RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEADAAN KERAJAAN MEKAR JAYA


__ADS_3

...***...


Di Kerajaan Mekar Jaya.


"Hamba menghadap gusti prabu."


"Selamat datang paman rangga palapati."


Prabu Ganendra Garjitha mempersilahkan patih yang ia angkat menjadi orang kepercayaannya. Ia juga melihat enam orang pendekar hebat yang ikut dalam pertemuan itu.


"Sepertinya paman membawa kabar baik Katakan apa yang hendak paman sampaikan."


"Benar nanda prabu, paman membawa pendekar hebat yang akan melawan orang bertopeng itu."


"Hormat kami gusti prabu."


"Aku terima hormat kalian." Jawabnya.


"Kalau boleh aku tahu? Kemampuan apa yang kalian miliki sehingga paman Patih memilih kalian untuk bergabung denganku?."


"Mohon ampun gusti prabu, hamba tujuh suara."


"Nama hamba senjata kabung."


"Hamba bernama gempur bedati."


"Hamba rengkah merapi."


"Hamba meduri sepi."


"Hamba sembur hawa."


"Salam sejahtera untuk gusti prabu."


Mereka memperkenalkan nama mereka masing-masing.


"Jika masalah kekuatan, gusti prabu tidak perlu meragukan kemampuan kami."


"Benar Gusti Prabu, kami bukanlah pendekar kemarin sore yang terseok-seok dalam mengunakan ilmu kanuragan serta ilmu kadigdayaan yang kami miliki."


"Kami memiliki pengalaman-pengalaman bertarung yang lebih banyak dibandingkan musuh yang akan Gusti Prabu hadapi."


"Kami tidak akan mengecewakan Gusti Prabu, karena kami telah lama malang melintang lalang buana, bertarung dengan berbagai pendekar di jagat raya ini."


"Gusti prabu tenang saja, kami akan melakukan permintaan gusti prabu dengan hasil yang memuaskan."


"Terima kasih kalian mau bergabung denganku, itulah sangat aku harapkan." Ia mendengar dengan jelas bagaimana mulut mereka berkata padanya. Entah itu hanyalah sebuah perkataan agar dirinya merasa puas dan mempercayai apa yang mereka ucapkan.


"Kerja bagus, paman rangga palapati."


"Suatu kehormatan bagi hamba bisa membantu gusti prabu."


"Raka prabu? Setelah ini kita akan membicarakan rencana yang telah kita bicarakan sebelumnya, aku yakin mereka cepat mengerti dengan rencana besar yang telah raka buat bersama ibunda ratu."


"Ya! Kau benar rayi! Untuk para pendekar? Aku mohon kalian bisa mengikuti apa yang telah aku rencanakan, serta aku minta saran dari kalian sebagai orang sudah berpengalaman."


"Sandika Gusti Prabu."


Prabu Ganendra Garjitha merasa puas dengan apa yang ia dapatkan. Dengan begitu rencananya akan sempurna dalam merebut Kerajaan Suka damai yang ia anggap ia yang berhak menduduki tahta itu.


Kapan ia akan menyerbu istana Kerajaan Suka Damai?. Temukan jawabannya.


...***...


Di Desa Gamang Kuasa.


Tiba-tiba saja penduduk kota raja Mekar Jaya datang beramai-ramai melewati desa Gamang Kuasa. Tentunya menjadi tanda tanya besar bagi mereka. Terutama Syekh Asmawan Mulia, Raden Harjita Jatiadi, dan Putri Cahya Candrakanti.


"Maaf syekh guru! Tadi saat kami berada di kebun? Kami melihat rombongan mereka memasuki desa ini."


"Apa yang terjadi di istana mekar jaya? Mengapa kalian meninggalkan kota raja?." Tanya syekh Asmawan Mulia. Karena rumah musyawarahnya lumayan dipenuhi oleh sekitar dua puluh orang anak-anak. Diantaranya wanita, pemuda, serta orangtua lanjut usia.


"Kami sudah tidak tahan lagi dengan tindakan orang yang mengaku menjadi raja kami tuan, dia sangat kejam, tidak berperikemanusiaan."


"Benar tuan, Raja baru itu menyiksa kami."


"Astaghfirullah hal'azim, lalu bagaimana dengan prabu rahwana bimantara?."


"Kami tidak tau tuan, kami tidak tahu gusti prabu rahwana bimantara berada tuan."


"Maaf syekh? Menurut kabar yang kami dapatkan dari surat yang diberikan prabu asmalaraya arya ardhana, Prabu rahwana bimantara saat ini sedang dirawat di istana kerajaan suka damai karena sakit."


"Benar syekh, karena itulah kami dipercayai gusti prabu asmalaraya arya ardhana untuk menyelesaikan masalah di desa ini, tapi kami tidak menyangka istana kerajaan mekar jaya saat ini kosong."


"Benarkah Gusti Prabu rahwana bimantara ada di kerajaan suka damai?."


Mereka bertanya karena penasaran.


"Benar saudaraku, ayahanda Prabu guntur herdian yang mengatakan dalam surat yang disampaikan oleh Prabu asmalaraya arya ardhana."


Mereka semua bersyukur mendengar kabar itu.


"Kalau begitu kami semua akan ke sana melihat keadaan gusti prabu rahwana bimantara? Meminta agar kembali ke istana, mengusir orang yang bernama ganendra garjitha dari istana."


"Ganendra garjitha?." Dalam hati syekh Asmawan Mulia merasa tidak asing dengan nama itu.


"Mohon maaf saudaraku semuanya? Saya ini adalah abdi dari prabu asmalaraya arya ardhana, saya akan kembali ke istana malam ini juga, karena hari hampir malam? Kiranya saya akan meminta izin pada ki lurah sini untuk menampung kalian sementara waktu."


"Tapi-."

__ADS_1


"Saya akan ke istana menyampaikan hal penting ini pada prabu rahwana bimantara jika memang beliau berada di istana kerajaan suka damai, rasanya tidak enak jika berombongan menuju istana, takutnya rakyat di sana menduga saya membawa pasukan untuk membuat keributan, untuk saat ini kalian akan aman berada di desa ini."


"Benar yang dikatakan syekh asmawan mulia, kita jangan sampai membuat kegaduhan di wilayah orang lain."


"Kita memang membutuhkan perlindungan, namun keselamatan juga sangat penting."


Mereka semua mengerti apa yang dikatakan oleh syekh Asmawan Mulia. Mereka menyerahkan masalah ini padanya. Mereka semua berharap semuanya bisa diselesaikan dengan baik.


"Bagaimana jika kami yang ikut bersama syekh?."


"Kami hanya ingin bertemu dengan prabu asmalaraya arya ardhana, serta prabu rahwana bimantara, membicarakan masalah yang terjadi di desa ini."


"Baiklah, malam ini kita segera berangkat agar cepat sampai, karena perjalanan ke sana membutuhkan waktu yang lama."


"Terima kasih karena telah mengizinkan kamu ikut syekh."


Alasan kepergian mereka karena ingin bertemu dengan dua raja besar itu, dan menyelesaikan masalah bersama.


...**...


Sementara itu.


Di Kerajaan Suka Damai, di ruang utama istana.


"Saya harap yunda mengerti dengan rencana ini, karena saya tidak ingin yunda dicurigai terlalu lama berada di istana ini, saya tidak mau raka ganendra garjitha berpikiran bahwa saya menahan yunda di sini."


"Saya mengerti yang rayi prabu katakan, saya akan kembali ke istana mekar jaya secepatnya."


"Tapi bawa juga mahkota palsu ini? Agar mereka percaya jika yunda berhasil mengambil mahkota ini."


Putri Ambarsari mengambil mahkota itu.


"Yunda tenang saja, itu hanyalah mahkota biasa, tidak ada kutukan atau marabahaya yang akan terjadi jika raka ganendra garjitha menggunakan mahkota itu, saya tidak mungkin mencelakai saudara saya sendiri."


"Baiklah rayi prabu, saya akan melakukan apa yang rayi prabu perintahkan pada saya."


"Untuk saat ini, kakek prabu tetaplah berada di sini, kita lihat situasi serta reaksi dari raka ganendra garjitha, setelah itu baru kita akan bertindak."


"Baiklah nanda Prabu, terima kasih atas apa yang nanda prabu lakukan untukku, juga cucuku."


"Nanda hanya bisa membantu apa yang bisa ananda lakukan, kakek prabu."


Tapi?.


"Hamba menghadap gusti prabu."


"Selamat datang kembali senopati mandaka sakuta? Apa yang membuat senopati kembali dari tugas?."


"Mohon ampun gusti prabu, kedatangan hamba ke sini karena hamba melihat rombongan orang yang berasal dari kota raja kerajaan mekar jaya."


Mereka semua terkejut mendengar ucapan itu.


"Mohon ampun Gusti Prabu rahwana bimantara? Menurut keterangan yang hamba dapatkan?." Senopati Mandaka sakuta menyampaikan apa yang terjadi. "Mereka meninggalkan kota raja karena tidak tahan dengan perlakuan kasar prabu ganendra garjitha." hatinya sangat sedih dengan keadaan mereka.


"Apa?!." Tentu saja Prabu Rahwana Bimantara sangat terkejut.


"Apakah mereka tidak salah dalam berbicara, senopati?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memastikan itu dengan benar.


"Mohon ampun Gusti Prabu? Saat ini mereka berada di desa damai rukun, hamba menyuruh mereka beristirahat di sana." Jawabnya. "Karena kondisi mereka ada yang terluka, apalagi mereka pergi diam-diam dari istana, karena takut ketahuan oleh prajurit istana yang akan melaporkan kepergian mereka."


"Sungguh keterlaluan sekali mereka terhadap rakyatku." Hatinya sangat sedih. "Nanda prabu, aku akan pergi bersama putri ambarsari akan aku hajar mereka semua."


"Tenanglah kakek prabu, bukan maksud ananda untuk mencegah kakek prabu kembali ke sana? Nanda hanya takut mereka kembali mencelakai kakek prabu."


"Benar yang dikatakan rayi prabu, saya juga tidak mau kakek prabu terluka lagi."


Mereka semua terdiam sesaat, sambil memikirkan cara apa yang akan mereka gunakan untuk melakukan ide yang baik untuk mengatasi masalah.


"Mohon ampun gusti prabu? Bolehkah hamba menyampaikan sebuah pendapat?."


"Apa yang yang ingin nyai sampaikan, katakan pada kami semua."


"Begini Gusti Prabu? Kita akan mengiringi kepergian putri ambarsari dari kejauhan, namun sebelum itu?." Nyai Bestari Dhatu memberikan pendapatnya. "Putri ambarsari haruslah mengirim surat pada mereka, mengatakan bahwa putri ambarsari akan kembali dengan membawa mahkota itu, namun agak terlambat karena ikut berkabung." Lanjutnya. "Maaf, atas meninggalnya Gusti Prabu rahwana bimantara."


Mereka semua nampak berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Nyai Bestari Dhatu?.


"Apakah maksudnya mengulur waktu supaya kita bisa menyusun rencana agar bisa menyerang balik mereka?."


"Tebakan Gusti Putri andhini andita benar."


"Sepertinya itu pendapat yang bagus, rayi prabu, saya akan ikut dalam sandiwara itu." Putri Ambarsari setuju dengan ide itu.


"Bagaimana pendapat kakek prabu?."


"Itu ide yang bagus nanda prabu, aku setuju."


"Baiklah, jika memang kakek prabu setuju? Saya akan mengutus nyai bestari dhatu, raka hadyan hastanta akan mengiringi kepergian yunda ambarsari."


"Kami juga akan pergi rayi prabu!."


"Ya! Kami juga akan pergi ke sana!."


Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani tiba-tiba saja datang.


"Saya sudah berjanji akan menghukum raka ganendra garjitha dengan tangan ini."


"Saya juga ingin memotong tangannya yang telah berani menikam adik saya." Aura kemarahan tergambar jelas di sana.


"Tapi yunda? Kepergian raka hadyan hastanta dan nyai bestari dhatu hanya untuk menghentikan mereka agar tidak sewenang-wenang pada rakyat."

__ADS_1


"Percayalah rayi! Mereka itu sangat licik! Aku yakin mereka telah menyiapkan pasukan di perbatasan! Akan berbahaya jika hanya raka hadyan hastanta, dan nyai bestari dhatu, hanya pergi berdua saja."


"Benar rayi! Kita tidak boleh lengah dalam keadaan apapun! Termasuk dengan kelicikan mereka melakukan apapun demi mendapatkan apa yang mereka inginkan."


"Mohon ampun gusti prabu? Pendapat yang disampaikan putri andhini andita, putri agniasari ariani ada benarnya juga, kita juga harus waspada untuk itu."


"Baiklah kalau begitu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya pasrah saja. "Saya setuju, tapi saya harap yunda berdua mampu mengendalikan diri, karena kita harus tetap menjaga tali persaudaraan kita sebagai anak dari ayahanda Prabu kawiswara arya ragnala."


"Sandika rayi Prabu, akan kami ingat apa yang rayi prabu katakan."


Begitulah rencana mereka. Apakah mereka akan berhasil melakukan sesuai dengan rencana?. Temukan jawabannya.


...**...


Di istana Mekar Jaya. Di wisma prajurit.


Mereka sedang berbincang-bincang mengenai ketidaksukaan mereka pada raja baru itu yang dengan kejam memberikan pelatihan pada mereka. Tidak segan-segan raja baru itu membunuh siapa saja yang berani membangkang perintah.


"Sepertinya kita memang dijadikan budak penjaga? Kita tidak memiliki hati nurani lagi selain menyakiti rakyat yang kita jaga sepenuh hati seperti sebelumnya."


"Benar! Tidak ada rasa kemanusiaan sedikitpun kepada kita selain latihan yang rasanya ingin membunuh kita secara perlahan."


"Lalu apa yang akan kita lakukan?."


"Kita ini hanyalah prajurit biasa."


"Tidak! Kita tidak boleh menyerah begitu saja!."


Salah satu prajurit yang sedang berbaring di atas dipan sambil menatap langit-langit bilik.


"Apa maksudmu?."


"Meskipun kita ini prajurit bawahan? Namun banyak hal yang masih bisa kita lakukan! Kita tidak boleh menyerah begitu saja!."


"Misalnya?."


"Ini!." Ia bergeser posisi tidurnya, menghadap ke arah teman-temannya yang sedang duduk. Ia menunjuk kepalanya,


"Ini apa?."


"Pikiran? Otak? Untuk berpikir tentang apa yang seharusnya kita lakukan selanjutnya." Ia bangkit dari tidurnya duduk ikut bergabung dengan mereka. "Kata pepatah? berakit-rakit ke hulu, berenang ketepian, bersakit-sakitlah dahulu, senang kemudian."


"Ya, kamu benar! Tapi bagaimana caranya kita melakukan kata pepatah itu?."


"Ya! Bagaimana caranya?."


"Caranya kita ikuti terus latihan yang mereka berikan pada kita, saat perang terjadi? Kita akan berbalik arah menyerang mereka!."


"Ide yang sangat bagus! Sangat cemerlang!."


"Kalau itu aku setuju!."


Setelah melakukan perundingan, mereka kembali tidur di tempat masing-masing. Agar tidak dicurigai oleh prajurit lainnya.


...***...


Kembali ke istana Suka Damai. Di taman istana


Seperti biasanya, walaupun telah mengetahui identitas kaya Satria? Putri Andhini Andita masih menemuinya di sana.


"Aku kira kau tidak akan datang lagi, jaya satria." Ia duduk mendekati jaya satria di tempat biasa.


"Hamba hanya ingin memastikan bahwa kepergian gusti putri bukan untuk balas dendam." Ia menatap langit malam.


"Apakah aku tidak boleh balas dendam? Rasa sakit hatiku ketika aku menyaksikan adikku ditikam di depan mataku?."


Jaya satria terdiam. Ia masih ingat kejadian itu, hingga tanpa sadar ia menyentuh bahunya yang terasa berdenyut karena bekas tikaman itu.


"Aku yakin, bahkan kau dapat merasakan rasa sakit yang dialami rayi prabu saat itu, bukan?."


"Tapi hamba juga merasakan, jika gusti prabu tidak ingin yundanya melakukan kejahatan, Gusti Prabu tidak ingin tangan yundanya dilumuri darah."


"Rayi prabu memang baik, sangat baik! Aku akan selalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh rayi prabu."


"Alhamdulillah hirobbil 'alamin jika memang begitu." Jaya Satria merasa senang mendengar itu.


"Tapi aku ingin satu syarat darimu."


"Apa yang gusti putri harapkan dari hamba? Kenapa pada hamba gusti prabu meminta?."


Putri Andhini Andita tersenyum lembut sambil menatap bulan yang terlihat bersembunyi di balik awan malam. "Apakah aku tidak boleh meminta padamu?."


"Tentu saja, apa yang gusti putri minta dari hamba?." Rasanya ia tidak bisa menolaknya.


"Aku hanya ingin kau mengajariku tentang agama islam setelah masalah di kerajaan mekar jaya selesai."


"Apakah tuan putri sudah mantap memutuskan untuk masuk islam?."


"Apakah kau masih tidak yakin denganku, jaya satria?."


"Tentu saja hamba percaya, Gusti putri bisa mempelajarinya dengan baik."


"Terima kasih karena kau selalu baik padaku, jaya satria."


"Sama-sama gusti putri."


Apakah benar jika Putri Andhini Andita ingin masuk islam?. Apakah hatinya sudah mantap ingin satu arah dengan Jaya Satria?. Simak terus ceritanya.


...**...

__ADS_1


__ADS_2