
...***...
Raden Kencana Prabakara dan Putri Suliswati Suri Bulan masih mengingat hari itu. Mereka sangat bersyukur atas nasihat yang diberikan oleh Jaya Satria pada saat itu.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, aku telah berubah sepenuhnya nimas."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin raden."
"Tapi rasanya aku sangat sedih sekali nimas."
"Apa yang membuat raden bersedih hati?. Katakan padaku raden."
"Karena aku tidak bisa mencari informasi tentangnya, jadi aku tidak bisa mengundangnya di hari pernikahan kita nantinya nimas."
"Benar apa yang raden katakan. Sangat disayangkan sekali. Padahal kita ingin mengucapkan terima kasih padanya."
"Kita sholat istikharah saja raden. Semoga Allah SWT memberikan kita petunjuk, mengenai siapa jaya satria sebenarnya."
"Nimas benar. Semoga saja Allah SWT memberikan kita petunjuk."
"Setelah acara ini selesai aku akan melakukan sholat istikharah."
"Aku juga akan melakukannya nimas."
Keduanya telah sepakat untuk melakukan sholat istikharah. Semoga saja mereka mendapatkan petunjuk, siapa Jaya Satria yang sebenarnya. Karena mereka ingin menyampaikan kabar bahagia itu padanya. Bisakah mereka menemukan jawabannya?. Simak terus ceritanya.
...***...
Kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai. Seperti yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Bahwa Prabu Guntur Herdian akan kembali. Sepertinya kali ini mereka semua menyambutnya dengan ramah. Saat ini mereka berada di ruang tamu kerajaan. Karena memang menyambut kedatangan mereka semua rombongan keluarga Prabu Guntur Herdian.
"Maaf jika kami datang kembali nanda prabu."
"Tidak apa-apa paman prabu. Istana ini serta keluarga besar bahuwirya selalu menyambut siapa saja yang datang ke istana ini."
"Terima kasih atas kebaikan nanda prabu beserta keluarga."
Mereka semua tersenyum ramah, tentunya mereka dengan senang hati menyambut siapa saja. Meskipun Putri Andhini Andita yang sedang dongkol melihat ke arah Putri Cahya Candrakanti.
"Bagaimana keadaan paman?. Semoga saja paman selalu dalam lindungan Allah SWT."
__ADS_1
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, saya baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan nanda prabu?."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin sehat paman prabu."
"Alhamdulillah jika memang seperti itu."
Mereka hanya sekedar basa-basi saja. Sebagai pembukaan sebelum masuk pada inti tujuan kedatangan mereka. Apalagi mata Prabu Guntur Herdian, tidak menangkap sosok Jaya Satria yang ikut dalam pertemuan itu.
"Mohon maaf nanda prabu. Jika saya bertanya, dimana jaya satria?. Saya tidak melihatnya sama sekali. Apakah ada tugas yang sedang ia selesaikan?."
Mereka semua saling bertatapan, karena bingung mau menjelaskannya bagaimana. "Apakah jaya satria telah mengatakan pada nanda prabu tentang masalah perjodohannya dengan putri saya cahya candrakanti?." Ada perasaan gelisah di raut wajahnya.
"Mohon maaf raka prabu. Sebelum itu kami sangat minta maaf pada kanda prabu."
"Apa maksud dinda ratu dewi?. Mengapa minta maaf?."
"Apa yang terjadi dinda dewi. Apakah terjadi sesuatu pada jaya satria?." Seketika mereka jadi cemas. Apakah ada sesuatu yang akan terjadi pada Jaya Satria?.
"Mohon maaf paman prabu. Sebelum paman prabu bertanya keberadaan jaya satria. Saya mohon agar paman prabu tidak kecewa pada saya."
Keluarga Prabu Guntur Herdian merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Apa yang terjadi sebenarnya nanda prabu?. Apa yang terjadi?. Katakan pada kami semuanya."
"Mungkin paman prabu tidak akan pernah dengan apa yang akan saya tunjukkan. Akan tetapi ini harus saya lakukan demi kebaikan kita bersama."
"Mohon ampun gusti prabu. Memangnya apa yang terjadi?. Dimana jaya satria?." Hati Putri Cahya Candrakanti merasa gelisah, serta kecemasan telah melanda suasana hatinya.
"Jaya satria sebenarnya tidak ada. Jadi maaf saja, jika tuan putri tidak bisa berjodoh dengannya."
"Apa?."
"Yunda."
"Rayi."
Mereka semua serempak menegur Putri Andhini Andita yang sudah tidak sabar lagi. Setelah itu ia memalingkan wajahnya, karena ia tidak sabar lagi menyampaikan pada Putri Cahya Candrakanti.
"Yunda. Tenanglah sedikit. Yunda bisa membuat rayi prabu dalam masalah." Bisik Putri Agniasari Ariani, ia mencemaskan keadaan suasana hati kakaknya itu. "Humph." Putri Andhini Andita seakan tidak peduli sama sekali.
"Apa maksudnya nanda prabu?. Lalu bagaimana dengan perjodohan itu?."
__ADS_1
"Saya harap paman prabu juga keluarga bisa mendengarkan dengan baik apa yang yang akan saya jelaskan."
"Katakan nanda prabu. Saya harap ini bukanlah hal yang mengejutkan bagi kami."
"Baiklah paman prabu. Terutama Putri cahaya candrakanti." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berdiri, mengatur hawa murninya. Memejamkan matanya, dan setelah itu Jaya Satria keluar dari tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Saat ini ia berdiri dihadapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Tentunya Prabu Guntur Herdian beserta keluarga terkejut melihat itu.
"Apa maksudnya ini nanda prabu?."
"Jangan katakan jika jaya satria adalah raga lain dari gusti prabu." Raden Harjita Jatiadi mencoba untuk menebaknya.
"Jaya satria adalah raga gusti Prabu asmalaraya arya ardhana?." Putri Cahya Candrakanti sama sekali tidak menduga apa yang terjadi.
"Tidak!. Justru jaya satria adalah raga asli dari raden cakara casugraha."
"Jaya satria adalah raga asli raden cakara casugraha?." Mereka sangat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita.
"Itu benar paman prabu." Jaya Satria membuka topeng yang menutupi wajahnya. Prabu Guntur Herdian tidak menyangka sama sekali, jika wajah itu memang sama persis.
"Saya adalah raden cakara casugraha yang asli paman. Maaf jika saat pertama kali datang berkunjung ke istana telapak tiga, saya tidak bisa mengatakannya. Karena saya telah bersumpah akan menjaga rahasia yang telah dikatakan ayahanda prabu."
Prabu Guntur Herdian, dan keluarganya seakan sulit menjelaskan dengan kata-kata. Karena ia tidak menyangka akan seperti itu.
"Tapi mengapa nanda melakukan itu?."
"Tentu saja semua melindungi orang yang dicintainya." Lagi, Putri Andhini Andita yang menyambar ucapan mereka.
"Putri andhini andita. Maaf jika aku berkata dengan suara keras. Apa permasalahan putri, sehingga menyela pembicaraan orang lain?." Akhirnya Putri Cahya Candrakanti marah. Karena ia sangat kesal dengan sikap Putri Andhini Andita yang tidak bersahabat sama sekali.
"Tentu saja aku punya masalah denganmu." Putri Andhini Andita malah menantang kembali ucapan Putri Cahya Candrakanti.
"Nanda putri."
"Yunda."
Mereka semua mencoba mendinginkan Kembali suasana hati keduanya. Karena mereka seperti ingin melakukan hal yang tidak terduga sama sekali.
"Masalahnya adalah, karena kau dari awal telah salam mengintai adikku cakara casugraha. Aku tidak akan menyerahkan adikku dalam wujud biasa. Dan aku tidak terima jika kau berjodoh dengan adikku cakara casugraha."
"Yunda. Tenanglah."
__ADS_1
"Nanda Putri. Ibunda mohon tenangkan dirimu nak." Mereka semua cemas dengan kata yang akan diucapkan oleh Putri Andhini Andita. Seakan ia ingin mengajak Putri Cahya Candrakanti bertarung dengan ucapan, serta melakukan hal yang tidak biasa diganggu sama sekali. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
...***...