RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
LEBARAN PERTAMA


__ADS_3

...***...


Keesokan paginya. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan keluarga besar istana merayakan hari raya idul Fitri untuk pertama kalinya. Kebahagian mereka semua tidak terhitung lagi. Setelah melaksanakan sholat idul Fitri bersama di lapangan. Kali ini mereka semua bersalaman dengan rakyat Suka Damai.


Kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan apapun kecuali dengan ungkapan kebahagiaan yang tengah mereka rasakan. Apalagi ketika sang prabu membagikan kepingan uang kepada rakyatnya. Bahkan pada prajuritnya yang telah berjasa dalam kelancaran acara ini. Selain itu Syekh Asmawan Mulia datang bersama santri laki-laki dan santri wanita. Mereka juga salaman dengan keluarga istana.


Disisi lain, Raden Jatiya Dewa masih takut-takut. Karena itulah ia tidak mau menunjukkan dirinya pada yang lainnya.  Ia masih takut jika bertemu dengan Putri Andhini Andita. "Aku harus bagaimana jika bertemu dengan tuan putri garang itu." Dalam hatinya merasa waspada.


"Syekh guru." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan jaya Satria mendekati Syekh Asmawan Mulia. Keduanya salaman dengan Syekh Asmawan Mulia, seorang guru yang telah mengajarkan mereka ilmu agama yang baik. "Mohon maaf lahir dan batin syekh guru."


"Mohon maaf lahir dan batin nanda prabu." Syekh Asmawan Mulia kini hadir bersama anak dan istrinya. Ia sengaja membawa mereka, karena ini hari yang membahagiakan.


"Alhamdulillah bibi ayudiyah datang bersama bersama nimas ayu purnama yang sudah besar." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga salaman dengan Nyai Ayudiyah Purwati dan Anaknya Ayu Purnama yang kini berusia lima tahun.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin. Nanda prabu, semuanya baik-baik saja. Semoga dihari kemenangan ini kita semua dapat merasakan kebahagian yang luar bisa." Nyai Ayudiyah Purwati tersenyum ramah.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, nyai ayudiyah purwati." Ratu Dewi Anindyaswari juga mendekati mereka semua. Begitu juga dengan Ratu Gendhis Cendrawati.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, gusti ratu." Mereka semua saling salaman. Bercerita apa saja yang telah mereka lalui selama ini.


"Mari duduk syekh guru, bibi ayudiyah, juga ibunda." Jaya Satria mempersilahkan mereka semua untuk duduk. Jaya Satria terpaksa melakukan belah raga supaya mereka semua tidak curiga. Bagi mereka yang tidak mengetahui jika Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana adalah orang yang sama.


Sementara itu, Putri Andhini Andita menangkap sosok seseorang yang rasanya tidak asing baginya. Karena merasa penasaran, ia mendekatinya. "Raden jatiya dewa?." Putri Andhini Andita hampir tidak percaya jika hari ini ia melihat kedatangan Raden Jatiya Dewa?.


"Gusti putri." Raden Jatiya Dewa berusaha untuk menekan perasaan gugupnya. "Mohon maaf lahir dan batin gusti putri." Sungguh ia tidak dapat menahan perasaannya, sehingga ia mengungkapkan kalimat itu.

__ADS_1


"Dari mana kau bisa mengucapkan kalimat itu jatiya dewa?. Apakah kau baru saja mendengarkan kalimat itu dan mengucapkan kalimat itu?." Putri Andhini Andita tampak curiga pada Raden Jatiya Dewa.


Sedangkan disisi lain. Mulni, Barka dan Purna saat ini sedang mengamati Raden Jatiya Dewa yang sedang berbicara dengan Putri Andhini Andita. Sepertinya mereka sedikit mengerti alasan mengapa Raden Jatiya Dewa mau belajar agama Islam.


"Jadi tujuannya adalah gusti putri andhini andita?. Pantas saja dia bersemangat belajar agama islam." Mulni tidak menyangka jika memang itu alasannya.


"Tapi itu suatu motivasi yang sangat baik. Aku juga ingin seperti raden jatiya dewa." Barka jadi iri dengan Raden Jatiya.


"Sungguh luar biasa sekali. Jarang ada seorang putra mahkota raja yang mau melakukan itu demi seorang wanita yang ia cintai." Purna juga merasakan hal sama dengan Barka. Ia sangat merasa iri dengan apa yang dilakukan oleh Raden Jatiya Dewa.


Kembali ke Raden Jatiya Dewa dan Putri Andhini Andita.


"Sa-saya telah masuk agama islam, dan saya masih dalam proses belajar." Rasanya sangat gugup ketiak ditatap seperti itu oleh Putri Andhini Andita.


"Kata syekh guru, tidak baik berburuk sangka pada seseorang. Perasaan prasangka buruk pada orang lain hanya akan menimbulkan penyakit hati. Apakah gusti putri tidak takut itu?." Raden Jatiya Dewa mencoba mengingat apa yang dikatakan oleh Syekh Asmawan Mulia.


Putri Andhini Andita terdiam sejenak, dan setelah itu ia tertawa kecil. Membuat Raden Jatiya Dewa semakin gugup. "Baguslah jika kau masuk agama islam. Itu artinya kau telah belajar dengan baik." Putri Andhini Andita hanya tersenyum kecil saja.


"Dia sangat cantik jika tersenyum." Dalam hati Raden Jatiya Dewa mengagumi senyuman, serta wajah ayu dari Putri Andhini Andita.


"Baiklah. Karena hari ini adalah hari yang baik, aku ucapkan minal aidzin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin raden jatiya dewa. Semoga kau bisa belajar ke arah yang lebih baik lagi." Putri Andhini Andita juga mencoba untuk bersikap baik pada hari ini dengan Raden Jatiya Dewa.


"Sama-sama gusti putri." Raden Jatiya Dewa sangat senang, tidak sia-sia rasanya ia ikut hari ini. Karena ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena telah berhasil berbicara dengan Putri Andhini Andita.


Masih di lingkungan istana. Putri Agniasari Ariani membawakan dua piring yang agak lumayan besar, untuknya dan juga Raden Rajaswa Pranawa. Mereka makan bersama Raden Hadyan Hastanta dan Putri Bestari Dhatu yang ikut merayakan hari raya idul Fitri.

__ADS_1


"Wah, perhatian sekali." Raden Hadyan Hastanta sedikit menggoda adiknya itu.


"Kenapa tidak segera menikah saja?. Rasanya kalian terlihat sangat serasi sekali. Dan sudah pantas menjadi suami istri yang baik." Putri Bestari Dhatu juga bahkan menggoda mereka.


"Banyak hal yang harus saya lakukan, dan saya akan belajar banyak hal tentang tata negara bersama gusti prabu. Jadi saya belum bisa membawa nimas agniasari ariani dari istana ini." Dengan malu-malu Raden Rajaswa Pranawa menjawabnya.


Raden Hadyan Hastanta dan Putri Bestari Dhatu tertawa geli melihat ekspresi malu dari Raden Rajaswa Pranawa. Sungguh mereka tidak menyangka akan melihat hal yang lucu hari ini.


Kembali ke Putri Andhini Andita dan Raden Jatiya Dewa yang sedang duduk berdua. Mereka melihat banyak orang yang keluar masuk ke istana kerajaan suka Damai.


"Ini pertama kalinya istana seramai ini. Biasanya hanya orang-orang tertentu saja masuk ke dalam istana yang memiliki urusan penting." Putri Andhini Andita menatap mereka yang sedang berbahagia. "Semuanya telah berubah karena usaha dari adikku cakara casugraha. Dia yang telah berusaha dengan baik untuk mengubah itu semua." Putri Andhini Andita dapat merasakan perubahan tersebut.


"Apakah gusti menyukai perubahan itu?." Dengan hati-hati Raden jatiya Dewa bertanya.


"Entahlah, aku juga tidak mengetahuinya dengan pasti. Tapi setidaknya hari ini aku akan menikmatinya dengan baik." Jawab Putri Andhini Andita hanya tersenyum kecil.


"Ucapan gusti putri, seakan menandakan bahwa gusti putri akan meninggalkan istana ini. Ada kesedihan yang gusti putri rasakan." Entah mengapa Raden Jatiya Dewa merasakan perasaan itu.


"Raden jatiya dewa." Suara Putri Andhini Andita terdengar agak beda. Membuat Raden Jatiya Dewa sedikit merinding.


"Apakah aku telah melakukan kesalahan?." Raden Jatiya Dewa merasakan hawa yang tidak baik.


"Kenapa kau seenaknya saja berkata seperti itu." Putri Andhini Andita menatap garang ke arah Raden Jatiya Dewa. Sungguh ia tidak bermaksud untuk membuat Putri Andhini Andita marah. Bagaimana nasibnya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2