RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MASA LALU YANG BERLALU


__ADS_3

...***...


Jaya Satria dan Kyai Mahmudi Ismail masih berhadapan dengan Gelang Sepa dan Belerang Kawah. Sedangkan anak buah yang ikut bersama keduanya malah kabur melarikan diri karena tidak kuasa menahan serangan keduanya yang sangat ganas.


"Kegh." Jaya Satria meringis sakit, ia kebingungan berhadapan dengan kedua orang yang sedang dirasuki oleh setan.


"Sepertinya aku harus menggunakan tasbih kembar. Aku tidak bisa membiarkan mereka terus menyerang kami. Atau kami yang akan binasa ditangan mereka."


"Kalau begitu aku juga akan menggunakan pedang pelebur sukma. Agar gerakan mereka bisa dihentikan." Jaya Satria segera mengeluarkan pedang Pelebur Sukma, untuk membantu Kyai Mahmudi Ismail.


"Jaya Satria. Mari kita lakukan bersama-sama." Kyai Mahmudi Ismail telah siap dengan tasbih kembar miliknya.


Disaat Gelang Sepa dan Belerang Kawah melompat ke arah mereka ingin menerkam mereka. Namun dua serangan sekaligus mereka dapatkan. Tubuh mereka terpental, dan terjerembab ke tanah. Mereka mengerang kesakitan. Apalagi karena pengaruh dari tebasan jurus Pedang Pelebur Sukma yang dilambari dengan jurus cakar naga cakar petir.


Keduanya semakin berteriak kesakitan. Dan mereka tidak dapat lagi bergerak. Tentunya itu adalah kesempatan yang bagus untuk Jaya Satria dan Kyai Mahmudi Ismail.


"Maaf kyai. Apakah kyai bisa menjauh sedikit?. Aku takut pengaruh jurus cakar naga cakar petir akan melukai kyai."


"Tapi jaya satria."


"Serahkan padaku kyai. Jangan kotori tangan kyai hanya untuk melenyapkan mereka."


"Baiklah. Tapi aku harap kau lebih berhati-hati jaya satria. Gunakan tasbih kembar ini. Agar tenaga dalam yang kau gunakan tidak terbuang sia-sia jaya satria." Kyai Mahmudi Ismail memberikan tasbih kembarnya pada Jaya Satria. Setelah itu ia menepi, karena ia tidak mau celaka karena jurus Cakar Naga Cakar Petir.


Dan benar apa yang dikatakan Jaya Satria. Angin disekitar berubah menjadi ganas, mengandung aliran petir yang sangat menyakitkan. Namun Jaya Satria dengan santainya memainkan jurus pedang itu. Apalagi disertai Tasbih kembar yang berada di tangannya saat ini. Benar-benar membuat kekuatannya semakin meningkat.


Sedangkan Gelang Sepa dan Belerang Kawah semakin tidak kuasa menahan jurus itu. Mereka semakin berteriak kesakitan. Bukan hanya itu saja, setan yang merasuki tubuh keduanya juga berteriak kesakitan karena tasbih kembar itu. Tak selang berapa lama, keduanya berhasil di hentikan. Sayangnya nyawa keduanya tidak bisa diselamatkan. Karena serangan itu sangat mematikan.


"Jaya satria. Apakah kau baik-baik saja?."


"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Aku baik-baik saja kyai."

__ADS_1


"Alhamdulillah hirabbli'alamin jaya satria."


"Terima kasih atas bantuan yang kyai berikan. Batu hitam ini sangat ampuh untuk mengusir mereka."


"Ini namanya tasbih. Biasanya digunakan untuk berzikir setelah melaksanakan sholat."


"Ooh. Namanya tasbih?. Maafkan aku kyai, karena aku tidak mengetahuinya dan aku baru melihatnya hari ini."


"Tidak apa-apa jaya satria. Namanya juga baru belajar."


Mereka kembali masuk ke rumah. Karena rasanya percuma saja pergi dalam keadaan seperti itu. "Apakah mereka saja yang membuat keonaran dikampung ini kyai?. Apakah masih ada yang lainnya?."


Keduanya duduk di tempat duduk, dan mereka mengambil air minum, karena baru saja selesai bertarung. Rasanya agak haus.


"Aku rasa memang hanya mereka yang ingin menguasai kampung ini. Memangnya ada apa?."


"Rencananya aku mau pergi mengembara lagi kyai. Rasanya tidak enak saja karena aku menggunakan topeng. Dan aku takut kyai akan dicurigai oleh orang lain."


"Kenapa kyai memberikan tasbih ini padaku?. Lalu bagaimana jika kyai melakukan zikir setelah sholat?."


"Aku bisa melakukannya. Aku hanya kau merasa aman selama di perjalanan. Semoga memalui tasbih ini kau tidak diganggu makhluk apapun yang tak kasat mata. Apalagi kau melewati hutan-hutan. Aku takut ada yang menempel bersamamu nantinya."


"Terima kasih atas kebaikan kyai padaku. Besok pagi aku akan melanjutkan pengembaraan ku."


"Ya. Semoga kau selalu sehat selama melakukan pengembaraan."


"Terima kasih kyai. Semoga saja Allah selalu memberikan kebaikan pada kyai."


"Aamiin ya Allah."


Kembali ke masa ini. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menceritakan pada kakaknya Raden Hadyan Hastanta, bagaimana ia mendapatkan tasbih kembar itu.

__ADS_1


"Tasbih itu sangat membantu sekali rayi prabu. Kami memang merasa aman, meskipun berada di hutan sekalipun."


"Alhamdulillah hirabbli'alamin jika memang begitu raka. Karena aku sangat khawatir sekali."


"Lalu bagaimana dengan niat raka yang ingin masuk agama islam?. Sebentar lagi akan memasuki bulan puasa."


"Secepatnya rayi prabu. Dinda bestari dhatu juga katanya ingin masuk agama islam."


"Benarkah itu yunda?."


"Benar rayi prabu. Aku juga ingin mempelajari agama islam. Aku sangat ingin mengenal islam dengan baik."


"Alhamdulillah hirabbli'alamin jika memang seperti itu raka, yunda. Itu artinya keluarga kita tahun ini telah menyatakan pemeluk agama Islam yang baik."


Ya. Itulah niat baik mereka sebelum masuk bulan puasa. Karena mereka ingin melakukan puasa bersama. Apakah bisa terwujud?. Temukan jawabannya.


...***...


Sementara itu di bukit Setangkai. Keadaan Tapa Simulung sudah baikan. Dan ia membacakan surat yang diberikan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana padanya.


"Salam sejahtera untuk paman tapa simulung. Sudah lama tidak terdengar kabar tentang paman sejak pertama kali kita bertemu di bukit setangkai saat aku melakukan pengembaraan. Rasanya aku sangat terkejut dengan kabar yang aku dapatkan dari anak buah paman dahulu. Namun maaf jika aku tidak bisa mengobati paman secara langsung. Aku harap, dengan adanya yunda bestari dhatu yang aku utus dapat mengobati penyakit yang paman alami."


Pendekar Tapa Simulung membaca setiap kata yang tertulis di sana. Ia mencoba memahami apa yang disampaikan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Dalam semedi atau sholat meminta petunjuk kepada Allah SWT. Aku melihat sukma paman ditahan oleh penghuni hutan larangan. Maaf sekali lagi. Karena kondisiku saat ini membuat aku tidak bisa datang menemui paman. Akan tetapi aku harap paman mau mendengarkan apa yang aku sampaikan melalui pesan ini. Aku harap paman mau kembali ke jalan benar. Masuk agama islam yang baik. Supaya paman merasa lebih baik lagi. Karena aku takut jika mereka kembali mengejar paman. Namun jika paman membentengi diri paman dalam selimut islam, serta membacakan ayat-ayat suci Alqur'an. Namun aku yakin. Mereka tidak akan berani lagi untuk mengganggu paman. Itu hanya sekedar jalan keluarnya paman. Semuanya tergantung pada paman. Karena tidak ada paksaan ketika masuk agama islam. Aku harap paman selalu baik-baik saja. Dari raden cakara casugraha."


Ia telah selesai membacakan pesan itu. Rasanya air matanya mengalir dengan sendirinya tanpa ia sadari.


"Hanya raden cakara casugraha yang peduli padaku yang sudah tua ini." Ia menangis meratapi nasibnya yang malang. Apalagi saat ia bertemu pertama kali dengan Raden Cakara Casugraha. Bagaimana mana pertemuan mereka?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2