RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
SYAIR PEMIKAT


__ADS_3

...***...


"Ada beberapa lainnya yang wajib dikerjakan, namun pengerjaan boleh ditunda. Akan tetapi, jangan sampai melebihi pada waktu batas yang ditentukan, agar pengerjaan tidak memberatkan seseorang."


"Ibunda tidak mengerti apa maksudnya. Agak terdengar sedikit aneh nak." Ratu Dewi Anindyaswari kebingungan mendengarnya.


"Sebelum nanda menjelaskan apa maksudnya. Ibunda harus mengetahui terlebih dahulu, tentang kewajiban melaksanakan puasa. Yaitunya terdapat dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 183."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membacakan surat tersebut, dengan suara yang sangat merdu. Hingga membuat ibundanya sangat tersentu.


"Putraku sungguh sangat luar biasa. Tidak salah keputusan kanda prabu mengizinkannya masuk agama islam." Dalam hati ratu Dewi Anindyaswari merasa tersentuh, mengingat semuanya.


"Jadi, puasa itu wajib hanya untuk orang-orang yang beriman saja?."


"Bisa jadi seperti itu ibunda. Karena jika tidak beriman. Bisa jadi dia tergoda ingin segera membatalkan puasanya dengan bermacam cara. Karena imannya yang tidak kuat." Jawab sang prabu.


"Jadi begitu?. Ibunda tidak bayangkan seberapa kuatnya ibunda menahan diri agar tidak menyentuh makanan satu hari." Ratu Dewi Anindyaswari tertawa kecil. Ia tidak bisa membayangkan dirinya berpuasa, dan dirinya dengan nakalnya membatalkan puasanya?.


"Jika ibunda, nanda yakin ibunda pasti bisa." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga ikut tertawa kecil.


"Lalu bagaimana dengan pertanyaan ibunda tadi?."


"Seperti yang telah nanda jelaskan sebelumnya. Bahwa puasa ramadhan itu adalah puasa yang wajib dikerjakan." Sang prabu mulai menjelaskannya. "Jadi puasa itu tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Memang harus dikerjakan." Lanjutnya.


"Akan tetapi. Allah SWT tidak pernah memberatkan hamba-Nya. Karena itulah waktu pengerjaan puasa bisa ditunda, jika dia laki-laki dalam keadaan sakit, dalam perjalanan jauh, karena usianya. Atau dalam keadaan sakit parah, maka ia diperbolehkan untuk tidak mengerjakan puasa ibunda." Sang prabu menjelaskannya.


"Lalu bagaimana dengan wanita?. Apakah wanita tidak boleh meninggalkan puasa?." Dengan penasarannya, Ratu Dewi Anindyaswari bertanya lagi.


"Jika ia adalah seorang wanita. Hal-hal yang membuatnya menunda puasanya, yaitunya ia haid, atau datang bulan. Ibu menyusui, sakit, karena usianya yang telah tua. Maka ia boleh menundanya."


"Tapi bagaimana jika ia tidak bisa membayarnya nak?. Seperti orang tua yang sudah tidak sanggup lagi untuk berpuasa."


"Ia bisa membayar fidyah. Suatu bayaran yang dapat berupa memberi makan fakir miskin, atau anak yatim"


"Jadi begitu?. Sungguh luar biasa sekali nanda."


"kira-kira seperti itulah ibunda. Sungguh agama yang sangat luar biasa." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih tersenyum kecil menatap ibundanya.


"sejauh ini apakah ibunda mengerti apa yang ananda jelaskan?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bertanya pada ibundanya dengan pelan.


"Ibunda sedikit mengerti putraku." Balas Ratu Dewi Anindyaswari mengangguk mengerti.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil.


"Ibaratkan kita membayar pajak, ibunda. Jika kita tidak ingin menumpuk membayar pajak, maka kita bayar dengan menyicilnya. Agar tidak terlalu berat untuk membayarnya, sebelum datang tagihan bulan berikutnya. Jika kita menumpuknya terus menerus, maka kita akan kesulitan membayarnya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengibaratkan puasa dengan membayar pajak, ya hampir sama meskipun ada perbedaannya.


"Lalu berapa lama kita harus berpuasa?. Dan bagaimana pelaksanaannya?." Tanya Ratu Dewi Anindyaswari lagi.


"Selama tiga puluh hari kita mengerjakannya."


"Tiga puluh hari?. Apakah itu tidak berlebihan nanda prabu?."


Ratu Dewi Anindyaswari sedikit terkejut mendengarnya, sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana malah tertawa kecil melihat ekspresi wajah ibundanya.


"Pasti berat melakukannya berpuasa selama tiga puluh hari tanpa makan dan minum." Ratu Dewi Anindyaswari tidak bisa membayangkan ia melakukannya.


"Tidak seberat yang dibayangkan ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menjelaskan.


"Seperti yang nanda katakan. Agama islam itu agama yang tidak memberatkan seseorang. Jika ia tidak mampu melakukannya, namun ia bisa membayarnya dengan bentuk lain." Dengan pelan prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskan lagi.


"Waktu pelaksanaan puasa itu, dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, setelah itu kita diperbolehkan untuk makan dan minum." Sang prabu menjelas ulang.


Ratu Dewi Anindyaswari mendengarkan penjelasan anaknya dengan tenang.


"Banyak sekali manfaat dari puasa itu ibunda, bahkan ayahanda prabu dulu melakukannya, namanya tapa puasa." Lanjut sang prabu.


"Jika ibunda ingin mengetahui lebih lanjut tentang puasa. Ibunda boleh bertanya kepada nyi ayudiyah purwati istri syekh guru nantinya." Ucap Sang Prabu.


Ia sangat ingin menjelaskan puasa pada ibundanya, namun sepertinya ia tidak bisa menjelaskan terlalu banyak, tentang puasa pada ibundanya. Karena matanya melihat kedatangan Ratu Ardiningrum Bintari dan Gendhis Cendrawati mendekatinya dan ibundanya.


"Salam nanda prabu."


ucap keduanya dengan nada sopan, dan tak lupa hormat mereka lada sang prabu.


"Duduklah ibunda ratu." Prabu Asmalaraya Arya mempersilahkan kedua ibundanya untuk duduk.

__ADS_1


"Terima kasih nanda prabu."


Ratu Ardiningrum Bintari dan ratu Gendhis Cendrawati merasa senang diperbolehkan duduk oleh sang prabu, mereka duduk di samping ratu Dewi Anindyaswari.


"Ada apa ibunda?. Sepertinya ada hal penting, yang ingin ibunda sampaikan kepada nanda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menangkap sesuatu, yang ingin disampaikan oleh kedua ibundanya. Namun keduanya masih agak ragu.


Keduanya saling berpandangan. Apakah mereka akan mengatakannya?.


"Begini nanda prabu." Ratu Ardiningrum Bintari mencoba untuk memberanikan dirinya. "Rasanya ibunda sangat merindukan ayahanda prabu, yang berada di kerajaan Mekar Jaya. Rencananya ibunda akan pergi mengunjunginya."


"Ibunda juga mau mengunjungi makam ayahanda di telaga sarangan. Sekaligus menemui ibunda embun kasih. Sungguh ibunda sangat merindukan beliau."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana nampak berpikir sejenak, dan ia balik bertanya kepada kedua ibundanya.


"Apakah sudah dipikirkan dengan matang kepergian itu ibunda?." Tanya prabu Asmalaraya Arya Ardhana agak berat, membiarkan kedua ibundanya saat ini pergi meninggalkan istana.


"Tentu saja kami sudah memikirkannya, bukan begitu rayi gendhis cendrawati?."


Ratu Ardiningrum Bintari tersenyum kecil, ia menyikut pelan lengan ratu Gendhis Cendrawati.


"Iya nanda prabu. Kami sudah memikirkannya dengan matang. Dan kami sudah memutuskan untuk melakukan perjalanannya besok." Ratu Gendhis Cendrawati agak sedikit gugup.


"Tapi yunda. Mengapa mendadak begitu?. Apakah yunda sudah melakukan persiapan untuk perjalanan besok?." Ratu Dewi Anindyaswari sedikit mengkhawatirkan kepergian mereka yang terbilang mendadak.


"Kami hanya merindukan keluarga saja rayi. Tentu saja kami tidak bisa menunda keberangkatan besok." Balas ratu Ardiningrum Bintari sedikit meninggi, dan itu terlihat mencurigakan


"Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah ibunda ratu ardiningrum bintari dan juga ibunda ratu gendhis cendrawati, dalam perjalanan besok."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengizinkan mereka pergi. Ia hanya tidak ingin ada perdebatan panjang, antara ibundanya dengan Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu gendhis cendrawati.


"Terima kasih nanda prabu."


Setelah berkata seperti itu, keduanya memberi hormat pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana, kemudian mereka pergi meninggalkan tempat itu.


"Tdak apa-apa ibunda. Mungkin ibunda ratu ardiningrum bintari, juga ibunda ratu gendhis cendrawati, memang merindukan keluarga mereka yang sangat jauh." prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba tidak berpikiran buruk pada kedua ibundanya itu.


"Baiklah putraku." Ratu Dewi Anindyaswari hanya mencemaskan kemungkinan buruk yang akan terjadi.


"Tapi sepertinya sebentar lagi matahari akan terbenam nak. Bukankah sudah waktunya nanda prabu untuk makan?."


"Ibunda benar. Tapi namanya berbuka puasa. Dimana kita makan sambil membaca doa membatalkan puasa." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan senyuman ramah,


"Kalau begitu. Biarkan ibunda yang menghidangkan makan berbuka untukmu nak." Entah mengapa Ratu Dewi Anindyaswari, ingin menyiapkan makan berbuka puasa untuk anaknya.


"Terima kasih ibunda."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang mendengarnya, ia bahagia jika ibundanya yang menyiapkan menu hidangan puasa untuknya.


...***...


Dan siang telah malam, gelap gulita bagi orang-orang yang tidak dapat melihat cahaya karena mereka tidak memiliki penerangan.


Nini Kabut Bidadari dan anak buahnya termasuk putri Gempita Bhadrika, telah menyiapkan permainan yang akan mereka mainkan malam ini.


Di tempat hiburan malam.


Untuk pertama kalinya bagi Mayang Sari menari. Namun gerakan itu terlihat sangat indah, membuat para pengunjung merasa kagum dengan gerakan tari yang dimainkan Mayang Sari.


Mereka melihat itu dengan wajah penuh kegembiraan, bahkan ada yang ikut menari.


"Benar-benar orang yang mencari kenikmatan dunia malam." Batin Nini kabut Bidadari tersenyum lebar, melihat betapa ramainya hari ini sejak mereka memulai apa yang mereka kerjakan tempo hari.


Saat tarian berlangsung, tepuk tangan dan siulan mengisi ruangan itu. Mereka benar-benar terhibur di sini, melupakan masalah yang mereka hadapi ketika siang harinya.


Setelah satu dua tari selesai dimainkan, mereka nampak kecewa karena tidak ada lagi yang dapat menghibur hari mereka. Namun yang membawakan acara mengeraskan suaranya, dan memperkenalkan seorang wanita pembaca syair pemikat. Mereka semua merasa kagum dengan kecantikan putri Gempita Bhadrika


"Malam ini masih panjang, jadi tidak perlu kecewa. Karena kita telah memiliki sang rembulan yang telah menginjakkan kakinya di sini untuk menghibur kalian semuanya."


Mereka yang mendengar itu merasa senang, sambil melihat wanita muda cantik berada di atas pentas. Penampilan itu sungguh memukau mata mereka seakan benar-benar memikat mata mereka semua agar tertuju padanya.


"Selamat malam akang-akang semuanya."


sapa Putri Gempita Bhadrika dengan ayunya. Ia menyapa mereka dengan tatapan mata genit. Menggoda mereka semua dengan pesonanya, seperti seorang bidadari yang jatuh dari langit, hadir untuk mereka semua.


"Malam neng gelis."

__ADS_1


Jawab mereka menyambut sapaan putri Gempita Bhadrika, yang memancarkan kecantikannya sebagai seorang putri raja yang memiliki berjuta pesona.


"Kurang bersemangat. Apakah saya datang kesini hanya mendengarkan suara satu orang, sedangkan yang hadir begitu banyak." Sepertinya putri Gempita Bhadrika sedikit menikmati malamnya.


"Malam akang-akang semuanya."


Ulang putri Gempita Bhadrika dengan senyuman menawan. Hingga mereka tidak bisa menolak pesona itu, dan mereka menjawabnya dengan semangat. Sehingga suara mereka memenuhi tempat hiburan malam itu.


"Luar biasa sekali."


Mayang Sari dan Semara Layana merasa kagum, dengan apa yang dilakukan oleh Putria Gempita Bhadrika dalam memikat mereka semuanya.


"Baiklah. Semoga akang-akang sekalian suka dengan syair yang saya bawakan."


Putri Gempita mulai dengan membaca syairnya, lebih tepatnya mantra pengikat.


"Syair ini menceritakan tentang seorang yang merindukan kekasihnya."


Putri Gempita Bhadrika menyebutkan syair apa yang akan ia bacakan malam ini pada mereka semua. Sementara itu mereka menyambutnya dengan sorak-sorai yang ramai. Mereka senang dengan syair-syair yang mengungkapkan tentang perasaan cinta.


"Rembulanku bersinar.


Sinarnya memancarkan keindahan.


Oh sinar rembulan yang sedang menerpa diriku."


putri Gempita benar-benar meresapi tiap bait syair yang ia ucapkan, sedangkan mereka mendengarkannya dengan seksama.


"Apakah cahaya bulan itu bisa menyampaikan pesan kepada kekasihku?.


Bahwa rasa rinduku telah merasuki jiwaku. Hatiku yang kosong, seakan telah dimasuki oleh merahnya kasih sayang, yang sangat ingin aku ungkapkan padanya."


Syair-syair itu seakan memiliki aura hawa panas. Ada sosok kasat mata cahaya kemerahan, yang sedang berkeliaran mencari jiwa kosong.


Jiwa kosong itu adalah jiwa yang menginginkan kasih sayang seseorang. Jiwanya kosong karena bentuk kerinduan akan kasih sayang kekasihnya. Hingga makhluk itu mudah merasuki jiwa yang kosong itu.


"Oooh betapa besarnya kemarahanku karena menahan rindu ini. kekasihku telah pergi meninggalkan aku. Kepada siapa lagi aku ingin berkata?."


Syair-syair itu masih berlanjut, dan tiba-tiba ada seorang pemuda terlihat aneh. Matanya sudah memerah menahan gejolak yang ada di dalam dadanya.


Rasanya ia ingin meledak saking gelisahnya ia, menahan perasaan rindu kepada kekasihnya yang telah mengkhianatinya.


"Lepaskan. Lepaskan aku dari belenggu api asmara ini. Biarkan aku berkelana menemukan kekasihku. Ooh kekasihku pujaanku. Datanglah!. Datanglah!. Agar aku bisa melepaskan amarah ini, amarah rindu padamu."


setelah bait syair itu dibacakan, pemuda itu benar-benar lepas kendali. Suasana di tempat itu mendadak jadi ribut. Karena pemuda itu seperti kerasukan sesuatu, hingga ia menyerang siapa saja.


"Bagus. Seperti yang diharapkan dari seorang putri raja dalam memikat seseorang."


Nini Kabut Bidadari merasa puas, dengan apa yang dilakukan oleh Putri Gempita Bhadrika, yang berhasil melantunkan syair pemikat itu dengan sempurna. Selain itu, ia juga telah menemukan wadah jin pemikat syair.


"Kau yang merasa benci, dendam, keluarkan semuanya. Dunia telah menolakmu. Dunia telah menghinamu. Sanggupkah engkau menahan kerinduan, sementara ia telah bahagia di sana. Sedangkan engkau menderita di sini?."


syair itu belum selesai dibacakan, ia tidak peduli kacaunya suasana di tempat itu. Bagaimana pemuda itu mengamuk menghajar mereka satu persatu tanpa ampun, bahkan membunuh mereka dengan sadis.


Namun saat kekacauan itu berlangsung, Jaya Satria datang. Ia melihat keributan luar biasa yang mengejutkannya.


"Hai nini!. Aku tidak suka dengan syair yang kau lantunkan."


Jaya Satria berdiri dihadapan Putri Gempita Bhadrika. Membuatnya terkejut, begitu juga dengan Nini Kabut Bidadari, Semara Layana dan juga Mayang Sari.


"Syair yang kau lantunkan tidak enak didengar. Lebih jelek dari suara tikus yang terjepit pintu." Lanjut Jaya Satria mengatakan suara Putri Gempita Bhadrika sangat jelek?.


Putri Gempita Bhadrika sangat tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria.


"Bedebah!. Beraninya kau menghina suaraku." Putri Gempita Bhadrika telah terbawa amarah.


Ia tidak terima penghinaan itu, dengan perasaan marah yang luar biasa, ia membacakan syair pemikat agar wadah jin tadi menyerang Jaya Satria.


"Hei kau yang tidak mengerti suara merduku. Tidakkah kau lihat bagaimana kekuatan, yang telah aku lambari dengan kekuatan kebencian untuk menusukmu?."


Sesuai dengan syair yang ia bacakan, pemuda yang telah dirasuki itu merasa marah, menyerang Jaya Satria. Aura kemarahan itu semakin besar, hingga terlihat seperti senjata mematikan yang siap menusuk tubuh Jaya Satria.


Apakah yang akan terjadi?. Apakah pertarungan mereka akan berlangsung lama?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2