
...***...
Hati ibu mana yang tidak menangis melihat anaknya terbaring di tempat tidurnya. Ketika anak-anaknya pulang, ia melihat anaknya di gendongan syekh Asmawan Mulia. Putranya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terluka parah setelah mendapatkan serangan?.
"Putraku, lagi-lagi nanda membuat ibunda merasa sedih." Ratu Dewi Anindyaswari menangis, karena putranya pulang dalam keadaan terluka. "Ibunda sangat sedih melihat nanda dalam keadaan seperti ini." Seketika bayangan dan ingatan masa lalu anaknya selama menjalani hukuman buang membuat pikirannya semakin bercabang. "Ibunda tidak bisa membayangkan bagaimana keadaanmu ketika mengalami hukuman buang, ibunda tidak bisa membayangkan bagaimana jika kau mengalami sesuatu yang buruk seperti ini." Air matanya tak bisa ditahan lagi mengingat hal yang menyakitkan ketika anaknya berada jauh dari jangkauannya.
"Meskipun kanda prabu mengatakan untuk tidak menangis? Tapi ibunda tidak bisa menahan kesedihan ini nak." Ia menggenggam erat tangan putranya. Rasanya memang tidak sanggup melakukan apa yang dikatakan oleh mendiang suaminya. "Ibunda sangat sedih dengan keadaanmu yang seperti ini." "Putraku nanda cakara casugraha, ibunda selalu mendo'akan yang terbaik untukmu nak." Ratu Dewi Anindyaswari mencium lembut tangan putranya. Ia berharap anaknya akan segera bangun, berbicara dengannya seperti sebelum-sebelumnya.
"Ibunda hanya menginginkan nanda merasa bahagia, tanpa memikirkan beban apapun nak." Ia selalu berharap anaknya mendapatkan kebahagiaan. Namun apa daya hanya berharap, Allah SWT yang selalu maha penentu nasib hamba-Nya. "Ibunda sangat menyayangimu nak." Ratu Dewi Anindyaswari mencium puncak kepala anaknya dengan cinta kasihnya.
"Ya Allah, berikanlah kesembuhan pada anak hamba cakara casugraha, berikanlah kekuatan pada putra hamba, untuk menghadapi rasa sakit yang dirasakannya ya Allah." Do'a yang selalu ia panjatkan untuk putranya. "Sesungguhnya tiada tempat meminta pertolongan kecuali hanya kepada Mu ya Robb." Ratu Dewi Anindyaswari berusaha menguatkan hatinya sambil berdoa untuk putranya. Ia hanya berharap jika anaknya kembali seperti biasanya.
...***...
Masih di Istana.
Syekh Asmawan Mulia dan Perapian Suramuara saat ini berada di bangunan kesatria, yaitunya bilik Jaya Satria. Mereka mengobati Jaya Satria, karena Jaya Satria yang paling berbahaya mendapatkan luka dari pukulan beracun itu. Setelah diobati, Jaya Satria dibaringkan di tempat tidur. Mereka hanya berharap Jaya Satria akan baik-baik saja.
"Aku sangat sedih melihat keadaannya seperti itu adi, rasanya aku tidak sanggup melihatnya terluka seperti ini."
"Kita tidak bisa berbuat banyak kecuali mencoba mengobatinya kakang, sisanya kita serahkan pada Allah SWT maha penentu nasib."
"Rasanya aku sangat tidak berguna, tidak bisa membalas kebaikannya adi."
"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri kakang, kita ini hanyalah manusia biasa, yang berjalan sesuai dengan takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT, saya sebagai gurunya juga sangat sedih, karena tidak bisa membantunya saat itu kakang."
Paman Perapian Suramuara hanya diam, ia memperhatikan Jaya Satria yang saat ini terbaring karena sakit akibat racun kegelapan.
"Ada takdir yang bisa kita ubah, dan ada juga takdir yang bisa diubah." Syekh Asmawan Mulia menghela nafasnya dengan pelan. "Jadi karena itulah, kita selalu bertawakal kepada Allah, berserah diri, namun bukan pasrah, kita akan merawatnya dengan baik kakang."
"Ya adi, dulu jaya satria juga mengatakan padaku seperti itu, rasanya aku sangat malu diingatkan oleh anak muda seperti jaya Satria."
"Terkadang kita orang tua akan ada saatnya diingatkan oleh anak muda, begitu juga anak muda akan diingatkan oleh orang tua." Syekh Asmawan Mulia tersenyum kecil mendengarnya. "Kita sama-sama saling mengingatkan, tapi dengan cara yang baik dan benar, agar tidak timbulnya suatu perpecahan antara yang muda dengan yang tua." Tentunya Syekh Asmawan mengerti akan kondisi yang seperti itu.
"Hati nurani dan mulut, serta pikiran terkadang sangat bertolak belakang." Paman Perapian Suramuara memikirkan masalah itu. "Hati ingin menerima, namun mulut dan pikiran menolak karena merasa egois, merasa paling benar benar, sehingga menolak kenyataannya." Dalam dirinya kadang mengakuinya.
Mereka berbincang-bincang, berbagi pengalaman hidup yang telah mereka alami selama ini. Begitu enak untuk disimak, karena banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sana. Rasa sayang mereka terhadap Jaya Satria itu sangat murni dari hati mereka. Tanpa pamrih atau hanya karena Jaya Satria adalah bagian dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, mereka memang tulus menyayangi Jaya Satria. Apa yang akan mereka lakukan untuk kesembuhan Jaya Satria?. Temukan jawabannya.
...***...
Namun kita tinggalkan dulu mereka, masih di lingkungan Istana.
Putri Andhini Andita yang sedang bersedih hati karena Jaya Satria, ia pergi ke taman Istana. Di mana ia dulu bertemu dengannya, ia duduk di tempat biasa Jaya Satria duduk di saat pemuda itu datang menghampirinya.
"Ternyata alasanmu menggunakan topeng, karena wajahmu yang sama dengan rayi prabu?." Ia mengelus rumput yang ia rasakan tempat duduk Jaya Satria. "Apakah kau tidak berbohong padaku jaya satria?." Hatinya sangat sedih mengingat identitas asli Jaya Satria.
"Aku yang selalu bertanya-tanya engkau siapa? Kenapa kau bisa bersama ayahandaku, dan juga rayi prabu." Pikirannya kembali tertuju atas apa yang telah ia lihat saat itu. "Sekarang aku mengetahui alasannya, rasanya sangat sedih, kau memiliki wajah yang sama dengan rayi prabu, orang yang dulunya sangat aku benci di dunia ini." Ia mencoba untuk menahan dirinya agar tidak menangis.
Saat itu ia tidak percaya, namun penjelasan Jaya Satria sangat meyakinkan sekali, serta sangat mendukung mengapa Jaya Satria mengenakan topeng.
"Tapi mengapa ayahanda sampai menyatukan darah kalian? Hingga jika yang satu terluka, maka yang satunya lagi juga ikut terluka? Bukankah itu terlalu berisiko untuk seorang raja?." Ia jadi teringat ketika adiknya yang tiba-tiba kesakitan, apakah saat itu terjadi sesuatu pada jaya Satria?. Tidak mungkin adiknya terluka tanpa sebab bukan?. Dan juga ia jadi teringat dengan kejadian di istana kerajaan Mekar Jaya, saat adiknya yang ditusuk oleh Raden Ganendra Garjitha, apakah Jaya Satria juga akan merasakan kesakitan?.
Pikiran Putri Andhini Andita sangat kacau, ia merasakan kecemasan yang luar biasa. Ia harus bertanya pada siapa?. Adiknya dan Jaya Satria masih belum sadar, keduanya masih dalam masa pengobatan. "Baiklah, aku akan bertanya pada rayi prabu, aku ingin penjelasan darinya." Putri Andhini Andita bangkit, dan ia segera menuju kamar adiknya, sekalian juga ingin melihat keadaan adiknya yang mungkin masih tidur?. Apakah ia akan menemukan jawabannya?. Baca terus ceritanya.
...***...
Di bawah alam sadar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Saat itu sang Prabu bertemu dengan Prabu Bahuwirya Jayantaka ini.
"Kau melakukannya dengan baik, cucuku." Terlihat senyuman penuh kebanggaan di wajahnya.
"Eyang prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat.
"Tetaplah jaga saudaramu, aku selalu merestui apa yang nanda lakukan bersamanya." Ucap Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta dengan senyuman ramah. "Karena nanda prabu telah melakukan banyak kebaikan, meskipun terkadang terpaksa berbohong demi menjaga keseimbangan itu adalah hal yang jarang terjadi, tapi janganlah menjadi raja yang suka berbohong untuk menutupi kesalahan yang akan merugikan, nanda harus ingat itu dengan baik." Itulah nasihat Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.
__ADS_1
"Terima kasih atas pengertiannya, eyang prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana lega mendengarnya. "Nanda sangat berterima kasih karena eyang prabu memberikan nasehat yang baik pada nanda."
"Itu karena nanda prabu adalah anak yang baik, raja yang baik." Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta sangat memuji itu. "Sesuai nama gelar yang nanda Prabu terima, aku sangat senang nanda memiliki watak seperti itu, tetap pertahankan apa yang telah nanda tanamkan selama ini."
"Semoga saja eyang Prabu, nanda hanya merasa belum pantas, mengingat bagaimana masa lalu nanda, yang sangat mengecewakan jika eyang prabu mengetahui yang sebenarnya."
Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta mengelus sayang kepala cicitnya, dan senyuman yang menawan terpampang di wajahnya.
"Setiap manusia memiliki masa lalu, entah itu baik atau buruk." Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta tampak sangat memahami situasi yang dihadapi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Namun Nanda prabu jangan bersedih hati, karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini kecuali sang pencipta." Entah kenapa Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta malah ingat masa lalunya ketika mendirikan kerajaan Suka Damai. "Aku yakin nanda prabu yang sekarang bisa mengendalikan diri, setelah mempelajarinya dari agama yang nanda prabu yakini sekarang, walaupun berbeda dengan agama yang diyakini oleh orang-orang terdahulu sebelum ananda." Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta mencium puncak kepala prabu Asmalaraya Arya Ardhana, seperti yang dilakukan oleh ayahandanya.
"Eyang Prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dapat merasakan kasih sayang yang sangat tulus itu.
"Teruslah berusaha, aku dan raja-raja sebelumnya akan selalu mengawasi mu, kami akan selalu mengiringi langkah nanda prabu, tetaplah menjadi raja yang membawa perdamaian, tidak apa walaupun dengan cara yang sulit demi menjaga keseimbangan."
"Terima kasih banyak eyang prabu, kepercayaan eyang prabu, tidak akan pernah ananda khianati, terima kasih atas restu yang eyang prabu berikan pada nanda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang, ia tidak menyangka jika kakeknya prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta selalu mengawasinya. Ini tergantung tindakannya ke depannya bagaimana.
...***...
Disisi lain, dibawah alam sadar Jaya Satria.
"Kau sudah berusaha sekuat tenaga mu, putraku." Ada kebanggaan yang disampaikan saat itu. "Ayahanda tidak akan mungkin kecewa padamu." Dengan penuh kelembutan Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengelus bahu anaknya.
"Tapi tetap saja ayahanda, rasanya hampir saja ananda mengatakan siapa nanda." Ada kecemasan yang ia rasakan. "Jika ananda tidak ingat dengan cerita ayahanda waktu itu? Mungkin saja nanda mengatakannya ayahanda." Rasanya sangat sedih, jika ia membongkar rahasia tentang dirinya pada putri Andhini Andita, putri Agniasari Ariani, dan Raden Hadyan Hastanta.
"Mungkin yundamu andhini andita dulu selalu melihatmu dan ayahanda bersama, dan dia juga melihatmu dengan saudaramu. Rasa penasaran yang besar membuatnya ingin mengetahuinya semua tentang nanda."
"Mungkin saja seperti itu, ayahanda. Karena yunda andhini andita memang pada dasarnya memiliki rasa penasaran yang tinggi."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengelus kepala belakang Jaya Satria, ia tersenyum lebar menatap Jaya Satria.
"Tetaplah menjadi jaya satria kebanggaan ayahanda, topeng boleh saja menutupi wajah nanda, menutupi amarah nanda, namun kau tetaplah putra yang ayahanda sayangi, dan itu tidak akan pernah mengubah rasa sayang ayahanda padamu nak." Ia mencium puncak kepala Jaya Satria, ia peluk dengan segenap kasih sayang yang ia miliki.
"Terima kasih ayahanda prabu, terima kasih karena ayahanda selalu ada untuk nanda, nanda juga sangat menyayangi ayahanda prabu." Jaya Satria tidak dapat menyembunyikan air matanya, ia selalu terharu dengan apa yang dikatakan oleh ayahandanya. Bahkan ketika menjadi Jaya Satria, kasih sayang ayahandanya tidak pernah berkurang sedikitpun, meskipun topeng itu menjadi penghalangnya bersama orang-orang yang ia cintai. Namun ayahandanya selalu saja memperlakukannya seperti ia ketika ia berada di posisi Raden Cakara Casugraha.
Bahkan ketika ia hendak bepergian sebagai Jaya Satria, ayahandanya selalu memberikan do'a restu, mengelus kepalanya, menciumnya, dan memeluknya.
"Tentu saja ayahanda, nanda akan selalu bersamanya, nanda akan selalu mengiringinya, sama seperti ayahanda lakukan pada kami." Jaya Satria berjanji pada prabu Kawiswara Arya Ragnala, bahwa ia tidak akan pernah menjauh dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Begitu erat hubungan ayah dan anak, meski terpisah oleh alam yang berbeda, namun masih bisa mengungkapkan kasih sayang mereka.
"Syukurlah jika memang seperti itu, putraku jaya satria." Ada kebanggan yang sangat luar biasa yang dirasakan Prabu Kawiswara Arya Ragnala pada anaknnya.
...***...
"Ibunda, ibunda."
Deg!.
Tiba-tiba ia mendengarkan seseorang memanggilnya dengan sebutan ibunda?. Langkah kakinya yang pelan, mengikuti kemana sumber suara itu. Ia sangat penasaran siapa yang memanggilnya seperti itu?.
"Bukankah ini wisma kesatria?." Dalam hatinya bertanya, ia pernah sekali masuk ke kawasan ini. Tapi mengapa suara itu berasal dari sini?. "Kenapa suara itu berasal dari sini? Firasat ku sangat kuat mengatakan jika suara berasal dari sini." Suasana hatinya mendadak bergemuruh.
"Ibunda, tolong nanda, tolong nanda ibunda."
Lagi, suara itu memanggilnya, dan tanpa sadar ia semakin melangkahkan kakinya, menuju sebuah bilik yang didiami salah satu kesatria istana?.
"Ya Allah." Hatinya semakin bergemuruh. "Sebenarnya apa yang hendak engkau tunjukkan kepada hamba ya Allah?." Ada kecemasan yang bersarang di hatinya karena panggilan itu sangat memilukan hati.
Hatinya merasa cemas saat membuka pintu bilik itu dengan pelan. Ia mengamati bilik itu, dan matanya tertuju pada sebuah dipan atau tempat tidur. Diatasnya ada seseorang yang sedang terbaring di sana?. Siapa yang terbaring di sana?.
"Ibunda, tolong nanda ibunda, rasanya sangat sakit sekali ibunda." Suara itu begitu lirih, sedih, dan merintih sakit. Hatinya bergetar sedih, ia langkahkan kakinya masuk ke dalam bilik itu. Ia mendekati orang yang sedang terbaring di atas nya.
"Nanda jaya satria? Apakah kau yang memanggil ibunda nak?." Hatinya seakan-akan berkata seperti itu.
Ya, itu adalah jaya satria. Ia tidak salah lihat. Jika ia perhatikan dengan seksama, ia tidak salah mengenali siapa yang sedang terbaring saat ini di hadapannya.
__ADS_1
"Bahkan ketika nanda terluka, kenapa topeng ini tidak nanda lepaskan nak?." Ratu Dewi Anindyaswari merasa sedih, ia lebih mendekat ke arah jaya Satria. Ia genggam tangan Jaya Satria dengan eratnya. Entah mengapa ia melakukan itu, ia juga tidak mengapa melakukannya. Hatinya terasa tergerak, hatinya yang memanggilnya untuk mengelus wajah jaya Satria yang masih tertutupi oleh topeng. "Apakah kau juga merasakan sakit nak?." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja.
"Entah mengapa aku merasakan, bahwa kau adalah putraku cakara casugraha, yang sedang bersembunyi di balik topeng ini." Hatinya sangat yakin dengan apa yang ia ucapkan, hatinya sebagai seorang ibu yang mengatakan seperti itu.
"Ibunda."
Deg!.
Ratu Dewi Anindyaswari sangat terkejut ketika ia melihat Jaya Satria terbangun?. Membuka mataya, dan memanggilnya dengan sebutan ibunda?.
"Putraku?." Dalam keadaan kebingungan Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk menggenggam tangan Jaya Satria.
"Maafkan kesalahan ananda selama ini ibunda, sungguh nanda hanya ingin bersama ibunda juga yunda, nanda sangat merindukan ibunda" bibir pucat itu mengatakan kata maaf?. Serta mengungkapkan rasa rindunya pada ibundanya?.
"Nanda salah apa sehingga minta maaf pada ibunda? Katakan pada ibunda, kenapa ananda mengenakan topeng ini?." Air matanya jatuh berderai, rasa sedih menyelimuti hatinya. Ia usap lagi wajah itu yang masih ditutupi topeng. "Katakan pada ibunda apa yang terjadi padamu sebenarnya." Kembali air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya karena ia tidak tega melihat Jaya Satria yang seperti kesakitan. Hatinya seakan-akan ikut tersayat benda tajam ketika melihat Jaya Satria.
"Ibunda, nanda hanya berharap ibunda akan baik-baik saja, maaf jika anada selalu mengecewakan ibunda selama ini." Begitu dalam penyesalan yang ia ungkapkan pada Ratu Dewi Anindyaswari, hingga sang Ratu dapat merasakan kesedihan itu. "Tapi nanda senang melihat ibunda baik-baik saja selama nanda tidak ada." Jaya Satria juga menangis mengingat masa lalunya yang rasanya hanya dipenuhi dengan penyesalan.
"Oh? Jaya satria." Ratu Dewi Anindyaswari tidak tahan mendengarkan ucapan itu, ia peluk erat Jaya Satri dengan penuh kasih sayang.
"Sungguh ananda minta maaf, nanda sangat menyayangi ibunda, nanda hanya ingin ananda bahagia." Ucapan itu sangat tulus dan sangat menyentuh hati. "Percayalah ibunda, jika apa yang ananda lakukan semua demi kebahagiaan ibunda."
"Ibunda tidak mengerti apa yang nanda katakan-."
Namun belum sempat ia meneruskan perkataannya, ia terperanjat terkejut karena sebuah sentuhan di bahunya. Dan ketika ia sadar, ia melihat wajah panik putrinya.
"Ibunda? Kenapa ibunda menangis sambil tidur duduk seperti ini?." Putri Agniasari Ariani menangis sedih karena ia hampir saja tidak bisa membangunkan ibundanya.
Ratu Dewi Anindyaswari memperhatikan dirinya, ternyata ia berada di kamar putranya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia ingat, ia melaksanakan sholat zuhur, dan siapa sangka ia malah tertidur dalam keadaan duduk?.
"Apa yang terjadi ibunda? Kenapa ibunda menangis sambil menyebut nama jaya satria? Apakah ibunda juga mengkhawatirkannya?." Air matanya terlihat sangat jelas menggambarkan suasana hatinya yang sangat cemas.
Ratu Dewi Anindyaswari tidak menjawab pertanyaan putrinya, ia justru malah memeluk erat putrinya sambil menangis.
"Ibunda? Apakah ibunda baik-baik saja?." Putri Agniasari Ariani semakin cemas.
"Putriku." Ia peluk anaknya dengan eratnya. "Ibunda sangat sedih, karena jaya satria meminta maaf pada ibunda." Dalam pikirannya masih sangat jelas bagaiman itu terjadi. "Ia mengatakan, bahwa ia telah mengecewakan ibunda, namun yang ia lakukan selama ini, hanyalah untuk kebahagiaan ibunda." Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di dalam pikirannya.
Putri Agniasari sedikit terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh ibundanya. Ia juga ingat dengan ucapan jaya satria, alasan mengapa wajahnya mirip dengan wajah adiknya. Perlahan-lahan ia melepaskan pelukan ibundanya.
"Mungkin karena darah yang mengalir didalam tubuh jaya satria juga adalah darah rayi prabu, sehingga ibunda merasakan jaya satria adalah rayi prabu." Dalam hati putri Agniasari Ariani merasa cemas, dan ia belum bisa mengatakan fakta itu padaa ibundanya. Ia juga tidak tahu cara mengatakan pada ibundanya. Mungkin yang dirasakan ibundanya adalah bentuk kecemasan seorang ibu terhadap anaknya.
"Ibunda sangat cemas padanya nak." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Tenanglah ibunda." Putri Agniasari Ariani menghapus air matanya. "Nanda putri yakin itu hanya perasaan cemas ibunda saja, karena ibunda sudah menganggap jaya satria seperti anak sendiri."
"Ya, mungkin saja itu benar nak." Ia mencoba untuk tersenyum walaupun terasa berat.
"Tenanglah ibunda, baik rayi Prabu ataupun jaya satria akan baik-baik saja."
"Ya, baiklah putriku." Ratu Dewi Anindyaswari hanya mecoba untuk tersenyum saja. "Mungkin ucapan putriku benar, karena aura yang dimiliki jay satria sangat mirip dengan nanda prabu, juga kanda prabu." Dalam hatinya berusaha meyakinkan itu.
"Bagaimana kalau kita sekarang menuju wisma kesatria, untuk melihat keadaannya ibunda? Saat ini jaya satria sedang dirawat oleh syekh asmawan mulia, dan paman perapian suramuara." Putri Agniasari Ariani membantu ibundanya untuk berdiri.
"Mari kita lihat keadaannya nak, ibunda juga sangat mencemaskannya." Ratu Dewi Anindyaswari langsung membuka telekung yang ia pakai. Namun sebelum itu, ia menghampiri putranya yang masih terbaring di tempat tidurnya. "Aku harap jaya satria akan baik-baik saja, aku sangat cemas dengan keadaannya." Dalam hatinya sangat cemas. "Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari mendekati anaknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang masih terbaring di tempat tidurnya.
"Ibunda." Putri Andhini Andita melihat bagaimana kasih sayang ibundanya pada adiknya. Apakah ia merasa iri?.
"Ibunda pergi sebentar. "Ibunda ingin melihat keadaan jaya satria nak." Ia mengelus kepala anaknya dengan lembut, dan ia cium kening putranya dengan kasih sayang.
"Setelah bertahun-tahun berpisah dengan rayi cakara casugraha, tentu saja ibunda sangat merindukannya, bahkan aku juga sangat merindukannya." Dalam hatinya dapat merasakan itu.
"Ibunda sangat menyayangimu nak, ibunda hanya pergi sebentar saja." Lanjutnya lagi, setelah itu ia meninggalkan kamar anaknya, ia pergi ke wisma kesatria untuk melihat Jaya Satria bersama putrinya.
__ADS_1
Next halaman.
****