
...***...
Putri Andhini Andita sedang termenung di taman istana. Suasana hatinya benar-benar galau. Hampir dua hari ini ia tidak bisa memejamkan matanya.
"Apa yang membuat seorang putri raja, merenung panjang seperti itu." Tiba-tiba ada suara yang menyapa dirinya, membuatnya tersentak kaget.
"Jaya satria."
Refleks ia menyebut nama pemuda itu. pemuda yang sedang duduk di bawah sana sambil menatapnya dengan senyuman ramah. Namun tiba-tiba senyuannya pudar begitu sadar jika saat ini ia sedang merajuk.
"Siapa yang berani, mengganggu seorang putri raja. Dan berani menegurnya. Sungguh lancang sekali dia." Ia berpura-pura merajuk karena menahan perasaannya.
"Maafkan hamba gusti putri. Hamba hanyalah rakyat biasa. Jangan hukum hamba." Jaya satria malah balik mengerjai putri Andhini Andita dengan berpura-pura meminta pengampunan padanya.
Putri Andhini Andita melihat dengan jelas, bagaimana Jaya Satria meminta ampun padanya dengan sungguh-sungguh. Entah mengapa ia merasa lucu dengan apa yang dilakukan oleh Jaya Satria.
"Apakah aku baru saja, melihat sebuah pentas bermain sandiwara. Sehingga aku merasa terhibur." Ucapnya sambil menahan tawanya.
"Anggap aja seperti itu gusti putri." Balasnya, ia juga ikut tertawa.
Putri Andhini Andita sepertinya tidak bisa membenci Jaya Satria. Ia begitu menyayangi pemuda itu. Hingga ia bisa tertawa lepas dari yang sebelumnya.
"Ternyata benar apa yang dikatakan oleh gusti prabu. Jika gusti putri sedikit berubah karena diriku. Dan yang ia butuhkan adalah aku." Jaya Satria merasa heran. Memangnya apa yang membuat Putri Andhini Andita begitu tertarik dengan dirinya yang bersembunyi dibalik topeng ini?. Bukankah mereka saudara?.
Keduanya duduk di bawah, sambil menatap langit malam. Melupakan sejenak yang terjadi pada siang harinya. Mencoba untuk menikmati malam ini tanpa adanya beban.
"Maafkan hamba jika hamba jarang berada di istana. Karena hamba hanya waspada, dengan serangan yang kemungkinan yang akan dilakukan oleh pihak kerajaan kegelapan." Ia menjalaskan alasan mengapa ia tidak berada d istana selama beberapa hari ini.
"Aku mengerti. Aku yakin rayi prabu sangat cemas saat ini, dengan masalah yang terjadi." Matanya selalu menatap ke langit malam. "Sebagai abdinya. tentunya kau harus melakukannya dengan baik." Putri andhini andita sangat memahami posisi jaya satria.
"Tapi apakah aku tidak boleh membantumu, jaya satria." Lanjutnya lagi sambil melirik ke arah jaya satria.
"Jika masalah itu, hamba rasa tidak bisa gusti putri." Bukan maksudnya untuk mengecewakannya.
"Namun. jika gusti putri masih ingin membantu. Teruslah berada didekat gusti prabu. Hamba yakin, dengan ide-ide dan kecerdasan yang gusti putri. Kerajaan ini akan lebih maju lagi." Ia malah menyarankan agar putri Andhini Andita membantu sang prabu dari pada membantunya.
"Saat ini rayi prabu dibantu oleh raka hadyan hastanta. Aku yakin, mereka mampu mencari jalan keuar dari masalah yang ada." Putri Andhini Andita hanya tidak ingin terlibat hal yang rumit saja.
"Aku hanya ingin bersamamu jaya satria. Apakah aku tidak boleh berdekatan denganmu?." Dalam hatinya bertanya-tanya. Salahkan hatinya, yang merasa tertarik dengan apa yang ada didiri Jaya Satria.
Malam itu, Jaya Satria dan Putri Andhini Andita hanya menghabiskan malam dengan mengobrol santai. Ada beberapa hal yang mereka bahas, dan mereka ungkit kembali. Hati mereka tidak bisa menyatu. Karena memang tidak bisa ditakdirkan bersama.
...***...
Sementara itu di dalam Istana.
Sang prabu masih berada di ruang pribadinya. Ia masih merenungkan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria, mengenai kakek misterius yang mengatakan Jaya Satria adalah wujud dari kemarahan.
"Ya, Allah. Belum hilang rasanya beban pikiran hamba, memikirkan cara untuk mengatasi kerajaan kegelapan. Namun pikiran lain datang membuat hamba cemas." Dalam hatinya mengadu, keluh kesalahnya pada sang pencipta alam semesta ini.
"Ya Allah. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Dan hamba percaya, dengan apa yang menjadi kehendak-Mu ya rabbi." Doanya selalu ia ucapkan kepada Allah SWT, hanya kepada Allah-lah sebaik tempat meminta.
"Belum lagi yunda andhini andita, yang memintaku, agar mengizinkannya tugas bersama jaya satria. Aku tidak mengerti apa yang diinginkan oleh yunda." Bukan hanya itu saja yang membuat ia cemas. Namun kakaknya yang ingin menjalankan tugas, menjaga keamanan di luar istana bersama Jaya Satria.
"Jangan-jangan yunda andhini andita, jatuh cinta pada jaya satria?." Entah mengapa ia malah menyimpulkan seperti itu. Ya bisa jadi, jika melihat tingkah laku kakaknya yang agak berbeda pada Jaya Satria. Hanya menanyakan jaya satria jika bertemu dengannya. Apakah Jaya Satria sudah berada di istana atau belum.
"Ya Allah. Semoga saja apa yang hamba khawatirkan tidak terjadi." Ia takut membayangkan jika itu yang terjadi, dan apa yang akan ia lakukan?. Rasanya kepalanya semakin sakit membayangkan hal itu terjadi. Apa yang akan ia katakan pada Putri Andhini Andita kakaknya. Bahwa itu tidak boleh, dan tidak akan pernah terjadi.
...****...
Satu hari berlalu.
"Tolong!. Tolong aku!."
Teriakan seorang wanita muda, yang sedang berusaha kabur, dari kejaran beberapa orang laki-laki yang ingin menangkap dirinya.
__ADS_1
"Berhentilah cah ayu. Mari bersenang-senang dengan kami semua."
Salah satu dari mereka berkata seperti itu. Mereka masih mengejar wanita muda itu. Berusaha untuk menggoda wanita muda itu. Mereka ingin mendapatkan sesuatu dari wanita itu.
"Tidak mau!. Kenapa kalian malah memaksaku melakukan hal kotor!." Wanita itu berusaha melarikan diri dengan sekuat tenaga. Akan tetapi akhirnya ia harus menyerah, karena kakinya yang tersandung sesuatu. Wanita itu sangat panik, ketika mereka tertawa karena berhasil menyusulnya. Mereka tertawa puas karena mangsa berhasil dihentikan.
"Sudahlah cah ayu. Nanti kau juga akan merasakan enaknya bersenang-senang dengan kami." Lagi-lagi mereka tertawa. Berusaha untuk meyakinkan wanita muda itu, bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah untuk bersenang-senang. Jadi tidak ada alasan wanita itu untuk menolaknya.
"Tidak!. Aku tidak sudi ikut dengan kalian!." Wanita muda itu tampak ketakutan, ia berusaha sekuat tenaga melindungi dirinya dari sentuhan-sentuhan tangan kasar milik mereka.
"Hyaaah."
Namun sepertinya kesenangan mereka harus terganggu, karena Jaya Satria datang dengan menerjang salah satu dari mereka.
"Kurang ajar!. Berani sekali kau ikut campur dengan urusan kami!." Bentak salah satu dari mereka, yang merasa kesal dengan kehadiran Jaya Satria.
"Kalian telah berbuat hina pada seorang wanita. Tentunya aku tidak akan mengampuni kalian, karena telah berani berbuat kurang ajar pada seorang wanita." Balas Jaya Satria marah karena melihat tingkah mereka.
Pertarungan Jaya Satria dengan empat orang pemuda itu tidak bisa dihindari, karena amarah yang telah menguasai diri mereka masing-masing.
Jaya Satria menghindari pukulan yang datang dari arah kanan, dan tendangan dari arah kanan. sedangkan dari depannya hampir saja ia terkena sabetan pedang jika ia tidak cepat menyadari serangan itu, mengkin saja kepalanya sudah terlepas dari badannya.
Belum sempat ia mendaratkan kaki kanannya saat menghindar tadi, kakinya kena sepakan dari arah kiri. Sehingga ia tidak bisa menghindari serangan itu, dan ia terjatuh ke tanah dengan punggungnya mendarat duluan.
Namun ia tidak bisa membiarkan begitu saja, ia balas tendangan kuat ke arah wajah orang yang menyerangnya tadi. Membuat lawannya tidak bisa menghindar, dan wajahnya terkena tendangan Jaya Satria.
Temannya yang satu lagi ingin menyerang Jaya Satria, dengan pedangnya ketika jaya satria masih rebahan di tanah itu. lagi. Kali ini Jaya Satria dapt menghindarinya dengan menjepit pergekangan tangan orang itu hingga gerakan orang itu terbatas.
Jaya Satria menendang kakinya dengan kuat, ke arah dada lelaki itu saat ia melihat kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Lelaki itu meringis kesakitan, karena menerima tendangan keras di dadanya, ia mundur karena tidak tahan menahan sakit.
Tidak hanya sampai disitu saja, orang ketiga dari mereka juga menyerang jaya satria dengan menyerang Jaya Satria dengan pedang yang berada ditangannya. Jaya Satria berhasil menghindarinya, dengan menggulingkan tubuhnya ke samping menjauhi dirinya agar tidak terkena pedang itu.
Jaya Satria menangkap pedang itu dengan menyalurkan hawa murni di tangannya agar ia tidak terluka kerena pedang itu.
"Bajingan busuk!." Hardik orang itu dengan suara keras, karena ia merasa kesal. Serangannya berhasil dipatahkan dengan mudah oleh jaya satria.
"Angin puyuh angin petir." Dalam hatinya berkata seperti itu, ia yakin dengan jurus itu ia berhasil menghentikan aksi mereka.
"Kurang ajar!. Tubuhku terasa sakit semua." Keluh mereka merasakan sengatan listrik, akibat dari jurus yang dimainkan oleh orang bertopeng itu. Mereka pergi meninggalkan Jaya Satria, karena mereka merasa tidak sanggup lagi untuk bertarung.
"Apakah nisanak baik-baik saja?." Jaya Satria menghampiri wanita itu yang terlihat cemas.
"Tidak!. Jangan dekati aku!. kisanak pastilah orang jahat!." Teriaknya dengan suara penuh ketakutan.
"Tenanglah nisanak. Aku bukan orang jahat. Nisanak tidak perlu khawatir." Jaya Satria berusaha untuk menjelaskan pada wanita itu agar tidak terjadi keslahapahaman diantara mereka.
"Tidak!. Jangan dekati aku!. Kisanak orang penjahat!." Ia menangis meraung-raung, padahal jaya satria hanya berniat baik padanya.
Apakah Jaya Satria bisa menjelaskan padanya, bahwa ia hanya berniat menolongnya saja?. Temukan jawabannya.
...***...
"Bangunlah cucuku."
Seperti ada seseorang yang memanggilnya, membuatnya bangun. Namun hanya sukmanya saja yang terbangun. Ia seperti berjalan di suatu tempat yang sangat ia kenali. Dan ini adalah?.
"Silahkan duduk. Cucuku raden bahuwirya cakara casugraha." Suara itu terdengar sangat ramah, dan senyuman itu rasanya tidak asning baginya.
"Terima kasih, eyang prabu?." Ia duduk di sebelah kiri dari orang itu, ia seperti seorang Raja yang sangat bijak dan berwibawa.
"Sepertinya kau tampak cemas dan gelisah. Apa yang membuatmu gelisah, coba jelaskan pada kakek buyutmu ini." Ia seakan mengerti apa yang menjadi beban hidupnya saat ini.
"Mohon ampun eyang prabu, nanda-'' ketika ia hendak melanjutkan ucapannya. Tiba-tiba saja ada sebuah cahaya yang membuat matanya silau, hingga ia menutupi pandangannya, dan setelah itu ia terbangun?.
"Astagfirullah hala'zim ya Allah." Ia terbangun dari tidurnya, karena terkejut dengan apa yang baru saja ia alami. Ia duduk di pinggir tempat tidurnya, sambil memikirkan maksud dari mimpinya tadi.
__ADS_1
"Ya Allah. Apakah tadi itu adalah eyang prabu?. Gusti prabu jayantaka byakta." Ia tidak mengerti mengapa ia bisa bermimpi bertemu dengan kakek buyutnya itu.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Putraku." Suara ramah menyapanya dengan salam.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, ibunda." Balasnya. Ia mencium tangan ibundanya dengan lembut.
"Ada apa putraku?. Nanda tampak gelisah. Ada apa nak?." Ratu Dewi Anindyaswari mengelus bahu kanan anaknya dengan pelan.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa pada ibundanya. Ia menghela nafasnya dengan pelan, dan mencoba untuk tersenyum.
"Tidak apa-apa ibunda. Nanda hanya terkejut karena sebuah mimpi. Ibunda tidak perlu khawatir." Ia akan menyimpannya, mungkin nanti ia akan mengatakannya pada ibundanya.
"Kalau begitu nanda prabu bersiap-siaplah. Sebentar lagi kita akan melaksanakan sholat ashar berjamaah. Syekh asmawan mulia yang menjadi imamnya." Itulah tujuannya ke kamar putranya. Membangunkannya untuk melaksanankan sholat ashar.
"Baiklah ibunda. Nanda akan segera menyusul." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang, ibundanya mengingatkan dirinya untuk melaksanakan sholat ashar.
"Kalau begitu ibunda duluan ya nak. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Ratu Dewi Anindyaswari mencium puncak kepala anaknya, setelah itu pergi meninggalkan bilik anaknya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Ia melihat kepergian ibundanya sambil memikirkan mimpinya tadi. Entah mengapa, setelah sidang tadi ia ingin tidur. Matanya sangat kantuk yang tidak bisa ia tahan lagi. Ia juga masih memikirkan ucapan jaya satria tentang rencana yang akan membawa bencana pada negeri ini.
"Ya Allah. Berilah hamba petunjuk. Mudahkanlah segala urusan hamba ya Allah." Dalam hatinya, ia berdoa kepada Allah SWT. Semoga negeri ini aman dari ancaman orang-orang yang berniat jahat.
Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
...***...
Di kerajaan kegelapan.
"Mohon ampun gusti prabu. Hamba sudah membawa seseorang, yang bisa membantu gusti prabu, untuk melakukan apa saja yang gusti prabu inginkan." Nini Kabut Bidadari saat ini sedang berada di ruangannya.
"Siapa dia?. Katakan padaku!." Prabu Wajendra Bhadrika tentunya ingin mengetahuinya.
"kenalkan dirimu pada junjunganmu." Perintah Nini Kabut Bidadari pada orang yang ia bawa menghadap kepada Rajanya.
"Hormat hamba gusti prabu." Seorang laki-laki dengan wajah yang sangar memberi hormat pada raja kegelapan.
"Ya, aku terima hormatmu." Balas prabu Wajendra Bhadrika. "Kesaktian apa yang kau miliki, hingga nini kabut bidadari membawamu kepadaku."
"hamba adalah raja teluh dari negeri asap berkabut gusti. Hamba bisa membuat seseorang takluk, hanya dengan sekali tiupan kabut pada wajahnya gusti."
"Apakah hanya itu saja?!. Kalau itu saja nini kabut bidadari bisa melakukannya!."
"Tidak hanya itu saja gusti. Kabut asap yang masuk ke dalam tubuh seseorang, akan membuat tubuh itu mati membusuk, karena tidak bisa menahan hawa jahat dari asap kabut itu gusti." Ia menjelaskan kelebihan kekuatan yang ia miliki.
"Mati membusuk?. Sepertinya terdengar sangat hebat."
"Benar gusti prabu. Hamba sudah melihatnya sendiri, ketika ia menyerang seorang pendekar dari golongan putih." Ucap Nini Kabut Bidadari sedikit ngeri menyaksikan itu.
"Oh begitu. Kalau begitu aku akan mengatur sedikit rencana. Dan aku akan mengujinya pada orang bertopeng itu." Ia berpikir akan membuat sebuah rencana bagus, untuk menyapa orang bertopeng itu.
"Maksud gusti prabu pada bawahannya gusti prabu asmalaraya arya ardhana?."
"Tentu saja dia. Dan aku yakin, putriku saat ini sudah berhasil mendekatinya. Sesuai yang ia rencanakan." Seringaian lebar diwajahnya itu, seakan ia yakin bahwa putrinya memang berhasil melakukannya.
"Dan kau!. Saat dia lengah, kau lakukan yang harus dilakukan, untuk menghabisi nyawanya." Perintahnya pada raja teluh dari negeri asap berkabut.
"perintah gusti prabu akan hamba laksanakan dengan sebaik-baiknya."
"Bagus!. Aku sudah tidak sabar, ingin menyingkirkan orang itu. Aku yakin dia yang lebih kuat dari rajanya. Dan tidak mungkin raja bodoh itu bisa bertahan, jika abdinya itu aku bunuh. Setelah itu, akan aku bunuh raja itu dengan cara yang mengenaskan." Dalam pikirannya telah membayangkan apa yang ia rencanakan.
"Kerja bagus nini kabut bidadari. Kau memang bisa aku andalkan."
"Terima kasih gusti. Hamba akan selalu melakukan yang terbaik, untuk membantu gusti dalam apapun, untuk menjatuhkan semua orang yang menghalangi keinginan gusti prabu." Ucapnya dengan sepenuh hatinya.
Sang prabu tertawa keras, ia bangga mendengar ucapan bawahannya itu. Memang tidak salah ia memiliki bawahan yang mengerti dirinya. Karena itulah ia tidak bisa marah pada wanita itu meskipun pernah mengalami kegagalan.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.
...****...