RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
RASA PENASARAN


__ADS_3

...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang berjalan mengitari istana bersama gurunya Syekh Asmawan Mulia. Mereka membahas tentang agama, yang akan disebarkan oleh gurunya di sekitar istana.  Dan itu juga Jaya Satria datang mendekati mereka, sambil mengucapkan salam.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh syekh guru." Ucap Jaya Satria dengan ramahnya, tak lupa ia mencium tangan gurunya, dalam bentuk rasa hormatnya kepada Syekh Asmawan Mulia.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Syekh Asmawan Mulia menjawab salam dari muridnya Jaya Satria.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin syekh guru mau datang ke istana, dan menjadi salah satu abdi dalam istana." Jaya Satria senang mendengarnya.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Kalian berdua mempercayai syekh guru, untuk melakukan kebaikan di kerajaan ini." Balas Syekh Asmawan Mulia.


Namun disisi lain tanpa mereka sadari, Raden Hadyan Hastanta, Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra, sedang mengamati mereka dari jarak yang agak jauh.


Mereka bertiga terkejut melihat kedatangan Jaya Satria, dan itu menguatkan bukti apa yang dikatakan oleh putri Andhini Andita sangat benar, mengenai sosok misterius yang hanya bersama prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Tapi mengapa ia menampakkan diri dihadapan orang yang dikatakan guru oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Apa hubungan mereka?.


"Aku semakin mencurigai, rayi prabu yang memang bekerja, sama dengan orang yang berilmu tinggi." Raden Ganendra Garjitha mencoba mengambil kesimpulan dari apa yang terlintas dibenaknya.


"Kedua orang itu, pasti membantunya untuk menduduki istana ini. Dan aku sangat yakin mereka bersekongkol membuat sandiwara, bahwa yang memilih menjadi raja adalah singgasana yang telah mereka beri mantra, yang hanya bisa diduduki oleh rayi prabu." Raden Ganendra Garjitha yakin dengan apa yang ia tuduh itu. Ia yakin itu yang direncanakan oleh Raden Cakara Casugraha untuk menjadi Raja.


"Sungguh perbuatan yang sangat licik!." Raden Gentala Giandra sangat sakit hati, mendengarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya.


"Aku tidak menyangka, jika rayi prabu memiliki pemikiran yang kotor seperti itu. Sungguh manusia yang hanya menjaga penampilan luar, namun diluar sangat busuk." Raden Hadyan Hastanta tidak menyangka itu. Ia tidak percaya bahwa, orang yang menolongnya waktu itu tidak lain hanyalah, seorang penjahat yang bersembunyi di dalam istana, bersama adiknya Cakara Casugraha.


"Kita harus mencari bukti yang lebih kuat lagi. Setelah itu baru kita akan melakukannya. Mempermalukan Rayi prabu dihadapan rakyat suka damai." Raden Ganendra Garjitha begitu bersemangat, untuk menjatuhkan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Hingga ia selalu memperhatikan gerak gerik adiknya, yang ia anggap itu adalah kesalahan, yang dapat ia gunakan sebagai senjata untuk melengserkan adiknya dari jabatannya sekarang.


Namun ketika mereka hendak meninggalkan tempat, mereka melihat hal ganjal. Saat mereka melihat kedatangan Ratu Dewi Anindyaswari. Orang misterius itu malah pergi dari sana?.


Rasa penasaran mereka semakin besar saat melihat itu. Dalam benak mereka semakin timbul pertanyaan-pertanyaannya yang membuat mereka keheranan. Mereka sepertinya belum bisa meninggalkan tempat itu, karena rasa curiga semakin besar.


Ratu Dewi Anindyaswari mendekati putranya, dan bersama orang yang baru ia kenal. Namun Ratu Dewi Anindyaswari tetap ramah kepada orang tersebut.


"Sampurasun. Hormat hamba gusti ratu." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat pada Ratu  Dewi Anindyaswari.


Ia memang belum bertemu dengan permaisuri raja kerajaan Suka Damai, tetapi jika dilihat dari penampilannya beliau adalah seorang ratu.


"Rampes." Balas ratu Dewi Anindyaswari menjawab salam dari syekh Asmawan Mulia. Senyuman itu begitu ramah dan indah untuk dilihat.


"Ibunda. Beliau adalah syekh asmawan mulia. Beliau adalah guru agama, yang membimbing nanda selama ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memperkenalkan Syekh Asmawan Mulia pada ibundanya.


"Syekh guru. Beliau adalah ibunda ratu dewi anindyaswari. Ibunda yang telah melahirkan nanda ke dunia ini." Ia juga memperkenalkan ibundanya pada syekh Asmawan Mulia.


"Jadi beliau adalah guru nanda prabu?." Ratu Dewi Anindyaswari baru pertama kali bertemu dengan guru anaknya


"Hamba adalah seorang guru yang dipercayai oleh mendiang gusti prabu kawiswara arya ragnala. Membimbing putra gusti ratu untuk belajar ilmu agama islam." Syekh Asmawan Mulia mengatakan siapa dirinya.


"Terima kasih-, syekh asmawan mulia?." Ratu Dewi Anindyaswari agak bingung saat menyebutkan nama itu.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil, melihat reaksi dari ibundanya yang agak canggung menyebutkan nama Syekh.


"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap ibundanya dengan senyuman kecil. "Syekh adalah nama gelar, untuk orang yang sudah ahli dalam agama islam. Serta menyebarkan agama islam kepada orang lain, ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengerti, apa maksud dari nada ibundanya yang agak ragu. Mungkin nama itu begitu asing bagi ibundanya.


"Bukan hanya itu saja. Bisa jadi gelar syekh merupakan keturunan ulama. Gelar syekh biasanya disematkan pada seorang ulama, dengan keilmuan agama islam yang tinggi. Mulai dari perilaku, perbuatan, dan sikapnya. Atau untuk orang-orang yang telah sampai pada derajat keutamaan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskan kepada ibundanya mengenai gelar syekh, nama depan yang tersemat pada gurunya

__ADS_1


"Maafkan saya syekh, sungguh saya tidak mengetahuinya sama sekali." Ratu Dewi Anindyaswari merasa bersalah, ia takut menyinggung perasaan guru putranya. Karena ia juga baru mengetahui nama gelar itu.


"Tidak apa-apa gusti ratu, hamba memakluminya." Syekh Asmawan Mulia mengerti ketidaktahuan sang ratu.


"Terima kasih banyak syekh." Ratu Dewi Anindyaswari sangat lega mendengarnya.


"Nanda prabu sungguh sangat perhatian pada ibundanya. Bahkan menjelaskan gelar nama syekh pada ibundanya, agar tidak terjadi kesalahpahaman." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia merasa kagum dengan sikap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Ibunda juga bisa belajar banyak dari syekh guru tentang agama islam." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyarankan ibundanya, agar belajar banyak tentang agama islam pada gurunya.


"Tentu saja nak. Terima kasih karena nanda prabu memikirkan ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari merasa senang, anaknya memang mengerti tentang dirinya, yang begitu penasaran dengan agama islam.


"Jika nanda prabu mengizinkan, istri syekh guru bisa membantu gusti ratu." ucap syekh Asmawan Mulia memberikan pendapat lain


"Akan lebih nyaman lagi bagi gusti ratu, untuk leluasa mempelajari agama islam. Sebagai sesama wanita, syekh guru bukannya tidak mau mengajarkan gusti ratu. Hanya saja tidak mau menimbulkan fitnah, dari pihak lain yang nantinya. Mohon maaf nanda prabu." Syekh Asmawan Mulia menjelaskan pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan ratu Dewi Anindyaswari, agar mengerti mengapa ia menyarankan istrinya, yang akan mengajarkan agama islam kepada Ratu Dewi Anindyaswari.


"Astaghfirullah hal'azim." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya. Ia baru ingat mengenai hal yang kemungkinan saja itu terjadi. Apalagi mengingat bahwa di istana ini, ibundanya sering dijadikan bahan fitnah, atau gunjingan oleh kedua istri mendiang ayahandanya.


"Terima kasih syekh guru, karena mengingatkan nanda, agar lebih berhati-hati dalam bertindak." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat bersyukur, ada guru yang baik, selalu mengingatkan dirinya.


"Baiklah syekh guru. Kalau begitu nanda minta tolong kepada istri syekh guru, untuk mengajari ibunda tentang agama islam. Terima kasih sekali lagi atas sarannya syekh guru." Lanjut sang prabu.


"Tentu saja nanda prabu." Syekh Asmawan Mulia merasa senang, dapat membantu prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Saya juga mengucapkan terima kasih, sekali lagi pada syekh." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari. "Bukan hanya membantu nanda prabu. Syekh juga membantu saya. Semoga kebaikan selalu diberikan kepada syekh dan keluarga." Itulah ungkapan rasa terima kasih Ratu Dewi Anindyaswari.


"Hanya itu yang bisa hamba lakukan gusti ratu." Balas Syekh Asmawan Mulia. "Semoga gusti ratu bisa masuk islam dengan hati yang damai."


"Aamiin. Semoga saja." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat berharap, jika ibundanya juga bisa masuk agama Islam.


Lalu bagaimana dengan ketiga putra mendiang Gusti Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang mengintip mereka?. Mereka sudah pergi setelah mengetahui siapa lelaki itu, dan hubungannya dengan prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Namun mereka ingin tahu mengapa orang misterius itu pergi, saat ratu Dewi Anindyaswari tadi datang.


"Mungkin Rayi prabu tidak ingin kebusukannya, sampai diketahui oleh ibundanya." Raden Gentala Giandra yang berkata seperti itu.


"Ya, kau benar rayi. Aku rasa seperti itu, tidak salah lagi." Raden Ganendra Garjitha membenarkan ucapan adiknya.


Saat ini ketiga pangeran itu sedang berjalan menuju wisma mereka, sambil menimbang-nimbang hal apa yang akan mereka lakukan setelah ini.


Apa rencana mereka selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...****...


Disuatu tempat.


Nini Kabut Bidadari, Putri Gempita Bhadrika, Mayang Sari dan Semara Layana sedang berada di sebuah tempat, yang masih berada di wilayah kerajaan Suka Damai. Mereka sepertinya memiliki rencana lain, untuk membuat kerusuhan. Mereka belum puas sebelum Raja baru itu keluar dari istananya. Karena itulah mereka ingin memancing sang prabu dengan berbuat kerusuhan.


Di ujung Kota raja, sebelum meninggalkan kota raja menuju desa Memanahan. Terdapat sebuah tempat hiburan. Tempat itu dijadikan tempat untuk bersenang-senang siapa saja yang membutuhkan hiburan malam.


Entah itu berupa tarian, atau hanya sekedar mendengar seorang wanita cantik, yang membawakan syair-syair cinta yang indah didengar telinga.


Jadi tempat hiburan malam itu sering ramai dikunjungi oleh pemuda-pemuda. Entah itu anak muda, atau bapak-bapak yang terpikat, oleh indahnya atau kenikmatan yang tersaji kan di sana.


Tempat tersebut dimanfaatkan oleh mereka, untuk memikat pemuda-pemuda di sana. Mereka berencana untuk menarik mereka dengan suara indah, yang mengandung aura hipnotis dari Nini Kabut Bidadari, sebagai pemilik jurus pemikat cakra pemuda. Dengan jurus itu, mereka menghipnotis pemuda atau siapa saja laki-laki di sana untuk dijadikan wadah jin pemanggil jiwa pemuda.


Akibat dari jurus itu setelah dirasuki jin, orang itu akan mengamuk menghajar siapa saja yang berusaha untuk menenangkan dirinya.

__ADS_1


Itulah tujuan dari mereka semua berada di tempat hiburan malam yang menjadi tempat untuk membuang harta. Karena orang-orang yang berada di  sana, hanyalah diisi orang-orang berkelas atas, orang yang tidak tau mau diapakan uangnya.


Meskipun ada beberapa yang tidak berada, namun masih bisa menikmatinya, dengan cara mereka.


Saat ini. Nini Kabut Bidadari, Putri Gempita Bhadrika, dan Mayang Sari sedang membuat rencana. Bahwa malam ini mereka akan melakukan apa yang telah mereka rencanakan.


"Aku tidak sabar lagi, melihat prabu asmalaraya arya ardhana menangis darah, karena melakukan dari rakyatnya yang seperti ini." Nini Kabut Bidadari mencoba membayangkan situasinya.


"Apalagi jika ia mengetahui, bahwa pemuda-pemuda di sini, hanya suka mabuk-mabukan. Aan akhirnya saling membunuh karena kerasukan setan." Nini Kabut Bidadari menyeringai lebar.


Rasanya ada kepuasan tersendiri, dengan rencana yang telah mereka sepakati bersama.


"Benar nini. Aku sudah tidak sabar lagi ingin mendengar kabar itu." Putri Gempita tersenyum senang. Ia membayangkan bagaimana raut wajah prustasi prabu Asmalaraya Arya Ardhana, saat mengetahui masalah yang ditimbulkan oleh rakyatnya sendiri?.


"Ide yang diberikan nini kabut nidadari sangat bagus, sangat luar biasa." Mayang Sari merasa kagum dengan kepintaran Nini Kabut Bidadari.


"Tentu saja aku pintar. jika tidak, mana mungkin aku berhasil mendapatkan hati kakang dharma seta." Batin Nini Kabut Bidadari mengingat Ki Dharma Seta. Lelaki yang telah mengikat hatinya, dan ia tidak akan pernah bisa melupakan sosok itu.


Apakah rencana mereka berhasil?. kita lihat saja nantinya.


...***...


Ratu Dewi Anindyaswari sedang bersama putranya. Mereka duduk berdua sambil menikmati pemandangan di istana. Putranya kadang masih menyempatkan waktu untuk bersamanya. Itulah yang membuat ratu Dewi Anindyaswari merasa senang, dan bahagia.


Akan tetapi hari ini.


"putraku cakara casugraha. Apakah nanda sakit nak?." Ratu Dewi Anindyaswari begitu mencemaskan keadaan anaknya.


Mungkinkah anaknya sedang lelah, setelah mengurusi pekerjaan istana, dan ia malah ingin ditemani putranya?. Ratu Dewi Anindyaswari merasa bersalah karena keinginannya itu.


"Tidak apa-apa ibunda. Nanda baik-baik saja." Balas prabu Asmalaraya Arya Ardhana meyakinkan kepada ibundanya, bahwa ia baik-baik saja. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan tentang dirinya.


"Tapi nak. Bibirmu terlihat pucat dan kering, bahkan wajahmu terlihat sedikit pucat, nak." Ratu Dewi Anindyaswari memperhatikan keadaan anaknya, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada anaknya.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. Ia sekarang mengerti maksud dari ucapan ibundanya. Ia menjelaskannya dengan bahasa baik dan sopan pada ibundanya.


"Ibunda tenang saja. Saat ini ananda sedang berpuasa. Karena itulah ananda terlihat seperti ini. Tapi bukan berarti nanda sakit, ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap teduh wajah ibundanya.


"Puasa?. Apakah itu puasa nak?." Ratu Dewi Anindyaswari bertanya penasaran, apa itu puasa?. Tapi kenapa wajah anaknya yang pucat?.


"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya tersenyum kecil. "puasa itu adalah suatu perbuatan yang dikatakan menahan makan. Kondisi seseorang tidak makan dalam waktu yang ditentukan. Dari terbit matahari hingga terbenamnya matahari." Prabu Asmalaraya Arya menjelaskan pada ibundanya.


"puasa itu merupakan rukun islam ketiga. Jadi puasa itu bukan hanya menahan lapar saja, namun menahan semua yang ada di dalam diri manusia." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat reaksi ibundanya yang begitu penasaran.


"Entah itu menahan amarahnya, atau menahan nafsu duniawi." Lanjutnya lagi.


"Lalu apalagi nak?. Apakah puasa itu sama saja?." Ratu Dewi Anindyaswari bertanya lagi.


"puasa terdiri dari beberapa jenisnya. ada yang wajib, ada yang Sunnah juga." Jawab sang prabu.


"puasa ramadhan itu puasa wajib, sedangkan puasa senin kamis itu puasa sunnah" sang prabu lagi-lagi menjelaskannya dengan pelan. Agar ibundanya mengerti.


"Sunnah yang artinya lebih baik dikerjakan, karena pahalanya juga besar. Jadi tetaplah mengerjakan hal yang sunnah. Karena Allah SWT, sangat menyukai orang-orang yang berbuat baik." Dengan ketenangan, prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskannya.


Bagaimana kelanjutannya?.

__ADS_1


...Next halaman....


__ADS_2