RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MENGEJUTKAN!!!


__ADS_3

...***...


Jaya Satria terdiam sejenak. Ia melihat kondisi tubuh Prabu Maharaja Dewa Negara yang sudah membaik. Dan ia tersenyum kecil menatap laki-laki di hadapannya itu.


"Kita harus membersihkan tempat itu dari sajen dan sejenisnya. Jin yang masuk ke dalam tubuh gusti prabu berasal dari sana. Jika tidak bersihkan, hamba takut akan terjadi bencana di negeri ini. Termasuk pada gusti prabu akan terkena dampaknya."


"Lalu bagaimana cara membersihkannya?." Ia bertanya. "Karena dulu ayahandamu juga pernah mengatakan padaku, jika tempat itu tidak baik untuk memuja." Ia masih ingat dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala pada saat itu.


"Lalu apa yang harus kita lakukan gusti prabu?. Bagaimana penghuni di sana marah jika kita tidak melakukan sajen lagi?."


"Benar gusti prabu. Itu adalah semacam tradisi dari dulu."


"Kami sering melakukan sajen di sana."


Prabu Lingga Dewa, Raden Antajaya Dewa dan Raden Jatiya Dewa merasa heran dengan apa yang dikatakan Jaya Satria.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Maaf gusti prabu lingga dewa, raden jatiya dewa, juga raden antajaya dewa." Jaya Satria sedikit menghela nafasnya. "Ayahanda prabu kawiswara arya ragnala memang memiliki kepercayaan yang sama. Namun ayahanda prabu tidak pernah mengajak rakyatnya untuk melakukan sajen atau menyembah pohon." Lanjutnya. "Selain itu, di dalam agama islam. Meminta lah kepada Allah SWT. Karena Allah SWT tempat meminta yang lebih baik." Ia hanya tersenyum kecil.


"Kalau begitu tolong ajari kami ke arah yang lebih baik lagi. Karena kami tidak mau menjadi orang yang merugi dikemudian hari. Sudi lah kiranya nanda mau membantu kami lepas dari jeratan tali gaib yang membuat kami menderita." Prabu Maharaja Dewa Negara tersenyum kecil. "Aku tahu kau bermaksud baik untuk mengingatkan kami. Terima kasih aku ucapkan padamu."


"Sandika gusti prabu. Hamba akan mencobanya. Hamba akan meminta bantuan dari syekh guru untuk membantu gusti prabu belajar dengan baik." Jaya Satria memberi hormat pada Prabu Maharaja Dewa Negara.


"Kau sungguh anak yang baik. Tidak semua raja mewariskan hal yang baik pada anaknya. Dan kau adalah contoh baik dari raja yang baik. Entah itu dari perilaku, ataupun dari kekuatan." Prabu Maharaja Dewa Negara mengingat bagaimana Prabu Kawiswara Arya Ragnala bersikap padanya saat itu.


Jaya Satria hanya tersenyum kecil. Setidaknya ia berhasil meyakinkan mereka, bahwa ada hal yang lebih baik yang harus mereka lakukan. Sajen adalah budaya, namun bukan untuk tempat meminta.

__ADS_1


...***...


Di Istana Kerajaan Suka Damai.


Hampir memasuki waktu berbuka. Mereka semua menyiapkan hidangan berbuka puasa.


"Rasanya sangat ramai sekali." Putri Andhini Andita meletakkan hidangan khusus yang ia buat untuk Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Bagaimana menurut mu rayi prabu?. Apakah ini terlihat enak?." Ia tersenyum kecil sambil menunjukkan hidangannya.


"Apakah yunda yang membuatnya?. Terlihat sangat enak sekali yunda. Jangan menggoda imanku dengan masakan yang yunda buatkan."


Putri Andhini Andita malah tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Sementara mereka hanya memperhatikan itu.


"Yunda sangat pilih kasih. Kenapa hanya membuat hidangan khusus untuk rayi prabu saja?." Putri Agniasari Ariani terlihat merajuk?.


"Maaf saja ya rayi agniasari ariani. Kau kan bisa masak juga. Kenapa tidak buatkan hidangan spesial untuk kekasihmu juga." Putri Andhini Andita malah cekikikan melihat raut wajah adiknya.


"Sudahlah, jangan bertengkar lagi. Apa tidak malu dilihat sama yunda ratu, raden rajaswa, juga raden muhammad?." Raden Hadyan Hastanta merasa heran melihat dengan kelakuan kedua adiknya itu.


"Apakah mereka sering seperti itu rayi?." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara malah terkekeh kecil melihat tingkah kedua adiknya.


"Hahaha, kadang sih ia. Ibunda sampai menyerah melerai keduanya." Balas Raden Hadyan Hastanta.


"Jangan dibawa ke hati. Nanti juga baikan sendiri kok." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari.


"Benar yang dikatakan rayi dewi. Kita lihat dan kita simak saja apa yang mereka debatkan." Sambung Ratu Gendhis Cendrawati.

__ADS_1


Begitulah suasana yang mereka rasakan saat sebelum berbuka puasa. Sangat berbeda dari yang sebelumnya. Semoga saja mereka selalu merasakan kebahagiaan luar biasa ini.


***


Sementara itu, Di istana Kerajaan Buana Dewa. Jaya Satria saat ini berbuka puasa dengan ditemani oleh prabu Maharaja Dewa Negara yang terlihat sudah baikan, juga keluarganya yang lain. Prabu Maharaja Dewa Negara tidak menyangka jika Putra dari prabu Kawiswara Arya Ragnala memeluk agama Islam?. Tentunya sangat berbeda dengan ayahandanya yang beragama Hindu.


"Sejak kapan nanda masuk agama Islam, dan panggil saja aku kakek prabu. Karena aku telah menganggap ayahandamu adalah anakku sendiri." Ucap Prabu Maharaja Dewa Negara.


"Saya masuk agama islam, saat menjalani hukuman buang." Jawab Jaya Satria.


"Menjalani hukuman buang?." Mereka semua tidak percaya jika orang sebaik Jaya Satria pernah menjadi pangeran buangan?.


"Bagaimana mungkin nanda bisa menjalani hukuman buangan?. Pasti ada penyebabnya." Prabu Maharaja Dewa Negara merasa heran.


"Benar sekali itu. Rasanya tidak mungkin." Prabu Lingga Dewa tidak percaya dengan cerita itu.


"Apakah benar gusti prabu menjalani hukuman buang?. Rasanya sangat mustahil, dan hamba tidak percaya sama sekali." Raden Jatiya Dewa juga tidak percaya.


"Pasti ada kesalahan yang membuat gusti prabu menjalani hukuman itu." Raden Antajaya Dewa sedikit berpikiran berbeda.


"Itu karena saya tidak bisa mengendalikan diri saya. Setiap hari saya menghajar ketiga raka saya, hingga muncul permusuhan diantara kami. Hingga pada akhirnya saya terusir dari istana karena perbuatan saya yang berlebihan." Jaya Satria menceritakan apa yang telah ia alami. Namun mereka tidak menyangka sama sekali. "Setiap manusia memiliki kesalahan. Namun jika ia mau memperbaiki diri, maka kesalahan itu akan bisa terhapus seiring dengan kebaikan-kebaikan." Lanjutnya.


"Berapa lama gusti prabu menjalani hukuman itu?." Raden Jatiya Dewa sedikit penasaran.


"Kalau tidak salah, sekitar empat tahun. Selama itu saya menjalani hukuman buangan." Jawabnya.

__ADS_1


"Empat tahun?. Selama itukah gusti prabu menjalani hukuman?." Mereka semua sangat terkejut. Sedangkan Jaya Satria hanya tertawa kecil melihat raut wajah mereka. "Setiap manusia pernah jahat, dan manusia jahat bisa kembali ke arah yang lebih baik, jika mereka mau berubah ke jalan yang benar. Termasuk saya yang dulunya bisa dibilang anak yang suka bertentangan dengan apa yang orang lain lakukan." Jaya Satria tidak menyembunyikan kebenaran tentang dirinya. Ia mengatakan pada mereka semua. Memang sangat mencengangkan. Buat mereka semua, dan tidak percaya sama sekali. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya.


...***...


__ADS_2