RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEBAHAGIAAN DAN RENCANA


__ADS_3

...****...


Prabu Kawiswara Arya Ragnala menemui anaknya Raden Cakara Casugraha yang baru saja kembali dari desa damai setia.


"Selamat datang kembali putraku cakara casugraha." Senyuman yang ramah dari seorang ayah yang sangat merindukan anaknya.


"Terima kasih ayahanda. Salam hormat ananda." Raden Cakara Casugraha sangat senang mendapatkan sambutan hangat dari ayahandanya.


"Bagaimana nak?. apakah masalahnya selesai dengan baik?."


"Berjalan dengan baik ayahanda. Meskipun nanda sempat menggunakan kekerasan pada mereka. Sungguh maafkan nanda ayahanda prabu." Raden Cakara Casugraha mengatakan apa yang ia lakukan saat menyelesaikan masalah itu.


"Terkadang kekerasan juga dibutuhkan. saat hatimu terpaksa melakukannya demi kebaikan." Pabu Kawiswara Arya Ragnala mengelus sayang kepala anaknya. "Ayahanda percaya jika nanda bisa menyelesaikan masalah dengan baik." Lanjutnya lagi, sambil mencium puncak kepala anaknya.


"Terima kasih, ayahanda prabu telah memberikan kesempatan yang luar biasa pada nanda. Nanda sangat senang bisa membantu ayahanda prabu dalam menyelesaikan masalah." Raden Cakara Casugraha terlihat senang. wajahnya menggambarkan suasana hatinya yang memang merasakan kepuasan luar biasa.


Prabu Kawiswara Arya Ragnala tertawa bahagia. "Oh andai saja putraku masih umur lima tahun, pasti akan aku gendong tinggi-tinggi saking bahagianya aku memiliki seorang putra yang dapat membantuku dalam menyelesaikan masalah."


"Syukurlah kanda prabu. Dinda sangat bahagia mendengarnya."


"Nanda putri juga senang mendengarnya. Kau sangat luar biasa sekali rayi."


"Terima kasih ayahanda prabu. Tapi nanda sudah besar. Karena itulah nanda akan membantu ayahanda selagi nanda bisa." Raden Cakara Casugraha bahagia karena ayahandanya senang dengan apa yang telah ia lakukan.


"Lain kali ayahanda akan meminta bantuan pada nanda. Saat ini nanda istirahatlah. Mari kita masuk nak." Prabu Kawiswara Arya Ragnala merendahkan dirinya, memunggungi anaknya, seakan ia hendak menggendong anaknya.


"Apa yang ayahanda prabu lakukan?."


"Naiklah ke punggung ayahanda. biar ayahanda gendong, pasti nanda lelah setelah melakukan perjalanan tadi."


"Ah ayahanda prabu. Jangan perlakukan nanda seperti anak kecil." raden cakara casugraha tersipu malu.


Sedangkan Ratu Dewi Anindyaswari dan Putri Agniasari Ariani malah tertawa melihat tingkah lucu ayah dan anak yang saling menyayangi satu sama lain.


"Naik saja. sini ayahanda gendong nak."


"Naik saja putraku. ayahandamu masih kuat untuk menggendongmu nak."


"Tapi ibunda-."

__ADS_1


"sudahlah rayi. Naik saja. Tidak usah malu."


"Benar nak. Ayahanda masih kuat untuk menggendongmu sampai ke dalam istana." Sang prabu terlihat bersemangat ingin menggendong anaknya.


"Baiklah kalau begitu." Raden Cakara casugraha akhirnya mengalah juga. ia naik ke punggung ayahandanya. "Maaf ayahanda prabu." Dengan perasaan canggung ia naik dengan hati-hati.


"Yeeeiy. Mari kita masuk istana." Dengan semangatnya prabu kawiswara arya menggendong anaknya.


"Ayahanda prabu. jangan perlakukan nanda seperti anak kecil." Raden Cakara Casugraha sungguh malu karena ayahandanya dengan semangat muda menggendongnya.


"Ahahaha. tidak apa-apa nak. mari kita bersenang-senang." Prabu Kawiswara Arya Ragnala begitu bersemangat. ia sangat menyayangi putranya.


"Sepertinya ayahanda prabu sangat memanjakan rayi cakara casugraha, ibunda." Putri Agniasari Ariani tertawa geli melihat tingkah laku ayahanda dan adiknya yang malu-malu digendong.


"Nanda putri benar. Lihatlah rayimu sampai tersipu malu begitu." Ratu Dewi Anindyaswari juga ikut tertawa melihat itu.


Hari itu prabu kawiswara arya ragnala mencoba untuk menikmati harinya bersama keluarga kecilnya dengan ratu dewi anindyaswari. Ia sangat bahagia karena putranya raden cakara casugraha bisa mengatasi masalah dengan baik. Ia sangat bangga dengan anaknya yang mampu menghadapi masalah.


Sang prabu hanya berharap jika anaknya bisa membantunya mengamankan negeri ini dengan baik.


...***...


"Apa?. Cakara casugraha telah kembali?." Ratu Ardiningrum Bintari sangat terkejut dengan apa yang disampaikan oleh kedua anaknya, Putri Andhini Andita dan Putri Ambarsari.


"Benar ibunda. Bahkan dengan kurang ajarnya dia mengancam kami berdua."


"Berani sekali dia mengancam adikku. Akan aku beri dia pelajaran agar lebih bersikap sopan pada kita."


"Benar raka. Aku sudah muak dengan sikap kasarnya itu. tubuhku masih sakit setelah dihajar olehnya."


"Lalu apa yang harus kita lakukan untuk memberinya pelajaran raka?."


"Kalian harus kompak untuk menghukumnya. Jika ayahanda kalian tidak bisa memberikannya hukuman. Maka kalian harus bisa mengatasinya."


"Ya, ibunda setuju dengan apa yang dikatakan oleh yunda ardiningrum bintari. Kalian harus memberinya pelajaran. Agar dia tidak berani lagi bersikap kurang ajar pada kalian semua."


"Kami akan memikirkan caranya ibunda."


"Aku sangat kesal diancam seperti itu oleh cakara casugraha."

__ADS_1


"Aku tidak terima dia berani mengancam kami."


"Tenanglah rayi ambarsari, rayi andhini andita. serahkan pada kami."


"Ya, serahkan pada raka. kami akan mengatasi cakara casugraha agar tidak lagi bersikap kurang ajar."


"Kami akan memberinya pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan dalam hidupnya."


"Bagus!. Kalian harus tetap kompak. kalian harus tetap bersama jika kalian ingin menang dari anak kurang ajar itu."


"Ibunda akan selalu bersama kalian. Ibunda juga akan membantu kalian untuk membuat cakara casugraha dihukum oleh kanda prabu."


Apakah yang akan mereka rencanakan terhadap raden cakara casugraha?. Temukan jawabannya.


Pagi telah menyapa. raden cakara casugraha sangat suka dengan suasana pagi. Ia melangkah buru-buru menuju kandang kuda. Ia tersenyum lebar saat melihat aki puasa yang siap di kandang kuda.


"Selamat pagi aden." Sapanya dengan semangatnya. ia sangat senang melihat kedatangan Raden Cakara Casugraha.


"Selamat pagi aki puasa. Semangat seperti biasanya ya aki."


"Jika kita semangat. Kuda-kuda di sini juga akan merasa bersemangat den. Karena itulah kita harus bersemangat."


"Waah luar biasa sekali aki. Kalau begitu saya akan terus bersemangat." Raden Cakara Casugraha terlihat semakin bersemangat.


"Apa yang bisa saya bantu aki."


"Jangan aden. Nanti gusti prabu bisa marah pada hamba."


"Ayahanda tidak akan marah aki. saya hanya membantu aki. Bukan membuat keributan. Jika saya membuat keributan atau mengganggu pekerjaan aki, itu pasti membuat ayahanda prabu marah. Tapi saya ke sini karena ingin membantu aki puasa."


"Oh baik sekali den. Jika memang seperti itu aden boleh membantu hamba." Aki Puasa sama sekali tidak menduga jawaban yang diberikan oleh raden cakara casugraha. Sungguh membuatnya kagum luar biasa. meskipun diumurnya yang seperti itu, ia mampu menjawab ucapan orang dewasa dengan baik dan sopan.


"Aden bisa memandikan kuda itu dengan menggosok badannya dengan menggunakan kain kecil ini den." Aki puasa menyerahkan ember kecil, serta kain kecil untuk digunakan membersihkan badan kuda.


"Siap aki. Akan saya kerjakan dengan baik." Raden Cakara Casugraha merasa senang bisa membantu aki puasa untuk membersihkan kuda-kuda yang ada di istana.


pagi itu Raden Cakara Casugraha dengan membersihkan kuda-kuda tersebut. Ia sangat menikmati apa yang telah ia lakukan hari itu. aki puasa benar-benar merasa terbantu dengan apa yang dilakukan oleh raden cakara casugraha.


Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2