasaan ragu, namun ia harus mengatakannya. "Sebelumnya saya melakukan semedi di istana ini, dan saya tidak menduga akan bertemu dengan sukma eyang Prabu saka adi rahwana."


Deg!.


Prabu Rahwana Bimantara sangat terkejut mendengarnya. "Ananda bertemu dengan ayahanda Prabu saka adi rahwana?."


"Itu benar sekali kakek Prabu, mungkin saja saat itu eyang Prabu merasa terpanggil karena semedi saya yang dalam keadaan gelisah."


"Lantas? Apakah beliau mengatakan sesuatu padamu? Atau meninggalkan suatu pesan?." Begitu besar rasa penasaran itu.


"Eyang Prabu mengajukan beberapa pertanyaan pada saya mengenai pertahanan hati saya." Jawabnya sambil menunduk. "Apakah saya akan menyerahkan tahta itu kepada salah satu saudara saya? Supaya perpecahan yang terjadi di keluarga saya bisa berhenti?."


Deg!.


"Apakah ananda putri akan melakukannya?." Sorot mata Prabu Rahwana Bimantara terlihat sangat tajam.


Bagaimana jawaban dari Putri Ambarsari?. Simak terus ceritanya.


...****...


Istana Kerajaan Telapak Tiga.


Putri Cahya Candrakanti sangat marah pada kakaknya, ia menyerang kakak laki-lakinya dengan sangat brutal, hingga arena latihan itu jadi berantakan seperti itu.


"Kurang ajar kau harjita jatiadi! Berani sekali kau menceritakan masalah pribadiku pada ayahanda! Pada ibunda!." Teriaknya dengan penuh amarah, dan tidak henti-hentinya ia menyerang kakaknya dengan kekuatan penuh.


"Hahaha! Aku hanya keceplosan saja." Raden Harjita Jatiadi tidak melawan sama sekali atas serangan adiknya itu, ia hanya menghindari serangan itu dengan hati-hati.


"Diam kau! Keceplosan tidak sampai membocorkan rahasiaku seperti itu!." Teriaknya lagi sambil menebas kuat pedangnya yang dilambari dengan kekuatan tenaga dalamnya hingga menimbulkan dampak ledakan bagi sekitarnya.


Sedangkan Raden Harjita Jatiadi?. Jika tidak segera melompat tinggi? Tentu saja tubuhnya akan terbagi dua karena tebasan kuat itu.


"Itu juga salahmu, sebenarnya ayahanda dan ibunda telah menaruh curiga dengan sikapmu yang tidak biasa." Raden Harjita Jatiadi sedikit bergidik ngeri melihat bekas ledakan itu. "Ayahanda dan ibunda sangat cemas jika kau sedang jatuh cinta pada seorang pemuda yang kau temui di desa gamang kuasa, karena itulah ayahanda dan ibunda memanggil aku hanya untuk memastikan sikap aneh mu itu, sejak kembali dari desa itu."


Deg!.


Putri Cahya Candrakanti terdiam sejenak, ia tidak lagi menyerang kakaknya, ia sedang memikirkan ucapan itu.


"Hufh!." Raden Harjita Jatiadi menghela nafasnya dengan pelan. "Kau harus lebih bisa mengendalikan dirimu, walaupun kau merasakan perasaan jatuh cinta." Ia malah menggoda adiknya.


"Diam kau harjita jatiadi!." Putri Cahya Candrakanti kembali tersulut emosi, hingga ia kembali menyerang kakaknya dengan serangan yang lebih ganas lagi.


Apakah mereka akan terus seperti itu?. Simak dengan baik kisahnya.


...****...


Sementara itu di alam bawah sadar Syekh Asmawan Mulia.


Syekh Asmawan Mulia berjalan di halaman utama istana Kerajaan Suka Damai, rasanya ada yang menuntunnya untuk masuk ke sana.


"Sampurasun."

__ADS_1


"Rampes."


"Hormat hamba Gusti Prabu."


"Syekh asmawan mulia, mari masuk." Dengan senyuman yang ramah Prabu Kawiswara Arya Ragnala mempersilahkan Syekh Asmawan Mulia untuk masuk ke dalam istana.


Rasanya saat itu hanya Prabu Kawiswara Arya Ragnala dan Syekh Asmawan Mulia saja yang berada di ruangan itu.


"Silahkan duduk Syekh."


"Terima kasih Gusti Prabu."


"Bagaimana dengan perkembangan kesembuhan nanda jaya satria? Apakah Syekh bisa menyembuhkannya?."


"Mohon ampun Gusti Prabu, hamba telah mengusahakannya, hanya saja kegelapan yang ada di dalam mustika naga merah delima sangat kental." Syekh Asmawan Mulia terlihat sangat sedih. "Apakah perlu hamba panggilkan kakang jarah setandan untuk memurnikan mustika naga merah delima itu Gusti Prabu?."


"Tenanglah Syekh, kegelisahan tidak akan menghasilkan apa-apa." Prabu Kawiswara Arya Ragnala memahami kecemasan itu. "Dari apa yang saya lihat? Nanda jaya satria saat ini sedang menjadi wadah kegelapan karena pedang pelebur sukma." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tentunya sangat cemas. "Bukan hanya memurnikan mustika naga merah delima saja, namun juga memurnikan jiwanya, sehingga kita memerlukan hal yang lebih lagi." Prabu Kawiswara Arya Ragnala menatap serius. "Tetaplah berada di dekat nanda jaya satria sambil membacakan ayat suci, karena itu yang paling ia butuhkan saat ini Syekh."


Deg!.


Syekh Asmawan Mulia tersadar dari apa yang telah ia lakukan. "Ternyata seperti itu yang diinginkan Gusti Prabu kawiswara arya ragnala untuk putranya." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia sangat memahami ucapan itu.


...****...


Putri Andhini Andita sudah tidak sabar lagi, hingga saat itu ia memutuskan untuk masuk ke dalam bilik Nyai Bestari Dhatu.


"Sampurasun."


"Rampes." Nyai Bestari Dhatu mendekati putri Andhini Andita yang tampak gelisah.


"Maafkan aku nyai." Perasaannya sangat gelisah.


"Ada apa Gusti Putri datang menemui hamba? Apakah ada sesuatu yang ingin Gusti Putri sampaikan pada hamba?." Dengan hati-hati ia bertanya.


"Ada hal penting yang harus aku sampaikan nyai." Jawabnya. Hatinya sangat gelisah sekali.


"Katakan apa yang bisa hamba lakukan?." Nyai Bestari Dhatu bertanya-tanya.


"Aku mendapat petunjuk dari ayahanda Prabu, bahwa air telaga bidadari dapat menyembuhkan keadaan rayi Prabu, juga jaya satria."


Seketika Nyai Bestari Dhatu teringat dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta yang mengatakan bahwa ada air segar, namun tidak bisa menghilangkan dahaga?. Apakah itu maksudnya?.


"Air telaga warna bidadari memang memiliki khasiat yang luar biasa, air itu dapat menyembuhkan penyakit apapun." Ia sedikit mengetahui tentang air telaga warna bidadari. "Petunjuk yang diberikan oleh Gusti Prabu kawiswara arya ragnala tidaklah salah." Nyai Bestari Dhatu mengetahui khasiat dari air telaga warna bidadari.


"Kalau begitu aku akan ke sana." Tanpa pikir panjang Putri Andhini Andita berkata seperti itu. "Aku akan mengambil air telaga warna bidadari jika memang dapat menyembuhkan rayi Prabu dan jaya satria." Suasana hatinya saat ini sedang berbeda. Rasa bahagia telah menyelimuti hatinya karena mendapatkan kabar yang luar biasa baiknya.


"Kalau begitu hamba akan menemani Gusti Putri ke sana."


"Tidak! Nyai tetaplah di istana, jika nyai tidak ada saat terjadi sesuatu pada rayi Prabu? Jaya satria? Siapa yang akan menenangkan mereka kalau bukan nyai?." Tentu saja itu yang membuat ia semakin takut. "Aku akan meminta bantuan pada raka hadyan hastanta, nyai jangan pernah meninggalkan istana ini, apakah nyai mengerti?!."


"Baiklah Gusti Putri."


"Kalau begitu aku pergi dulu, sampurasun."


"Rampes."


Nyai Bestari Dhatu hanya menghela nafasnya ketika melihat Putri Andhini Andita pergi meninggalkan dirinya. "Sebenarnya ia sangat baik, hanya saja ia terlalu terbawa suasana jika menyangkut masalah jaya satria." Dalam hatinya sangat jelas dapat menangkap bagaimana perasaan Putri Andhini Andita terhadap Jaya Satria. "Semoga semuanya akan baik-baik saja." Dalam hatinya hanya berharap seperti itu.


...***...


Desa Rembung Hilir.


Saat itu Senopati Bumi Sejagad datang ke desa itu untuk melakukan tugasnya sebagai abdi istana yang katanya mengayomi rakyat kecil. Namun kedatangannya sama sekali tidak diharapkan sama sekali di desa itu, karena jika ia datang hanya akan meninggalkan jejak yang sangat meresahkan bagi desa itu.


"Selamat datang di desa kami Gusti Senopati." Sambut Pasupara Abdi, ia adalah kepala desa yang kini bertanggung jawab atas desa Rembung Hilir. "Semoga Gusti Senopati bisa melakukan tugas dengan baik di desa ini."


"Terima kasih atas sambutannya." Senopati Bumi Sejagad tersenyum kecil. "Aku hanya beberapa hari saja di desa ini, karena aku tidak melihat adanya gadis muda di desa ini, apakah kalian sedang bermain kucing-kucingan dengan aku?." Kali ini tatapan matanya terlihat sangat menyeramkan. "Apakah kalian ingin? Desa ini terputus bantuannya dari pihak istana? Hm?."


Deg!.


Pasupara Abdi sangat terkejut mendengarkan ancaman itu, hatinya bergetar ketakutan sambil membayangkan jika itu sampai terjadi?.


"Aku tunggu kabar baik darimu, aku akan berburu di sekitar sambil menunggu kabar baik itu." Setelah itu Senopati Bumi Sejagad berdiri, ia hendak pergi meninggalkan tempat itu. "Panggil aku jika kau telah menemukan wanita muda mana yang tepat untuk melayani aku di desa ini." Dengan senyuman ramah ia berkata seperti itu.


Setelah itu ia benar-benar pergi meninggalkan rumah kepala desa.


Duakh!.


"Kurang ajar! Dia itu memang lelaki biadab!." Hatinya sangat benci dengan itu semua. "Mau sampai kapan kau rusak harga diri para gadis di desa ini setiap kau datang?!." Hatinya sangat dendam dengan kejadian itu.


Apakah yang akan ia lakukan untuk melindungi penduduk desa?. Next.

__ADS_1


...***...


__ADS_2