RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
CERITA KERIS KEMBAR NAGA PENYEGEL SUKMA


__ADS_3

Jaya Satria telah meninggalkan Istana Kerajaan Buana Dewa. Ia kembali sendirian. Karena ia tidak mau merepotkan mereka hanya untuk mengantar dirinya kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai. Saat ini ia sedang berada di perjalanan. Namun saat ia melewati salah satu desa yang masih berada di wilayah kerajaan Buana Dewa, ia merasa dibuntuti oleh seseorang. Jaya Satria menghela nafasnya pelan, dan menghentikan langkahnya.


"Apa yang membuat raden mengikuti saya?." Ia membalikkan tubuhnya untuk melihat ke arah seseorang yang bersembunyi dibalik pohon.


"Maafkan hamba jaya satria." Ternyata Raden Jatiya Dewa keluar sambil cengengesan. Karena ia ketahuan mengikuti Jaya Satria atau Raden Cakara Casugraha atau Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Maaf jaya satria. Saya hanya merasa penasaran, dan belum mendengarkan cerita bagaimana gusti mendapatkan keris itu." Ia mendekati Jaya Satria. "Gusti juta terburu ingin pulang. Apakah tidak kerasan berada di sini?." Wajahnya terlihat cemberut.


Jaya Satria tersenyum kecil melihat itu. "Baiklah. Saya akan menceritakannya sekali saja. Tapi setelah itu terserah raden saja. Mau pulang, atau masih mau tetap di sini." Ucapnya.


"Benarkah?. Kalau begitu hamba mengetahui dimana tempat paling enak untuk berbicara di desa ini." Mendadak ia terlihat semangat. "Mari ikuti hamba gusti." Raden Jatiya Dewa mempersilahkan Jaya Satria untuk mengikutinya. Jaya Satria hanya menurut saja, karena ia tidak ingin mengecewakan Raden Jatiya Dewa.


Kembali ke masa itu.


Setelah matanya sembuh. Jaya Satria dan Paman Perapian Suramuara masuk ke dalam hutan. Lebih tepatnya menuju lereng gunung menahan bumi.


"Apa yang gusti ingin lakukan di sini?. Apakah ada sesuatu yang istimewa di sini?."


"Maaf paman. Menurut petunjuk dari eyang prabu, di tempat ini terdapat benda pusaka miliki eyang prabu."


"Benda pusaka milik gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta maksud gusti?."


"Bisa jadi seperti itu paman. Karena aku juga merasakannya disekitar sini."


"Tapi ini seperti tempat biasa saja. Hamba tidak melihat apapun di sini."


Jaya Satria merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh Paman Perapian Suramuara. "Tempat ini penuh dengan batu paman. Apakah paman tidak melihatnya?. Sepertinya ini dulunya bekas kerajaan yang sudah lama tidak terpakai."


"Bangunan?. Saya hanya melihat pohon, dan semak belukar saja."


"Paman tidak melihat adanya batu-batu besar seperti penyangga bangunan?. Padahal berserakan di sini." Jaya Satria merasa aneh.


"Sungguh gusti. Hamba tidak melihat batu yang gusti katakan." Paman Perapian Suramuara merasa heran.


"Itu karena gusti prabu berbeda dengan orang biasa." Ada suara yang menjawab apa yang dipertanyakan oleh Jaya Satria.

__ADS_1


"Siapa?. Siapa yang berbicara itu?. Siapa?." Jaya Satria mencoba mencari sumber suara yang berbicara dengannya itu. Namun ia belum menemukan siapa yang berbicara dengannya?.


"Maaf gusti. Hanya hamba yang berada di sini. Memangnya gusti prabu mendengarkan suara siapa selain hamba?."


"Maaf paman. Saya memang mendengarkan suara seseorang tadi-." Ucapan Jaya Satria terhenti saat ia melihat ada dua sosok naga besar yang saat ini sedang berada di depannya. Sungguh tubuhnya terasa kaku karena saking terkejutnya ia.


"Sampurasun." Kedua naga tersebut memberi hormat pada Jaya Satria.


"Rampes." Balas Jaya Satria berusaha bersikap biasa saja. Saat ini ia berada di sebuah bangunan candi tua yang sudah tidak terpakai lagi.


"Apakah gusti prabu adalah keturunan dari gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta?."


"Sebab, hanya keturunan dari gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta yang mampu melihat kami tanpa memasuki alam sukma. Tapi tidak semuanya mampu melakukan itu, kecuali ia memiliki hati yang bersih. Serta keinginan luhur membawa kedamaian di muka bumi ini."


"Tapi ada hawa jahat yang bersemayam di dalam tubuh gusti prabu."


Kedua naga kembar itu memperhatikan Jaya Satria dengan seksama, seakan mereka saat ini sedang menyeleksi orang yang berhak.


"Saya adalah bahuwirya cakara casugraha. Saya datang kemari atas perintah eyang prabu jayantaka byakta. Eyang prabu mengatakan jika disekitar sini ada keris kembar yang dulunya ditancapkan oleh eyang prabu untuk menyegel iblis jahat yang ingin menguasai tempat ini."


"Kami telah lama menunggu untuk dijemput gusti prabu, atau keturunannya."


"Jadi gusti prabu ingin mengambil kami berdua?."


"Ya. Saya ingin meminta bantuan. Karena raja kegelapan itu telah membunuh ayahanda prabu bahuwirya dihyan darya."


"Jadi gusti prabu ingin balas dendam?."


"Ini bukan balas dendam. Saya hanya ingin menghentikan kejahatan yang ia lakukan. Ia bisa menyengsarakan rakyat kerajaan suka damai jika tidak segera di hentikan."


Kedua sukma naga itu saling bertatapan, dan mengerti bagaimana perasaan Jaya Satria atau Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini.


"Baiklah. Bawalah kami, dan cabut kami dari bangunan itu." Keduanya menatap arah yang dimaksud.

__ADS_1


"Tapi apakah tidak akan berbahaya jika saya cabut?. Apakah jin yang disegel akan lepas?."


"Gusti prabu tidak perlu khawatir. Jin itu sudah lama musnah. Jadi gusti prabu aman saat mencabuti kami berdua."


"Baiklah kalau begitu. Saya akan membawa kalian dari sini." Jaya Satria berjalan seperti dituntun oleh seseorang saat menuju tempat itu.


Sedangkan Paman Perapian Suramuara hanya melihat apa yang akan dilakukan oleh Jaya Satria yang kini berjalan menuju sebuah pohon yang sangat besar. "Apa yang ingin gusti prabu lakukan?." Ia bertanya-tanya, namun ia tidak mau mengganggu apa yang dilakukan oleh Jaya Satria. Karena ia melihat keseriusan di wajah Jaya Satria saat itu.


Sementara itu, Jaya Satria melihat ada dua keris yang tertancap di batang pohon yang besar. Pohon itu terlihat seakan hidup, memberi hormat padanya.


"Hormat hamba gusti prabu."


Jaya Satria terkejut, karena ia mengenakan pakaian Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.


"Sepertinya gusti prabu adalah keturunan dari gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta. Hanya keturunan beliau yang mampu mendengarkan suara dan melihat alam sukma tanpa memasuki alam sukma. Meskipun tidak semuanya mampu melakukan itu." Pohon besar itu terlihat sangat bersahabat.


"Siapakah engkau. Wahai makhluk ciptaan Allah SWT. Mengapa keris kembar itu menancap di badanmu. Apakah tidak terasa sakit?."


"Gusti prabu tenang saja. Pusaka keris kembar ini tidak menyakiti hamba. Karena gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta menekan dengan tenaga dalamnya, sehingga hamba tidak merasakan sakit."


"Alhamdulillah hirobbil'alamin jika memang seperti itu. Tapi apakah selama ini tidak ada yang melihat atau mencoba mengambil keris kembar ini?"


"Seperti yang hamba katakan gusti prabu. Hanya keturunan dari gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta yang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, yang mampu melihat keris pusaka kembar ini tanpa harus memasuki alam sukma. Dan sepertinya gusti prabu terpilih untuk menyimpan benda pusaka ini."


"Kami mohon jaga kami dengan baik gusti prabu." Kedua sukma naga kembar itu sangat memohon pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Jaya Satria atau Raden Cakara Casugraha.


"Baiklah. Aku akan menyimpan kalian di dalam tubuhku. Semoga saja kalian bisa bermanfaat nantinya."


"Sandika gusti prabu."


Setelah itu, kedua sukma naga itu masuk ke dalam tubuh sang Prabu. Sedangkan Paman Perapian Suramuara tidak percaya melihat tubuh Jaya Satria diselimuti api yang membara. Sehingga ia harus menjaga jarak.


"Apa yang terjadi sebenarnya?. Kenapa tubuh gusti prabu bisa diselimuti api?." Ia memperhatikan itu dengan perasan mengerikan.

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2