
...***...
Saat Ratu Dewi Anindyaswari, Paman Perapian Suramuara, dan Syekh Asmawan Mulia sampai di bilik Jaya Satria. Mereka sedikit terkejut melihat Jaya Satria yang sedang menangis?. Apa yang membuat Jaya Satria menangis?.
"Putraku. Apa yang membuat nanda bersedih nak?." Ratu Dewi Anindyaswari mendekap anaknya dengan sayang. "Apa yang terjadi pada putraku?. Mengapa ia menangis seperti ini?." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari merasa cemas dengan anaknya.
Sementara itu, Paman Perapian Suramuara, dan Syekh Asmawan Mulia hanya melihat saja. Namun sebenarnya mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Jaya Satria.
"Apa yang terjadi padamu nak?. Apakah ini ada hubungannya dengan yang dikatakan raka prabu?." Ratu Dewi Anindyaswari menangkup wajah anaknya. Kesedihan mendalam yang ia rasakan pada saat ini sangat menyesakkan.
"Tidak ibunda. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan, yang dikatakan gusti prabu guntur herdian." Ia mencoba untuk menghentikan Isak tangisnya.
"Lalu apa nak?. Katakan pada ibunda. Katakan nak."
Agak berat baginya untuk mengatakan apa yang terjadi, karena itulah ia hanya menumpahkan perasaannya melalui air matanya, tangisnya yang sesegukan.
"Oh putraku, kuatkan dirimu nak." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba memahami keadaan anaknya.
"Haruskah hamba mengatakan yang sejujurnya gusti prabu?. Rasanya sangat berat sekali."
"Aku juga berat mengatakannya jaya satria. Hatiku terasa sakit, sesak, tidak bisa menerima kenyataan ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang berada di Kerajaan Mekar Jaya, berada di bilik Prabu Rahwana Bimantara. Ia melihat sekitar, sebelum mereka datang. Ia hampir saja mengobati Prabu Rahwana Bimantara, sayangnya itu gagal ia lakukan karena hambatan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
"Lalu bagaimana jika ibunda bertanya lagi gusti prabu?."
"Jawab saja yang sejujurnya, bahwa kakek prabu. Kakek prabu telah tiada."
Rasanya memang sangat berat untuk mengatakannya. Tapi itu adalah kenyataan yang sangat menyakitkan.
"Ibunda sangat khawatir padamu nak. Mengapa nanda menangis?. Jika nanda merasa berat mengatakannya pada ibunda, setidaknya nanda bisa mengatakannya pada syekh, atau paman perapian suramuara. Jangan nanda pendam sendiri kesedihan yang nanda rasakan."
"Kakek prabu ibunda. Kakek prabu."
Ratu Dewi Anindyaswari, Paman Perapian Suramuara, dan Syekh Asmawan Mulia mengernyitkan dahinya mereka. Karena merasa heran mengapa tiba-tiba Jaya Satria menyebut kakek prabu?.
"Nanda jaya satria. Kakek prabu siapa yang nanda maksudkan?."
"Benar jaya satria. Bisakah kau menjelaskan pada kami?. Kami mohon jaya satria."
Syekh Asmawan Mulia dan Paman Perapian Suramuara juga mencemaskan keadaan Jaya Satria. Mereka sangat menyayangi Jaya Satria, karena itulah mereka ingin mengetahui mengapa Jaya Satria menangis sedih seperti itu?.
"Syekh guru, paman perapian suramuara. Saya sedih karena kakek prabu rahwana bimantara meninggal."
__ADS_1
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah."
"Jagat dewa batara."
Tentunya kabar itu kabar yang mengejutkan bagi mereka. Karena kabar itu tidak mereka duga sama sekali.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun."
"Ba-bagaimana bisa nanda mengatakan seperti itu nak?. Tidak mungkin ayahanda prabu meninggal. Dari mana nanda mendapatkan kabar itu?." Ratu Dewi Anindyaswari terlihat sangat ketakutan, gelisah, gundah, tidak karuan setelah mendengar apa yang dikatakan oleh putranya.
"Dari gusti prabu. Gusti prabu yang selalu terhubung dengan nanda ibunda." Nafasnya terasa sesak, hingga terlihat naik turun, karena mencoba untuk menjelaskan kepada ibundanya.
"Nanda prabu?." Ketiganya sangat terkejut, mendengarkan pengakuan itu. Jika yang mengatakan itu adalah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang terhubung dengan dirinya?. Sangat tidak masuk akal sama sekali.
"Nanda jaya satria. Nanda tidak pernah mengatakan masalah itu pada ibunda. Mengapa nanda merahasiakannya dari ibunda nak?."
"Tenanglah gusti ratu. Mungkin nanda jaya Satria memiliki alasan mengapa ia tidak mengatakannya gusti ratu."
"Benar gusti ratu. Itu karena jaya satria, ataupun gusti prabu, hanya tidak ingin gusti ratu khawatir pada keduanya."
"Maafkan nanda ibunda. Sungguh!. Maafkan nanda."
"Oh putraku cakara casugraha. Maafkan ibunda yang memaksamu nak." Ada perasaan bersalah dari hatinya, karena ia terbawa emosi.
"Katakan nanda jaya satria."
"Ya, kami ingin mengetahuinya."
Jaya Satria menggenggam tangan ibundanya dengan erat, seakan ia ingin meminta kekuatan dari ibundanya. "Yang melakukannya adalah ibunda, ibunda ratu ardiningrum bintari ibunda."
DEG!!!
Bagaiman disambar petir disiang hari, mereka berharap, jika yang dikatakan oleh Jaya Satria adalah hal yang mustahil.
"Tapi itulah yang terjadi ibunda. Ibunda ratu ardiningrum bintari yang melakukannya ibunda."
"Astaghfirullah hal'azim ya. Lalu bagaimana dengan keadaan yunda, juga rakamu nak?. Katakan pada nanda prabu, bahwa ibunda menyuruhnya agar tetap di sana untuk membantu yunda ambarsari."
Jaya Satria menganggukkan kepalanya. "Tanpa ibunda menyuruh jaya satria mengatakannya. Nanda telah mendengarkannya dengan jelas ibunda."
"maafkan nanda, maafkan nanda karena tidak bisa melindungi kakek Prabu, ibunda."
__ADS_1
"Nanda berada di istana ini nak. Bagaimana mungkin nanda melakukan perjalanan jauh?."
"Itu adalah ucapan dari gusti prabu ibunda. Karena gusti prabu menyaksikan, bagaimana ibunda ratu ardiningrum bintari menikam kakek prabu."
Mereka semua benar-benar terkejut, apa yang membuat Ratu Ardiningrum Bintari, dengan teganya menikam ayahandanya sendiri?.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Mengapa yunda ardiningrum bintari melakukan itu?." Rasanya Ratu Dewi Anindyaswari ingin menangis mendapatkan kabar buruk itu dari Jaya Satria.
"Maafkan nanda ibunda. Sungguh maafkan nanda."
"Oh putraku." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk Jaya Satria dengan sayang. Ia juga mencoba untuk menenangkan anaknya.
"Apa yang harus kita lakukan adi?."
"Entahlah kakang. Kita tunggu saja aba-aba dari gusti prabu. Mungkin saat ini suasana hatinya sangat sedih, sehingga tidak bisa memikirkan yang lainnya."
"Ya, itu bisa jadi adi. Rasanya sangat disayangkan sekali."
Ingatannya kembali pada malam itu, ketika Jaya Satria mengatakan jika dirinya terhubung dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Apa maksudnya nanda jaya satria?. Syekh guru sama sekali tidak mengerti."
"Benar jaya satria. Jelaskan pada kami. Setahu kami, kalian hanya terhubung raga saja, bukan jiwa dan raga sehingga kalian bisa terhubung seperti itu."
Jaya Satria tersenyum ramah menatap kedua laki-laki yang sangat ia hormati. "Memang awalnya begitu syekh guru, paman perapian suramuara. "Tapi entah mengapa, lama kelamaan kami benar-benar terhubung. Bahkan saking terhubungnya kami, apapun yang nanda lihat, dilihat juga oleh gusti prabu. Selain itu, apa yang nanda dengar, juga didengar oleh gusti prabu."
"Jadi karena itulah nanda berdua benar-benar merasakan sakit, sakit yang seakan memang dirasakan oleh satu orang?."
"Benar syekh guru. Karena itulah nanda sangat takut, jika nanda terluka, gusti prabu jga akan ikut terluka."
"Kau jangan berkata seperti itu jaya satria. Bagaimanapun kau adalah diriku, cakara casugraha. Seorang anak yang lahir dari rahim seorang ibu yang bernama ratu dewi anindyaswari."
"Maafkan hamba gusti prabu. Hamba hanya tidak mau gusti prabu mengalaminya."
"Apapun yang terjadi, kau juga mengalaminya jaya satria."
"Itu sangat berbahaya sekali jaya satria. Kalau bisa, aku akan meminta bantuan dari temanku, untuk mencaritahu jalan keluarnya."
"Syekh guru juga akan membantu nanda. Karena kami sangat khawatir dengan keadaan nanda berdua."
"Terima kasih syekh guru, paman perapian suramuara."
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
...***...