
...***...
Putri Agniasari Ariani dan Raden Rajaswa Pranawa berhasil menemui Syekh Asmawan Mulia. Putri Agniasari Ariani menceritakan semuanya, bagaimana keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini. Hati siapa yang tidak iba mendengarkan kabar buruk itu.
"Keadaan rayi prabu kembali sakit syekh. Kali ini karena bentrokan pedang pelebur sukma dan pedang sukma naga pembelah bumi."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Cobaan apa lagi kali ini yang menimpa nanda prabu?. Lalu bagaimana dengan keadaan jaya satria?."
"Jaya satria telah menyatukan raganya syekh. Rayi cakara casugraha telah menyatukan kembali kedua raganya. Karena bantuan dari batu nirwana dewa. Akan tetapi kerena batu nirwana dewa, kedua sukma yang bertolak belakang itu jadi berontak syekh."
"Nauzubillah. Itu sangat sulit dilakukan. Jika tidak memiliki kepandaian menembus alam sukma." Suasana hatinya mendadak gelisah, karena memikirkan keadaan itu. "Bukankah nimas bestari dhatu bisa menembus alam sukma?."
Putri Agniasari Ariani terdiam sejenak, karena memang benar apa yang dikatakan oleh Syekh Asmawan Mulia. "Yunda bestari dhatu saat ini sedang mengandung syekh. Karena itulah ia tidak bisa melakukannya. Kami berdua datang ke sini ingin meminta bantuan pada syekh, semoga syekh bisa membantu rayi prabu menenangkan kedua pedang sukma itu syekh."
"Aku tidak memiliki kepandaian memasuki alam sukma. Begitu juga dengan kakang jarah setandan. Kami membuat mustika naga merah delima, pada saat itu atas bantuan mendiang gusti prabu kawiswara arya ragnala, untuk memasuki alam sukma." Syekh Asmawan Mulia masih ingat bagaimana proses pembuatan Mustika Naga Merah Delima pada saat itu.
"Lalu apa yang harus kami lakukan syekh. Bagaimana caranya mengobati rayi prabu?."
"Apakah syekh memiliki saran dari masalah ini?. Atau ada seseorang yang syekh kenali yang mampu memasuki alam sukma?."
"Hamba akan memikirkannya raden. Dan maaf gusti putri, berikan hamba sedikit waktu untuk memikirkan caranya."
"Terima kasih syekh. Maaf jika dalam keadaan sulit, kami selalu bertumpu pada syekh."
"Tidak apa-apa gusti putri. Bagi hamba, keluarga mendiang prabu kawiswara arya ragnala adalah keluarga hamba sendiri. Jadi kapan saja minta bantuan, akan hamba usahakan. Semua atas izin Allah SWT."
"Aamiin ya Allah. Terima kasih atas kebaikannya syekh. Semoga kita semua bisa menyelamatkan rayi prabu atas izin Allah SWT. Aamiin."
__ADS_1
Putri Agniasari Ariani hanya berharap, jika adiknya akan baik-baik saja. Ia sangat takut kehilangan adiknya. Berpisah selama delapan tahun saja membuatnya menderita, apalagi jika sampai adiknya meninggal karena tidak bisa menenangkan pemberontakan dari kedua pedang sukma.
...***...
Singkatnya. Raden Hadyan Hastanta telah berhasil ke kaki gunung Menawan Batin. Ia bertemu dengan Aki Jarah Setandan. Ia juga menceritakan bagaimana keadaan adiknya di istana ketika ia tinggalkan.
"Lagi?. Bahkan terakhir ketika ia datang ke sini, kondisi tubuhnya sedang sakit." Aki Jarah Setandan selalu menangis, jika mendengarkan kabar tentang Raden Cakara Casugraha yang sedang sakit. "Cobaan demi cobaan ia lalui, sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Ketika ia diusir dari istana, bahkan ketika ia menjadi raja. Begitu banyak beban yang ia tanggung."
"Rayi prabu selalu menanggung rasa sakitnya sendirian aki. Rasanya aku sama sekali tidak berguna sebagai raka nya." Raden Hadyan Hastanta juga merasa sedih. Ia tidak menyangka, orang luar memahami penderitaan adiknya, sementara waktu itu ia yang menambah penderitaan pada adiknya.
"Apa yang terjadi semua itu adalah kehendak dari dewata agung. Raden tidak perlu merasa sedih. Semuanya adalah pelajaran untuk menjadi lebih baik lagi, dan saling melindungi satu sama lain."
"Aki benar. Masa lalu adalah guru yang bijak, jika kita ingin mengubah diri ke arah yang lebih baik." Raden Hadyan Hastanta mencoba berlapang dada menerima kenyataan pahit itu. "Lalu apa yang harus kita lakukan, keadaan rayi prabu sangat kacau."
"Meskipun aku tidak bisa memasuki alam sukma, setidaknya bawa aku ke istana. Aku ingin melihat keadaannya. Aku akan mengingat, siapa temanku yang bisa masuk ke alam sukma."
"Apakah adi syekh asmawan mulia mendapatkan kabar yang sama denganku?."
"Mungkin sudah. Kabar itu aku yakin disampaikan oleh rayi agniasari ariani. Karena kami telah berbagi tugas, untuk menjemput syekh asmawan mulia, aki jarah setandan, juga aki suramuara."
"Kalau begitu, izinkan aku bersemedi sebentar. Sebelum kita menuju istana kerajaan suka damai."
"Baiklah aki. Aku setuju."
Sebelum kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai, ada hal yang perlu dilakukan oleh Aki Jarah Setandan. Semoga saja ia bisa menemukan jalan keluar, dari apa yang menimpa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Jaya Satria, atau nama aslinya Bahuwirya Cakara Casugraha.
...***...
__ADS_1
Sementara itu, Putri Andhini Andita sangat gerah. Karena ia belum juga menemukan keberadaan Pendekar Perapian Suramuara. Apalagi ia dicegat oleh beberapa orang perampok yang meminta barang yang ia bawa.
"Hei!. Cah manis. Sebaiknya kau serahkan semua barang bawaan mu. Jika kau masih sayangmu."
"Kalian semua sebaiknya jangan menguji kesabaran yang telah aku miliki. Minggir kalian, karena aku sedang terburu-buru."
Tapi mereka malah tertawa ngakak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita. "Paling disogok sedikit malah nurut seperti kucing." Kembali mereka semua tertawa keras. Karena merasa ada yang sangat lucu.
"Mari senang-senang sama kami."
Amarah putri Andhini Andita semakin bergejolak, karena ia ingat dengan kejadian itu. Kejadian yang membangkitkan emosi yang bergejolak.
"Kalian pikir aku akan menyerah begitu saja pada kalian?. Jangan mengharapkan apa yang tidak bisa kalian kalahkan."
Putri Andhini Andita bertarung dengan mereka semua. Karena ia merasa geram, dan dan ingin segera pergi dari sana. Dengan beberapa jurus yang ia mainkan, ditambah emosinya yang semakin meningkat, membuat mereka semua merasa kewalahan dengan jurus yang ia mainkan.
Setelah berhasil mengalahkan mereka semua. Ia menjitak kepala mereka satu per satu. Keadaan mereka yang sedang terluka setelah ia hajar tanpa ampun. Hingga ada seseorang yang menghentikannya. Emosinya bertambah meningkat, saat ia melihat ada seseorang yang mendekat.
"Kurang ajar!. Rupanya kau ingin bermain-main dengan aku!. Hah?." Saking marahnya, ia menunjuk kiri ke arah wanita asing itu. "Maju ke sini dan tunjukkan kepandaian yang kau miliki hah?."
"Tenanglah, aku yakin sebuah masalah bisa diatasi dengan baik, jika kau mengatasinya dengan pikiran jernih."
"Aku saat ini sedang memiliki masalah yang sangat serius, akan tetapi mereka malah menghalangi jalanku. Lalu bagaimana denganmu?. Kau juga ingin menghalangi perjalanan ku?."
"Aku hanya tabib biasa. Jika berkenan. Izinkan mengetahui apa masalah yang telah kau hadapi?." Wanita itu tersenyum ramah, karena ia tidak mau membuang waktu dengan sia-sia.
Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...