
...***...
Raden Jatiya Dewa masih berhadapan dengan pemuda yang sombong itu. Ia hanya tidak suka saja, saat ada orang lain berlagak sombong dihadapannya.
"Orang biasa seperti kau tidak usah ikut campur. Lebih baik kau pergi saja, karena aku malas berhubungan dengan orang miskin seperti kau!." Pemuda itu menatap tajam ke arah Raden Jatiya Dewa.
"Orang biasa seperti ku harus memberi tahu padamu, cara yang sopan berbicara dan tata krama pada orang luar biasa seperti kau. Apakah seperti itu orang agung bersikap?. Lebih kurang ajar dari rakyat biasa." Raden Jatiya Dewa seakan menantang pemuda saat ini.
Sedangkan Mulni, Barka, dan Purna saat ini memberi kode pada Raden Jatiya Dewa agar tenang, jangan sampai terbawa amarah yang merugikan dirinya.
"Sepertinya kau ingin bermain-main denganku." Pemuda itu tidak terima dengan apa yang dikatakan Raden Jatiya Dewa.
"Apa yang akan kau lakukan raden pradhana angkasa?. Kau jangan membuat keributan di wilayah kerajaan suka damai." Putri Cahya Candrakanti mencoba untuk memperingati Raden Pradhana Angkasa, agar tidak bersikap kurang ajar.
"Kau diam saja cahya candrakanti. Aku melakukan semua ini karena kau yang tidak mau aku bawa kembali ke istana tapak dewa. Jangan salahkan aku, jika aku membuat keributan di sini." Raden Pradhana Angkasa bersiap-siap mengambil ancang-ancang. Ia siap bertarung dengan Raden Jatiya Dewa yang telah berani mencampuri urusannya.
"Tuan putri tenang saja. Hamba hanya memperingatkan padanya agar lebih bersikap sopan pada seorang wanita. Hamba akan mengantar tuan putri ke istana, jika laki-laki sombong ini tidak mampu melakukannya dengan baik." Raden Jatiya Dewa merasa sangat kesal.
"Raden, sebaiknya jangan bertindak gegabah." Mulni mendekati Raden Jatiya Dewa, dan berbisik padanya. Begitu juga dengan Barka dan Purna yang tidak mau terseret dalam masalah rumit ini.
"Kalian tenang saja. Aku tidak akan lama." Balas Raden Jatiya Dewa.
"Majulah!. Tidak usah bisik-bisik seperti seorang pengecut!. Jika kau berani maju!. Jika kau merasa akan kalah, sebaiknya segera tinggalkan tempat ini!." Suara Raden Pradhana Angkasa terdengar sangat keras, membentuk Raden Jatiya Dewa.
"Aku akan pergi, setelah aku berhasil menghajar kau yang sangat kurang ajar pada seorang wanita." Raden Jatiya Dewa telah siap dengan pertarungannya.
__ADS_1
Raden Pradhana Angkasa menyerang Raden Jatiya Dewa. Pukulan, serta tendangan ia arahkan pada musuhnya. Namun Raden Jatiya Dewa mampu menangkis semua serangan yang datang padanya dengan baik.
"Apa yang harus kita lakukan?. Aku sama sekali tidak memiliki kepandaian seperti itu untuk bertarung." Mulni merasa khawatir, saat melihat Raden Jatiya Dewa bertarung seperti itu.
"Aku juga tidak memiliki kepandaian apapun. Aku tidak bisa membantu raden jatiya dewa." Barka juga takut, karena ia tidak memiliki kepandaian dalam bertarung.
"Apakah kita perlu melaporkan masalah ini pada jaya satria?. Supaya jaya Satria bisa mengusir orang sombong itu." Purna tidak mau terjadi sesuatu pada Raden Jatiya Dewa.
Sementara itu, sayup-sayup Putri Cahya Candrakanti tadi menyimak apa yang mereka katakan. "Maaf, siapa dia sebenarnya?. Kenapa apakah dia juga seorang pangeran?." Putri Cahya Candrakanti merasa penasaran.
Mulni, Barka, dan Purna hanya terdiam. Mereka tidak tahu harus menjawab apa. Apakah mereka akan mengatakan bahwa jika Raden Jatiya Dewa sebenarnya adalah putra mahkota yang sedang belajar agama Islam di wilayah Kerajaan Suka Damai?.
"Jika masalah itu, kami tidak bisa menjawabnya. Karena itu berhubungan dengan rahasia orang yang bersangkutan." Mulni merasa sungkan, namun Raden Jatiya Dewa sendiri yang meminta padanya.
Disaat yang bersamaan, Raden Jatiya Dewa juga menyerang balik Raden Pradhana Angkasa yang terlihat bernafsu ingin menjatuhkan dirinya. Namun sepertinya gagal dilakukannya.
"Kau yang mengajak aku untuk bermain-main. Pantang bagiku menolak ajakan sebuah permainan yang sangat menarik." Balas Raden Jatiya Dewa dengan senyuman ramah.
"Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi. Akan buat kau bertekuk lutut dihadapanku!." Raden Pradhana Angkasa telah sedia dengan jurus andalannya.
"Kerahkan semua kepandaian yang kau miliki." Raden Jatiya Dewa juga mengerahkan kemampuan yang ia miliki.
Pertarungan kembali dilakukan, hingga menarik pusat perhatian mereka yang penasaran. Apa yang membuat dua anak muda itu bertarung?.
Pertarungan kali ini lumayan sengit, karena keduanya telah mengerahkan tenaga dalam mereka. Sehingga mereka semua terpaksa menyingkir, dari pada terkena dampak serangan tenaga dalam mereka yang telah keduanya gunakan untuk menjatuhkan musuhnya.
__ADS_1
"Heh!." Keduanya saling menyerang satu sama lain, melompat ke udara untuk menyerang serta bertahan. Tidak mengenal kata perdamaian lagi, keduanya terus bertarung. Tidak melihat sekitar yang hampir rusak parah karena pertarungan mereka?.
Raden Jatiya Dewa mengeluarkan pedang yang ia simpan di dalam tubuhnya. Begitu juga dengan Raden Pradhana Angkasa. Ia menggunakan tombak sebagai senjata andalannya untuk menjatuhkan lawannya. Mereka terus bertarung, dan terus bertarung. Menyerang dan terkadang menangkis serangan musuhnya.
Pada saat pertarungan itu sedang berlanjut, ada seseorang yang menangkap senjata mereka dengan mudahnya. Membuat keduanya sangat terkejut.
"Oh jaya satria." Raden Jatiya Dewa yang mengenali siapa yang menghentikan dirinya itu langsung memberi hormat pada Jaya Satria. Sedangkan Raden Pradhana Angkasa tidak terima sama sekali, dan ia malah menyerang Jaya Satria. Tapi dengan mudahnya dapat diatasi oleh Jaya Satria.
DUAKH!.
Jaya Satria berhasil memukul mundur Raden Pradhana Angkasa dengan kuatnya, hingga ia terjajar beberapa langkah.
"Kegh!." Raden Pradhana Angkasa meringis sakit. Karena pukulan itu cukup menyakitkan.
"Cukup!." Putri Cahya Candrakanti membentak Raden Pradhana Angkasa yang mencoba maju. "Sebaiknya kau jangan melawan. Karena kau akan berhadapan dengan gusti prabu asmalaraya arya ardhana, jika kau berani melawan jaya satria." Putri Cahya Candrakanti menatap tidak suka pada Raden Pradhana Angkasa. "Karena dia adalah orang kepercayaan gusti prabu." Lanjutnya lagi.
"Dia mengenali jaya satria?." Dalam hati Raden Jatiya Dewa, Mulni, Barka, dan Purna tidak menyangka. Jika wanita cantik yang mereka lindungi kenal dengan Jaya Satria?.
"Raden jatiya dewa. Apa yang terjadi sebenarnya raden?. Mengapa raden bisa bertarung dengannya?." Jaya Satria menatap ke arah Raden Jatiya Dewa.
"Maafkan saya jaya satria. Saya hanya ingin membantu taun putri ini." Balas Raden Jatiya Dewa. "Karena orang itu telah bersikap kurang ajar. Dia ingin menyeret tuan putri dengan cara yang kasar agar kembali ke istana tapak dewa." Raden Jatiya Dewa terlihat sangat emosi, raut wajahnya sangat menggambarkan suasana hatinya saat ini.
"Benarkah itu tuan putri?. Kenapa tuan putri bisa berada di wilayah kerajaan suka damai?. Kenapa sampai bisa sejauh ini?." Tentunya Jaya Satria ingin mengetahui alasan mengapa Putri Cahya Candrakanti sampai ke wilayah Kerajaan Suka Damai. Apa tanggapan Putri Cahya Candrakanti?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1
... ...