RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
AYAH DAN ANAK


__ADS_3

.........


Prabu Kawiswara Arya Ragnala menatap langit malam. Ia masih terbangun, dan saat ini ia berada di Pandopo halaman Istana. Ia sendiri merasakan adanya perubahan di dalam keluarga Istana.


"Putraku cakara casugraha memang masih kecil. Namun sepertinya, ia sangat memperhatikan dinda dewi. Bahkan ia mengancamku yang merupakan ayahandanya." Dalam hatinya merasakan kegelisahan yang luar biasa. Ia ingat dengan percakapannya dengan anaknya itu.


Kembali ke masa itu.


Di ruang pribadi Raja. Raden Cakara Casugraha bersama ayahandanya.


"Katakan pada ayahanda. Mengapa nanda melakukan itu semua?. Pasti ada alasannya, mengapa nanda sampai menggunakan kekuatan fisik pada mereka semua." Prabu Kawiswara Arya Ragnala ingin mengetahui kebenarannya.


"Apakah ayahanda akan marah, jika nanda mengatakan hal yang berlawanan dengan mereka?." Raden Cakara Casugraha balik bertanya pada ayahandanya.


"Apa maksudmu putraku?. Jelaskan saja, ayahanda akan mempertimbangkannya dengan baik." Sang Prabu tahu. Anaknya ini sangat pintar. Berbeda pandangannya dengan anak-anaknya yang lainnya.


"Baiklah ayahanda. Nanda akan mengatakan semuanya. Nanda harap ayahanda akan memahaminya." Raden Cakara Casugraha mengangguk mengerti. Ia menghela nafasnya pelan. "Nanda heran dan bertanya-tanya ayahanda." Ucapnya dengan pelan. Sambil menerawang jauh, seakan sedang menerawang jauh.


"Sebelumnya tidak ada permusuhan diantara kami. Tapi mengapa akhir-akhir ini, mereka sangat jelas berusaha menyalahkan kami ayahanda." Ucapnya dengan nada penuh kekecewaan.


"Tanpa perasaan, yunda andhini andita juga yunda ambarsari malah memusuhi yunda agniasari ariani." Lanjutnya dengan raut wajahnya yang terlihat aneh.


"Dan yang paling tidak bisa ananda terima adalah. Mereka mengatakan, jika ibunda adalah seorang selir. Wanita simpanan ayahanda. Wanita yang telah berani menggoda seorang raja." Raden Cakara Casugraha hampir saja meneteskan air matanya saat ia mengatakan pada ayahandanya. "Nanda sungguh tidak terima, jika mereka berani menghina ibunda. Jelas-jelas ibunda adalah wanita yang sangat baik." Raut wajahnya Raden Cakara Casugraha terlihat sedih.


"Jangan salahkan ananda, jika suatu hari nanti ananda benar-benar menghajar mereka. Karena sikap kurang ajar mereka, bisa jadi bahan gunjingan dikalangan rakyat. Nanda tidak akan membiarkan, siapapun membuat ibunda menangis. Nanda tidak akan pernah memaafkan siapapun yang berani melukai hati ibunda. Termasuk ayahanda, nanda tidak akan memaafkan ayahanda. Jika ayahanda berani membuat ibunda menangis."


Kembali ke masa ini.


"Salam ayahanda prabu." Raden Cakara Casugraha memberi hormat pada Ayahandanya, ternyata belum juga tidur. "Bolehkah, nanda duduk bersama ayahanda." Dengan sedikit takut ia bertanya pada Ayahandanya.


"Duduklah nak. Temani ayahanda duduk di sini." Prabu Kawiswara Arya Ragnala senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh putranya.

__ADS_1


"Terima kasih ayahanda." Raden Cakara Casugraha duduk di depan Ayahandanya. "Maafkan nanda, jika ucapan nanda membuat ayahanda bersedih. Sungguh, nanda tidak bermaksud membuat ayahanda kecewa pada nanda." Ada perasaan bersalah dari hatinya.


"Tidak apa-apa nak. Kau adalah putra ayahanda yang sangat baik." Prabu Kawiswara Arya Ragnala merasa lega melihat senyuman anaknya. Ia usap kepala belakang anaknya, dan ia kecup puncak kepala anaknya dengan sayang.


"Ayahanda juga adalah ayah yang terbaik." Raden Cakara dapat merasakan kasih sayang ayahandanya dengan tulus.


"Apa yang ayahanda lakukan?. Mengapa ayahanda belum tidur?. Apakah ada masalah yang ayahanda pikirkan?." Raden Cakara Casugraha menatap mata ayahandanya.


"Memang ada beberapa hal yang ayahanda pikirkan nak." Jawabnya dengan senyuman kecil.


"Apakah nanda bisa mengurangi beban tersebut ayahanda?. Sekalian nanda ingin belajar banyak dengan ayahanda mengenai negeri ini." Ucapnya dengan senyuman kecil.


Rasanya Prabu Kawiswara Arya Ragnala ingin menangis, ketika anaknya berkata seperti itu. Hingga tanpa sadar ia juga ikut tersenyum, senyuman yang seakan memang melepaskan beban dipundaknya.


"Nanda bisa belajar banyak hal dari mana saja." Ucapnya dengan lembut. "Nanda bisa membantu ayahanda menyelesaikan masalah, banyak melibatkan diri dengan rakyatnya." Lanjutnya lagi. "Apakah nanda siap?. Menghadapi banyak masalah, terlibat dengan rakyat, ataupun masalah lainnya?." Sang Prabu hanya ingin memastikan anaknya ini sanggup menjalani semuanya.


"Nanda akan belajar dengan baik ayahanda. Jika ayahanda berkenan membimbing ananda. Ananda yakin, perlahan-lahan ananda akan terbiasa ayahanda." Begitu besar rasa penasaran yang ia miliki. Ia ingin melibatkan dirinya dengan masalah yang dihadapi oleh ayahandanya.


"Baiklah kalau begitu. Ayahanda akan menceritakan semuanya padamu. Ayahanda harap nanda bisa belajar dengan baik." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tidak akan ragu lagi.


Malam itu, Prabu Kawiswara Arya Ragnala benar-benar merasakan peran sebagai seorang Raja, juga seorang ayah. Ia sangat bahagia bisa menjelaskan banyak hal pada anak bungsunya ini mengenai kerajaan ini.


Apakah yang akan terjadi?. Baca terus ceritanya.


Keesokan harinya.


Raden Cakara Casugraha bangun pagi sekali. Ia menemui ibundanya yang mungkin sudah bangun?.


Agak takut-takut ia menemui ibundanya. Karena ia ingin minta izin pada ibundanya. Sesuai dengan perkataan ayahandanya. Jika memang ingin keluar Istana, minta izinlah terlebih dahulu pada ibundanya.


"Sampurasun ibunda. Apakah nanda boleh masuk?." Ia selalu minta izin pada ibundanya sebelum masuk ke bilik ibundanya.

__ADS_1


"Rampes. Masuklah nak." Ratu Dewi Anindyaswari mempersilahkan anaknya memasuki biliknya.


"Ada apa nak?. Apakah ada hal penting yang ingin kau sampaikan pada ibunda?." Ia menyambut anaknya, mereka duduk di kursi yang tak jauh dari tempat tidur sang Ratu.


"Ada hal yang ingin nanda sampaikan pada ibunda." Ia tersenyum kecil.


"Katakan nak. Apakah itu mengenai Nanda dipanggil oleh ayahandamu semalam?." Ratu Dewi Anindyaswari merasa cemas. Ia tahu anaknya dipanggil oleh suaminya, karena ia tidak menghiraukan panggilan Ratu Ardiningrum Bintari saat itu. "Apakah nanda dihukum oleh ayahandamu?. Apa yang dikatakan ayahandamu nak?. Katakan ibunda." Rasa cemas yang sangat luar biasa ia tunjukkan pada putranya.


Raden Cakara Casugraha menggelengkan kepala dengan pelan. Ia tersenyum kecil menatap ibundanya. "Jika masalah itu ibunda tenang saja. Nanda telah berhasil mengatasinya ibunda." Ucapnya dengan lembut.


"Syukurlah nak. Ibunda sangat khawatir jika nanda dihukum oleh kanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari merasa lega jika anaknya tidak dihukum oleh suaminya, Prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Lalu apa yang ingin nanda sampaikan pada ibunda?." Ia mencoba untuk tersenyum kecil. Meskipun hatinya merasakan kegelisahan yang luar biasa.


"Nanda akan bertugas di desa damai setia untuk beberapa hari. Kemungkinan nanda akan menginap di sana. Nanda minta izin pada ibunda, karena ini adalah permintaan nanda pada ayahanda untuk menyelesaikan masalah di sana." Raden Cakara Casugraha menjelaskan pada ibundanya.


"Tapi kenapa nanda nak?. Apakah senopati tidak bisa menyelesaikan masalah di sana?. Nanda masih kecil, dan nanda jangan melibatkan diri dengan masalah pemerintahan dulu." Ratu Dewi dan semakin cemas mendengarkan apa yang dikatakan oleh putranya.


"Hanya dengan ini nanda bisa membantu ayahanda. Jika bukan anaknya, siapa lagi yang akan mengurangi beban ayahanda." Raden Cakara Casugraha tersenyum kecil.


"Tapi putraku." Ratu Dewi Anindyaswari belum bisa mengizinkannya. Karena terlalu berbahaya jika anaknya berada di sana.


"Apakah ibunda tidak ingin membantu ayahanda?. Apakah ibunda mau ayahanda menanggung beban sendirian?. Kasihan ayahanda jika bekerja sendirian ibunda." Raden Cakara Casugraha memiliki cara tersendiri untuk membujuk ibundanya.


"Baiklah nak. Tapi jagalah dirimu baik-baik. Ibunda hanya tidak mau nanda terluka." Ratu Dewi Anindyaswari merasa tersentuh juga dengan apa yang dikatakan oleh anaknya.


"Terima kasih ibunda. Ibunda memang sangat baik." Raden Cakara Casugraha memuji ibundanya. Ia begitu peduli pada ibunda yang sangat ia sayangi.


"Ibunda dan yunda baik-baik lah selama berada di istana. Nanda tidak akan lama." Ucapnya dengan senyuman manis.


Ratu Dewi Anindyaswari benar-benar terharu melihat itu. Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.


.........


__ADS_2