RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEKUATAN BANTUAN


__ADS_3

"Aku ingatkan pada kalian agar segera bertaubat. Allah SWT masih memberikan kita kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar. Harusnya kisanak dan nisanak menyadarinya. Bukan malah menanam dendam terhadapku."


"Diam kau!. Tidak usah banyak bicara. Tidak ada manfaatnya aku mendengarkan ucapanmu."


"Lebih tidak bermanfaat lagi jika kisanak dan nisanak dendam padaku."


"Keparat busuk!. Akan aku hajar kau. Hyaaah." Kendati Gulana benar-benwe sudah tidak tahan lagi. Ia menyerang Jaya Satria. Kemarahan yang ia rasakan telah mencapai ubun-ubunnya. Sehingga ia dan istrinya Asinah Rembulan tidak mau lagi mendengarkan apa yang diucapkan oleh Jaya Satria.


Malah menyerang Jaya Satria dengan jurus letusan merapi ditengah badai yang tadi sempat tertunda. Dengan ganasnya mereka menyerang Jaya Satria. Seakan tidak memberikan celah pada Jaya Satria untuk menghindari serangan itu atau membalas serangan itu.


Sementara itu di Istana Kerajaan Suka Damai. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang telah reda dari kemarahannya merasa cemas karena Jaya Satria benar-benar berhadapan dengan sepasang pendekar yang memiliki dendam pada dirinya dimasa lalu.


"Ada apa putraku. Mengapa wajahmu terlihat cemas begitu nak?." Ratu Dewi Anindyaswari juga ikutan khawatir dengan keadaan anaknya.


"Apakah terjadi sesuatu pada jaya satria?. Katakan pada kami rayi." Putri Andhini Andita ingin tahu apa yang dikhawatirkan oleh adiknya.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya dengan beratnya. Apakah ia akan mengatakan apa yang terjadi pada Jaya Satria?.


"Ibunda. Yunda. Tidak usah khawatir. Semuanya akan baik-baik saja-."


Deg


Tiba-tiba Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terkejut. Jantungnya berdetak kencang. Tubuhnya seakan terkena pukulan keras, membuatnya tidak bisa melanjutkan lagi ucapannya.


"Ughak."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terbatuk, memuntahkan darah segar.


"Astaghfirullah hal'azim, putraku."


"Rayi prabu."


Ratu Dewi Anindyaswari dan Putri Andhini Andita sangat terkejut melihat keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang tiba-tiba terbatuk kesakitan dan memuntahkan darah?.

__ADS_1


"Putraku. Bertahanlah nak." Ratu Dewi Anindyaswari membantu anaknya agar duduk dengan baik.


"Rayi. Rayi prabu." Putri Andhini Andita tidak tega melihat kondisi adiknya. Ia tidak kuasa menahan tangisnya. Hatinya sakit melihat adiknya kesakitan.


"Rayi prabu. Katakan padaku. Apa yang bisa aku bantu rayi. Aku mohon katakan rayi." Putri Andhini Andita sangat memaksa karena ia tidak mau terjadi sesuatu pada adiknya.


"Katakan saja nak. Katakan pada yundamu. Ibunda mohon. Ibunda dan yundamu sangat mengkhawatirkan keselamatan nanda prabu juga nanda jaya satria." Ratu Dewi Anindyaswari juga mengkhawatirkan keduanya.


"Kalau begitu, bantu aku dengan menyalurkan tenaga dalam yunda. Dengan begitu tenaga dalam yang aku rasakan akan mengalir ke tubuh jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha untuk menahan sakit yang ia rasakan.


Disaat itu. Raden Hanya Hastanta dan Ratu Gendhis Cendrawati masuk ke bilik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Karena mereka sudah janji akan membahas masalah pertunangan.


"Rayi prabu?. Apa yang terjadi padamu rayi?." Raden Hadyan Hastanta sangat terkejut melihat kondisi adiknya.


"Oh dewata yang agung. Putraku nanda prabu. Mengapa nanda bisa berdarah begitu?." Ratu Gendhis Cendrawati juga ikut cemas.


"Rayi dewi anindyaswari. Apa yang terjadi pada putra kita Nanda prabu?. Apa yang terjadi rayi?. Apakah putra kita terluka?."


"Ibunda. Raka. Nanti saja saja bertanya." Putri Andhini Andita tidak mau terlalu lama membuang-buang waktu. "Raka. Ayo kita kerahkan tenaga dalam kita untuk membantu rayi prabu, juga jaya satria yang mungkin saat ini sedang bertarung dengan pendekar yang memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Kita harus segera membantunya."


"Baiklah rayi."


Keduanya segera menyalurkan tenaga dalam mereka untuk membantu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Kembali ke pertarungan. Luka yang dialami oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana adalah berasal dari Jaya Satria. Punggungnya terkena hantaman dari Asinah Rembulan yang ternyata menyerangnya dari belakang. Sementara Kendati Gulana terus mendesaknya, hingga ia tidak dapat lagi menghindar ketika Asinah Rembulan yang sudah siap dengan jurus letusan gunung merapi ditengah badai.


Pukulan itu sangat bertenaga. Bukan hanya rajanya saja yang terluka, namun juga menembus pertahanan ilmu Kanuragan yang ia miliki.


"Ohok, ohok, ohok." Jaya Satria terbatuk karena tidak dapat menahan hawa panas dipunggungnya. Hawa panas itu berbekas berbentuk telapak tangannya. Baju belakang Jaya Satria terbakar membentuk telapak tangan yang seakan tercetak di sana.


"Ternyata mereka serius ingin membunuhku." Dalam hati jaya Satria mulai merasakan kekhawatiran. Ia berusaha untuk tenang, agar luka yang ia rasakan tidak terlalu berdampak pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Hahaha. Akhirnya kau terkena juga dengan jurus mematikan milik kami raden cakara casugraha."

__ADS_1


"Nikmatilah rasa sakit akibat pukulan letusan gunung merapi ditengah badai milik kami. Ahahaha."


Keduanya seakan sudah bangga dengan apa yang mereka lakukan?. Mereka berhasil melukai Jaya Satria.


"Gusti prabu. Ampuni hamba yang telah lalai menjaga tubuh ini. Maafkan hamba yang telah membuat ibunda dan yang lainnya merasa cemas pada Gusti prabu." Dalam hatinya sangat gelisah melihat Ratu Dewi Anindyaswari ibundanya. Putri Andhini Andita, Raden Hadyan Hastanta dan Ratu Gendhis Cendrawati yang sedang terlihat cemas.


"Tenanglah jaya satria. Tetaplah fokus pada pertatunganmu itu. Gunakan pedang pelebur sukma. Segera akhiri pertarungan. Tentunya kau tidak mau menyia-nyiakan tenaga dalam yang telah disalurkan oleh yunda andhini adnita juga raka hadyan hastanta, bukan?."


"Sandika gusti prabu. Akan hamba lakukan dengan sebaik-baiknya." Jaya Satria tentunya tidak ingin mengecewakan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Perlahan-lahan jaya Satria merasakan tubuhnya kembali bertenaga. Tubuhnya kembali terasa lebih enteng dari sebelumnya.


"Terima kasih raka, yunda. Tenaga dalam yang kalian salurkan padaku tidak akan aku sia-siakan begitu saja."


Jaya Satria mengatur hawa murninya. Mengatur dengan pelan dan tenang. Memusatkan pikirannya agar tidak terlalu terbawa amarah yang akan mempengaruhi tenaga dalamnya serta kendali tubuhnya. Setelah itu ia perlahan-lahan membuat gerakan ringan.


Namun sepasang pendekar itu menghentikan tawa mereka karena melihat apa yang dilakukan oleh Jaya Satria.


"Apa yang hendak ia lakukan kakang?."


"Entahlah nini. Sepertinya dia hendak mengeluarkan sesuatu."


Benar dugaan Kendati Gulana. Jaya Satria mengeluarkan pedang pelebur sukma. Tentunya mereka terkejut melihat pedang itu.


"Pedang apa itu kakang?. Mengapa pedang itu memancarkan hawa Kegelapan?."


"Kalau tidak salah itu adalah pedang pelebur sukma. Pedang yang sempat menggegerkan dunia persilatan karena rumor yang beredar pedang itu memiliki daya serap hawa kegelapan milik orang lain ketika jantungnya ditusuk dengan pedang itu." Kendati Gulana pernah mendengar kabar berita itu ketika masih suka berkeliaran di dunia persilatan.


"Bukankah pemilik pedang itu adalah pendekar bertopeng pendekar pembunuh bayaran yang membunuh banyak nyawa dari golongan orang-orang jahat atas permintaan rakyat atau orang-orang yang menderita." Ucap Kendati Gulana sedikit penasaran apakah tebakannya benar atau salah.


"Kau benar. Aku mendapatkan pedang ini darinya. Dia yang memberikan pedang ini padaku." Jaya Satria menarik pedang itu dari warangkanya hingga terlihat jelas bagaimana hawa Kegelapan dari pamor pedang pelebur sukma.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Terima kasih banyak atas dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2