
...***...
Jaya Satria dan Putri Cahya Candrakanti telah sampai di depan gerbang Istana Kerajaan Telapak Tiga. Mereka sampai dengan aman tanpa diikuti oleh pendekar pemburu benda pusaka yang menginginkan Kipas sakti itu.
"Jadi nisanak adalah seorang putri raja?." Jaya Satria tidak menduganya.
Putri Cahya Candrakanti hanya diam menunduk, ia tidak tau harus menjawab apa.
"Maafkan hamba jika selama diperjalanan tadi hamba bersikap kurang ajar pada gusti putri."
"Ah, tidak! Jangan meminta maaf seperti itu padaku kisanak, justru aku sangat berterima kasih padamu karena telah membantu aku terbebas dari kejaran orang jahat." Ada perasaan lega di dalam hatinya saat itu.
Namun saat itu.
"Nanda putri?."
Dari arah dalam suara yang cukup keras mengalihkan pandangan mereka. Terlihat dua orang yang terhormat mendekati mereka.
"Siapakah kisanak ini? Apakah kisanak bermaksud kurang ajar pada putri saya?."
"Mohon ampun ayahanda prabu." Putri Cahya Candrakandi memberi hormat. Dia bukanlah orang jahat." Putri Cahya Candrakanti tidak ingin ayahandanya salah faham.
"Apa yang nanda putri katakan? Dia terlihat sangat mencurigakan."
"Orang bertopeng inilah yang menyelamatkan ananda dari kejaran dua pendekar pemburu benda pusaka ayahanda, ibunda."
"Oh putriku." Ratu Cahya Bhanurasmi memeluk anaknya, rasa cemas yang membayangi hatinya. "Apakah kau baik-baik saja?."
"Maaf, jika saya telah berpikiran buruk terhadap kisanak."
"Tidak apa-apa gusti prabu." Jaya Satria memberi hormat. "Wajar saja jika gusti prabu curiga pada hamba, itu mungkin karena pakaian serta topeng yang hamba kenakan, gusti." Jaya Satria sangat memahami situasi itu.
"Kalau begitu bagaimana kisanak masuk ke dalam? Mari kita berbincang-bincang sejenak, sambil melepas lelah."
"Mohon ampun gusti prabu, bukan hamba bermaksud untuk menolak permintaan Gusti prabu." Jaya Satria kembali memberi hormat. "Hamba haru segera kembali untuk menjalankan tugas hamba."
"Hanya sebentar saja, tidak akan lama."
"Aku mohon padamu, hanya sebentar saja." Putri Cahya Candrakandi terlihat sangat memohon agar Jaya Satria masuk ke dalam istana. "Bagaimana kalau mereka malah mengincarmu di perjalanan nantinya? Sedangkan aku telah aman di sini?." Ada perasaan tidak enak menghantuinya.
"Baiklah, kalau begitu hamba akan singgah sejenak."
"Mari masuk."
Jaya Satria hanya tidak tega saja melihat bagaimana raut wajah manis itu memohon padanya.
...***...
Di kerajaan Suka Damai.
Putri Andhini Andita melihat ada beberapa orang prajurit yang baru saja sampai ke istana. ia mendekatinya karena ia tidak melihat Jaya Satria diantara mereka.
"Tunggu dulu prajurit."
"Hormat kami Gusti putri."
"Bukankah kalian prajurit yang ikut serta ke istana suragawi?."
"Benar Gusti putri, kami pergi bersama pendekar jaya satria."
"Lalu kemana jaya satria? Mengapa ia tidak pulang bersama kalian?."
"Mohon ampun gusti putri, saat perjalanan pulang? Kami berpisah dengan pendekar jaya satria, ktanya ia mau mengunjungi gurunya aki jarah setandan."
"Jadi begitu ya?."
"Kalau begitu kami mohon pamit, kami akan melanjutkan tugas jaga."
"Ya, silahkan prajurit."
Putri Andhini Andita tadinya berharap jika Jaya dulu segera kembali.
"Kenapa dia malah keluyuran seenaknya saja? Pada hal aku sangat membutuhkan bantuannya." Dalam hati Putri Andhini Andita sangat kesal.
"Jangan kecewa gitu yunda." Putri Agniasari Ariani mendekati kakaknya.
"Rayi?." Ia sedikit terkejut.
"Ia hanya pergi sebentar saja, nanti juga akan kembali lagi."
"Aku hanya ingin latihan ilmu kanuragan bersamanya."
Putri Agniasari Ariani malah tertawa melihat kakaknya yang sedang manyun.
"Jadi itu penyebabnya? Apakah adikmu ini tidak dianggap lagi, sehingga yunda hanya menunggu kedatangan jaya satria?."
"Bukan seperti itu rayi." Bantahnya. "Kalau begitu, sebagai gantinya rayi saja yang mengajariku berlatih ilmu kanuragan."
"Selalu sedia yunda."
Setelah itu keduanya menuju halaman belakang istana untuk berlatih ilmu Kanuragan. Kadang mereka berdua juga sering berlatih bersama disaat jaya Satria tidak ada di istana.
...***...
Di Istana Telapak Tiga.
Putri Cahya Candrakandi menceritakan apa yang telah ia alami ketika diperjalanan.
"Pada saat ananda hendak pulang ke istana, ananda bertemu dengan dua pendekar pemburu benda pusaka." Rasa takut itu masih ada di dalam hatinya. "Mereka bisa melihat seseorang menyimpan pusaka apa saja didalam tubuhnya, dan ia bisa melihat ananda menyimpan kipas batari bawita."
"Pendekar pemburu benda pusaka?."
"Benar ayahanda." Jawabnya. "Mereka terlihat menakutkan, memiliki ambisi yang sangat kejam, membunuh siapa saja yang tidak menyerahkan benda pusaka pada mereka." Tubuhnya terasa gamang sambil mengingat apa yang telah ia lalui.
"Lantas, bagaimana nanda bisa bertemu dengan anak muda ini? Apakah dia berada di sana?."
"Saat ananda terdesak melawan mereka, Alhamdulillah hirobbil a'lamin, Allah SWT masih menyayangi ananda, dengan bantuan-?."
"Nama hamba jaya satria gusti putri." Ia memberi hormat pada Putri Cahya Candrakanti.
"Ya, jika saja tidak oleh jaya Satria? Mungkin ananda tidak akan sampai di istana ini dengan selamat ayahanda prabu."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, putriku." Ada perasaan lega di hatinya. "Ananda baik-baik saja nak." Ratu Cahya Bhanurasmi lega mendengarnya, ia takut terjadi sesuatu pada anaknya. "Ibunda sangat takut jika kau mengalami hal yang buruk."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, terima kasih jaya satria, berkat bantuan darimu putri saya baik-baik saja."
"Jangan berterima kasih kepada hamba gusti." Jaya Satria Berterima kasihlah pada Allah SWT, yang telah menggerakkan hati hamba berjalan ke arah, tempat gusti putri diserang. Hamba hanyalah perantara saja gusti."
"Apakah kamu juga seorang muslim?."
"Benar gusti ratu, tapi sebenarnya hamba adalah seorang mualaf."
"Jadi begitu? Tapi kami tetap mengucapkan terima kasih padamu jaya satria."
"Sudah menjadi kewajiban hamba menolong sesama gusti."
__ADS_1
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, masih ada orang yang berbuat baik sepertimu jaya Satria."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin kanda."
Prabu Guntur Herdian dan ratu Cahya Bhanurasmi tersenyum ramah pada jaya Satria.
Namun, tiba-tiba prajurit masuk menghadap.
"Mohon ampun gusti prabu." Ia memberi hormat. "Hamba hendak melaporkan bahwa, di gerbang istana ada dua orang Pendekar hebat, yang sedang membuat kerusuhan gusti prabu."
"Apa? Dua pendekar?."
"Jangan-jangan mereka adalah orang yang mengejar ananda, ayahanda prabu sebaiknya kita usir saja mereka."
"Kalau begitu kita lihat ke sana."
Mereka semua menuju gerbang, istana. Dan benar saja, ternyata dua orang pendekar pemburu benda pusaka yang sebelumnya berhadapan dengan putri Cahya Candrakanti.
"Hentikan!." Dengan suara yang sangat keras Prabu Guntur Herdian mencoba menghentikan kedua pendekar yang sangat ganas itu. "Berani sekali kalian menghajar prajurit istana! Kalian sangat keterlaluan!." Sang prabu terlihat murka, tidak tega melihat prajuritnya yang banyak terluka hanya karena mencegah dua orang itu masuk?.
"Kami hanya sedang berburu saja, gusti prabu."
"Kami tadinya masuk dengan baik-baik, tapi prajurit-prajurit itu malah mengusir kami! Ya kami hajar saja?."
Kedua pendekar itu dengan sangat santainya berkata seperti itu, seakan-akan tidak ada masalah dengan cara yang mereka lakukan.
"Kalian benar-benar keterlaluan!." Putri Cahya Candrakanti sangat kesal mendengarnya. Sehingga ia ingin menghajar mereka, namun ditahan oleh ayahandanya.
"Tenangkan dirimu putriku, jangan sampai terbawa amarah."
"Benar apa yang diucapkan ayahandamu, putriku." Ratu Cahya Bhanurasmi sedikit takut. "Sepertinya mereka sangat berbahaya.
"Huwah! Lihatlah adi?." Terdengar suara ceria darinya. "Kita akan mendapatkan benda pusaka yang lebih hebat dari sekedar kipas batari bawita." Bandana Sekata malah senang ketika melihat ke arah prabu Guntur Herdian. "Kita akan mendapatkan benda pusaka yang lebih hebat lagi." Matanya sampai melotot tidak percaya melihat itu.
"Siapa kakang? Apakah Raja itu? Atau permaisurinya? Mana yang akan kita ambil kakang?."
"Raja itu memiliki pusaka yang lumayan hebat adi." Wajah mereka terlihat sangat sumringah. "Pusaka yang memiliki kemampuan luar biasa hebatnya."
...***...
Di istana kerajaan Suka Damai.
Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani saat itu sedang bersama. Keduanya sudah mulai dekat sejak hari itu, tidak ada lagi permusuhan diantara mereka
"Coba katakan padaku rayi, bagaimana mungkin kau mendapatkan pedang panggilan jiwa?."
"Jika masalah itu, memang agak terasa sangat berat yunda."
"Masalah berat? Apakah itu berhubungan dengan masa lalu kita?."
"Mungkin saja seperti itu, sebab ketika aku mendapatkan pedang panggilan jiwa, saat itu hatiku sangat gelisah selama diperjalanan mengembara."
"Tapi kenapa pedang warna kehidupan? Apakah kau bisa menjelaskannya padaku?."
"Aku rasa ketika aku mengembara, aku merasakan begitu banyak melihat berbagai macam bentuk kehidupan yunda." Putri Agniasari Ariani masih ingat dengan itu. "Entah itu penderitaan, kebahagiaan, kesengsaraan, kemakmuran, sehat, sakit, biasa saja dan luar biasa, itulah yang aku lihat yunda."
"Tapi bukankah rayi Prabu juga mengalami hal yang serupa denganmu? Tapi kenapa rayi Prabu malah mendapatkan pedang panggilan jiwa pedang sukma naga pembelah bumi? Apakah itu tidak aneh?."
"Mungkin rayi Prabu mengalami perbedaan masalah yunda." Ia juga terlihat bingung." Rayi Prabu memiliki garis takdir menjadi Raja, hanya saja karena kutukannya itu membuat ia mengalami cobaan yang sangat berat."
"Aku rasa begitu." Putri Andhini Andita merasakan itu. "Tapi pedang yang kau miliki itu sangat indah sekali rayi, rasanya aku juga ingin memiliki pedang panggilan jiwa."
"Yunda pasti akan memiliki pedang itu suatu hari nanti."
"Yunda jangan berkata seperti itu, bahkan orang baik membutuhkan waktu untuk mendapatkan pedang panggilan jiwa, jadi yunda jangan berkecil hati." Putri Agniasari Ariani mencoba menyemangati kakaknya. "Yunda tenang saja, semuanya akan memiliki haknya pada saat yang tepat." Dengan senyuman lembut ia berkata seperti itu.
"Apakah aku bisa mendapatkan pedang panggilan jiwa?."
"Aku yakin yunda bisa memilikinya, teruslah berusaha dengan baik, aku akan selalu mendukung yunda."
"Terima kasih rayi, kau memang sangat baik." Putri Andhini Andita merasa terharu. "Andai saja dari dulu kita akrab seperti ini? Aku sangat yakin kita akan menjadi saudara yang lebih baik."
"Masa lalu adalah guru, masa sekarang adalah pelajaran, kita akan tetap menjadi saudara yang baik sampai kapan pun yunda."
"Ya, kau benar rayi."
Putri Agniasari Ariani dan Putri Andhini Andita sangat bersyukur karena sekarang mereka telah dan baik-baik saja.
...***...
Kembali ke kerajaan Tiga Setapak.
"Jadi kemampuan memang benar dia memiliki kemampuan melihat benda pusaka di dalam tubuh seseorang?." Dalam hati jaya Satria mulai waspada. "Ini tidak boleh dibiarkan, aku tidak akan membiarkan mereka melihat benda pusaka yang aku miliki." Dalam hati Jaya Satria melihat ke arah mereka.
"Lalu bagaimana dengan orang yang bertopeng itu?." Betung Sekata sangat penasaran. "Apakah kakang melihat ada benda pusaka di dalam tubuhnya? Mungkin saja dia menyimpan benda pusaka yang hebat."
"Belum pasti." Jawabnya. "Namun aku dapat merasakan ada aura senjata pusaka hebat darinya." Ia semakin menerawang jauh ke dalam tubuh Jaya Satria "Tapi aku tidak bisa melihatnya, seperti ada rajah gaib yang menghalangi penglihatanku." Itulah yang ia rasakan.
"Itu sangat aneh sekali kakang, apakah kau tidak bisa menembus mata batinnya?."
"Kalau begitu kita paksa dia untuk mengeluarkannya."
"Ampun gusti prabu." Jaya Satria memberi hormat. "Izinkan hamba untuk menghadapi mereka, sepertinya mereka orang yang berbahaya." Jaya Satria melihat gerak-gerik mencurigakan dari keduanya.
"Baiklah jaya satria." Prabu Guntur Herdian tidak keberatan. "Tapi saya harap kamu berhati-hati saat menghadapi mereka, jangan sampai kau terluka."
"Sandika gusti prabu." Jaya Satria kembali memberi hormat.
Jaya Satria langsung melompat ke arah dua orang itu, bertarung melawan mereka. Ia tidak akan membiarkan salah satu dari mereka membaca mata batinnya, itu akan berbahaya baginya.
"Ayahanda prabu." Putri Cahya Candrakandi memberi hormat. "Izinkan ananda untuk membantu jaya satria "
"Tapi putriku-" Ratu Cahya Bhanurasmi takut jika anaknya terlihat dalam pertarungan itu.
"Ananda mohon ayahanda." Ucapnya dengan sungguh-sungguh.
"Berhati-hatilah nanda, bantulah jaya satria menghadapi mereka." Prabu Guntur Herdian mengizinkan putrinya membantu Jaya Satria menghadapi dua pendekar pemburu benda pusaka itu.
"Tentu saja ayahanda." Setelah itu ia melompat mendekati Jaya Satria yang sedang bertarung.
"Oh? Putriku." Dalam hati Ratu Cahya Bhanurasmi sangat khawatir dengan keselamatan anaknya.
Sementara itu. Jaya Satria hanya menggunakan jurus-jurus dasar miliknya. Jurus angin menyapu angin dalam kesunyian. Meskipun begitu tetap saja mereka waspada.
"Angin sekitar tiba-tiba berubah kakang? Jurusnya memanfaatkan angin."
"Kau benar adi, ini sangat merepotkan bagi kita."
Mereka mundur beberapa langkah menjauh. Menjaga jarak karena angin sekitar tiba-tiba menjadi berat.
"Ilmu Kanuragan yang ia miliki lumayan hebat juga." Prabu Guntur Herdian merasa kagum dengan apa yang ia lihat. "Siapa dia sebenarnya?."
"Kanda benar, dua orang itu langsung menjaga jarak." Begitu juga dengan ratu Cahya Bhanurasmi. "Sepertinya jaya satria memang pendekar yang sangat hebat." Ada kekaguman yang dirasakan saat itu.
"Jaya satria, kau hebat sekali memanfaatkan angin untuk jadi senjata agar mereka menjauh." Bahkan Putri Cahya Candrakanti pun merasa kagum.
__ADS_1
"Tetaplah berhati-hati, Gusti Putri." Jaya Satria mengingatkan. "Jangan sampai lengah, mereka masih mengincar benda pusaka milik Gusti Putri." Jaya Satria berusaha untuk menjaga Putri Cahya Candrakanti dari serangan berbahaya milik musuh.
"Kakang." Ia kembali terheran. "Sepertinya orang bertopeng itu bukan orang biasa, apa yang harus kita lakukan jika kakang?." Ia tidak ingin kalah begitu saja.
"Aku akan menggunakan jurus serap raga penyedot pusaka, adi gunakan jurus serap bayang untuk mengalahkan tuan putri juga raja itu jika ikut campur nantinya." Bandana Sekata sepertinya memiliki rencana yang bagus untuk mengalahkan Jaya Satria.
"Baiklah kakang."
"Apa yang akan mereka lakukan? Aku harus waspada!." Dalam hati Jaya Satria melihat gerak-gerik mencurigakan. "Jangan sampai mereka melihat senjata pusaka yang aku miliki." Rasa khawatir mulai menyelimuti hatinya.
Sedangkan Bandana mulai menggunakan jurusnya. Ia membuat gerakan sederhana namun saat ia mengarahkan telunjuk ke arah Jaya Satrianya dengan membacakan mantram aneh, sehingga tubuhnya tidak bisa digerakkan.
"Kegh! Apa ini?!." Jaya Satria merasakan sakit yang aneh di dadanya.
"Jaya satria!." Putri Cahya Candrakanti, Ratu Cahya Bhanurasmi dan Prabu Guntur Herdian terkejut melihat itu.
Prabu Guntur Herdian ingin membantu Jaya Satria. Namun dihalangi oleh Betung Sekata dengan menggunakan jurus Serap bayang. Jurus yang menyerupai seseorang yang menyerangnya.
"Jaya satria!."
Begitu juga dengan Putri Cahya Candrakanti menghadapi bayangan dirinya sendiri, itu karena jurus dari Betung Sekata.
"Kanda prabu! Putriku." Ratu Cahya Bhanurasmi mencemaskan keduanya.
Sementara itu Jaya Satria meringis kesakitan. Selain tidak bisa bergerak, tubuhnya juga merasakan sakit yang luar biasa seakan dipaksa untuk mengeluarkan sesuatu.
"Kghakh!." Jaya Satria yang tangannya dalam keadaan terentang berteriak kesakitan yang luar biasa. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah!." Jaya Satria sedang dikendalikan musuh.
Sementara itu di Istana Suka Damai
"Ghakh!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga merasakan sakit yang luar biasa. Dalam kesakitan yang ia rasakan, ia melihat ada dua orang yang sedang berhadapan dengan jaya Satria.
"Jaya satria!." Kedua tangannya juga ikut terentang, dan sulit untuk digerakkan. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah!."
"Rayi prabu?." Kebetulan Raden Hadyan Hastanta melihat adiknya yang sedang kesakitan. "Apa yang terjadi padamu rayi prabu?." Perasaan cemas menyelimuti hatinya.
"Rrhakha, tholong akhuh! Kqeh!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meringis kesakitan, menahan sesuatu yang hendak keluar dari tubuhnya.
"Tenangkan dirimu rayi, aku akan menyalurkan tenaga dalamku." Raden Hadyan Hastanta takut terjadi sesuatu pada adiknya.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dipaksa duduk bersemedi oleh Raden Hadyan Hastanta, membuah tubuh sang prabu semakin terasa sakit, apa lagi kedua tangannya masih dalam keadaan terentang. Namun dalam keadaan seperti itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba berkomunikasi dengan Jaya Satria melalui mata batin.
"Khagkh!." Sakit yang tidak bisa ditahan lagi. "Jaya satria, dengarkan aku!."
"Gusti prabu? Kqekh! Maafkan hamba."
"Jangan sampai mereka melihat pedang pusaka pedang sukma naga pembelah bumi."
"Tapi gusti? Kekuatan mereka-!. Keghh! Tidak mudah hamba-." Jaya Satria berusaha menahan rasa sakit akibat jurus serap raga penyedot pusaka.
"Keluarlah!." Bandana Sekata terlihat semakin bersemangat. "Keluarkan pusaka yang tersimpan di dalam dirimu! Aku memanggilmu! keluarlah! Karena aku akan menjadi tuanmu yang baru!."
Bandana juga sedang berusaha untu mengeluarkan senjata pusaka yang ada di dalam tubuh Jaya Satria.
"Ghakh!." Jaya Satria berteriak kesakitan.
Kesakitan itu semakin menjadi-jadi, karena pedang Sukma Naga Pembelah Bumi perlahan-lahan ingin keluar dari tubuhnya.
"Pedang?." Matanya tidak salah dalam melihat. "Jadi pendekar itu memiliki pedang pusaka? Sangat menarik sekali." Bandana Sekata sekilas dapat melihat pedang pusaka yang luar biasa aura pamornya.
"Jaya satria?! Aku ingatkan sekali lagi! Jangan pernah kau memperlihatkan pedang itu pada siapapun! Aku marah padamu jaya satria." Dalam kesakitan itu sang prabu mengancam Jaya Satria?.
"Tidak! Jangan marah pada hamba gusti prabu! Ampuni hamba Gusti!." Entah kenapa ada perasaan takut yang menyelimuti hatinya.
"Kalau begitu jaga pedang itu! Jangan sampai berhasil direbut orang itu! Atau aku akan membunuhmu!." Kemarahan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana keluar begitu saja.
"Jangan bunuh hamba gusti! Ampuni hamba." Jaya Satria semakin takut dengan ancaman itu.
"Sialan! Orang bertopeng itu kenapa? Aku kesulitan untuk mengeluarkan senjata pusaka itu darinya?." Bandana Sekata sangat kesal.
Aura kemerahan mulai terlihat menyelimuti tubuh Jaya Satria. Membuat Bandana Sekata sedikit kewalahan untuk melakukannya.
Di istana kerajaan Suka Damai.
"Raka! Aku mohon totoklah aku dengan tenaga dalammu."
"Baiklah rayi." Raden Hadyan Hastanta menuruti langsung melakukannya.
"Ingat jaya Satria?! Aku tidak akan mengampunimu, jika kau membiarkan pedang itu jatuh ke tangan mereka! AKU AKAN MEMBUNUHMU JAYA SATRIA!"
"Tidak Gusti Prabu! JANGAN BUNUH HAMBA GUSTI PRABU!."
Kemarahan yang luar biasa hingga menghasilkan energi kekuatan yang luar biasa, hingga ia terbebas dari cengkraman Bandana Sekata.
Tentu saja itu membuat Bandana terkejut, baru kali ini ada orang yang bisa lepas dari jurusnya?
Sementara itu di istana Suka Damai
"Apa yang sebenarnya terjadi pada rayi prabu? aura kemarahan itu?." Raden Hadyan Hastanta terkejut melihat itu. "Apakah ini ada hubungannya dengan Jaya Satria? Karena itukah Rayi prabu menyuruhku untuk menotoknya dengan tenaga dalamku?." Pikir Raden Hadyan Hastanta ketika melihat keadaan adiknya yang sedang diselimuti oleh kemarahan.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa lega. "Hanya jaya satria yang mengamuk, sementara itu tubuh ini masih kaku karena ditotok oleh raka hadyan hastanta." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dapat merasakan sekaligus melihat amarah dalam diri Jaya Satria yang meledak-ledak.
......***......
Disisi lain
"Nanda prabu, jaya satria? Nanda ada dimana?." Pikiran Ratu Dewi Anindyaswari dipenuhi oleh ketakutan yang luar biasa. "Kenapa perasaanku sangat gelisah sekali."
"Ibunda? Apa yang terjadi pada ibunda?."
"Ibunda? Kenapa ibunda menangis?."
Putri Andhini Andita dan putri Agniasari Ariani yang mau beristirahat setelah berlatih tadi, tidak sengaja melihat Ratu Dewi Anindyaswari yang sedang gelisah sambil menangis.
"Dimana rayi kalian nak? Dimana nanda prabu? Ibunda mendapatkan firasat buruk tentangnya." Dalam tangisnya Ratu Dewi Anindyaswari hanya bisa mengatakan prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang dalam keadaan bahaya. Namun hatinya juga mencemaskan Jaya Satria.
Ia tidak bisa mengatakan jika sedang mencemaskan keadaan Jaya Satria. Ia sudah janji pada kedua anaknya untuk menyimpan rahasia itu.
"Bukankah rayi prabu ada di ruang depan ibunda?."
"Benar ibunda."
Ratu Dewi Anindyaswari yang sedang cemas, langsung menuju tempat yang dikatakan oleh kedua putrinya. Ia ingin memastikan bahwa kedua anaknya baik-baik saja.
"Putraku jaya satria, nanda prabu." Dalam hatinya sangat berharap jika keduanya dalam keadaan baik-baik saja. "Semoga nanda baik-baik saja nak." Dalam hatinya.
"Tenanglah ibunda."
"Benar ibunda, kami juga cemas melihat ibunda seperti ini."
Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani juga cemas melihat Ratu Dewi Anindyaswari yang setengah berlari menuju halaman depan istana.
Apakah yang akan terjadi?. Ancaman dari sang prabu itu apakah sungguhan?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1