
"Ayahanda prabu." Raden Cakara Casugraha langsung bersujud memberi hormat.
"Sakit ayahanda."
Raden Hadyan Hastanta, Raden Ganendra Garjitha, dan Raden Gentala Giandra meringis menangis kesakitan. Mereka benar-benar dramatis sehingga membangkitkan kemarahan Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Aden cakara casugraha." Ternyata Aki Puasa masih mengikuti Raden Cakara Casugraha. Ia sangat mencemaskan keadaan putra mahkota yang bernasib malang itu. Ia menangis karena melihat kondisi Raden Cakara Casugraha yang masih diselimuti oleh hawa kemerahan.
Namun disaat yang bersamaan. Ketiga permaisuri dan Putri Raja datang. Mereka terkejut dengan apa yang terjadi.
"Putraku." Ratu Ardiningrum Bintari mendekati Raden Ganendra Garjitha. "Putraku. Mengapa nanda bisa terluka seperti ini.?" Ia memangku kepala anaknya. Ia melihat keadaan anaknya yang sangat mengiris hatinya.
"Raka. Apa yang terjadi padamu raka?." Putri Ambarsari membantu Raden Gentala Giandra untuk duduk.
"Putraku. Bertahanlah." Ratu Gendhis Cendrawati membantu anaknya, Raden Hadyan Hastanta.
"Raka. Apa yang terjadi?." Putri Andhini Andita juga ikut membantu kakaknya.
Sementara itu Ratu Dewi Anindyaswari dan Putrinya Agniasari Ariani hanya memperhatikan dari jarak yang tidak jauh dari mereka. Namun matanya menangkap sosok putranya yang sedang bersujud memberi hormat pada suaminya, Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Oh putraku." Hatinya mulai cemas, berharap bahwa ini tidak ada hubungannya dengan anaknya?.
"Putraku cakara casugraha. Jelaskan pada ayahanda, mengapa semua ini bisa terjadi?. Dan mengapa nanda mengeluarkan amarah ananda?." Suara itu terdengar sangat berat. Membuat Raden Cakara Casugraha sedikit bergidik takut.
"Mohon ampun ayahanda prabu-."
"Dia berniat ingin membunuh kami ayahanda prabu." Raden Ganendra Garjitha memotong pembicaraan Raden Cakara Casugraha.
Mereka semua terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Ganendra Garjitha.
"Mohon ampun ayahanda prabu. Bukan seperti-."
"Benar ayahanda prabu. Rayi cakara casugraha tiba-tiba saja mengamuk. Menyerang kami, ayahanda prabu." Kali ini Raden Hadyan Hastanta yang menyela pembicaraan. Ia menangis sedih, seakan-akan ia memang menjadi korban dari kekejaman Raden Cakara Casugraha.
"Oh aden. Kasihan sekali Aden difitnah seperti itu." Dalam hati Aki puasa tidak tega melihat dan mendengar itu.
"Ayahanda prabu. Ananda sangat takut. Kami hampir saja mati karena dihajar oleh rayi cakara casugraha yang sangat ganas." Raden Gentala Giandra malah menangis, menyembunyikan wajahnya dipelukan adiknya Putri Ambarsari.
__ADS_1
"Tidak. Itu tidak mungkin. Itu pasti salah, kanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari sudah tidak tahan lagi dengan apa yang mereka katakan.
"Ibunda ratu dewi anindyaswari. Apakah ibunda tidak melihat bagaimana keadaan saudara-saudaraku yang terluka akibat perbuatan putra ibunda raden cakara casugraha?." Putri Andhini Andita terlihat sangat geram. Ia tidak rela kakaknya disakiti siapapun termasuk oleh Raden Cakara Casugraha.
"Yunda. Bersikap sopanlah pada ibundaku. Jangan tinggikan nada suara yunda dihadapan ibundaku." Putri Agniasari Ariani merasa marah?. Tentu saja ia tidak suka.
"Diam kau rayi agniasari ariani. Aku sudah cukup bersabar dengan apa yang dilakukan oleh adikmu itu." Putri Andhini Andita juga marah.
"Rayi dewi anindyaswari. Apakah kau tidak bisa mendidik anak-anakmu agar lebih bersikap lebih sopan lagi?. Anakmu ingin membunuh putraku!. Apakah itu yang kau ajarkan padanya!." Bentak Ratu Ardiningrum Bintari dengan suara keras.
"Diam kau ardiningrum bintari!. Tidak udah kau meninggikan suara jelekmu pada ibundaku!." Raden Cakara Casugraha bangkit, ia menunjuk kidal ke arah Ratu Ardiningrum Bintari. Kemarahannya telah memuncak, hingga hawa kemarahan itu semakin meningkat.
Prabu Kawiswara Arya Ragnala sampai mundur beberapa langkah menghindari hawa kemarahan itu, karena hawa kemarahan itu semakin terasa panas, dan lebih ganas.
Sementara itu mereka semua semakin terkejut karena Raden Cakara Casugraha hanya menyebutkan nama Ratu Ardiningrum Bintari tanpa memanggilnya dengan sebutan ibunda ratu.
"Oh putraku." Ratu Dewi Anindyaswari sangat terkejut dengan perubahan hawa kemarahan anaknya.
"Rayi." Putri Agniasari Ariani juga terlihat cemas. Ia takut adiknya semakin mengamuk.
"Kau sangat kurang ajar sekali pada ibundaku, rayi cakara casugraha." Putri Ambarsari mendekati Raden Cakara Casugraha.
"Tutup mulutmu ambarsari. Aku tidak menunjukkan sikap sopanku pada orang yang tidak pernah menghargai keberadaan ibundaku." Balasnya.
"Raden Cakara Casugraha."
Kali ini bukan Putri Ambarsari yang membentak. Melainkan Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang sudah tidak tahan lagi dengan situasi ini.
"Mohon ampun ayahanda. Tapi itulah kenyataannya. Ibunda ratu dewi anindyaswari diperlakukan kasar oleh mereka. Ananda tidak ikhlas, tidak rela. Melihat ibunda serta yunda yang ananda sayangi dianggap sampah di istana ini oleh mereka semua." Raden Cakara Casugraha mengungkapkan semua yang ia rasakan.
"Itu semua karena perbuatan busukmu! Aku-." Belum sempat Putri Ambarsari melanjutkan pembicaraannya, ia telah diserang dengan sebuah pukulan kuat oleh Raden Cakara Casugraha. Tubuhnya terlempar ke belakang, namun masih sempat disambut oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Putriku." Ratu Ardiningrum Bintari langsung mendekati putrinya yang kesakitan.
"Putri ambarsari." Ratu Gendhis Cendrawati terkejut melihat itu.
"Yunda ambarsari." Putri Andhini Andita juga mendekati kakaknya itu.
__ADS_1
"Sakit ayahanda." Putri Ambarsari meringis kesakitan. Terlihat jelas diraut wajahnya yang menggambar betapa sakitnya ia saat ini setelah menerima pukulan itu.
"Kanda prabu. Lihatlah kanda. Kanda bisa melihat sendiri bagaimana raden cakara casugraha sampai hati memukul putri Dinda." Ratu Ardiningrum Bintari menangis sedih, memeluk putrinya yang kesakitan.
"Apakah kanda prabu masih diam saja setelah apa yang dilakukannya pada kedua putra dinda, dan sekarang dia menyakiti putri dinda." Tangis itu begitu pilu, menyentuh hati.
"Kanda prabu. Kanda bisa melihat bagaimana kondisi putra kami. Apakah kanda tidak kasihan pada putra kami?." Ratu Gendhis Cendrawati juga menangis, melihat keadaan anaknya yang terluka.
"Kanda. Dinda minta keadilan dari kanda prabu."
Mereka semua menuntut keadilan apa pada sang prabu?.
"Tidak usah banyak sandiwara lagi. Benar-benar memuakkan. Apakah seperti itu yang ada dipikiran seorang permaisuri raja." Raden Cakara Casugraha sudah muak dengan tingkah laku mereka.
"Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari semakin cemas. Ia tidak mau anaknya semakin mendapatkan masalah.
Prabu Kawiswara Arya Ragnala mendekati Raden Cakara Casugraha.
"Kau sudah sangat keterlaluan, cakara casugraha." Prabu Kawiswara Arya menatap tajam ke arah putra bungsunya itu.
"Mohon ampun ayahanda prabu. Ananda sering kali melihat mereka bersandiwara. Memfitnah ibunda ratu dewi anindyaswari dengan mulut kurang ajar mereka."
"Jaga ucapanmu cakara casugraha." Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu Gendhis Cendrawati sudah tidak tahan lagi.
"Kalianlah yang harus menjaga ucapan kalian." Raden Cakara Casugraha semakin terbawa amarah.
Sementara itu prabu Kawiswara Arya Ragnala memang tidak bisa berdiam diri lagi. Siapa sangka ia malah menyerang putra bungsunya itu.
"Aden."
"Putraku."
"Rayi."
Aki Puasa yang tadinya diam menangis sambil memperhatikan mereka semua terkejut melihat bagaimana Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghajar anaknya. Begitu juga dengan Ratu Dewi Anindyaswari dan Putri Agniasari Ariani.
Apa yang akan terjadi berikutnya?. Bagaimana nasib dari Raden Cakara Casugraha?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.