
...***...
Jaya Satria berhati-hati memasuki daerah perbatasan tersebut. Karena ia tidak mau menimbulkan kegaduhan di sana. Ia masih mencari keberadaan Raden Raksa Wardhana, juga ibundanya.
Deg!!!.
Matanya terbelalak terkejut, melihat ada beberapa mayat yang bergelimpangan di sana dalam keadaan mengerikan. Ada beberapa prajurit yang tertancap panah. Jantungnya berdetak kencang, sementara itu ia terus mencari keberadaan Raden Raksa memiliki diantara mereka. Sungguh pemandangan yang sangat tidak enak untuk dilihat, bahkan tidak sangat manusiawi sekali. Dengan kejamnya mereka melakukan itu pada manusia lainnya?. Apakah mereka tidak manusia?.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Sungguh, nantinya sangat sakit luar biasa saat matanya melihat keadaan Raden Raksa Wardhana, yang berusaha untuk melindungi ibundanya dari serangan anak panah. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah, sungguh malang sekali mereka melewati tempat ini." Jaya Satria tidak dapat menahan kesedihan yang ia rasakan. Perasaan sesak yang sangat luar biasa ia rasakan saat ini benar-benar membuatnya tidak dapat menahan tangisnya.
Saat itu juga ia melihat semua yang tergambar di sana. Bagaimana saat mereka melewati tempat ini, kemudian mereka dicegat oleh banyak pendekar dengan senjata panah. Raden Raksa Wardhana yang berusaha untuk melindungi ibundanya dari serangan mereka semua, pada akhirnya menyerahkan diri dalam ketidakberdayaan menghadapi serangan mereka.
"Aku harus mencari mereka semua. Karena mereka semua harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi. Mereka telah membuat yunda ku menangis. Mereka telah menimbulkan duka pada yunda andhini andita." Jaya Satria tidak akan memaafkan apa yang terjadi. Namun saat ini ia harus mengurusi mereka semua. Ia akan pergi ke Kerajaan Restu Agung untuk melaporkan apa yang terjadi pada Prabu Bumi Jaya. Tentunya beliau harus mengetahui apa yang terjadi. Ia akan membantu mereka jika diperlukan untuk menyerbu kerajaan Tebing Alas yang terkenal dengan kekejaman yang mereka miliki. Apakah yang akan dilakukan oleh Jaya Satria setelah ini?. Simak terus jalan ceritanya.
...***...
Di istana Kerajaan Suka Damai.
Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Dewi Anindyaswari menemani Putri Andhini Andita yang sedang tertidur setelah lelah menangis. Setelah sholat magrib, mereka tidak meninggalkan Putri Andhini Andita sendirian. Mereka takut terjadi sesuatu padanya, jika masih saja memikirkan nasib pangeran yang akan meminangnya itu. Namum malah datang hanya roh serta keinginannya saja ke istana ini.
"Kuatkan dirimu nak. Jangan sampai hatimu melemah nak." Dengan penuh kesabaran Ratu Gendhis Cendrawati menguatkan hati anaknya yang sedang merasakan duka yang sedang ia rasakan.
"Semuanya telah terjadi karena Allah SWT. Kuatkan dirimu nak." Begitu juga dengan Ratu Dewi Anindyaswari.
Sedangkan di luar, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Raden Hadyan Hastanta, Putri Bestari Dhatu, Putri Agniasari Ariani dan Raden Rajaswa Pranawa berjaga-jaga. Mereka semua merasa simpati dengan apa yang terjadi pada Putri Andhini Andita. Sungguh mereka tidak menduganya sama sekali.
__ADS_1
"Jadi karena itu?. Nanda sahardaya raksa menangis saat melihat mereka berdua?." Raden Hadyan Hastanta hanya ingin memastikan apa yang dikatakan istrinya tadi.
"Benar raka." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan pelan. "Itu karena nanda sahardaya raksa melihat penampakan yang sangat tidak wajar. Sehingga ia menangis kuat karena rasa takut yang ia rasakan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengatakan alasan kenapa Raden Sahardaya raksa menangis saat melihat ke arah Raden Raksa Wardhana juga ibundanya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Mereka semua merasa simpati, merasa sangat aneh.
"Lalu bagaimana keadaannya saat ini rayi prabu?. Apakah ia tidak bisa diselamatkan?." Putri Agniasari Ariani ingin menangis mengingat apa yang terjadi tadi.
"Tidak yunda. Karena raka prabu telah memastikannya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat sedang berusaha untuk menahan tangisnya. "Mereka semua telah tewas, saat menuju ke istana ini melalui perbatasan daerah tebing alas yang sangat terkenal kekejamannya." Rasanya ia tidak sanggup untuk menahan kesedihan yang ia rasakan saat ini. Sangat mengenaskan apa yang ia saksikan.
"Lantas apa yang akan kita lakukan rayi prabu?." Putri Agniasari Ariani terlihat sangat marah.
"Tenanglah nimas. Jangan sampai terbawa amarah yang akan merugikan diri sendiri." Raden Rajaswa Pranawa mencoba untuk menenangkan Putri Agniasari Ariani.
"Bagaimana aku bisa tenang?. Ini semua berhubungan dengan kebahagiaan yunda andhini andita!." Rasanya ia tidak bisa menahan gejolak emosi yang membakar dirinya saat ini.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Astaghfirullah hal'azim." Putri Agniasari Ariani mencoba untuk menenangkan dirinya. Mereka semua mencoba untuk menangkan diri mereka. Tapi, apakah mereka bisa menenangkan diri mereka semua?. Tidak ada yang bisa menahan amarah yang mereka rasakan saat ini. Namun sebisa mungkin mereka harus bisa menenangkan diri mereka. Apakah yang akan mereka lakukan setelah ini?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
...***...
Di sisi lain.
Rombongan Raden Jatiya Dewa saat ini singgah ke Padepokan Al-Ikhlas. Karena telah malam, dan kebetulan mereka lewat ke arah sana. Tidak enak rasanya mereka bertamu malam-malam ke istana kerajaan Suka Damai.
"Maaf syekh guru. Maaf jika saya membawa ayahanda prabu serta beberapa prajurit ke padepokan." Raden Jatiya Dewa meminta maaf pada Syekh Asmawan Mulia sebagai penanggungjawab dari Padepokan ini.
__ADS_1
"Tidak apa-apa raden. Silahkan beristirahat malam ini di sini." Syekh Asmawan Mulia tentunya menyambut kedatangan mereka. "Nanti nak lingga akan menunjukkan kamarnya." Lanjutnya lagi.
"Nak lingga?." Prabu Lingga Dewa menunjuk dirinya sendiri.
"Oh, itu nama murid yang lebih tua di sini ayahanda prabu. Namanya juga lingga." Raden Jatiya Dewa menjelaskan pada ayahanda agar tidak salah sangka.
"Oh, begitu." Prabu Lingga Dewa hanya terkejut saja, karena ada nama yang sama dengannya.
"Jadi syekh?. Adalah guru yang mengajarkan anak saya?." Prabu Lingga Dewa sedikit penasaran, karena anaknya memanggilnya syekh guru.
"Saya adalah pembina di sini gusti prabu. Saya adalah guru mereka semua yang belajar di sini." Jawab Syekh Asmawan Mulia dengan senyuman ramah.
"Terima kasih saya ucapkan syekh. Terima kasih karena telah bersedia mengajarkan ilmu yang bermanfaat pada anak saya." Prabu Lingga Dewa sangat bersyukur, jika anaknya diterima dengan baik.
"Kami akan menerima siapa saja yang mau belajar di sini gusti prabu. Tapi tentunya itu semua dibawah pengawasan gusti prabu asmalaraya arya ardhana." Syekh Asmawan Mulia sedikit menjelaskan keadaan.
"Nanda cakara casugraha?." Ia sedikit terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh Syekh Asmawan Mulia. "Saya kira anak saya akan belajar agama Islam langsung dari beliau." Prabu Lingga Dewa melihat ke arah anaknya.
"Itu semua karena ada alasannya gusti prabu. Maaf jika nanda prabu tidak bisa mengajarinya secara langsung. Namun nanda prabu mempercayai raden jatiya dewa pada hamba." Syekh Asmawan Mulia hanya tersenyum kecil.
"Tapi beliau adalah gurunya gusti prabu juga ayahanda. Nanda sangat senang belajar di sini. Juga nanda sesekali kadang bertemu dengan gusti prabu, dan juga belajar bersama gusti prabu mengenai banyak hal." Raden Jatiya Dewa memang beberapa kali bertemu dengan Jaya Satria, jika meronda sampai ke daerah ini. Atau kadang memang sengaja datang ke sini hanya untuk memastikan jika Raden Jatiya Dewa belajar dengan baik.
"Jadi begitu?. Tapi setidaknya nanda prabu masih memperhatikan dirimu, juga menitipkanmu pada orang yang tepat." Prabu Lingga Dewa tidak kecewa sama sekali. Justru ia bersyukur, karena anaknya mau berbaur dengan murid yang ada di sini. Tidak semua anak bangsawan yang mau berbaur dengan rakyat biasa, dan ia bangga dengan anaknya yang berhasil menghilangkan sikap sombongnya dulu yang sama sekali tidak mau berteman dengan kalangan bawah. Bahkan dengan putra putri penggawa istana sekalipun.
Tapi pertanyaan adalah, apakah yang akan terjadi jika mereka sampai di istana kerajaan Suka Damai nantinya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya.
__ADS_1
...***...