RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEPUTUSAN DAN KETETAPAN HATI


__ADS_3

...***...


Jaya Satria saat ini sedang berada di sebuah desa perbatasan Kerajaan Suka damai menuju kerajaan Utara Bunga. Di sana, saat Raden Cakara Casugraha dulu pernah bertarung dengan seorang pangeran dari kerajaan Utara Bunga yang memiliki kekuatan yang sangat aneh. Raden Cakara Casugraha mengingat kembali mimpi yang ia rasakan pada malam itu. "Jadi dia menginginkan aku kembali bertarung dengannya?. Apa yang ia inginkan sebenarnya?." Dalam hati Raden Cakara Casugraha merasa bingung.


Ingatan Raden Cakara Casugraha tentang mimpinya malam itu.


Raden Cakara Casugraha saat ini sedang berjalan di sebuah tempat. Tempat yang rasanya tidak asing baginya. Tempat yang mengingatkan dirinya akan terjadi sesuatu yang sudah sangat lama, dan hampir saja ia lupakan.


"Aku yakin kau masih tempat ini jaya satria." Suara seseorang menyapa telinganya. "Atau bisa aku panggil dengan sebutan, raden cakara casugraha. Oh yang kini bergelar gusti prabu asmalaraya arya ardhana?." Muncul sosok seorang pemuda yang terlihat sedang marah?.


"Apa yang kau inginkan?. Dengan memasuki alam mimpiku, apa yang kau ingin raden cakrawala dirja?." Raden Cakara Casugraha menatap tajam ke arahnya. "Kau pasti menginginkan sesuatu dariku, sehingga kau datang padaku melalui alam mimpi. Apa yang kau inginkan dariku?." Raden Cakara waspada, karena Raden Cakrawala Dirja adalah orang yang sangat licik.


Namun apa yang terjadi?. Raden Cakrawala Dirja malah tertawa keras mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha. "Aku suka raut wajahmu yang menyeramkan itu, mengingatkan aku pada kejadian waktu itu." Dalam tawanya ia mengatakan kata itu?. Apa yang akan ia lakukan untuk membuat Raden Cakara Casugraha terpancing amarahnya?.

__ADS_1


"Jika kau hanya bermain-main saja. Lebih baik kau keluar dari alam mimpiku. Karena aku tidak memiliki waktu untuk melakukan apa tang kau inginkan cakrawala dirja." Raden Cakara Casugraha mengeluarkan pedang pelebur sukma. "Masih banyak pekerjaan penting yang harus aku lakukan, dan kau jangan membuang-buang waktuku." Raden Cakara Casugraha mengayunkan pedang Pelebur Sukma beberapa kali.


Raden Cakrawala Dirja kali ini berekspresi lebih serius dari yang sebelumnya. "Itulah yang aku benci darimu cakara casugraha. Kau adalah orang yang sangat sombong. Aku akan membunuhmu saat pertemuan kita dimana tempat pertama kali kita bertemu, atau aku akan menghampiri dirimu. Dan akan aku tunjukkan pada mereka semua. Bagaimana kau yang sebenarnya pada saat itu cakara casugraha." Setelah ia berkata seperti itu, tiba-tiba saja keluar akar yang membelit tubuhnya. Akar tersebut membelit tubuhnya dengan sangat kuat. Setelah itu akar itu malah menarik kuat tangan dan kaki Raden Cakara Casugraha, hingga berteriak kesakitan.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apa yang harus hamba lakukan?." Raden Cakara Casugraha sedikit khawatir. Namun pedang Sukma masih ia genggam kuat. "Gusti prabu. Biarkan hamba memakan sedikit kegelapan yang ada di dalam tubuh gusti prabu. Supaya gusti prabu bisa terbangun dari mimpi ini." Sukma Naga kegelapan ingin membebaskan Raden Cakara Casugraha dari tempat itu.


"Baiklah. Kalau begitu lakukan dengan baik sukma naga kegelapan." Raden Cakara Casugraha sudah tidak tahan lagi.


"Sandika gusti prabu." Pedang Pelebur Sukma menyerap hawa kegelapan yang ada di dalam tubuh Raden Cakara Casugraha. Tidak, Pedang pelebur Sukma tidak melakukan itu, namun ia hanya menggores lengan Raden Cakara Casugraha. Sehingga Raden Cakara Casugraha terbangun dari tidurnya.


...***...


Putri Andhini Andita telah meninggalkan kerajaan Restu Agung. Ia masih mau melanjutkan perjalanannya. Perjalanan ke mana ia akan melangkah, menuju tempat yang ingin ia kunjungi.

__ADS_1


"Aku tidak percaya. Jika aku mengatakan untuk menemuiku di kerajaan suka damai." Dalam langkahnya yang masih panjang, ia memikirkan apa yang telah ia katakan pada Raden Raksa Wardhana sebelumnya. "Tapi setidaknya aku memiliki sebelas purnama untuk berjalan-jalan, atau aku malah kembali sebelum sebelum sebelas purnama berjalan." Dalam hatinya merasakan perasaan yang berbeda. "Apakah aku sangat mudah untuk jatuh cinta?. Sehingga hanya perasaan terkesan saja aku langsung mudah jatuh hati pada seseorang?." Ia tersenyum kecil membayangkan dirinya dan perasaan yang membuatnya menjadi orang yang tidak bisa mengendalikan dirinya tentang perasaan yang ia tahan selama ini.


"Kau harusnya menyadarinya andhini andita. Bahwa perasaan kagum sesaat. Dan kau merasakan kepahitan itu bukan?." Sukma Dewi Suarabumi bahkan ambil andil dalam kegalauan yang ia rasakan.


"Apakah hanya karena perasaan cinta. Seorang wanita melakukan hal yang memalukan seperti aku?." Putri Andhini Andita mencoba untuk menenangkan dirinya dengan banyak berzikir kepada Allah. Mengingat Allah SWT sebanyak-banyaknya. "Hanya pada-Mi lah hamba meminta pertolongan, dan berikan hamba kekuatan iman serta kekuatan hati untuk bertahan dalam kondisi seperti ini ya Allah. Karena tidak ada kekuatan di dunia ini yang bisa memberikan kebahagiaan di dalam diri hamba selain Engkau ya Rabb." Putri Andhini Andita mencoba untuk merelakan semuanya, jika memang ini adalah jalan yang terbaik untuknya. Apa yang akan ia lakukan setelah ini?. Hanya waktu yang akan menjawab semua ini.


...***...


Sementara itu, disisi lainnya. Raden Jatiya Dewa yang sedang berada di halaman belakang istana yang saat ini menyaksikan latihan Raden Rajaswa Pranawa dan Putri Agniasari Ariani. Katanya untuk latihan fisik, sebagai raja dan ratu baru di sebuah kerajaan baru nantinya. Dimana Raden Rajaswa Pranawa yang akan menggantikan ayahandanya menjadi raja baru. Itu juga alasan yang membuat Raden Rajaswa Pranawa masih berada di istana Kerajaan Suka Damai. Berlatih bersama ratu yang akan mendampinginya nantinya. Latihan yang tentunya membutuhkan waktu yang agak lama, sehingga keduanya sanggup melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang raja dan ratu di sebuah kerajaan. Apakah mereka mampu melakukannya?.


"Gerakan mereka sangat hebat sekali. Benar-benar pasangan yang sangat sempurna. Rasanya aku sangat iri dengan mereka semua." Dalam hati Raden Jatiya Dewa hanya merasakan perasaan gelisah. "Sebenarnya apa ya?. Yang membuat Putri andhini andita melakukan pengembaraan?. Apakah ia tidak betah berada di istana ini?. Dalam hatinya bertanya-tanya. Karena ia tidak pernah mendengar, ataupun melihat seorang putri Raja melakukan perjalanan. Apalagi melakukan perjalanan sendirian.


"Tapi tunggu." Raden Jatiya Dewa memikirkan kembali. "Yunda juga tidak melakukan itu, tapi kenapa putri andhini andita melakukannya?." Kepalanya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang sangat ingin ia ketahui jawabannya. "Atau aku juga melakukan pengembaraan untuk mencari keberadaan putri andhini andita?." Tiba-tiba saja pikiran lainnya memunculkan ide itu. "Tapi tunggu dulu." Pikirannya yang lainnya sedang bertarung melawan perasaan dirinya yang sedang galau. "Jika kau pergi dari sini, maka pelajaran yang kau dapatkan selama ini akan sia-sia jatiya dewa. Jadi jangan salah dalam memilih hanya karena perasaan cinta yang kau rasakan saat ini jatiya dewa. Kau hanya akan mempermalukan dirimu saja nantinya." Sepertinya Raden Jatiya Dewa sedang berperang dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Mereka semua sedang berperang dengan diri masing-masing. Jalan mana yang akan mereka tempuh?. Hanya mereka yang mampu menjawab semua ini. Apakah yang akan selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2