
...***...
Raden Cakara Casugraha saat ini masih berhadapan dengan Raden Cakrawala Dirja. Tiga jurus telah mereka mainkan, dan mereka masih terlihat baik-baik saja?. Tidak, mereka tidak terlihat baik-baik saja. Luka gores pedang itu yang mengenai tubuh mereka, tidak membuat mereka jera untuk bertarung. Justru 33mereka masih melanjutkan pertarungan dengan semakin ganasnya.
Raden Cakara Casugraha terus mengayunkan pedangnya, sehingga dentingan terdengar begitu kuat, dan membuat Raden Cakrawala Dirja mundur sambil menangkis semua sabetan pedang itu. Akan sangat berbahaya, jika pedang itu sampai mengenai tubuhnya.
"Kegh!." Rasanya tangannya kebas, karena ayunan pedang Raden Cakara Casugraha yang sangat kuat. "Sepertinya kau mulai bersemangat cakara casugraha. Apakah kau menikmati pertarungan ini, hah?." Raden Cakrawala Dirja sangat kesal. Ternyata ia tidak bisa meremehkan kemampuan Raden Cakara Casugraha.
"Aku sangat menikmatinya cakrawala dirja. Hingga rasanya aku ingin membunuh semua kejahatan yang ada di dalam dirimu, dan segera membawamu kepada jalan kebaikan." Balas Raden Cakara Casugraha. Kali ini bukan hanya serangan pedang saja yang ia lakukan, namun serangan fisik. Ia melayangkan beberapa pukulan serta tendangan ke arah Raden Cakrawala, namun sayangnya dapat diatasi dengan sangat baik.
"Diam kau!. Aku tidak butuh nasehat tidak berguna darimu cakara casugraha!. Akan aku cabik-cabik mulutmu yang masih saja mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak bermanfaat untukku!." Raden Cakrawala Dirja semakin marah, dan tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan Raden Cakara Casugraha.
"Tapi itu merupakan kewajiban ku. Karen aku merasa kasihan dengan rakyat kerajaan utara bunga yang memiliki raja kejam seperti kau!." Raden Cakara Casugraha hampir saja terbawa amarah. Ia tidak tahan lagi dengan apa yang telah dilakukan oleh Raden Cakrawala Dirja.
Mereka terus menyerang satu sama lain, tidak akan membiarkan musuhnya menguasai pertarungan itu. Ada hal yang membuat mereka melakukan itu, dan mempertaruhkan apa yang mereka anggap itu adalah sebuah kebenaran.
...***...
Putri Andhini Andita melewati sebuah hutan yang cukup lebat. Namun ia merasakan ada seseorang yang sedang duduk di sebuah batang kayu besar yang sudah lama mati. Matanya menangkap sosok seorang pemuda yang sedang duduk di sana. Wajahnya terlihat sangat pucat, dan tidak ada semangat hidup.
Namun ketika ia hendak mendekati tempat itu, ia dikejutkan oleh seorang wanita tua yang menatap dirinya. "Apa yang akan kau lakukan anak muda?." Nenek itu menegur dirinya.
"Maaf nenek-." Ketika matanya kembali beralih ke arah pohon itu, ia tidak melihat lagi sosok pemuda itu.
"Apa yang kau lihat anak muda?. Apakah kau melihat sesuatu?. Wanita tua itu bertanya pada Putri Andhini Andita yang terlihat sangat bingung.
"Tadi saya melihat ada seorang pemuda yang sedang di sini nek." Jawab Putri Andhini Andita dengan herannya. "Tapi tiba-tiba saja ia menghilang. Apakah nenek mengenalinya?. Atau dia adalah cucu nenek?. Atau nenek mengenalinya?." Putri Andhini Andita merasa penasaran dengan apa yang terjadi. Bagaimana mungkin pemuda itu bisa menghilang dalam sekejap mata?.
__ADS_1
"Jadi kau bisa melihat alam sukma cah ayu." Nenek itu melihat serius ke arah Putri Andhini Andita.
"Hanya sedikit." Balas Putri Andhini Andita. Karena ia tidak yakin, apakah yang ia lihat tadi itu adalah manusia atau bukan.
"Baiklah, kalau begitu kau ikutlah dengan aku ke kediaman senopati tenggara sutra. Karena ia sedang mencari seseorang yang bisa melihat alam sukma." Nenek itu menyeret tangan Putri Andhini Andita menuju sebuah tempat.
"Untuk apa nek?." Putri Andhini Andita tidak menyangka akan diseret seperti itu oleh seorang wanita tua. Cengkraman tangannya sangat kuat, sehingga Putri Andhini Andita tidak bisa melepaskan cengkraman tangan itu. Kemanakah Putri Andhini Andita akan dibawa?. Temukan jawabannya.
***
Istana Kerajaan Suka Damai. Saat ini mereka semua sedang menyaksikan latihan Raden Rajaswa Pranawa dan Putri Agniasari Ariani latihan bersama. Mereka melihat gerakan yang sangat bagus, gerakan yang memberikan dua paduan yang sangat sempurna.
"Sangat luar biasa sekali ibunda. Aku sangat kagum pada rayi agniasari ariani." Raden Hadyan Hastanta memperhatikan gerakan yang dilakukan adiknya serta Raden Rajaswa yang benar-benar serius dalam berlatih kali ini.
"Sepertinya mereka akan menjadi pasangan yang sangat bagus sekali." Putri Bestari Dhatu dapat merasakannya. Ia saat ini sedang mengamati anaknya yang sudah hampir memasuki usia satu bulan.
"Gerakan yang sangat indah. Putriku ternyata telah dewasa." Ratu Dewi Anindyaswari merasa kagum dengan apa yang dilakukan oleh anaknya.
"Lalu bagaimana dengan raden jatiya dewa?. Apakah benar kau menyukai adikku?. Apakah kau tidak salah?." Raden Hadyan Hastanta terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya saat itu. Siapa lagi kalau bukan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang mengatakannya.
Mereka semua menatap ke arahnya. Karena ada yang berani mencintai Putri Andhini Andita. Dan sebelumnya, mereka juga sempat mendengar cerita dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, jika Raden Jatiya Dewa sempat berselisih faham dengan Putri Andhini Andita.
"Apakah kau serius mencintai anakku?." Ratu Gendhis Cendrawati juga mengajukan pertanyaan pada Raden Jatiya Dewa, sehingga ia mendadak menjadi gugup.
"Apakah itu benar?. Tapi bagaimana mungkin kau bisa mencintai putriku?. Ah, maksudnya nanda adhnini andita. Apakah kau siap dengan segala kekurangan yang ia miliki?." Ratu Dewi Anindyaswari juga mengajukan pertanyaan.
"Apa yang membuat dirimu mencintai adikku?. Pasti kau memiliki alasan yang tepat bukan?. Apakah rayi andhini andita tidak mengatakan apapun padamu?." Raden Hadyan Hastanta kembali mengajukan pertanyaan pada mereka.
__ADS_1
"Pasti kau memiliki alasan yang sangat kuat. Selain itu, jangan berani-beraninya kau membuat adik kami memiliki harapan dari apa yang telah kau katakan hari ini. Apakah kau memang bersedia dengan orang seperti adik iparku." Putri Bestari Dhatu terlihat begitu serius.
"Ya Allah. Kenapa mendadak diperlakukan seperti ini?." Dalam hatinya Raden Jatiya Dewa merasa gugup, dan sangat gugup. Rasanya ia ingin mati saja, saking malunya ia saat ini. "Semoga niat baik saya disambut baik." Raden Jatiya Dewa mencoba untuk terlihat kuat, serta tegar. Ketika ia diintrogasi seperti itu.
"Jadi seperti itu?." Mereka telah menangkap dengan baik, apa yang telah membuat Raden Jatiya Dewa jatuh cinta pada Putri putri Andhini Andita.
"Kami harap kau lebih bersabar lagi raden. Meskipun kalian saat ini terpisah, namun jika takdir. Maka kalian akan bersatu dengan ikatan pernikahan yang membawakan kebahagiaan yang tidak pernah terduga sebelumnya." Ratu Gendhis Cendrawati tersenyum kecil.
Apakah takdir memang bisa seperti itu?. Temukan jawabannya.
...***...
Kembali ke pertarungan Raden Cakara Casugraha dan Raden Cakrawala Dirja.
DUAKH!.
Raden Cakara Casugraha dan Raden Cakrawala Dirja masih sanggup bertarung. Dan kali ini sama-sama menendang musuh dengan sekuat tenaga. Hingga keduanya terpental, karena mereka menyalurkan tenaga dalam yang mereka miliki.
"Uhuk." Keduanya terbatuk, dan mengeluarkan sedikit darah.
"Ini belum seberapa cakara casugraha!. Karena aku belum puas sebelum aku menghajarmu. Jika perlu aku akan membunuhmu!." Raden Cakrawala Dirja kali ini menyalurkan tenaga dalamnya melalui telapak tangannya. Raden Cakara Casugraha terus menebas sabetan pedang ke arah musuhnya.
"Laahaula walaquata illabillahil aliyil'azim." Raden Cakara Casugraha menarik nafasnya dengan pelan, karena ia merasakan perasaan takut itu. Apakah ia tidak bisa menghentikan pertarungan itu?. Bisa saja, namun sepertinya masih ada yang harus ia lakukan, sebelum ia kehilangan kesempatan untuk memojokkan Raden Cakrawala Dirja. Lihat saja dari gerakan yang mereka lakukan saat itu benar-benar memancing siapa saja yang telah berbuat kejahatan.
"Apakah kau takut dengan apa yang aku katakan cakara casugraha?!. Apakah kau takut dengan apa yang akan terjadi cakara casugraha?. Kau masih hidup kah cakara casugraha?!." Sepertinya Raden Cakrawala sedang memanasi suasana hati Raden Cakara Casugraha.
"Aku hanya takut pada Allah SWT. Dan kau bukan tempat apa-apa dibandingkan dengan kekuatan Allah SWT." Raden Cakara Casugraha mencoba untuk menyerang Raden Cakrawala Dirja yang entah dari mana ia mendapatkan kekuatan itu?.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Hawa waktu yang akan menjawab semuanya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...