
...***...
Raden Ganendra Garjitha menyambut kepulangan ibundanya. Ia sangat senang ibundanya pulang dengan selamat tanpa kekurangan apapun.
"Syukurlah ibunda baik-baik saja selama diperjalanan."
Mereka masuk ke dalam kaputren, menuju kamar ibundanya.
"Tentu saja putraku. Prajurit yang mengiringi ibunda adalah prajurit pilihan dari ayahanda prabu rahwana bimantara." Dengan bangganya ia menyebut nama ayahandanya yang merupakan raja yang hebat.
"Oh, sudah lama aku tidak melihat kakek prabu. Bagaimana keadaannya ibunda?." Raden Ganendra Garjitha ingat dengan kakeknya.
"Ayahanda prabu masih sehat seperti dulu. Bahkan semangatnya sangat luar biasa."
Begitu sampai di biliknya, ia langsung duduk di tepian tempat tidurnya. Begitu juga dengan putranya.
"Dimana kedua adikmu?. Apakah mereka tidak mengetahui kedatangan ibunda?." Ia sedikit kecewa, karena tidak melihat kedua anaknya yang lain.
"Mereka sedang berlatih ilmu kanuragan ibunda." Jawabnya. "Katanya agar tubuh mereka tidak terlalu kaku." Itulah alasan kenapa adik-adiknya tidak menyambut kedatangan ibundanya.
"Apa saja yang terjadi selama ibunda tidak ada?. Apakah kalian masih merencanakannya?." Ia ingin mengetahui, apakah ada perkembangan rencana anak-anaknya.
"Kami hampir saja berhasil melakukannya ibunda. Tapi rayi prabu berhasil menyihir mereka dan tunduk padanya." Ia masih belum menerima kegagalan yang ia alami waktu itu.
"Ibu dan anak sama liciknya." Geram dan kesal, itulah dirinya sekarang. "Rasanya aku sudah muak melihat mereka semua." Ia bangkit dari duduknya.
"Tapi kau tenang saja. Tidak lama lagi ayahanda prabu akan datang ke sini, untuk mengambil alih istana ini." Senyuman itu, senyuman seperti orang sedang membayangkan kemenangan yang luar biasa ia dapatkan.
"Benarkah itu ibunda?." Wajahnya nampak sumringah, dan ini adalah kabar yang baik untuknya.
"Tentu saja putraku. Karena ibunda memiliki hak untuk mengajukan ayahanda prabu untuk mengambil alih kerajaan ini. Dengan alasan, tidak mungkin kerajaan ini dipimpin oleh bocah yang suka membuat onar." Itulah yang ia pikirkan. Rencana yang ia buat ketika ia mendatangi ayahandanya.
"Luar biasa sekali ibunda. Aku sangat setuju jika kakek prabu juga memimpin istana ini."
Apakah rencana lain dari Ratu Ardiningrum Bintari untuk mendapatkan tahta kerajaan ini berhasil?. Jika anak-anaknya tidak bisa, mengapa ayahandanya tidak bisa?.
"Tapi rencana ini jangan diberitahukan kepada siapapun, termasuk dia. Jadi dia tidak punya persiapan untuk membuat sihir yang lebih kuat, karena supaya ayahanda tidak bisa menduduki singgasana itu." Ratu Ardiningrum Bintari telah mengatakan semuanya pada ayahandanya apa yang terjadi di istana ini.
"Tentu saja ibunda. Jangan sampai rayi prabu mengetahuinya." Ia setuju dengan ide itu. Ia merasa bangga memiliki ibunda yang cepat bertindak.
Tapi apakah berhasil?. Temukan jawabannya.
...***...
Di kamar Putri Andhini Andita.
Pikirannya masih melayang memikirkan apa yang diperlihatkan Jaya Satria padanya. Ia mulai gelisah, apa yang salah sebenarnya?.
"Apa jaya satria mencoba menipuku lagi?." Pikirannya belum bisa menerima kenyataan itu.
(Ingatannya kembali pada malam itu.)
"Duduklah." Ucapnya dengan ramah. Renangkan pikiran gusti putri. Pejamkan mata gusti putri." jaya Satria memberi arahan.
Putri Andhini Andita mencoba menenangkan dirinya, memusatkan pikirannya, setelah itu ia memejamkan matanya.
Jaya Satria memegang pundak kiri Putri Andhini Andita, ia juga memejamkan matanya.
"Bukalah mata gusti putri dengan pelan." Ucap Jaya Satria.
Ketika mata itu terbuka, ia sedikit terkejut karena berada di ruang utama istana?. Sejak kapan ia berada di sini?
"Apa maksudmu membawaku kemari?." Ia tidak mengerti sama sekali. Bukankah ia tadi berada di taman istana?.
"Bukankah gusti putri ingin membuktikan, salah satu alasan mengapa gusti prabu bisa menduduki singgasana itu, dan kemudian menjadi raja?." ia tidak akan membuktikan pada Putri Andhini Andita kebenaran itu.
"Jadi maksudmu rayi Prabu mengetahui rahasia, cara menduduki singgasana itu?." Ada kecurigaan dalam hatinya.
"Sebenarnya tidak. Gusti prabu tidak mengetahuinya sama sekali." Ya, iya yakin itu.
"Jangan membuatku pusing dengan ucpanmu!. Katakan sebenarnya dengan jelas!. Aku tidak suka menerka-nerka!." Ia sangat marah karena tidak mengerti sama sekali maksudnya.
"Kemarahan. Itulah salah satu alasan mengapa gusti putri tidak bisa menduduki singgasana sana itu." Jawab Jaya Satria.
"karena menjadi seorang raja harus menguasai kemarahannya. Tidak boleh cepat terpancang amarah, yang nantinya akan merugikan jika membuat sebuah keputusan." Penjelasan itu sangat masuk akal.
"Memang aku akui aku cepat marah. Tapi apakah hanya itu saja?." Ia yakin ada hal lain yang membuatnya tidak bisa mendudukinya.
__ADS_1
"Coba saja gusti putri bandingkan sifat prabu yang kini dengan yang sebelumnya. Spakah ada perbedaan?." Jaya Satria ingin mengetahui apakah Putri Andhini Andita bisa melihat perbedaan itu.
"Jika dipikir-pikir lagi, memang benar ada perubahan sikapnya." Ia masih ingat bagaimana adiknya yang dulu dengan yang sekarang, jauh sekali perbedaannya.
"Kalau begitu akan hamba tunjukkan caranya satu kali. Jika gusti putri ingin duduk di singgasana itu." Ucap Jaya Satria. "Tapi, setelah itu renungkanlah dengan baik apa yang terjadi pada hari ini." Jaya Satria akan mengajarinya?.
"Apa jadinya jika aku berhasil duduk di singgasana itu?." Ia jadi penasaran. Apakah jaya Satria mencoba untuk mengkhianati adiknya dengan menunjukkan cara duduk di singgasana itu?.
"Apakah gusti putri mencobanya?." Senyuman itu, senyuman memancingnya untuk melakukannya?.
"Katakan padaku." tentu saja ia ingin mencobanya.
"Kalau begitu dengarkan apa yang hamba katakan." Jaya Satria tersenyum kecil. "Tarik nafas dengan pelan, dan buang dengan pelan."
Putri Andhini Andita melakukan sesuai yang dikatakan oleh Jaya Satria.
"Tenangkan hati dan pikiran gusti putri. hilangkan bentuk dendam, atau kebencian yang ada dalam pikiranmu pada siapa saja termasuk pada gusti prabu." Jaya Satria memberikan arahan.
"Buang dulu kedengkian yang ada di dalam hati gusti putri. Lapangkan hati gusti putri dari amarah apapun." Jaya Satria terus memberi arahan. Putri Andhini Andita mencoba melakukannya, meski agak berat.
"Nah. Jika gusti putri sudah merasa lebih baik. Vobalah duduk di sana." Jaya Satria menunjuk ke arah singgasana itu
"Tidak perlu takut, coba saja. Maka gusti putri akan melihat kebenarannya." Jaya Satria hanya ingin memastikannya.
Dengan perasaan yang agak ragu ia mencoba mendekati singgasana itu, dan mendudukinya. Perasaannya sangat damai, tidak merasakan apa-apa selain perasaan hangat. Ia tidak memiliki kebencian atau dendam pada siapapun.
"Oh, seperti inikah?. Duduk di singgasana ini?. Rasanya sangat tentram. Aku ingin melakukan kebaikan-kebaikan yang membuat hatiku damai." Ia merasakan perasaan itu
"Ayahanda, ibunda. Jika aku menjadi seorang raja. Banyak kebaikan yang ingin aku lakukan untuk menyejahterakan rakyat suka damai." Ia tidak mengetahui sama sekali, mengapa keinginan itu keluar begitu saja dalam dirinya.
senyuman penuh kasih sayang terlihat diwajahnya yang cantik. Bahkan jika dilihat seorang pangeran, ia ingin segera mempersuntingnya.
"Sekarang mengerti kan, yunda?" Seseorang datang dan memanggilnya yunda?.
Mata itu terbelalak terkejut, saat melihat siapa yang datang padanya.
"Rayi prabu!." Kemarahan itu sangat alami, sehingga tanpa sadar kemarahannya muncul dari hatinya yang sangat membenci adiknya.
"Eqhaa." Namun belum sempat ia berdiri, ia terkejut karena tubuhnya terlempar dari singgasana itu.
Putri Andhini Andita sangat panik, ia terkejut dengan apa yang ia alami. Ia sangat gugup, karena ia tidak bisa menahan tubuhnya.
"Kau mempermainkan aku, rayi prabu!."
Ia membentak Jaya Satria dengan suara keras, meskipun tubuhnya berada di gendongan Jaya Satria yang ternyata adiknya?.
Jaya Satria menurunkan tubuh Putri Andhini Andita dengan pelan, ia tidak panik atau gelisah karena wajahnya.
"Tenang dulu gusti putri." ucapnya dengan tenang.
"Aa,,apa?." Putri Andhini Andita tidak percaya wajah itu bahkan mirip menyerupai wajahnya?. "Bagaimana bisa?." Ya tidak mengetahuinya sama sekali.
"Tadi hamba menggunakan jurus malih rupa. Hamba sengaja menggunakan jurus itu untuk melihat reaksi gusti putri." Ia tersenyum kecil. Setelah itu ia mengenakan kembali topengnya.
"Jadi kau meniru wajah rayi prabu untuk memancing kemarahanku?." Rasa benci kembali menyelimuti hatinya yang tadinya mulai merasa tenang.
"Ya, itu benar." Balasnya. "Selama ada kebencian dalam diri gusti putri pada siapa saja. Termasuk terhadap gusti prabu, maka belum bisa memenuhi syarat menjadi seorang raja." Jaya Satria mengatakan itu dengan penuh ketegasan.
(Kembali dengan kondisi gelisahnya putri Andhini Andita.)
"Itu baru salah satu syaratnya. Bagaimana dengan syarat yang lain?." ia memikirkan syarat lain.
"Aku ingat bagaiman perangai ayahanda. Sifatnya baik kepada siapa saja. Namun marahnya bertempat, tidak sembarangan memberi hukuman. Selalu mendengarkan siapa saja, serta mencari bukti kebenaran dari suatu perkara dan menyelesaikannya dengan baik." Ia tidak akan pernah lupa bagaimana ayahandanya ketika masih hidup.
"Rayi prabu." Ia juga memikirkan adiknya itu.
"Ada apa rayi?. Apa kau memikirkan sedang sesuatu?." Raden Hadyan Hastanta tiba-tiba masuk ke kamar adiknya.
"Oh raka." Putri Andhini Andita langsung bangun, karena melihat raut wajah cemas kakaknya.
"Katakan pada raka apa yang kau rasakan." Ia duduk di samping adiknya.
"Tidak apa-apa raka. Aku hanya merindukan ibunda." Meskipun bukan itu sebenarnya yang membuat ia termenung dan gelisah
"Tenang saja, sebentar lagi ibunda akan pulang,. kau jangan membuatku cemas, aku takut terjadi sesuatu padamu, karena kau belum keluar dari kamarmu." Raden Hadyan Hastanta merasa ada yang aneh dengan adiknya, karena itulah ia masuk ke kamar adiknya, memastikan adiknya baik-baik saja.
"Maafkan aku raka, aku telah membuatmu cemas. Aku hanya gelisah saja karena ibunda belum pulang." Ia terlihat cemberut.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Aku ke wisma dulu. Jika terjadi sesuatu panggil saja aku." Raden Hadyan Hastanta mengelus kepala adiknya dengan sayang.
"Tentu saja raka." Ia tahu bagaimana perhatian kakaknya itu. Jadi ia tidak akan ragu mengatakan apapun namun untuk kali ini ia memilih diam untuk sementara waktu.
Tapi apakah ia bisa menekan perasaan itu?. Temukan jawabannya.
...***...
Di Kerajaan Kegelapan.
Persiapan yang dilakukan oleh Nini Kabut Bidadari telah selesai. Malam yang tenang, malam yang sunyi untuk melakukan sebuah ritual dukun yang siap mencari mangsanya.
Dengan sesajen, serta sebuah boneka yang terbuat dari jerami. Nini Kabut Bidadari mencoba melakukannya. Melakukan apa?.
Prabu Wajendra Bhadrika, Putri Gempita Bhadrika, Semara Layana dan Mayang Sari melihat apa yang akan dilakukan oleh Nini Kabut Bidadari dengan itu?.
Mereka memperhatikan dari jarak yang agak jauh dari Nini Kabut Bidadari, Sekitar dua meter dari sana. Karena Nini Kabut Bidadari tidak ingin terganggu dengan apa yang akan ia lakukan nantinya.
"Dukun teluh?." Putri Gempita Bhadrika bertanya dalam hatinya. "Aku tidak percaya jika ayahanda melakukan seperti ini?. Bukankah ini tindakan pengecut?." Sulit dipercaya memang.
"Dulu ayahanda melakukan ini pada raja negeri jauh. Karena dulu ayahanda belum mempunyai pasukan yang banyak. Nini Kabut Bidadari juga yang melakukannya." Prabu Wajendra Bhadrika menjelaskan sedikit pada anaknya. Tapi anaknya hanya mengangguk saja, karena tidak mau membuat ayahandanya tersinggung. Jika ia berkata tindakan itu sangat pengecut dan tidak pantas dilakukan oleh seorang raja.
Sementara itu Nini Kabut Bidadari telah selesai dengan persiapannya, ia mulai merapalkan mantra-mantra sihir yang telah ia kuasai untuk melakukan kejahatannya.
...***...
Malam yang sunyi di istana kerajaan Suka Damai.
Jaya Satria yang sedang berada di belakang istana melihat dua kakak beradik, yang masih saja latihan ilmu Kanuragan dari jarak yang cukup jauh. Tadinya ia ingin menemui prabu Asmalaraya Arya Ardhana, namun ia mendengar ada suara pertarungan di halaman paling belakang istana.
Apa yang sebenarnya mereka rencanakan dengan latihan ilmu Kanuragan?. Rasa penasarannya itu membuatnya ingin mengadu kesaktian mereka.
Namun siapa sangka, ketika ia hendak melangkah, tubuhnya terasa sakit. Sakit itu berbeda dari sakit akibat senjata ataupun sakit demam
"kqekh, astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ia meringis kesakitan, membuat tubuhnya tidak bisa digerakkan.
"Apa yang terjadi pada diriku?." Tubuhnya melemah, titik-titik syarafnya terasa sakit seperti di tusuk oleh jarum yang tajam.
"Allahuakbar."
Di saat yang bersamaan sang prabu yang baru saja memasuki kamarnya merasakan sakit juga.
"Ya Allah." Sang prabu langsung bertumpu di tepian tempat tidurnya.
"Ya Allah. Apakah jaya satria lagi-lagi dalam masalah?." Ia pikir terjadi sesuatu pada Jaya Satria, makanya tubuhnya terasa sakit yang menusuk.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk menenangkan dirinya. Ia duduk tenang, mencoba berkomunikasi dengan Jaya Satria melalui mata batin.
"Jaya satria. Jaya satria. Apakah kau mendengarkan aku?." Suara itu sangat jelas berusaha menahan sakit yang kaur biasa.
Jaya Satria yang sedang kesakitan mendengarkan panggilan itu, dan ia mencoba untuk fokus menangkap suara panggilan itu.
"Gusti prabu. Apakah gusti prabu baik-baik saja?. Hamba merasakan sakit yang tidak biasa. Apakah gusti prabu sedang terluka?." Suara itu juga suara yang berat karena menahan sakit.
Tidak jaya satria. Aku tadinya baik-baik saja. Tapi tubuhku terasa sakit. Aku pikir kau yang sedang terluka." Jadi diantara keduanya tidak ada yang terluka?. Lalu bagaimana bisa tubuh keduanya terasa sakit?.
"Ya Allah. Apa yang sedang terjadi pada diri kami?." Ia tidak mengerti mengapa ia bisa merasakan sakit?.
"Kalau begitu datanglah ke bilikku, mari kita cari tahu bersama penyebabnya." sang prabu menyarankan seperti itu. "Mungkin dengan begitu kita lebih baik mengatasinya daripada jarak jauh seperti ini."
"Sandika gusti prabu. Hamba akan segera ke sana." Setelah itu ia langsung menghilang dari sana, untuk menemui sang prabu yang sedang kesakitan sama seperti dirinya.
...***...
kembali ke Nini Kabut Bidadari.
Ia sedang menusuk boneka jerami itu sambil merapal mantramnya, hatinya sedang dipenuhi kemarahan, kebencian yang mendalam.
"Ini adalah balas dendam ku padamu yang telah membunuh kakang dharma seta. Dan akan buat kau mati dengan darah yang mengalir dari tubuhmu." Dendam yang melahirkan kebencian, dendam yang tidak akan pernah padam.
"Rasa sakit yang menusuk Sukma dan raga, boneka jerami pemindah rasa sakit. Rasakan sakit seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Kangan biarkan sakit itu menentramkan tubuhnya. Nerikan dia sakit yang membuat tubuhnya mati rasa."
Apakah yang terjadi?. Apakah Nini Kabut Bidadari melakukan sesuatu pada Jaya Satria?. Tapi kenapa sang prabu juga kena?.
Tak tak komen maka tak follow, tak like maka tak follow, tak kasih hadiah maka tak follow. Jadi rugilah menjadi pembaca gelap.
...***...
__ADS_1