
...***...
Ratu Dewi Anindyaswari seharian ini tidak keluar kamar karena hatinya sangat bersedih, ia tidak terima mereka yang bersenang-senang di atas kesedihannya, diatas kehilangan putranya. Apalagi mereka memaksa para sepuh Istana, untuk melakukan pemilihan raja baru?. Tidakkah mereka merasa kehilangan anaknya?. Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Mereka sangat bahagia jika anaknya pergi untuk selama-lamanya. Sama seperti ketika anaknya terusir dari istana ini.
Hatinya seratus persen mengatakan, jika inilah yang mereka inginkan. Yaitu kematian putranya. Agar mereka bisa menguasai Istana ini, serta kerajaan yang ditinggalkan oleh mendiang suaminya, Bahuwirya Dihyan Darya.
"Sampurasun, ibunda ratu. Apakah ananda boleh masuk?."
Putri Andhini Andita meminta izin pada ibundanya, ratu Dewi Anindyaswari agar diperbolehkan masuk ke biliknya.
"Rampes. Silahkan putriku." Ratu Dewi Anindyaswari memperbolehkannya. Ia menghapus air matanya. Ia tidak tahu apa maksud dan tujuan Putri Andhini Andita menemuinya saat ini.
"Ibunda." Putri Andhini Andita mendekati Ratu Dewi Anindyaswari. "Bolehkah ananda duduk di samping ibunda?." Putri Andhini Andita agak sedikit ragu. Ia takut dapat penolakan dari ibundanya, karena ia bukan anak kandungnya.
"Silahkan putriku. Duduklah nak." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk tersenyum, walaupun itu terasa pahit.
"Terima kasih ibunda bunda." Putri Andhini Andita tersenyum kecil, ternyata Ratu Dewi Anindyaswari tidak menolaknya.
"Mengapa ananda menangis?." Ratu Dewi Anindyaswari heran melihat, putri Andhini Andita menangis?. Tapi mengapa?.
"Ibunda."
Entah ini air mata asli, atau hanya bersandiwara saja?. Tapi apa alasan ia menangis?. Bukankah selama ini, putri Andhini Andita juga ikut memusuhi dirinya?. Bahkan memusuhi kedua anaknya?. Tapi apa yang ia lihat hari ini?.
"Ada apa nak?. Jelaskan pada ibunda, mengapa ananda menangis seperti itu?. Apakah terjadi sesuatu padamu?." Raut wajahnya terlihat sangat cemas.
Ia takut terjadi kesalahpahaman, jika ibundanya Ratu Gendhis Cendrawati melihat anaknya menangis. Ia takut jika ia yang dituduh, telah melakukan sesuatu, hingga anaknya menangis.
"Rasanya tidak tega melihat kondisi ibunda seperti ini." Putri Andhini Andita berusaha untuk menahan Isak tangisnya.
"menangis seharian sendirian di kamar, rasanya ananda sangat sedih melihat ibunda meratapi nasib, yang telah terjadi." Ucapannya seakan meyakinkan Ratu Dewi Anindyaswari, bahwa dirinya memang memiliki simpati pada sang ratu.
"Aku tidak mengerti, tapi ucapannya sangat meyakinkan sekali." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari. Ia tidak mau berburuk sangka pada Putri Andhini Andita.
"Ceritakan lah pada ananda. Mungkin ananda bisa mencari jalan keluarnya, ibunda." Ia mencoba untuk mengorek, kesedihan yang dirasakan oleh Ratu Dewi Anindyaswari.
"Bagaimana ibunda tidak sedih nak." Lagi-lagi hatinya kembali merasakan sakit yang luar biasa.
"ibunda tidak tahu, bagaimana nasib putra ibunda. Hati ibu mana yang tidak sedih, ketika tidak mengetahui keadaan anaknya." Hati Ratu Dewi Anindyaswari merasa sedih, ia tida percaya jika anaknya meninggal.
"Ibunda hanya menginginkan ia kembali dengan selamat. Ibunda tidak menginginkan hal yang lain selain kepulangannya" kembali ratu Dewi Anindyaswari menangis. Apakah ia tidak boleh berharap seperti itu?.
Putri Andhini Andita tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia memikirkan ucapan Ratu Dewi Anindyaswari yang menginginkan anaknya kembali. Karena ia yakin, bahwa anaknya masih hidup?.
Tapi tunggu dulu!.
"Jika memang rayi prabu bersama sosok misterius itu, kenapa jasadnya tidak ditemukan?. Apakah rayi prabu yang sedang terluka, di bawa ke suatu tempat oleh orang itu?."
Dalam hati Putri Andhini Andita baru menyadari sesuatu, ketika ia mencoba menenangkan pikirannya. Mengapa ia menangis, hanya karena melihat ratu Dewi Anindyaswari menangis?. Ia merasa tidak yakin untuk itu.
"Ya. aku yakin rayi prabu masih hidup. Dasar raka dan yunda tidak berguna!." Umpat putri Andhini Andita dalam hatinya.
"apanya yang bahagia?. Hanya karena kabar kematian rayi prabu. Aku yakin orang misterius itu, telah membawa jasadnya dari sana. Makanya senopati mandaka sakuta, tidak menemukannya di sana."
Ya, Putri Andhini Andita baru ingat. Bahwa sosok yang bersama adiknya, yang selama ini ia lihat, pasti telah menyelamatkan sang prabu, jika memang adiknya terluka parah akibat pertarungan itu.
Jika adiknya itu dalam keadaan baik-baik saja, pastilah ia akan segera sampai di istana dalam waktu yang dekat. Namum belum ada juga kabar kepulangan sang prabu?.
Bahkan Senopati Mandaka Sakuta yang menjemputnya, mengatakan tidak menemukan sang prabu di sana?. Hingga mereka menyimpulkan kematian sang prabu, hanya karena menemukan robekan baju hitam di sana?. Mungkin saja sang Prabu terkena jurus berbahaya, sehingga merobekkan pakaian yang ia kenakan. Ya, begitulah kabar yang kini sedang beredar di kalangan Istana, dan bahkan tersebar sampai keluar Istana.
"Jika memang rayi Prabu masih hidup, karena pertolongan orang misterius itu. Aku yakin dalam waktu dekat ini, ia akan kembali ke istana."
Antara galau, dan gelisah putri Andhini Andita tidak tahu bagaimana perasaannya. Yang jelas ia akan melihat apakah dugaannya benar atau tidak.
Bagaimana kelanjutannya?. Baca terus ceritanya.
...***...
Di tempat Nini Kabut Bidadari.
Semara Layana menceritakan pada Nini Kabut Bidadari. Siapa yang mereka lawan sebenarnya?.
__ADS_1
"Ternyata orang misterius itu adalah, bawahannya prabu kawiswara arya ragnala. Pantas saja ilmu kanuragan yang ia miliki sangat dahsyat. Aki dharma seta, dibunuh orang itu dengan jurus cakar naga cakar petir."
Semara masih mengingat kejadian itu. Saat ia berpasrah diri, karena tidak bisa menghindari jurus cakar naga cakar petir milik prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia sempat melihat, Aki Dharma Seta, terkena hantaman keras dari orang misterius yang satunya lagi.
"Prabu kawiswara arya ragnala?." Putri Gempita Bhadrika merasa tidak asing dengan nama itu. Hingga ia mengulang menyebut nama itu?.
Nini Kabut Bidadari dan Semara Layana menoleh ke arah putri Gempita Bhadrika, yang menyebutkan nama Raja Kerajaan Suka Damai itu.
"Kau juga mengenali prabu kawiswara arya ragnala?." Nini Kabut Bidadari ingin memastikan, bahwa wanita muda itu memang mengenali Raja hebat itu.
"Aku tidak terlalu mengenalinya. Akan tetapi, aku memiliki dendam yang begitu besar padanya." Sorot mata Putri Gempita Bhadrika, terlihat menyimpan dendam yang sangat besar. Hatinya terbakar oleh api kemarahan.
"Prabu kawiswara arya ragnala, telah membuat ayahandaku mati suri." Lanjutnya lagi. "Karena itulah aku kemari. Menurut tabib istana, ayahandaku bisa diselamatkan, dengan air telaga warna bidadari." Ia menjelaskan mengapa ia berada di sini, juga alasan ia dendam pada prabu Kawiswara Arya Ragnala.
Nini Kabut Bidadari merasa tertarik dengan cerita putri Gempita Bhadrika, ia berdiri dan nampak berpikir.
"Siapakah nama ayahandamu, jika aku boleh tahu?." Nini kabut Bidadari sedikit penasaran, mungkin ia mengenali ayah dari wanita muda itu melalui namanya.
"Ayahandaku bernama, Wajendra Bhadrika. Raja penguasa kegelapan, raja yang menguasai bangsa jin." Jawab Putri Gempita Bhadrika, yang membanggakan kekuasaan ayahandanya.
"Prabu wajendra bhadrika?." Nini Kabut Bidadari mengulang nama itu. Dan seketika itu, ingatannya melayang ke masa lalunya.
"Ya. Aku sangat mengenali prabu Wajendra Bhadrika." Nini Kabut Bidadari tidak akan pernah melupakan sosok itu. Sosok yang pernah ia bantu di masa lalu?.
"Apakah benar?. Nini mengenali ayahandaku?." Putri Gempita Bhadrika bertanya, karena ucapan Nini Kabut Bidadari, yang mengatakan bahwa ia mengenali ayahandanya?. Bagaimana bisa?.
"Dulu aku adalah, abdi prabu wajendra bhadrika." Jawabnya dengan sangat yakinnya. "tapi karena aku bosan, dengan kehidupan di istana. Aku memutuskan untuk meninggalkan istana. Karena ditempat ini, lebih cocok dengan diriku yang sesungguhnya." Lanjutnya, sambil mengingat bagaimana kehidupannya saat itu.
"Jadi, kau memanglah anak buah dari ayahandaku?." Putri Gempita Bhadrika tidak menyangka, akan mendengarkan cerita itu.
"Ya. Itu benar." Balas Nini Kabut Bidadari.
"Kalau begitu, cepat berikan aku air telaga warna bidadari!. Agar aku bisa menyembuhkan ayahandaku!." Putri Gempita Bhadrika sudah tidak sabaran lagi. Hingga ia terkesan memberi perintah, pada Nini Kabut Bidadari.
"Baiklah kalau begitu. Ambil saja sesuka hatimu. Aku tidak akan melarangnya."
Nini Kabut Bidadari membiarkan Putri Gempita, mengambil air telaga warna bidadari. Jika memang itu dapat menyembuhkan prabu Wajendra Bhadrika.
...***...
Sepertinya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sudah baikan. Setelah melewati dua hari masa pengobatan, melatih kembali beberapa ilmu kanuragan mereka. Selain itu, mereka juga melatih diri untuk menggerakkan fisik mereka agar tidak kaku.
Saat ini keduanya sedang pamitan, pada Aki Jarah Setandan, dan Syekh Asmawan Mulia. Mereka akan kembali ke kerajaan Suka Damai. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana khawatir dengan keadaan Istana yang ia tinggali, dan ia juga mencemaskan keadaan ibundanya.
"Berhati-hatilah nanda prabu, juga nanda jaya Satria. Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk ananda berdua."
Syekh Asmawan Mulia tersenyum kecil. Meskipun keduanya saat ini sama-sama mengenakan pakaian yang sama, topeng penutup wajah yang sama, namun baginya keduanya adalah orang yang ia sayangi dan hormati.
"Terima kasih syekh guru. Semoga Allah SWT, selalu membalaskan kebaikan pada syekh guru." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap kedua gurunya dengan senyuman yang sangat tulus.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Kami masih diberikan kesempatan hidup, mendapatkan nikmat kesehatan. Kami jiha masih bisa melihat guru kami yang begitu baik." Lanjut sang prabu.
"Murid hamba adalah seorang raja. Rasanya suatu kehormatan dapat membantu nanda. Apalagi semenjak mendiang gusti prabu kawiswara arya ragnala, mempercayai nanda prabu pada hamba."
Aki Jarah Setandan merasa bahagia, melihat sang prabu baik-baik. Dan agak sedikit berat, melepaskan kepergian prabu Asmalaraya Arya Ardhana menuju istana. Sudah lama juga ia tidak bertemu dengan Raden Cakara Casugraha atau yang kini bernama prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Tentunya hamba akan selalu bersama nanda prabu, nanda jaya satria. Disaat nanda terluka, ataupun bahagia sekalipun. Hamba akan selalu bersama langkah kalian berdua." Itulah yang Aki Jarah Setandan tanamkan dalam hatinya.
"Terima kasih guru. Rasanya kami sangat bersyukur memiliki guru yang sangat baik seperti guru." Jaya Satria kali ini yang berbicara. "Terima kasih juga, pada syekh guru, yang selalu membantu kami." Lanjut Jaya Satria.
"Kalau begitu kami mohon pamit guru. Karena nanda takut terjadi sesuatu pada ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mohon pamit pada kedua gurunya, begitu juga dengan Jaya Satria.
"Berhati-hatilah nanda, semoga nanda sampai ke istana dengan selamat, tanpa kekurangan apapun." Aki Jarah Setandan berharap seperti itu.
"Semoga Allah SWT, selalu melindungi nanda berdua." Begitu juga dengan Syekh Asmawan Mulia.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Keduanya mengucap salam pada Syekh Asmawan Mulia.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Balas Syekh Asmawan Mulia, menjawab salam sang prabu dengan senyuman ramah.
"Sampurasun."
__ADS_1
Kali ini keduanya mengucapkan salam pada Ki Jarah Setandan.
"Rampes."
Aki Jarah Setandan merasa terharu, dengan sikap sopan yang ditunjukkan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Ingin rasanya ia menahan kedua orang itu, agar tetap berada di sini untuk menemaninya. Kerinduannya akan kebaikan keduanya, membuatnya ingin menangis. Tapi apalah daya, keduanya harus segera pergi, untuk menyelesaikan masalah yang mereka tinggalkan di istana.
...***...
Sementara itu, di istana kerajaan Suka Damai.
Jika Keluarga istana sedang berkumpul di ruang utama Istana, maka ratu Dewi Anindyaswari berada di bilik putranya Raden Cakara Casugraha. Ia memperhatikan kamar itu, dengan perasaan sedih, kerinduannya akan sosok putranya.
"Putraku nanda prabu, kembalilah nak. Ibunda sangat merindukan nanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari duduk di tempat tidur anaknya. Ia membelai tempat tidur itu, juga bantal itu seakan ia sedang membelai anaknya yang sedang tertidur.
"Ibunda."
Tiba-tiba Ratu Dewi Anindyaswari, mendengarkan suara anaknya yang memanggilnya?. Benarkah itu adalah suara anaknya?.
"Ibunda."
Deg
"Putraku."
Ratu Dewi Anindyaswari tersentak terkejut, karena mendengar suara putranya.
"Nanda prabu, nanda berada dimana nak?. Katakan pada ibunda." Ia menangis terisak, karena ia hanya mendengarkan suara anaknya.
"Nanda dimana nak?. Ibunda sangat ingin bertemu dengan nanda prabu." Ia melihat ke arah pintu kamar anaknya, namun matanya tidak melihat keberadaan putranya.
"Ibunda. Ananda akan segera kembali ke istana. Ibunda bersabarlah, menunggu ananda di singgasana, ibunda."
Suara itu sangat jelas, memang suara putranya. Ia tidak salah dengar, ketika putranya mengatakan, jika ia akan segera kembali ke istana. Dan menyuruhnya bersabar menunggunya di singgasananya?.
"Putraku cakara casugraha, akan segera kembali."
Air mata kebahagiaan telah membasahi pipinya. Benarkah anaknya akan segera kembali?.
"Kalau begitu. Aku akan segera ke singgasana, ke ruang utama istana ini." Ratu Dewi Anindyaswari bangkit dari sana, ia berjalan cepat menuju ke sana.
"Oh dewata yang agung. Semoga saja putraku benar-benar kembali." Ratu Dewi Anindyaswari menghapus air matanya. Ia mencoba untuk tersenyum, untuk menyambut kedatangan putranya, sesuai dengan bisikan yang ia dapatkan?.
Ya, memang itu bisikan dari prabu Asmalaraya Arya Ardhana, memalui mata batinnya untuk berkomunikasi dengan ibundanya.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, ibunda mendengarnya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa lega. Setelah itu, ia mengatur hawa murninya, dan menatap Jaya Satria.
"Syukurlah kalau begitu. Kita harus segera sampai secepatnya."
Jaya Satria merasa lega, jika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berhasil, berkomunikasi dengan Ratu Dewi Anindyaswari, agar beliau tidak mencemaskan putranya.
...***...
Sementara itu, di ruang utama istana.
Mereka sedang mengadakan pengangkatan raja baru. Meskipun kakaknya Putri Ambarsari mengatakan bahwa mereka akan mengangkat putri Andhini Andita menjadi raja, namun tetap saja putra pertama yang mencoba kembali menduduki singgasana sana itu.
"Putraku Ganendra Garjitha, duduklah di singgasanamu nak."
Ratu Ardiningrum Bintari mempersilahkan putranya duduk di singgasana itu. Senyuman manis mengembang di wajah Ratu Ardiningrum Bintari.
kali ini ia sangat yakin, bahwa singgasana itu akan menerima putranya. Kali ini putranya menjadi raja di kerajaan Suka Damai.
Sedangkan mereka semua memperhatikan, bagaimana Raden Ganendra Garjitha mendekati singgasana itu, dan duduk di sana dengan senyuman penuh kebanggaan karena duduk dengan tenang.
Tapi mereka semua tidak melihat kejadian apapun, selain wajah biasa. Bahkan terlihat aneh, membuat mereka semua terkejut, dan lebih terkejut lagi, melihat Raden Ganendra Garjitha terlempar, dari singgasana itu dengan keadaan yang memalukan.
Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Apakah pengangkatan raja baru akan berhasil?. Apakah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana akan segera kembali ke istana?. Temukan jawabannya.
Semoga pembaca tercinta selalu menikmati alur ceritanya ya. Semoga bermanfaat, jangan lupa vote, like, dukungannya ya agar author tetap semangat
Next halaman.
__ADS_1