RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KATA PERPISAHAN PUTRI CAHYA CANDRAKANTI


__ADS_3

...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria kali ini berada di ruang pribadi Raja. Saat ini mereka melakukan belah raga. Meskipun Jaya Satria adalah raga yang asli, namun ia tetap menghormati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, seperti ia menghormati ayahandanya. Walaupun terlihat aneh menghormati dirinya sendiri. Padahal ia adalah yang asli, namun baginya menghargai adalah hal yang sangat penting.


"Sudah lama hamba tidak melakukan ronda gusti prabu. Mungkin kita harus meningkatkan kembali keamanan kerajaan suka damai." Jaya Satria mengeluarkan pendapatnya. Ada perasaan yang agak berbeda, namun tetap saja satu jiwa.


"Bisa saja jaya satria. Tapi malam ini bukan kah ibunda ratu gendhis cendrawati juga yang lainnya akan mengucapkan kalimat syahadat, sebagai syarat wajib masuknya agama islam?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengingatkan Jaya Satria akan hal yang sangat penting untuknya sebagai kepala keluarga istana saat ini.


"Gusti prabu benar. Hamba akan mengatur kembali masalah keamanan kerajaan ini." Balas Jaya Satria. "Hamba hanya tidak ingin ada gangguan saja." Lanjutnya dengan perasaan cemas.


"Kita akan memikirkannya bersama-sama jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit menghela nafasnya yang terasa resah. "Sebenarnya aku yang harus menghormati mu sebagai raga asli, raden cakara casugraha. Tapi justru engkau yang menghormati aku. Rasanya sebagai raga kedua dari putra mahkota, aku sangat malu sekali." Ia menatap Jaya Satria dengan perasaan tidak enak hati.


"Kita orang yang sama. Rasanya aku hampir tidak percaya, jika aku memiliki dua raga karena ayahanda prabu." Jaya Satria atau Raden Cakara Casugraha mengamati kedua tangannya. "Kita adalah dua orang yang sama. Tapi aku hanyalah gumpalan kemarahan saja. Karena itulah aku harus disembunyikan, tidak baik untuk diperlihatkan pada siapapun. Meskipun ayahanda telah mengatakan jika suatu hari nanti aku bisa menangis, tertawa bahkan marah bersamamu juga dengan lainnya." Jaya Satria sangat ingat dengan apa yang dikatakan oleh Ayahandanya. "Seharusnya ini tetap menjadi rahasia. Namun seperti kata pepatah. Tidak selamanya seseorang bisa merahasiakan jati dirinya. Suatu hari pasti akan ada orang-orang yang ingin mengetahuinya." Jaya Satria sangat ingat bagaimana mereka semua pada akhirnya mengetahui rahasia yang ia simpan selama ini.


"Ya, kita yang dulu hanyalah orang yang melakukan semaunya saja. Tapi siapa sangka akan menjadi seperti ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Kita telah melewati itu semua dengan penuh cobaan. Masa lalu yang lumayan sulit untuk kita lewati." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tentunya memiliki ingatan Raden Cakara Casugraha dimasa itu.


"Masa lalu adalah guru, dan masa sekarang sebagai pembelajaran."


Jika mereka ingat lagi, memang banyak hal yang terjadi di masa lalu. Sehingga membawa Raden Cakara Casugraha hingga seperti ini. Masa lalu yang sangat sulit, dan hampir tidak pernah dibayangkan oleh Raden Cakara Casugraha ketika ia menemui ayahandanya waktu itu untuk terakhir kalinya. Mereka tidak menyangka, takdir garis waktu akan menyeret mereka sampai sejauh ini. Lika-liku kehidupan yang tidak bisa mereka tebak akan berkahir seperti apa. Apakah mereka masih mampu menghadapi semuanya dengan senyuman saja?. Hanya waktu yang akan menjawabnya.


...***...


Sementara itu, di gerbang Istana. Putri Andhini Andita melihat kedatangan Putri Cahya Candrakanti seorang diri?. Ia segera mendekati Putri Cahya Candrakanti dan bertanya. Karena Putri Cahya Candrakanti datang hanya seorang diri tanpa adanya pengawalan.


"Sampurasun." Putri Cahya Candrakanti memberi hormat pada Putri Andhini Andita.


"Rampes." Balas Putri Andhini Andita sedikit beda. Senyumannya itu sangat datar sekali, seakan tidak menunjukkan sikap bersahabat sama sekali.


"Maaf jika aku datang bertamu. Aku hanya ingin silaturahmi sebelum memasuki bulan puasa." Putri Cahya Candrakanti hanya tidak ingin Putri Andhini Andita salah faham dengan maksud kedatangannya.


"Bukankah biasanya kau datang bersama ayahandamu?. Atau setidaknya dengan rakamu. Tapi kenapa kau datang sendirian hari ini?. Sangat tidak biasa, dan terlihat sangat mencurigakan bagiku." Putri Andhini Andita tidak ramah sama sekali.


"Aku hanya datang seorang diri saja. Apakah itu ada masalah?." Suasana hati Putri Cahya Candrakanti berubah seketika karena ucapan itu.


Putri Andhini Andita tersenyum kecil. "Jika kau mengharapkan cinta dari jaya satria. Maka aku katakan sebaiknya lupakan saja. Kau akan kecewa, jadi aku sarankan kau untuk mendengarkan apa yang aku katakan padamu."


"Kenapa?. Apakah kau merasa kau akan dicintai oleh jaya satria, yang jelas-jelas adalah rayimu raden cakara casugraha?." Suasana hatinya semakin panas, dan tidak suka dengan sikap Putri Andhini Andita.


"Heh!. Itu tidak masalah bagiku. Meskipun aku tidak mendapatkannya, setidaknya aku selalu bersama dengannya. Bisa bermanja-manja dengannya sebagai kakak. Sedangkan kau?. Hanya akan menimbulkan berita yang akan merugikan adikku."


"Andhini Andita!. Jaga ucapan mu itu!. Aku tidak akan melakukan apa yang kau katakan itu!." Perasaan marah mulai muncul dihatinya.


"Ya, anggap saja itu benar. Tapi sayangnya, kekasih jaya satria telah datang menemuinya. Mereka akan kembali bertemu setelah puasa nanti. Sayang sekali cahya candrakanti. Tidak ada tempat untukmu dihati rayi cakara casugraha untukmu."


Putri Cahya Candrakanti benar-benar merasa marah. Hatinya memanas, dan ia sangat tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita.


"Kau sangat keterlaluan sekali!. Bisakah kau tidak mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hatiku andhini andita?." Karena sakit hati yang ia rasakan, ia menyerang Putri Andhini Andita. Hingga terjadi pertarungan di halaman istana. Dan kebetulan ada prajurit jaga di sana.


"Gawat. Kita harus melaporkan pada gusti prabu, bahwa gusti putri sedang bertarung dengan seseorang."


"Mari kita laporkan."


Kedua prajurit itu bergegas masuk ke Istana. Untuk memberitahu pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Namun saat itu, kebetulan Raden Hadyan Hastanta dan Putri Bestari Dhatu sedang ingin keluar. Keduanya berhenti bertarung, karena mendengarkan suara bentakan Raden Hadyan Hastanta.


"Hentikan!."

__ADS_1


"Raka?."


"Raden."


"Apa yang kalian lakukan?. Mengapa kalian malah bertarung?."


"Maafkan hamba raden. Hamba hanya-."


"Tersinggung dengan ucapanku?."


"Rayi."


"Hmph."


"Maaf putri Cahya candrakanti. Apakah tuan putri hendak menemui rayi prabu?."


"Benar raden. Hamba hanya ingin bertemu dengan gusti prabu."


"Baiklah, kalau begitu ikuti saya."


"Terima kasih raden."


"Mari."


"Mari."


"Dinda. Tolong tenangkan rayi andhini andita."


"Baiklah kanda."


Raden Hadyan Hastanta membawa Putri Cahya Candrakanti menuju ruang pribadi raja. Akan tetapi mereka bertemu dengan Sang Prabu.


"Tadi prajurit mengatakan jika yunda andhini andita sedang bertarung dengan seseorang."


"Masalahnya sudah selesai rayi prabu. Putri cahya candrakanti ingin bertemu denganmu."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melirik ke halaman, dan ia melihat Putri Andhini Andita bersama Putri Bestari Dhatu. "Baiklah raka. Terima kasih karena telah membantu menyelesaikan masalah." Ucapnya dengan perasaan bersalah. "Maaf telah merepotkan raka. Jika sempat, mari kita berbicara di dalam." Rasanya ia tidak enak hati saat ini.


"Maaf rayi prabu. Aku ingin menemani dinda bestari dhatu jalan-jalan. Maklum, bawaan keinginan saat hamil." Raden Hadyan Hastanta tidak bisa memenuhi apa yang dikatakan adiknya.


"Baiklah raka, aku masuk dulu. Jangan lupa malam ini setelah magrib." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengingatkan kakaknya itu.


"Tentu saja rayi prabu. Pamit dulu, sampurasun."


"Rampes."


Raden Cakara Casugraha meninggalkan keduanya, menuju ke arah Putri Bestari Dhatu dan Putri Andhini Andita. Sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mempersilahkan Putri Cahya Candrakanti masuk.


"Mari masuk putri cahya candrakanti." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mempersilahkan Putri Cahya Candrakanti masuk.


"Terima kasih gusti prabu."


Mereka juga meninggalkan tempat. Menuju ruang tamu kehormatan raja. Sementara itu, Raden Hadyan Hastanta bertanya pada adiknya.


"Rayi andhini andita. Mohon jaga sikap mu. Aku takut terjadi perang antara kerajaan yang dipimpin oleh gusti prabu guntur herdian dengan kerajaan ini."


"Benar rayi. Segera mungkin rayi harus melupakan apa yang telah terjadi. Bisa bahaya jika terjadi perang."

__ADS_1


Namun tidak ada tanggapan dari Putri Andhini Andita, ia malah pergi meninggalkan keduanya tanpa sepatah katapun.


"Hufh, dia itu memang tidak bisa diberi masukan. Jika dia telah memutuskan sesuatu, maka ia harus mendapatkannya."


"Sabarlah kanda. Semuanya butuh proses. Aku harap kanda lebih sabar lagi."


"Masalahnya yang akan kerepotan adalah dinda prabu. Aku sangat heran dengan sikapnya itu. Apa karena jaya satria begitu baik padanya, sehingga perasaan cinta itu tumbuh dihatinya?."


"Cinta kadang memang tidak bisa ditebak kanda. Memang susah untuk melupakan perasaan itu. Apalagi jika selalu bersama dengan orang yang kita cintai."


"Dulu rayi andhini andita sangat membenci rayi cakara casugraha. Selalu bermusuhan, dan bahkan tidak bisa menahan dirinya. Bahkan aku pun membenci adikku sendiri."


"Itu hanyalah masa lalu. Masa sekarang kita harus memperbaiki kesalahan yang terjadi, supaya kita tidak terus menyesal kanda."


"Ya, dinda benar." Senyumannya sedikit mengembang di wajahnya yang tampan. "Jaga kesehatan anak kita dinda. Semoga ia terlahir dengan sehat." Tangannya mengusap perut istrinya yang mulai membesar.


...***...


Di ruang tamu kehormatan raja.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak menyangka, jika Putri Cahya Candrakanti akan datang ke istana ini seorang diri?. Pasti ada maksud dan tujuan yang ingin ia sampaikan padanya?. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya bisa menebaknya jika memang itu tujuannya.


"Apa yang membuat tuan putri cahya candrakanti datang ke istana ini. Apakah ada hal penting yang ingin disampaikan?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba bertanya.


"Maaf jika hamba datang sendirian gusti prabu. Jika diperkenankan, bolehkan hamba bertemu dalam wujud jaya satria?." Itulah permintaan Putri Cahya Candrakanti dengan sorot mata yang sangat serius.


"Untuk apa tuan putri ingin bertemu dengan jaya satria?. Apakah ada hal penting yang ingin tuan putri sampaikan?." Tentu saja Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa penasaran.


"Hamba hanya ingin mengucapkan salam perpisahan, jika memang raga asli jaya satria adalah raden cakara casugraha. Setiap perjumpaan, tentunya ada perpisahan bukan?."


"Memangnya tuan putri mau kemana?. Hingga ingin mengucapkan salam perpisahan?."


"Hamba hanya ingin menyampaikannya saja. Karena hamba tidak ingin kecewa, apalagi ketika gusti prabu mengatakan jika gusti prabu telah memiliki seorang kekasih. Putri andhini andita juga mengatakan jika kekasih jaya satria telah datang ke istana ini."


"Jadi yunda telah mengatakan pada Putri cahya candrakanti?. Apa karena itu ia terlihat sedih?." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa ada kesedihan yang disimpan oleh Putri Cahya Candrakanti. "Baiklah kalau begitu tuan putri. Saya akan menggunakan wujud jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengabulkan keinginan Putri Cahya Candrakanti. Ia mengatur tenaga dalamnya, dan saat itu ia berubah penampilan menjadi Jaya Satria.


"Tidak usah dilepaskan topengnya jaya satria." Putri Cahya Candrakanti mencegah Jaya Satria melepaskan topengnya. "Karena sejak pertama denganmu, bukankah kau seperti itu?. Lebih baik seperti itu saja."


"Baiklah gusti putri. Maaf jika hamba telah mengecewakan gusti putri. Bukan hamba bermaksud untuk menipu gusti putri. Sekali lagi maafkan hamba."


"Tidak apa-apa jaya satria. Aku yang salah karena telah terpikat oleh rasa penasaran dengan wajahmu seperti apa. Aku begitu penasaran dengan wajahmu yang rupawan. Aku mengira kau adalah seorang pangeran yang berbuat baik dibalik topeng hitam itu. Aku yang salah karena memiliki perasaan cinta hanya karena kebaikan sikapmu. Aku yang tidak bisa menahan perasaan ini." Putri Cahya Candrakanti mengungkapkan semuanya. Meskipun ia tersenyum, namun senyuman itu terasa pahit.


"Aku yang terlalu terburu-buru menyukai seseorang hanya karena dua anggapan seperti itu. Bodohnya aku yang terpikat akan siapa dirimu. Maafkan aku."


"Semuanya telah terjadi. Meskipun kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Namun kita masih memiliki hubungan sebagai saudara sesama muslim. Jangan ada benci diantara kita setelah kita tidak mendapatkan cinta yang berbeda dari lawan jenis kita. Hamba berdoa, semoga suatu hari gusti putri menemukan seseorang yang lebih baik dari hamba."


"Semoga saja jaya satria. Aku juga berdoa untukmu. Semoga kau diberikan kebahagiaan, jika kau menikah dengan kekasih yang kau cintai itu."


"Terima kasih atas kebaikan gusti putri. Semoga kebahagiaan dan limpahan rahmat selalu diberikan Allah SWT kepada kita semua."


"Selamat berpisah jaya satria. Terima kasih atas kebaikanmu. Aku akan tetap mengingatmu menjadi lelaki pertama yang membuatku merasakan jatuh cinta."


"Selamat berpisah gusti putri. Jika kita bertemu dalam keadaan apapun, semoga kita masih menjalin hubungan yang baik."


"Ya. Semoga saja."


Itulah kata-kata perpisahan dengan Jaya Satria. Kata-kata yang berusaha ia tahan dengan segenap hatinya. Luka, sakit, tidak berdarah namun menusuk ke dalam hatinya. Bagaimana kelanjutannya?. Baca terus ceritanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2