RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MELAWAN SOSOK MERAH


__ADS_3

..."*"...


Ada beberapa orang pendekar yang saat ini sedang berhadapan dengan sosok merah yang selama ini sangat meresahkan kerajaan Buana Dewa. Jaya Satria masih mengamati apa yang terjadi di depannya.


"Jaya satria. Itu adalah sosok merah yang kami katakan padamu. Sosok iblis yang kami katakan padamu."


"Dia sangat berbahaya jaya satria. Aku harap kau berhati-hati saat berhadapan dengannya."


"Ya. Aku dapat merasakan betapa bahayanya sosok merah itu. Aku baru melihat hal yang mengerikan seperti itu."


Namun apa yang terjadi setelah itu?. Mereka yang berhadapan dengan sosok merah itu malah kesurupan. Meskipun tidak semua yang mengalaminya, akan tetapi mereka menyerang pendekar lainnya. Sehingga suasana di sana sangat kacau.


"Jaya satria. Aku mohon lakukan sesuatu."


"Aku mohon tenangkan mereka jaya satria."


"Kalau begitu, raden berdua mundur lah. Biar aku yang tangani masalah ini." Jaya Satria menyuruh kedua pangeran itu mundur. Dan ia maju untuk melihat mereka yang sangat panik menghindari serangan beberapa pendekar yang kesurupan karena sosok merah.


Jaya Satria memejamkan matanya, dan ia mencoba konsentrasi. Setelah itu ia mengumandangkan azan dengan suara yang sangat keras. Membuat beberapa pendekar yang kesurupan itu berteriak kesakitan.


"Menjauh. Kita harus segera menjauh." Mereka yang tadinya diserang merasa terselamatkan oleh suara azan yang dilantunkan oleh Jaya Satria.


"Apa yang ia bacakan raka?. Mengapa mereka semua malah kesakitan?. Tapi kita tidak."


"Aku tidak mengerti sama sekali rayi. Nanti kita tanyakan padanya."


Mereka berdua rasanya sangat tidak sanggup mendengarkan suara jeritan kesakitan mereka.

__ADS_1


"Kurang ajar!. Siapa kau!. Berani sekali kau mengumandangkan azan di sini." Sosok merah itu keluar dari tubuh salah satu pendekar yang kesurupan itu. Ia hendak menyerang Jaya Satria yang masih mengumandangkan azan, namun tubuhnya malah terpental tak jauh dari sana.


Begitu Jaya Satria selesai mengumandangkan azan, sosok itu berubah menjadi sosok merah yang sangat mengerikan. Bahkan mereka semua dapat melihat betapa mengerikannya sosok itu saat ini.


"Hei kau!. Makhluk gaib. Kenapa kau malah menyerang, dan bahkan memangsa manusia!." Jaya Satria maju, sambil menunjuk ke arah sosok mengerikan itu.


"Aku sangat menginginkan kekuatan yang luar biasa. Aku ingin menjadi dewa yang mampu menguasai bumi ini dengan sepenuhnya."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Janganlah kau bernafsu ingin memiliki kekuasaan di dunia ini. Ingat!. Bahwa kekuasaan tertinggi ada pada Allah SWT. Sedangkan kekuasaan dimuka bumi ini hanyalah sementara. Hanya titipan saja, dan akan diminta pertanggungjawaban diakhirat kelak oleh Allah SWT. Jadi kau jangan memiliki keinginan yang membuatmu merugi, dan bahkan kau menjual jiwamu pada iblis."


"Diam kau!. Aku tidak akan mendengar apa yang kau katakan!. Aku hanya menginginkan kekuatan untuk menjadi dewa. Agar aku dihormati oleh siapa saja!. Jika kedudukan ku sangat tinggi!."


"Nauzubillah minzalik. Kau harus segera bertaubat kisanak. Kau tidak akan mendapatkan apapun kecuali kerugian, jika kau bekerja sama dengan iblis yang sangat menyesatkan."


"Diam kau!. Aku tidak butuh pencerahan dari kau!." Aura kemarahan dari sosok merah menyeramkan itu menguar ke arah Jaya Satria. Hembusan angin yang lumayan kencang. Sehingga Jaya Satria harus menutupi wajahnya dengan menjadikan lengannya sebagai tameng.


"Jaya satria." Raden Jatiya Dewa sangat khawatir dengan keadaan Jaya Satria. Namun Jaya Satria memberikan kode untuk tetap berada di belakangnya.


"Tetaplah berada di belakang raden. Biar aku saja yang menghadapinya."


"Tadi jaya satria."


"Patuhi perkataan ku. Atau kalian ingin celaka." Jaya Satria mengeluarkan pedang pelebur Sukma. Karena sosok merah itu maju menghadangnya.


Jaya Satria berhadapan dengan sosok merah yang menyeramkan itu. Ia harus bisa menghentikan sosok merah itu secepatnya. Sementara itu, pendekar yang lainnya bersembunyi di balik pohon-pohon yang lumayan besar. Mereka sangat takut dengan keganasan sosok merah itu saat menyerang Jaya Satria.


Jaya Satria merasakan, hawa hitam yang sangat kental, saat pedang pelebur Sukma menggores kulit sosok merah itu. Pedang Pelebur Sukma menyerap banyak energi negatif dari sosok itu.

__ADS_1


"Siapa pendekar bertopeng itu?. Berani sekali dia berhadapan dengan sosok mengerikan itu."


"Kau benar. Aku belum pernah melihat ia selama ini. Dari mana dia berasal?. Kekuatan pedangnya terlihat aneh."


"Ya, ya, ya. Lihat pedang itu malah menyerap hawa negatif dari pedang itu."


"Kita lihat saja. Apakah ia mampu menghabisi sosok merah itu atau tidak."


Mereka melihat pertarungan Jaya Satria yang saat ini sedang berhadapan dengan sosok merah yang menyeramkan.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Tidak biasanya pedang pelebur sukma merasa kalah dari kegelapan yang dimiliki oleh orang lain. Apakah karena dia iblis, malah kegelapan pedang pelebur sukma membuat sosok merah itu menjadi semakin kuat."


"Ahaha!. Berikan aku pedang milikmu itu. Rasanya sangat manis untuk aku makan!." Ia malah bersemangat dengan kegelapan yang terkandung di dalam pedang pelebur sukma.


Jaya Satria tampak sedikit kewalahan. Ia menyimpan kembali pedang pelebur Sukma. Rasanya pedang itu tidak akan bisa ia gunakan saat ini, dan ia masih belum menggunakan jurus cakar naga cakar petir. Karena akan membahayakan mereka semua yang masih berada di sini.


"Raka, apakah kita hanya berdiam diri saja?. Gusti prabu pasti membutuhkan bantuan kita."


"Kau harus ingat dengan apa yang dikatakan jaya satria. Apakah kau mau mengganggunya?. Bagaimana jika ia marah padamu nantinya?." Raden Antajaya Dewa berusaha untuk mengingatkan adiknya untuk bertindak ceroboh. "Apakah kau lupa dengan apa yang dikatakan oleh Putri andhini andita, hah?."


"Ba-baiklah raka. Aku hanya khawatir dengan keadaan jaya satria saja." Raden Jatiya Dewa sangat ingin membantu namun ia dilarang oleh kakaknya.


Kembali pada Jaya Satria yang saat ini sedang mengeluarkan Panah Semara Naga. Lagi?. Berapa banyak Sukma naga yang bersemayam di dalam tubuh Raden Cakara Casugraha sebenernya?. (Panah Semara Naga, pada episode benda pusaka dan tuannya.) Tapi bukan saatnya untuk membahas itu sekarang. Jaya Satria saat ini sedang fokus menggunakan panah itu, namun sosok merah itu dengan entengnya menghindari serangan panah yang melayang ke arahnya.


"Ahaha!. Percuma saja kau menggunakan banyak senjata. Aku sama sekali tidak takut!. Dan apa yang kau lakukan semuanya sia-sia."


"Semua terjadi karena Allah SWT. Aku melakukan karena Allah SWT. Sebaiknya kau segera bertaubat dan bersujud kepada Allah SWT. Dan janganlah kau bersekutu dengan iblis yang sangat menyesatkan." Jaya Satria saat ini berusaha untuk mengendalikan diri agar tidak terbawa amarah.

__ADS_1


"Kalian semua!. Menjauh dari sini!. Aku akan menggunakan keris pusaka kembar keris naga penyegel sukma dan jurus cakar naga cakar petir." Jaya Satria memperingatkan mereka semua. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.


..."*"...


__ADS_2