
...***...
Jaya Satria datang menemui ibundanya, ia merasa tidak enak karena pamitan dengan Ratu Dewi Anindyaswari.
"Apakah nanda baik-baik saja?." Terlihat sangat jelas bagaimana perasaan cemas itu. "Ibunda sangat mencemaskan keadaanmu putraku."
"Nanda baik-baik saja ibunda." Ia mencium tangan ibundanya.
"Yundamu andhini andita mengatakan jika kau ditikam, apakah lukanya sudah sembuh nak? Apakah masih terasa sakit? Katakan pada ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari hampir saja tidak dapat menahan air matanya.
"Nanda baik-baik saja ibunda, lukanya sudah mengering, semuanya baik-baik saja, ibunda tenang saja." Jaya Satria tidak menduga jika ibundanya telah mengetahui itu.
"Oh? Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk anaknya dengan sangat erat. "Ibunda sangat takut terjadi sesuatu padamu, hati ibunda sangat sedih jika mendengar kabar, atau melihat nanda terluka."
"Namanya juga anak laki-laki ibunda, nanda harap ibunda selalu tegar ketika nanda sakit." Jaya Satria mencoba untuk tersenyum sambil meyakinkan ibundanya semuanya baik-baik saja. "Putra ibunda adalah anak laki-laki yang kuat, bukankah ibunda yang mengatakan itu pada nanda?."
"Baiklah jika memang seperti itu, ibunda akan mencobanya." Ratu Dewi Anindyaswari hanya mencoba bersikap tegar di hadapan anaknya.
"Tapi nanda akan pergi lagi ibunda." Jaya Satria sangat takut mengatakannya.
"Nanda hanya akan menjemput nyai bestari dhatu, hanya dia yang bisa mengobati kakek Prabu." Jawabnya. "Nanda memang memiliki kemampuan untuk mengobati, tapi hanya nyai bestari dhatu lah yang lebih unggul dibandingkan nanda."
"Tapi nanda baru saja kembali, apakah tidak bisa mengutus seseorang untuk menuju ke tempat itu? Apakah nanda tidak letih setelah lama melakukan perjalanan?." Ratu Dewi Anindyaswari bukannya ingin bersikap egois, hanya saja takut anaknya akan kelelahan karena terlalu banyak bergerak sana sini menyelesaikan masalah.
"ibunda tenang saja, semuanya akan baik-baik saja, nanda akan baik-baik karena doa ibunda yang akan menyertai perjalanan nanda." Jaya Satria kembali tersenyum karena tidak ingin membuat ibundanya cemas memikirkannya. "Rasa letih yang nanda rasakan akan hilang jika melihat ibunda selalu tersenyum untuk nanda ketika kembali ke istana ini."
"Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari mencium puncak kepala anaknya dengan sayang. "Ibunda selalu menyayangimu nak, semoga saja nanda selalu dilindungi oleh Allah SWT."
"Aamiin ya Allah, terima kasih atas doa baik yang ibunda ucapkan kepada Allah SWT untuk nanda." Jaya Satria sangat senang mendengarnya.
"Tentu saja nak." Ratu Dewi Anindyaswari berusaha berlapang dada menerima itu semua.
"Berhati-hatilah putraku, pantai selatan bukanlah tempat sembarangan, ibunda akan selalu mendoakan keselamatan ananda."
"Terima kasih ibunda, dengan kerelaan hati ibunda, ananda akan berhati-hati menuju ke sana."
"Ibunda menyayangimu nak."
"Ananda juga begitu."
Lagi-lagi Ratu Dewi Anindyaswari mencium puncak kepala anaknya.
"Kalau begitu ibunda tersenyumlah untuk melepaskan kepergian ananda, karena dengan senyuman manis dari ibunda, ananda akan pergi dengan langkah yang ringan."
Ratu Dewi Anindyaswari luluh mendengarkan apa yang diucapkan oleh putranya. Ia tersenyum menatap anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Putra ibunda selalu bisa membuat ibunda merasa tenang."
"Ibunda juga selalu membuat ananda merasa tenang, terima kasih ibunda." Jaya Satria mencium tangan ibundanya. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh ibunda, nnanda berangkat dulu."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, berhati-hatilah nak."
Setelah itu Jaya Satria pergi meninggalkan kamar Ratu Dewi Anindyaswari untuk menuju Pantai Selatan. Meskipun hatinya terasa berat, namun ia harus memahami tujuan anaknya ke sana.
"Dalam kemarahan yang ia rasakan, masih ada kebaikan di dalam hatinya." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari sangat kagum pada anaknya. "Aku sangat bangga padanya, sangat menyayanginya, putraku nanda cakara casugraha, kau adalah putraku yang sangat hebat dalam menjalani hidup ini, ibunda sangat bersyukur memilikimu nak." Dalam hatinya hanya bisa menahan perasaan pilu. "Nanda telah menjalani hidup yang sangat pahit di masa lalu, namun hari ini nanda sangat luar biasa sekali, begitu peduli pada orang lain, meskipun ia pernah menyakiti nanda." Ada rasa sedih mengingat semua yang dilalui oleh anaknya selama ini.
Hati ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya melalui hari yang menyakitkan, mengalami banyak luka ketika terlibat dengan orang-orang yang sama sekali tidak mau diajak ke arah kebaikan.
...**...
Di istana kerajaan Telapak Tiga.
Prabu Guntur Herdian mendapatkan sebuah gulungan pesan dari prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Sungguh ia tidak menduga jika ia akan mendapatkan surat dari seorang Raja muda?.
"Mohon ampun gusti prabu, hamba utusan dari prabu asmalaraya arya ardhana, membawa pesan untuk Gusti Prabu." Ia memberi hormat.
"Kalau begitu, akan aku bacakan surat ini." Ia membuka gulungannya, membacanya dalam hati. "Padahal baru sekitar dua hari jaya satria pergi dari istana ini? Tapi aku malah dapat surat dari nanda Prabu asmalaraya arya ardhana." Dalam hatinya sedikit bingung.
"Dengan segala hormat kepada gusti Prabu guntur herdian, semoga Gusti Prabu guntur herdian beserta keluarga dalam keadaan baik-baik saja di kerajaan telapak tiga." Itulah pembukaan surat yang dibacakan sang Prabu.
Saat itu Prabu Guntur Herdian membacakan surat itu di hadapan penggawa istana, dan beberapa tamu yang hadir dalam pertemuan itu.
"Mungkin kabar yang saya bawa agak sedikit terkesan aneh? Namun menurut penjelasan utusan saya jaya Satria yang kebetulan lewat disebuah desa yang berada diantara perbatasan kerajaan mekar jaya dan kerajaan telapak tiga, desa gamang kuasa itulah namanya tempat tersebut."
Untuk sesaat Prabu Guntur Herdian menghentikan membaca surat itu karena sang Prabu ingat betul letak wilayah itu, desa yang tidak berani disentuh karena takut akan berlawanan dengan kerajaan Mekar Jaya yang katanya memiliki ribuan prajurit hebat dalam berperang.
__ADS_1
"Di sana utusan saya mengatakan ada ajaran ilmu dukun yang menyesatkan, itu tidak bisa dibiarkan terlalu lama! Bukan saya bermaksud untuk ikut campur? Namun saya merasa prihatin dengan keadaan seperti itu, saya mohon untuk sementara waktu gusti prabu untuk menanganinya, karena prabu rahwana bimantara sedang dalam keadaan sakit."
Deg!.
Perasaan Prabu Guntur Herdian tidak tenang ketika membacakan kalimat tersebut, sang Prabu tidak menduga akan ada kejadian yang seperti itu di desa Gamang?. Begitu juga yang mendengar kabar itu bagi mereka yang beragama islam?. Tentu saja itu sangat meresahkan dan tidak akan bisa dibiarkan begitu saja. Namun yang sangat mengganggu adalah kondisi Prabu Rahwana Bimantara yang katanya sedang sakit?.
"Beliau saya rawat karena beliau adalah kakek prabu saya, saya serahkan untuk sementara waktu masalah desa gamang kuasa pada gusti prabu, mohon maaf jika surat yang saya kirimkan membebankan gusti prabu, tapi saya harap gusti prabu mau membantu sesama agar Allah SWT tidak melaknat desa itu karena melakukan kesesatan yang nyata."
Dalam hati Prabu Guntur Herdian sangat setuju dengan kalimat itu, akan berbahaya jika tidak segera di tangani dengan baik.
"Alasan mengapa saya tidak mengutuskan jaya Satria ke istana kerajaan telapak tiga? itu karena ia saya perintahkan ke pantai selatan untuk menemui seorang tabib yang dapat menyembuhkan kakek prabu, mohon maaf untuk masalah itu, gusti prabu."
Prabu Guntur Herdian tampak menghela nafas sejenak, karena ia sempat berpikir aneh alasan kenapa bukan Jaya Satria yang diutus ke istana ini jika memang masalah seperti itu yang terjadi di desa Gamang.
"Sekian yang dapat saya sampaikan, mohon dengan kerendahan hati gusti Prabu memikirkan masalah itu dengan baik. Dari prabu asmalaraya arya ardhana."
Surat itu telah dibacakan Gusti Prabu Guntur Herdian, mereka semua dapat mendengarkannya dengan sangat jelas.
"Ini jadi masalah yang sangat rumit untuk kita karena menyangkut masalah agama dan kepercayaan." Prabu Guntur Herdian menatap mereka semua.
"Lantas apa yang akan kita lakukan Gusti prabu? Meskipun dalam surat itu mengatakan minta bantuan pada kita."
"Tentunya kita harus melakukan itu, masalah dukun tidak bisa kita biarkan begitu saja."
"Kalau begitu izinkan nanda yang akan melakukannya ayahanda."
"Ananda juga ikut ayahanda."
"Apakah kalian yakin?."
"Tentu saja ayahanda Prabu."
"Kalau begitu lakukan persiapan, karena tugas ini tidaklah mudah untuk kalian hadapi."
"Sandika ayahanda Prabu."
Prabu Guntur Herdian hanya cemas dengan keselamatan kedua anaknya, karena hanya keduanya saja yang bisa menjalani tugas dadakan itu, penggawa istana lainnya telah memiliki tugasnya masing-masing yang harus dikerjakan.
...***...
"Rasanya aku sangat malu pada kalian, sikapku yang tidak baik selama ini padamu, ratu dewi anindyaswari." Prabu Rahwana Bimantara sangat sedih atas apa yang telah terjadi.
"Ayahanda Prabu jangan berkata seperti itu." Ratu Dewi tersenyum kecil. "Masa lalu yang pahit tidak baik untuk diingat, setiap manusia memiliki kesalahan." Lanjutnya. "Kanda Prabu, bahkan nanda Prabu pernah mengatakan, tidak ada manusia yang tidak melakukan kesalahan, namun manusia yang baik adalah mereka yang mau mengubah dirinya ke arah yang lebih baik lagi."
"Ayahanda jangan bersedih hati." Ratu Gendhis Cendrawati juga tersenyum kecil. "Kami yakin semuanya akan baik-baik saja." Senyumannya terlihat sangat meyakinkan. "Kanda Prabu, nanda Prabu juga pernah mengatakan, jika ujian yang dialami seseorang pasti memiliki hikmah? Sehingga kita dapat mengambil pelajaran dari setiap masalah yang ada, dengan begitu kita dapat mengubah diri kita ke arah yang lebih baik." Ratu Gendhis Cendrawati sangat ingat dengan ucapan itu.
Prabu Rahwana sangat terharu dengan apa yang dikatakan oleh keduanya. Rasanya sangat iba mengingat perlakuannya pada Ratu Dewi Anindyaswari.
"Izinkan kami untuk berbakti kepada ayahanda prabu, meskipun kami bukanlah anak kandung ayahanda prabu."
"Benar sekali ayahanda Prabu, tidak ada salahnya kami melakukan hal-hal yang baik pada ayahanda? Menjalin kekeluargaan meskipun dalam keadaan seperti ini?."
"Sungguh baik sekalian kalian berdua padaku." Prabu Rahwana Bimantara merasa terharu dengan apa yang ia rasakan saat ini. "Aku semakin malu dengan perbuatan yang telah aku lakukan." Air matanya telah membasahi pipinya mendengarkan ucapan itu.
"Nanda prabu pernah mengatakan, kebaikan akan selalu memberikan hasil yang baik, begitu juga dengan kejahatan." Ratu Gendhis Cendrawati kembali ingat dengan ucapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Namun jika kejahatan bisa berganti dengan kebaikan? Maka akan mendapatkan balasan yang baik, sungguh perkataan nanda prabu sangat benar." Ratu Gendhis Cendrawati mengingat semua yang terjadi, sesuai dengan apa yang dikatakan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Ya, nanda ratu benar nak." Prabu Rahwana Bimantara dapat merasakan itu. "Aku yang tua ini sudah merasakannya, bahkan dapat merasakan karma akibat perbuatan buruk ku pada kalian di masa lalu." Hatinya semain sedih mengingat itu.
"Ayahanda prabu, saya mohon jangan terlalu menyalahkan diri sendiri dengan apa yang telah terjadi, tapi untuk saat ini jagalah kesehatan ayahanda prabu, jangan terlalu memikirkan kesalahan masa lalu, nanti ayahanda semakin sakit" Ratu Dewi Anindyaswari merasa sedih mendengar penyesalan dari prabu Rahwana Bimantara.
"Benar yang dikatakan rayi dewi, untuk saat ini ayahanda jangan terlalu terbebani masalah masa lalu yang telah berlalu." Ratu Gendhis Cendrawati sangat setuju. "Semoga ayahanda cepat sembuh, dan nanda jaya satria kembali dengan membawa tabib itu, kami semua sangat mencemaskan keadaan ayahanda."
"Terima kasih atas perhatian kalian semua." Prabu Rahwana Bimantara sangat terharu dan bahagia mendengarkan ucapan itu. "Aku akan mengingatnya, sampai aku menemui ajalku."
"Ayahanda jangan berkata seperti itu." Ratu Dewi Anindyaswari terkejut mendengarnya. "Meskipun saya tidak memiliki seorang ayah? Rasanya sangat sedih mendengarkan ayahanda berkata seperti itu."
"Sungguh, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih, tapi itulah yang aku rasakan."
Prabu Rahwana Bimantara dapat merasakan kembali kasih sayang itu, kasih sayang seorang anak melalui kedua Ratu Kerajaan Suka Damai. Mereka memijitnya, memperhatikan kesehatannya.
Meskipun didalam hatinya, ia berharap bahwa putrinya lah yang saat ini merawatnya dalam keadaan terluka. Namun apalah daya, nasib berkata lain?. Hatinya sangat sedih atas apa yang telah dilakukan anak dan cucunya.
...**...
Di satu sisi.
__ADS_1
Di ruang pertemuan istana.
Kali ini Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membahas masalah yang menimpa Prabu Rahwana Bimantara. Ada yang setuju, dan ada pula yang menolaknya dengan alasan perbuatan prabu Rahwana Bimantara dimasa lalu tidak bisa dimaafkan begitu saja. Kemungkinan adanya percikan api perperangan yang akan berkobar kembali di kerajaan Suka Damai.
"Untuk apa kita membantu orang yang telah mengancam keselamatan kerajaan ini? Sekarang dia datang mengadu pada kita, meminta perlindungan pada kita?."
"Setelah apa yang ia lakukan pada nanda prabu waktu itu? Kami semua sangat tersinggung dengan sikapnya waktu itu! Rasanya kami tidak bisa memaafkan perbuatannya terhadap kita saat itu."
"Benar! Bagaimana perlakuannya pada nanda prabu ketika ia mau menduduki singgasana yang tidak seharusnya ia duduki!."
"Mohon ampun nanda Prabu? Sebaiknya nanda Prabu memikirkan kembali masalah ini, jangan sampai terjadi perpecahan diantara kita hanya karena masalah kedatangan Prabu rahwana bimantara yang saat ini berada di istana kerajaan suka damai."
"Kita semua tidak boleh terbawa amarah hanya karena kejadian masa lalu?."
"Tapi itu semua mengancam keselamatan kita juga? Akibat dampak perbuatan tamak dari keluarganya sendiri!."
"Itulah akibat dari keserakahan yang mereka tanamkan, hingga mendapatkan karma balasannya."
"Kita tidak perlu ikut campur dengan urusan mereka."
Sepertinya situasi agak panas menimbang perlakuan prabu Rahwana Bimantara terhadap raja mereka.
"Mohon tenangkan diri para sepuh sekalian! Coba pikirkan lagi dampak yang akan timbul jika kita tidak menanggapinya?."
"Ya? Jika kita tidak bertindak hanya karena prabu rahwana bimantara berada di sini? Bisa jadi mereka malah melakukan penyerangan terhadap kita!."
"Benar nanda Prabu! Kita harus bertindak! Ada kemungkinan mereka akan menyerbu istana ini karena mengetahui bahwa prabu rahwana bimantara sampai di istana ini!."
"Saya juga berpikiran seperti itu! Karena itulah saya memberi perintah pada prajurit serta pendekar untuk berjaga-jaga di setiap daerah yang rawan terhadap serangan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berkata dengan tegas. "Walau bagaimanapun juga? Saya harus tetap menjaga keselamatan kakek prabu rahwana bimantara! Karena kakek Prabu adalah mertua mendiang ayahanda Prabu kawiswara arya ragnala? Jadi saya tidak bisa mengabaikannya begitu saja."
Mereka tersentak saat mendengarkan suara Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ketika menyebutkan jika Prabu Rahwana Bimantara adalah mertua dari mendiang Prabu Kawiswara Arya Ragnala, tentu saja mereka mengetahui itu.
"Ya! Bagaimanapun juga, prabu rahwana bimantara masih kerabat dekat dengan prabu kawiswara arya ragnala, meskipun anaknya sendiri yang menikam ayahandanya?."
"Lalu bagaimana dengan kami para sepuh istana? Apakah kami juga akan ikut turut turun tangan mengurus masalah perang?."
"Untuk para sepuh? Saya mengharapkan bimbingan dari sepuh untuk mengatasi kewaspadaan situasi." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat sangat memohon. "Kapan waktu yang tepat untuk bertindak serta untuk bertahan jikalau serangan mendadak datang ke istana ini?."
"Baiklah nanda Prabu." Akhirnya mereka menyerah.
"Setelah ini kami juga akan melakukan pertemuan kecil, merundingkan kembali apa yang harus dilakukan?."
"Terima kasih saya ucapkan kepada para sepuh." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat lega mendengarnya. "Dalam perundingan ini, sebaiknya kita bisa menahan amarah, karena bukan hanya kita saja? Melainkan rakyat suka damai yang harus kita jaga dari dampak perperangan yang mungkin terjadi."
"Jangan sampai kemarahan masa lalu membuat kita kehilangan hati nurani untuk memberikan kebaikan pada siapapun, bahkan kepada musuh sekalipun."
Mereka menyimak dengan baik yang dikatakan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana. apalagi ketika sang prabu membacakan ayat Alquran tentang musyawarah
"Fabimaa Rohmatin mminallahi lintahum, walau kunta fazho qhiidzholqolbi. Lanfaddhu min hawlik, fa'afhu 'anhuma wastaqqh lahum waassyaa wirhum filamr, faizhaa a'zam fatawakkal 'alailah. innaAllaha yuhibbul mutawakkilin." Begitu fasih bacaannya, hingga terdengar merdu bagi mereka.
"Maka berkata Allah engkau (Muhamad) berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan memohonlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal." Sang prabu juga membacakan terjemahannya agar merak tidak bingung mau jelasin apa?.
"Maafkan kami nanda Prabu, kami sangat terbawa amarah, kami hanya tidak ingin mereka membuat nanda prabu terluka lagi."
"Rasanya sangat sedih hati kami semua ketika nanda prabu sakit, kami tidak bisa melakukan apapun."
"Kami hanya menginginkan nanda prabu dalam keadaan baik-baik saja, agar terus memimpin negeri ini seperti mendiang prabu kawiswara arya ragnala."
"Keselamatan nanda prabu juga harus diperhatikan, bukan hanya nanda prabu saja yang harus memperhatikan keselamatan kami beserta rakyat suka damai? Kami juga sangat perhatian pada nanda Prabu."
"Benar nanda prabu, kami selalu mendoakan keselamatan nanda prabu dalam memimpin negeri ini."
"Terima kasih atas para sepuh semuanya, saya sangat bahagia mendapatkan perhatian para sepuh."
Mereka semuanya sangat memperhatikan rajanya. Mereka selalu berharap jika raja mereka memimpin negeri ini dengan aman, damai, adem ayem, toto tentrem tanpa adanya perang yang membawa kesengsaraan bagi semua pihak. Bagaimanapun juga, raja adalah tampuk tertinggi yang memimpin sebuah negeri, jika rajanya jatuh, bagaimana dengan nasib rakyatnya? itulah yang ingin mereka hindari.
Tapi bisakah mereka berharap seperti itu?. Rasanya tidak akan bisa hanya karena setiap manusia memiliki masalah yang akan diselesaikan sebagai ujian bagi mereka, apakah mereka sabar menghadapi masalah itu, atau akan menambah masalah?.
Dalam musyawarah itu, mereka memutuskan untuk membantu Prabu Rahwana Bimantara merebut kembali kerajaan Mekar Jaya yang telah direbut oleh Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra, ratu Ardiningrum Bintari yang juga kemungkinan putrinya juga ikut terlibat dalam pemberontakan itu.
"Semoga saja kami bisa mengatasi maslah ini dengan baik ya Allah." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat berharap seperi itu. "Raka jaya satria, aku harap raka bisa membawa nyai bestari dhatu dengan segera ke istana ini." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya berharap.
Apa yang akan dilakukan mereka selanjutnya?.
...***...
__ADS_1