RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KUNJUNGAN PRABU GUNTUR HERDIAN


__ADS_3

...***...


Singkatnya.


Di Istana Kerajaan Suka Damai. Seperti yang dikatakan oleh Putri Agniasari Ariani, bahwa Prabu Guntur Herdian akan datang kembali ke Istana ini.


Syekh Asmawan Mulia dan Perapian Suramuara menyambut kedatangan mereka di gerbang Istana.


"Selamat datang gusti prabu guntur herdian beserta rombongan."


"Terima kasih atas sambutannya."


"Senang bertemu kembali syekh."


"Alhamdulillah hirobbil'alamin. Sepertinya gusti putri serta raden sehat-sehat saja."


"Alhamdulillah hirobbil'alamin syekh, kami baik-baik saja." Jawab Putri Cahya Candrakanti dan Raden Harjita Jatiadi.


"Apakah kalian saling mengenal?."


"Ayahanda prabu. Beliau adalah syekh asmawan mulia. Beliau adalah guru dari gusti prabu asmalaraya arya ardhana. Beliau yang membantu nanda berdua untuk menyelesaikan masalah di desa gamang kuasa waktu itu ayahanda."


"Benar sekali ayahanda. Tanpa bantuan beliau, mungkin kami tidak akan bisa menyelesaikan masalah di sana ayahanda."


"Jadi begitu?. Terima kasih saya ucapkan syekh."


"Sama-sama gusti prabu." Syekh Asmawan Mulia hanya tersenyum kecil. "Bagaimana kita lanjutkan berbincang-bincangnya di dalam saja gusti prabu. Tidak enak sambil berdiri seperti ini. Mari gusti prabu." Syekh Asmawan Mulia mempersilahkan Prabu Guntur Herdian untuk masuk ke dalam istana.


"Terima kasih syekh."


Setelah itu mereka semua masuk ke dalam Istana, mereka menuju ruang tamu kehormatan raja. Di sana keluarga Istana Kerajaan telah menunggu mereka.


"Selamat datang gusti prabu, beserta keluarga." Sambut mereka dengan senyuman ramah.


"Terima kasih gusti ratu, nimas, juga yang lainnya." Prabu Guntur Herdian sangat senang mendapatkan sambutan yang ramah seperti itu.

__ADS_1


"Silahkan duduk gusti prabu." Syekh Asmawan Mulia mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Terima kasih syekh."


Mereka duduk di tempat yang telah disediakan. Mereka memperhatikan siapa saja keluarga Istana yang hadir pada hari ini. Namun mereka tidak melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana diantara mereka. Mungkin sang Prabu ada urusan yang belum selesai, sehingga belum terlihat di ruangan ini.


"Jaya satria. Ternyata dia ada di sini juga." Dalam hati Putri Cahya Candrakanti merasa senang melihat Jaya Satria yang sedang duduk diantara Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati.


"Pasti lelah melakukan perjalanan yang jauh. Semoga kerasan berada di istana ini gusti prabu. Maaf, jika kami tidak bisa menyambut kedatangan gusti prabu dengan meriah."


"Tidak apa-apa rayi dewi. Justru saya berterima kasih atas sambutannya rayi dewi." Prabu Guntur Herdian tersenyum kecil. "Rasanya sudah lama tidak bertemu, saya tidak menyangka jika putra rayi dewi menjadi raja di istana ini."


"Semua karena Allah SWT, raka prabu. Alhamdulillah hirobbil'alamin akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke dalam agama yang baik."


"Rayi dewi saling kenal dengan gusti prabu guntur herdian?." Ratu Gendhis Cendrawati sedikit heran dengan kedekatan mereka.


"Dulu saat sebelum dilamar kanda prabu. Aku pernah bertemu dengan raka prabu. Saat itu aku hampir saja dijodohkan dengan raka prabu, ketika mendiang ayahanda prabu masih hidup. Namun karena perbedaan agama, kami akhirnya berpisah."


Mereka semua tidak menyangka akan mendengarkan kisah asmara yang mengejutkan tentang Ratu Dewi Anindyaswari dengan Prabu Guntur Herdian.


"Dijodohkan?." Spontan putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani mengulangi kata itu secara bersamaan.


"Benar. Dinda baru mengetahui cerita itu kanda prabu." Sebagai istrinya, Ratu Cahya Bhanurasmi juga terkejut mendengarkan itu.


"Maafkan kanda yang tidak bisa menceritakan masa lalu itu pada dinda." Karena menurutnya itu hanyalah masa lalu, jadi tidak perlu diingatkan. Toh mereka telah menjalani kehidupan masing-masing dan tidak akan bisa hidup bersama.


"Itu sungguh mengejutkan sekali. Aku tidak menyangka jika rayi dewi memiliki cerita langka seperti itu." Bahkan Ratu Gendhis Cendrawati pun merasa tercengang dengan kedekatan mereka.


"Jadi ibunda hampir saja dijodohkan oleh kakek prabu, tapi tidak jadi karena perbedaan agama?. Oh itu cerita yang lumayan lucu." Dalam hati hati Jaya Satria. Tanpa sadar ia tertawa kecil, hingga menjadi pusat perhatian.


"Ah maafkan saya. Bukan maksud saya untuk bersikap tidak sopan. Hanya saja saya pernah mendengar cerita itu dari mendiang gusti prabu kawiswara arya ragnala." Ia sungguh minta maaf kepada mereka karena tiba-tiba tertawa.


Mereka hanya senyum maklum, karena ada yang beranggapan itu hanyalah cerita dari atasan kepada bawahan yang mengajarinya tentang asmara antara wanita dan pria.


"Maaf rayi dewi. Dimana nanda prabu?. Apakah ada hal penting yang dilakukan oleh nanda prabu, sehingga nanda prabu tidak ada di sini?."

__ADS_1


Keluarga Bahuwirya saling bertatapan satu sama lain. Ternyata benar, tujuan Prabu Guntur Herdian memang menemui Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.


"Maaf raka prabu. Apakah raka prabu memang ingin bertemu dengan nanda prabu?."


"Benar rayi dewi. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada nanda prabu. Saya ingin berbicara empat mata dengan nanda prabu."


Jadi Prabu Guntur Herdian ingin berbicara empat mata dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Baiklah, kalau begitu ini bisa diatur. Ya, setidaknya itu dalam pikiran masing-masing.


"Baiklah kalau begitu. Nanda jaya satria, antarkan raka prabu menemui nanda prabu di ruang pribadi raja."


"Sandika gusti ratu." Jaya Satria memberi hormat pada Ratu Dewi Anindyaswari. Setelah itu ia bangkit dari duduknya. Mendekati Prabu Guntur Herdian.


"Mari gusti prabu. Kita menuju ruang pribadi raja."


"Apakah nanda prabu berada di sana?."


"Betul gusti prabu. Maaf jika gusti prabu asmalaraya arya ardhana tidak menyambut kedatangan gusti prabu guntur herdian di sini."


"Oh baiklah kalau begitu." Ya, memang ia ingin berbicara empat mata dengan


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Apakah nanda prabu mengetahui jika saya ingin berbicara hanya berdua dengannya?." Dalam hatinya merasa sedikit ada yang aneh.


"Dinda. Kanada akan menemui nanda prabu. Dinda, juga nanda tetaplah di sini."


"Baiklah kanda. Katakan pada nanda prabu apa yang ingin kanda prabu katakan."


"Kami akan tetap menunggu ayahanda prabu."


"Tentu saja kami akan menunggu ayahanda prabu."


Ratu Cahya Bhanurasmi, Putri Cahya Candrakanti, dan Raden Harjita Jatiadi mengerti apa yang dikatakan oleh Prabu Guntur Herdian. Mereka akan menunggu dengan sabar.


"Sebenarnya apa yang ingin ia sampaikan pada rayi prabu?. Sepenting apa, berita yang ia bawa, sehingga ia hanya ingin berbicara berdua saja dengan rayi prabu?." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa gelisah dengan keinginan Prabu Guntur Herdian.


"Sepertinya yunda mulai bergejolak, semoga saja yunda tidak melakukan hal yang mengejutkan." Dalam hati Putri Agniasari Ariani merasakan hawa kakaknya mulai berubah, apalagi ketika matanya melihat kepergian Prabu Guntur Herdian bersama Jaya Satria.

__ADS_1


Apa yang hendak disampaikan oleh Prabu Guntur Herdian pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Sehingga hanya ingin berbicara secara pribadi dengan Raja muda tersebut?. Apakah akan ada hal yang mengejutkan?. Tapi setidaknya rencana mereka berhasil untuk mengatakan jika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana telah menunggu di ruang pribadi Raja. Setidaknya di sana Jaya Satria bisa membuka topengnya, karena ia hanya memperlihatkan wajahnya dihadapan prabu Guntur Herdian saja. Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta. (coba tebak apa yang akan mereka bicarakan. jika benar akan mendapatkan hadiah loh 😁)


...***...


__ADS_2