
...***...
Jaya Satria masih bersama kakek tua yang ternyata dulunya adalah seorang Patih dari kerajaan Suka Damai. Cerita yang sangat sedih yang diceritakan olehnya pada Jaya Satria, cerita yang hanya ia seorang mengalaminya?.
"Lalu apa yang akan eyang lakukan?. Jika memang eyang percaya, jika itu bukan perintah dari eyang prabu. Apakah eyang akan balas dendam?." Jaya Satria ingin mendengarkan jawaban dari kakek tua itu.
Kakek tua itu tersenyum kecil. "Aku telah merelakan semua yang telah menimpaku. Aku telah ikhlas atas apa yang terjadi padaku. Namun aku masih saja terjebak di sini, aku tidak bisa pergi dari sini anak muda." Hatinya merasa iba, karena ia belum juga memasuki alam yang seharusnya ia berada.
"Apakah karena golok itu yang membuat sukma eyang terus berada di sini?. Apakah eyang merasakan sakit karena golok itu terus menancap pada tubuh eyang?." Jaya Satria dapat merasakan, hawa dari golok itu. Meskipun telah berkarat, namun golok itu masih menyimpan tenaga dalam yang sangat besar.
"Ya, aku rasa memang seperti itu yang terjadi. Karena itulah aku tidak bisa pergi dari dunia ini anak muda." Ia menatap kerangka manusia yang tertancap golok penyegel Sukma itu di dada kiri tengkorak itu.
"Baiklah. Kalau begitu akan saya cabut golok itu. Eyang tenang saja. Semoga dengan begitu saya bisa membantu eyang." Jaya Satria mencoba menatap golok itu. Ia lebih mendekat, dan mengamati bentuk golok itu. Namun siapa sangka, saat ia hendak mencabuti golok itu. Ada kekuatan gaib yang menyerangnya, sehingga ia terpaksa mundur melompat menjauhi golok itu. Ada bayangan hitam yang menyerangnya dengan sangat cepat.
"Anak muda!." Kakek tua itu sangat terkejut, saat melihat ada harimau hitam yang menyerang Jaya Satria. Harimau hitam yang sangat ganas sekali.
Jaya Satria terus menghindari serangan dari harimau hitam dengan cakar yang sangat tajam. Namun siapa sangka, saat itu sukma naga kembar dari keris pusaka kembar keluar dari dalam tubuh Jaya Satria. Menerkam harimau hitam itu, membelit tubuhnya dengan sangat kuat. Sedangkan kakek tua itu melihat apa yang terjadi. Ia melihat ada dua Sukma naga api?. Namun, yang lebih membuat kakek tua itu terkejut adalah ketika Sukma kembar naga api menyembur gusti prabu pada Jaya Satria.
"Serahkan masalah ini pada kami gusti prabu. Biar kami yang mengatasi harimau tidak berguna ini. Gusti prabu segera lepaskan saja golok yang menancap di dada kiri tengkorak itu."
__ADS_1
"Kami akan menyelesaikannya dengan cepat gusti prabu."
"Terima kasih banyak Sukma naga api." Jaya Satria segera masuk, dan diikuti oleh kakek tua itu.
"Bismillahirrahmanirrahim." Jaya Satria berdo'a sebelum mencabut golok itu dari tubuh tengkorak kakek itu. Memang agak terasa sangat berat, karena golok itu telah menyimpan rasa kedengkian yang dimiliki oleh pemiliknya.
"Anak muda ini ternyata keturunan dari mendiang gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta. Pantas saja dia bisa memiliki kekuatan yang yang hebat. Bisa mengendalikan Sukma naga itu tidak lah mudah. Hanya keturunan langsung dari gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta lah yang mampu melakukan itu." Dalam hatinya merasa sangat kagum dengan apa yang dilakukan oleh Jaya Satria.
Ketika golok itu berhasil dicabut, tubuh kakek tua itu mulai memudar. Itu artinya rohnya bisa kembali pada sang Pencipta?. Mungkinkah apa yang dilakukan oleh Jaya Satria itu berhasil dengan sangat baik?.
"Terima kasih banyak anak muda." Senyuman tulus tergambar di wajahnya. "Semoga kau bisa menjadi raja yang hebat seperti mendiang gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta. Aku akan selalu bersamamu anak muda." Kakek tua itu perlahan menghilang dari pandangan Jaya Satria.
"Mari kami antar gusti prabu. Akan berbahaya, jika gusti prabu terlalu lama berada di sini."
"Benar gusti prabu. Tempat ini akan menjadi tempat yang berbahaya, jika magrib datang. Karena alam sukma ini tempat persembunyian hantu-hantu yang arwahnya gentayangan."
"Baiklah. Kalau begitu kita segera pergi dari sini." Jaya Satria juga tidak mau berurusan dengan mereka yang sudah mati. Akan berbahaya bagi keselamatannya. Setidaknya ia berhasil menyelamatkan kakek itu, dan mengembalikan sukmanya ke tempat yang seharusnya.
...***...
__ADS_1
Keesokan harinya.
Putri Andhini Andita telah bersiap-siap akan pergi. Ia masih mampu untuk melakukan perjalanan jauh. Karena baginya ini memang sangat penting dan haru ia lakukan. Perjalanan yang mengobati perasaan hati yang membuatnya merasa tidak nyaman sama sekali.
"Perasaan dicintai dan mencintai itu sangat berbeda andhini andita." Sukma Dewi Suarabumi terus menemani perjalanannya.
"Apa yang membuat mereka berbeda gusti putri. Apakah gusti putri bisa menjelaskan pada hanya yang tidak mengetahui apapun ini?." Putri Andhini Andita tersenyum kecil, ada perasaan ingin tahu yang menyelimuti hatinya saat ini.
"Jika kau mencintai seseorang, maka dua pilihan yang akan kau dapatkan. Bahagia atau kecewa yang senantiasa merasuki jiwamu." Jawabnya dengan pasti. "Bahagia karena kau mencintai orang yang kau sayangi. Namun ada bentuk kekecewaan yang kau rasakan, saat kau mengetahui cinta yang kau rasakan itu hanyalah sekedar tempat pelampiasan saja." Lanjutnya lagi. "Lalu jika kau yang dicintai. Maka kau yang akan menentukannya andhini andita." Sukma Dewi Suarabumi tersenyum kecil.
"Apa yang harus kita tentukan gusti Putri. Hamba sama sekali belum mengerti." Putri Andhini Andita memang ingin mendengarkan penjelasan dari Sukma Dewi Suarabumi.
"Kau adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Karena kau bisa memerintahkan siapa saja. Kau lah yang menentukan, mau kau apakah orang yang mencintaimu. Apakah ia mau menuruti semua yang kau inginkan, atau kau hanya sekedar menganggapnya sebagai teman biasa saja." Perasaan hampa, karena ia mencintai orang yang telah memberikan cinta padanya. "Dicintai, itu artinya kau memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh siapa saja, sehingga kau merasa dicintai, hingga kau ingin mengendalikan mereka semua dengan perasaan cinta yang kau miliki." Sukma Dewi Suarabumi sepertinya mengetahui banyak hal. Ia terus mengeluarkan pendapatnya, seakan-akan mengerti apa yang terjadi, dan apa yang dialami putri Andhini Andita.
"Terima kasih banyak gusti putri. Rasanya ini sangat membahagiakan sekali." Putri Andhini Andita dapat merasakan bagaimana suasana hatinya yang ingin dicintai seseorang dengan perasaan yang sangat tulus datang dari hatinya.
"Kalau begitu, teruslah berjalan. Karena sebentar lagi kita akan sampai di perkampungan. Aku harap kau lebih berhati-hati lagi. Banyak yang menginginkan kekuatanku. Jadi kau harus siap dengan segala kemungkinan yang ada." Sukma Dewi Suarabumi terus mengingatkan Putri Andhini Andita agar berhati-hati sebelum memasuki sebuah wilayah. Sejak mata batinnya dibuka oleh nenek Putih, ia langsung bisa melihat makhluk lain yang kemungkinan berniat jahat pada dirinya, atau pada orang-orang yang ia lewati.
"Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah, semoga saja hamba bisa melakukan hal yang bermanfaat di desa ini. Hamba harap hamba bisa melakukan hal yang baik di desa ini." Dalam hatinya sangat berharap, jika apa yang ia lakukan di desa ini membawakan hal yang sangat baik. Sepertinya ini desa terpencil, jauh dari keramaian. Hanya beberapa rumah saja yang ada di desa ini. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...