
...***...
Jaya Satria saat ini masih berhadapan dengan Prabu Canggra Dharmantara. Pertarungan mereka benar-benar sangat sengit. Meskipun Jaya Satria atau Raden Cakara Casugraha telah menggoreskan lengan musuhnya, tapi sepertinya itu masih belum bisa membuat musuhnya kewalahan ataupun mundur.
Mereka terus menyerang satu sama lain, Jaya Satria terus menyerang Prabu Canggra Dharmantara dengan pedang pelebur sukma. Tapi sepertinya Prabu Canggra Dharmantara masih bisa menghadapi semua serangan yang diarahkan Jaya Satria padanya. Keduanya benar-benar mengerahkan tenaga dalam yang mereka miliki. Prabu Canggra Dharmanatara juga menggunakan pedang yang agak besar, namun masih bisa diimbangi oleh pedang pelebur Sukma.
"Hyah!." Keduanya melompat menghindari percikan api dari dampak jurus pedang yang mereka mainkan. Sungguh jurus yang sungguh sangat berbahaya, dan itu tidak bisa dianggap enteng.
"Sepertinya pedang pelebur sukma tidak ada apa-apanya. Hanya namanya saja yang terkenal, tapi ternyata yang menggunakannya juga sangat lemah!." Prabu Canggra Dharmantara memandang rendah pada Jaya Satria. "Kekuatan mu tidak seberapa, dengan kekuatan pedang pelebur sukma." Ucapannya itu sangat merendahkan Raden Cakara Casugraha.
"Heh!." Jaya Satria mendengus kecil. "Kau tidak usah berpura-pura sok kuat canggra dharmantara." Jaya Satria melihat hawa hitam Kegelapan yang dimiliki oleh Prabu Canggra Dharmantara perlahan-lahan disedot oleh pedang pelebur Sukma. "Kau pikir pedang ini hanya namanya saja?. Kau terlalu meremehkan kemampuan yang aku miliki." Jaya Satria mencoba untuk mengatur tenaga dalamnya agar lebih baik lagi.
"Kegh!." Ia meringis sakit, tenaga dalamnya seakan-akan berkurang secara perlahan-lahan.
"Pedang ini bukanlah pedang biasa." Jaya Satria mengamati bentuk pedang pelebur Sukma. "Pedang ini diciptakan dari seorang mpu yang sangat membenci seorang penguasa yang berhati busuk." Jaya Satria mengingat apa yang dikatakan oleh pemilik pedang itu. "Pedang ini akan menghisap tanpa ampun bagi siapa saja yang memiliki kegelapan yang sangat jahat di dalam tubuhnya." Kali ini matanya menatap tajam ke arah musuhnya. "Kau telah membunuh banyak nyawa yang tidak berdosa. Sehingga pedang ini terus berbunyi, dan ingin menghisap semua kekuatan kegelapan yang ada di dalam tubuhmu." Jaya Satria dapat merasakan gejolak dari pedang Pelebur Sukma. "Selain itu, Sukma naga kegelapan yang mendiami pedang ini juga ingin menelan mu sampai habis." Hawa Kegelapan dari Sukma Naga Kegelapan benar-benar menunjukkan dirinya. Hawa Kegelapan bentuk Naga raksasa hitam menguar dari tubuh Jaya Satria. Ini adalah pertama kalinya ia mengalami hal yang seperti ini. Meskipun sebelumnya ia menggunakan pedang Pelebur Sukma untuk menyegel Putri Gempita Bhadrika. Namun kekuatan kegelapan yang dipancarkan oleh Prabu Canggra Dharmantara lebih mengerikan. Bahkan tidak bisa ditampung lagi oleh tubuhnya yang tidak bisa menahan kegelapan dari kejahatan yang telah ia lakukan selama ini.
Kenapa itu bisa mengerikan?. Karena kebencian itu lahir dari ketakutan-ketakutan yang dirasakan oleh orang-orang yang telah tewas di tempat itu. Berbeda dengan Putri Gempita Bhadrika yang murni dari hatinya yang memang terlahir dari kegelapan. Sedangkan Prabu Canggra Dharmantara, kegelapan berasal dari dirinya yang penuh kedengkian dari orang-orang yang telah ia bunuh, sehingga mengutuk Raja yang sangat kejam itu.
Di sisi lain, Prabu Bumi Jaya dan Raden Bumi Putra telah berhasil memulihkan tenaga dalam mereka. Namun mereka menatap tidak percaya ke arah Jaya Satria yang sedang diselimuti hawa Kegelapan yang mengerikan.
__ADS_1
"Pilihan mu hanya mati." Mata Jaya Satria terlihat sangat tajam, memerah menyala. Suaranya juga terdengar berbeda dari yang sebelumnya. Membuat mereka merinding mendengarnya. "Terkena satu tusukan saja membuatmu tidak akan bisa bertahan lagi. Karena darahnya telah telah ditandai oleh pedang pelebur sukma." Jaya Satria siap siaga dengan pedangnya. "Kau harus membayar semua nyawa yang telah kau bunuh di tempat ini." Jaya Satria tidak dapat lagi menahan perasaan yang membuncah di dalam dirinya saat ini. Ia kembali menyerang Prabu Canggra Dharmantara dengan sangat cepat.
"Kegh!." Prabu Canggra Dharmantara sedikit meringis sakit, karena lengannya yang terkena sabetan pedang pelebur sukma berdenyut sangat keras. Hampir saja ia kehilangan keseimbangan saat menggunakan jurus pedangnya.
"Apa yang harus kita lakukan ayahanda prabu?." Raden Bumi Putra merinding, saat melihat bagaimana hawa hitam dan merah bercampur menjadi satu menyelimuti tubuh Jaya Satria pemuda yang mengenakan topeng. "Rasanya dia saja sudah cukup untuk mengalahkan raja kejam itu." Rasanya bantuan dari mereka tidak dibutuhkan lagi.
"Kau benar putraku. Sepertinya dia seorang putra mahkota yang sangat hebat sekali dalam mengolah ilmu kanuragan." Prabu Bumi Jaya juga merasa seperti itu. Matanya terus mengamati kemana saja Jaya Satria bergerak sambil terus menyerang Prabu Canggra Dharmantara yang terlihat kewalahan.
Sementara itu di istana Kerajaan Suka Damai.
Ratu Dewi Anindyaswari merasa sangat gelisah. Entah mengapa ia ingin melihat keadaan anaknya. Ia memutuskan untuk menemui anaknya di ruang pribadi raja.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh ibunda." Terdengar jawab salam dari dalam.
"Apakah ibunda boleh masuk nak?." Ratu Dewi Anindyaswari hanya ingin memastikan keadaan anaknya. Namun tidak ada jawaban dari anaknya. Agak cukup lama ia menunggu, tapi tidak ada tanggapan dari anaknya. Hingga ia memutuskan masuk ke dalam.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari sangat terkejut melihat anaknya yang sedang diselimuti kemarahan. Putranya yang sedang duduk bersila, memejamkan matanya. Akan tetapi tubuhnya saat ini sedang diselimuti hawa merah dan hitam.
"Apa yang terjadi padamu nak?. Kenapa nanda prabu seperti ini?." Hatinya sangat sedih melihat keadaan anaknya yang seperti ini. Rasanya ia tidak sampai hati melihat keadaan putranya saat ini.
__ADS_1
"Nanda prabu. Tenangkan dirimu nak." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk menenangkan putranya.
"Ibunda." Seakan mendengarkan suara ibundanya, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meneteskan air matanya sebagai ungkapan kesedihan yang ia rasakan saat ini. Serta kemarahan di saat yang bersamaan membuatnya tidak bisa mengimbangi dirinya.
"Katakan pada ibunda nak. Katakan pada ibunda apa yang membuat nanda marah nak?. Coba ceritakan pada ibunda." Hatinya juga merasa sedih. Ia mencoba untuk menghapus air mata anaknya dengan pelan, meskipun ia anaknya masih memejamkan matanya.
"Mereka semua terluka ibunda. Mereka semua merintih sakit, mereka semua ingin kembali tapi tidak bisa ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengatakan kepada ibundanya. Melalui mata Jaya Satria, ia melihat semua orang yang ada di sana menangis sedih, hingga gejolak yang ada di dalam tubuhnya semakin membara seperti ditiup api kesedihan dari orang-orang yang telah tiada di daerah itu.
"Oh putraku. Kau harus bisa menenangkan dirimu nak. Jangan terlalu hanyut dalam kesedihan yang kau lihat nak." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk anaknya yang masih memejamkan matanya. "Bacakan doa untuk mereka semua, jangan nanda turuti kesedihan yang mereka rasakan. Tapi nanda bacakan sholawat untuk mereka semua. Supaya mereka lebih tenang lagi." Ratu Dewi Anindyaswari hanya tidak ingin anaknya dimakan oleh api kemarahan yang merugikan diri sendiri.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria saat itu tersadar. Jaya Satria memainkan jurus cakar naga cakar petir. Sehingga Prabu Canggra Dharmantara benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali.
"Kegh!. Kurang ajar!. Dari mana dia mendapatkan kekuatan sebesar itu?." Prabu Canggra Dharmantara mengutuk Jaya Satria yang memiliki kemampuan diatasnya. Tubuhnya semakin sakit, ketika sengatan petir itu menusuk kulitnya.
"Nanda harus bisa mengendalikan diri nanda. Ibunda tidak mau nanda mengalami hal yang merugikan diri nanda nantinya." Suara Ratu Dewi Saraswati sampai ke telinga serta mata batin Raden Cakara Casugraha yang asli. Hingga ia menghentikan jurus yang ia mainkan.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Kembali keduanya mengucap kalimat itu. Keduanya mencoba untuk menenangkan diri mereka yang telah terbakar oleh api kemarahan. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...
__ADS_1