RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERTARUNGAN YANG TIDAK BISA DIHINDARI


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita melaksanakan sholat subuh. Meskipun dalam perjalanan, bukan berarti ia melupakan kewajibannya. Dalam sholat yang ia kerjakan, ia memohon kepada Allah SWT. Agar memberikan kesehatan, keselamatan, serta keberkahan dalam perjalanan ini.


"Ya Allah. Mudahkan lah langkah hamba, jauhi lah hamba dari orang-orang yang berniat jahat pada hamba. Kuatkan hati hamba untuk terus-menerus mengingat nama-Mu dalam hati hamba."


Disaat yang bersamaan, Ratu Gendhis Cendrawati juga sedang berdoa setelah melaksanakan sholat subuh. "Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ampunilah dosa hamba, dosa suami hamba, dosa anak-anak hamba, serta dosa keluarga hamba." Itulah doa pertama kali ia ucapkan. "Ya Allah hamba mohon lindungilah putri hamba andhini andita dimana pun ia berada. Berikanlah kekuatan iman, serta kekuatan hati untuknya agar bisa menjalani perjalanannya dengan baik. Hamba mohon padamu ya Allah." Hatinya masih gelisah, dan tidak bisa berpikir dengan tenang. Hatinya sangat gelisah memikirkan anaknya yang saat ini sedang melakukan apa. Apakah anaknya tidur di tempat yang baik, atau bagaimana?. "Semoga putri hamba pulang dalam keadaan baik-baik saja ya Allah. Hamba serahkan semuanya pada-Mu ya Rabb." Hati seorang ibu yang menginginkan keselamatan anaknya.


Disisi lain. Raden Jatiya Dewa saat ini sedang juga sedang berdoa kepada Allah SWT, setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama prabu asmalaraya arya ardhana, syekh Asmawan Mulia, Raden Hadyan Hastanta, Putri Agniasari Ariani, Raden Rajaswa Pranawa, serta prajurit istana yang telah memeluk agama Islam. Mereka sangat khusuk dalam berdoa, meminta apa yang mereka inginkan kepada Allah SWT. Termasuk Raden Jatiya Dewa yang telah merasakan indahnya masuk agama Islam. "Ya Allah, hamba hanya memohon pada-Mu. Berikanlah hamba kekuatan iman, serta kekuatan hati dalam memutuskan sesuatu. Supaya hamba tidak goyah saat menerima apapun yang telah engkau putuskan untuk hamba." Raden Jatiya Dewa merasa gundah, hanya karena perasaan hati yang menyelimuti dirinya. "Apakah hamba tidak boleh meminta supaya Putri andhini andita segera pulang ke istana ini ya Allah. Hamba mohon, bukalah hatinya untuk segera kembali ke istana ini. Hamba memohon pada-Mu. Satukan kami dalam ikatan yang baik. Semoga saja putri andhini andita mau menerima diri hamba. Hamba sangat memohon pada-Mu ya Rabb. Aamiin ya rabbal aalaamiin." Apakah ia tidak boleh meminta seperti itu?. Apakah ia tidak boleh berharap, jika Putri Andhini Andita menerima cintanya?. Apakah ia akan bahagia jika ia bersama dengan Putri Andhini Andita?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


...***...


Di istana Kerajaan Utara Bunga. Raden Cakrawala Dirja telah menunggu kedatangan Raden Cakara Casugraha. Mereka akan melakukan pertarungan di halaman belakang istana?. Entahlah, mungkin saja seperti itu. Namun senyumannya begitu tampak sumringah, karena ia tidak sabar lagi menunggu kedatangan Raden Cakara Casugraha.


"Aku pikir kau masih tidur cakara casugraha." Raden Cakrawala Dirja mengeluarkan pedang yang ia gunakan untuk membunuh musuhnya?. "Kenapa kau lama sekali?." Perasaan tidak sabar, itulah sifat dari Raden Cakrawala Dirja.


Raden Cakara Casugraha tersenyum kecil. "Aku tidak tidur ketika pagi hari. Namun aku masih terbangun, dan banyak hal yang harus aku kerjakan." Raden Cakara Casugraha tidak mau terbawa suasana hanya karena pancingan dari Raden Cakrawala Dirja.


"Kalau begitu tidak usah banyak bicara lagi cakara casugraha. Langsung saja pada intinya." Raden Cakrawala Dirja mengayunkan pedangnya, setelah itu ia memainkan jurus pedang yang telah ia pelajari selama ini. "Aku tidak sabar lagi untuk membunuh mu cakara casugraha." Setelah berkata seperti itu, Raden Cakrawala Dirja menyerang Raden Cakara Casugraha dengan pedang yang ia genggam saat ini. Pedang yang sangat tajam, dan akan membelah apa saja yang ia tebas.


Namun sayangnya Raden Cakara Casugraha mampu mengatasi tebasan pedang yang hampir saja melukai bahu kirinya itu. Raden Cakara Casugraha menangisinya dengan menggunakan pedang pelebur sukma. Sehingga pedang mereka beradu dengan kuat.

__ADS_1


"Kau jangan sampai cepat mati cakara casugraha. Karena aku tidak akan memberikanmu kesempatan untuk menyerangku." Raden Cakrawala Dirja tersenyum lebar. "Tapi untuk lebih seru lagi, aku tidak akan menggunakan jurus ku hanya untuk mempercepat kematianmu cakara casugraha." Dengan percaya diri ia berkata seperti itu.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Raden Cakara Casugraha sengat terkejut dengan apa yang ia dengar. "Sombong itu adalah sifat iblis. Sombong itu tidak baik cakrawala dirja. Sebaiknya kau segera kembali ke jalan yang benar. Sebab Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong serta angkuh." Raden Cakara Casugraha mencoba untuk mengingatkan Raden Cakrawala Dirja.


"Diam kau cakara casugraha!. Aku tidak butuh kata-kata yang tidak berguna darimu!." Dengan suasana hati yang sangat bergejolak, Raden Cakrawala Dirja menyerang Raden Cakara Casugraha. Ia tekan kuat pedangnya, sehingga kedua pedang itu menimbulkan sedikit percikan. Raden Cakara Casugraha menyerang musuhnya dengan memberikan sebuah pukulan tepat di bahu kiri musuhnya, sehingga musuhnya meringis. Namun bisa diatasi dengan melayangkan sebuah tendangan ke arahnya. Tapi sayangnya bisa diatasi oleh Raden Cakara Casugraha. Saat lengah, Raden Cakrawala Dirja menyerang Raden cakara Casugraha dengan mengayunkan pedangnya ke arah kepalanya.


Raden Cakara Casugraha segera melompat menghindari serangan itu, jika ia tidak ingin kepalanya putus oleh serangan itu. "Kau tidak akan bisa menghindari serangan ku cakara casugraha!." Dengan semangatnya, Raden Cakrawala Dirja menyerang Raden Cakara Casugraha. Gejolak ingin membunuh Raden Cakara Casugraha sangat kuat di dalam dirinya.


"Aku ingatkan sekali lagi cakrawala dirja. Sebaiknya kau tidak melakukan apapun. Sebaiknya kau pikirkan bagaimana nasib rakyat utara bunga, jika kau masih menganggap dirimu sebagai seorang raja." Raden Cakara Casugraha menangkis semua serangan yang datang padanya. Tebasan pedang itu semakin terasa cepat, sepertinya Raden Cakrawala Dirja sedang bersemangat untuk membunuh Raden Cakara Casugraha.


"Diam kau cakara casugraha!. Kau tidak seharusnya berbicara seperti itu padaku!. Aku hanya ingin membunuh mu!. Karena aku tidak suka dengan orang seperti kau!." Suaranya semakin terdengar keras. Hatinya semakin memanas, sehingga ia tidak lagi mau menerima kebaikan dari orang lain. Apakah hatinya telah mati?. Sehingga or tidak mau lagi menerima kebaikan yang diberikan orang lain padanya?. Kenapa ia melakukan itu?.


"Segera perbaiki dirimu raden, sebelum kau menyesal pada akhirnya. Jangan sampai menyesal belakangan. Kau harus segera memperbaiki kerajaanmu, dan berhentilah menjadi orang pendendam." Raden Cakara Casugraha kembali mengingatkan Raden Cakrawala Dirja. Sayangnya ia tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha.


Raden Cakara Casugraha hanya bisa menahan semua serangan yang dilakukan oleh Raden Cakrawala Dirja. Namun, bukan berarti ia menyerah begitu saja. Ia terus menahan serangan yang datang padanya. Bukan hanya itu saja, tentunya Raden Cakara Casugraha menyerang Raden Cakrawala Dirja. Karena nyawanya dalam bahaya, jika ia tidak menahan ataupun membalas serangan itu.


"Heh!. Kau boleh juga cakara casugraha!." Dengan gencarnya ia terus menyerang Raden Cakara. Tidak ia biarkan musuhnya menangkis serangannya. Ia sangat bersemangat dalam masalah ini.


"Aku harus menyadarkannya. Karena banyak nyawa yang bergantung padanya." Dalam hati Raden Cakara Casugraha masih bisa menahan dirinya agar tidak terbawa amarah yang berlebihan, hanya karena Raden Cakrawala Dirja telah memancing amarah yang ada di dalam dirinya.


...***...

__ADS_1


Di istana Kerajaan Suka Damai. Ratu Dewi Anindyaswari merasa gelisah. Karena beberapa hari ini ia tidak melihat keberadaan anaknya Raden Cakara Casugraha. Dan ia menemui anaknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang berada di ruang Pribadi raja.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, nanda Prabu." Ratu Dewi Anindyaswari mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjawab salam ibundanya. "Silahkan duduk ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mempersilahkan ibundanya untuk duduk.


"Terima kasih nak." Ratu Dewi Anindyaswari duduk di depan anaknya. "Maaf, jika ibunda saat ini mengganggumu." Ratu Dewi Anindyaswari merasa sungkan dengan anaknya sendiri.


"Tidak apa-apa ibunda. Nanda sama sekali tidak merasa terganggu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Apa yang ingin ibunda sampaikan pada nanda?. Sehingga ibunda terlihat begitu khawatir." Meskipun ia mengetahui apa yang sedang dikhawatirkan oleh ibundanya, ia hanya ingin memastikan apakah ibundanya benar-benar khawatir ke arah sana atau bukan.


"Ibunda merasakan firasat yang sangat buruk sekali nak." Ratu Dewi Anindyaswari menceritakan apa yang sedang ia rasakan saat ini. "Ibunda juga tidak melihat keberadaan rakamu. Apakah rakamu tidak ada di sini nak?." Perasaan gelisah, tentunya membuat Ratu Dewi Anindyaswari tidak tenang.


"Jadi ibunda juga merasakan kegelisahan itu?. Apa yang harus hamba katakan ya Allah. Karena saat ini raka prabu sedang bertarung dengan raden cakrawala dirja. Tidak mungkin hamba mengatakan itu pada ibunda ya Allah." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga merasakan kegelisahan. Apa yang akan ia katakan pada ibundanya?.


"Ibunda tidak perlu cemas, karena raka prabu saat ini sedang melakukan ronda. Jadi ibunda tidak perlu khawatir lagi." Hanya itu yang bisa dijawab oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Apakah itu benar nak?. Tapi mengapa tidak kembali?." Tentunya itu menjadi pertanyaan yang sangat menginginkan.


"Ada beberapa masalah yang terjadi di beberapa desa ibunda. Sehingga raka prabu tidak bisa kembali dalam waktu dekat ini ibunda. Maaf, jika nanda memberatkan raka prabu dalam masalah ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit memberikan penjelasan pada Ratu Dewi Anindyaswari.


"Baiklah jika memang seperti itu nak. Semoga saja raka mu baik-baik saja." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk tidak terlalu cemas dengan keadaan anaknya.

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2