
...***...
"Ooh jadi kau sudah kau sudah mengetahui siapa dia sebenarnya?." Pemuda itu sedikit terkejut. "Aku!. Sabisana Duryana menantangmu bertarung." Ucapnya lagi, sambil menyebutkan namanya.
Sementara itu, mereka yang berada di pinggir Padang Bunga Petik Setangkai malah bersorak kegirangan. Membuat Raden Cakara Casugraha memperhatikan wajah mereka yang dipenuhi kebahagiaan?.
"Lihatlah, sorak sorai mereka yang menginginkan pertarungan kita." Sabisana Duryana masih bersikap santai, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.
"Hadirin sekalian. Kalian bisa menjadi saksi pertarunganku dengan orang asing ini." Ia mengeraskan suaranya, sehingga benar-benar menjadi pusat perhatian mereka. "Akan aku berikan semuanya pada pendekar asing ini. Jika ia berhasil mengalahkan aku." Lanjutnya lagi. Penonton yang mendengarkan itu malah semakin bersorak gembira. Mereka melihat pertunjukan yang lebih menantang dari yang sebelumnya?.
Lalu bagaimana dengan Raden Cakara Casugraha?. Telinganya sangat panas mendengarkan sorak sorai mereka yang memanasi keadaan.
"Bagaimana?. Apa kau takut berhadapan-."
Belum sempat ia melanjutkan ucapannya, ia mendapatkan sebuah hantaman di dadanya. Sebuah tendangan yang begitu kuat mengenai dadanya. Siapa lagi kalau bukan Raden Cakara Casugraha pelakunya. Mereka yang melihat itu tercengang, dan tidak bersuara satupun. Karena serangan itu begitu cepat, hampir saja mereka tidak melihatnya jika tidak mendengarkan suara teriakan kesakitan Sabisana Duryana.
"Kau benar-benar bajingan busuk!." Sorot mata itu semakin tajam. Hawanya juga telah berbeda. Hawa kemerahan telah menyelimuti tubuhnya, membuat ia terlihat berbeda dari yang sebelumnya.
"Aku tidak akan mengampuni lelaki biadab seperti kau!." Ia tarik kuat baju Sabisana Duryana, sehingga pemuda itu meringis kesakitan.
"Kau telah salah menantang cakara casugraha. Kau akan mati karena telah berani membuat aku marah." Ia hempas kuat tubuh itu, hingga Sabisana Duryana kembali meringis kesakitan.
"Dan kalian semua!." Hatinya yang sedang dikuasai kemarahan, melihat ke arah mereka semua. "KENAPA KALIAN HANYA DIAM SAJA, KETIKA ADA SEORANG WANITA YANG SUDAH LEMAH TIDAK BERDAYA, DIANIAYA DI DEPAN MATA KALIAN." Kemarahan Raden Cakara Casugraha semakin besar. Ia sangat murka karena mereka sama sekali tidak peduli dengan keselamatan Putri Tanjung Raya?.
"AKAN AKU BUNUH KALIAN SEMUANYA." Teriak Raden Cakara Casugraha penuh dengan amarah yang luar biasa. Ia memainkan jurus dasarnya, jurus angin menyapu pekarangan.
Mereka semua sangat panik, lari berhamburan meninggalkan tempat. Karena angin disekitar mereka berubah menjadi ganas. Mereka berteriak ketakutan. Mereka semua tidak menyangka, orang asing itu menyerang mereka semua.
Dalam kepanikan yang terjadi. Sabisana Duryana mencoba untuk menyerang Raden Cakara Casugraha.
"Berani sekali kau meremehkan aku." Sabisana Duryana menyerang Raden Cakara Casugraha dengan jurus andalannya. Sayangnya Raden Cakara Casugraha yang sedang dikuasai oleh kemarahannya, lebih ganas menyerangnya. Dihajar habis-habisan oleh Raden Cakara Casugraha.
Pukulan, tendangan, yang dilambari tenaga dalam dari kemarahan Raden Cakara Casugraha, membuat Sabisana tidak bisa berkutik lagi. Tubuhnya sakit semua karena menerima serangan yang bertubi-tubi.
"Matilah kau dalam kebusukan." Raden Cakara Casugraha benar-benar tidak bisa memaafkan apa yang telah dilakukan oleh Sabisana Duryana kepada Putri Tanjung Raya.
__ADS_1
"Huaakh." Sabisana terpental jauh. Ia muntah darah, karena tenaga dalam yang menghajar tubuhnya itu sangat berbeda. Tingkatannya lebih tinggi, ia tidak bisa menahan serangan itu walaupun sudah dibendung dengan tenaga dalam pula. Akan tetapi, tenaga dalam Raden Cakara Casugraha lebih kuat darinya.
"Aku akan kembali suatu hari nanti." Setelah berkata seperti itu. Ia melompat pergi meninggalkan Raden Cakara Casugraha.
"Benar-benar pecundang." Raden Cakara Casugraha merasa kesal. Ia ingin mengejar Sabisana Duryana, namun.
"Tuan pendekar. Tuan pendekar. Tolong bantu aku." Wanita emban itu memanggil Raden Cakara Casugraha sambil menangis panik.
Raden Cakara Casugraha segera mendekatinya. Ia melihat kondisi Putri Tanjung Raya yang sangat parah. Ia mencoba mengambil alih, menyalurkan tenaga dalamnya. Semoga dengan begitu, ia bisa membantu Putri Tanjung Raya.
Sayangnya tidak ada respon sama sekali. Tubuhnya tidak menerima tenaga dalam yang disalurkan oleh Raden Cakara Casugraha.
Karena panik, Raden Cakara Casugraha memutuskan membawa Putri Tanjung Raya ke istana Sepat Rapih. Putri Tanjung Raya harus segera mendapatkan pengobatan dari tabib Istana.
Begitu sampai di Istana.
"Oh putriku." Prabu Mahardika Bandana dan Ratu Mayasari Bhakti merasa sedih saat kepulangan anaknya.
"Ibunda. Ayahanda." Putri Tanjung Raya menangis sedih. Suaranya terdengar sangat kecil, hampir saja tidak terdengar.
"Mengapa engkau masih tidak mau mendengarkan apa yang ayahanda katakan." Hati sang Prabu sangat sedih. Satu-satunya anak perempuan yang ia miliki. Namun kondisinya saat ini.
"Maafkan...." Sepertinya Putri Tanjung Raya semakin kesakitan, membuat Prabu Mahardika Bandana dan Ratu Mayasari Bhakti semakin panik.
"Maafkan ananda." Setelah berkata seperti itu. Putri Tanjung Raya tidak bergerak lagi. Sakit yang mendera tubuhnya tidak bisa ia tahan lagi.
"Tidak!. Tidak!." Prabu Mahardika Bandana menangis keras sambil memeluk tubuh anaknya. "Jangan tinggalkan ayahanda nak." Sang Prabu menangis dengan kerasnya. Hatinya tidak karuan karena anaknya meninggal?.
"Putriku. Bangun nak. Bangun." Ratu Mayasari Bhakti semakin menangis. Hatinya seperti disayat sembilu karena kehilangan putri yang ia cintai?.
Raden Cakara Casugraha tidak kuasa melihat itu. Ia memilih pergi dari sana. Ia berusaha untuk tidak menangis. Dadanya terasa sesak melihat air mata yang membanjiri bilik Putri Tanjung Raya.
"Ibunda. Ibunda." Raden Cakara Casugraha menangis sambil menyebut ibundanya. "Ibunda. Mengapa mereka dengan mudahnya menyakiti orang lain ibunda." Raden Cakara Casugraha menangis sedih.
Ia mencoba menenangkan dirinya, ia duduk di Pandopo Istana. Ia mencoba untuk melepaskan sakit yang mendesak dadanya.
__ADS_1
"Ibunda. Mengapa orang lain mudah sekali menyakiti dan bahkan sampai hati membunuh." Ucapnya dengan perasaan sedih. "Semoga ibunda baik-baik saja di sana. Nanda selalu berharap, suatu hari nanti nanda mampu menghilangkan kesedihan yang nanda rasakan. Nanda janji ketika pulang nanti. Nanda akan membuat ibunda bahagia dari siapapun di dunia ini." Raden Cakara Casugraha bersumpah tidak akan pernah menyakiti atau membuat ibundanya bersedih.
"Maafkan nanda, jika nanda pernah menyakiti hati ibunda. Dalam pengembaraan ini, ananda akan memperbaiki semuanya ibunda." Raden Cakara Casugraha benar-benar mengungkapkan kesedihannya.
(maaf jika foto Raden Kian Santang yang saya gunakan 😅)
Disisi lain. Prabu Mahardika Bandana mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha. Tadinya ia ingin marah pada Raden Cakara Casugraha yang tidak bisa menjaga keselamatan anaknya. Tapi hatinya luluh juga saat melihat kesedihan Raden Cakara Casugraha.
"Anak muda itu sangat menghargai perasaan wanita. Dia bahkan memikirkan ibundanya. Sungguh anak yang baik." Prabu Mahardika Bandana sangat kagum pada Raden Cakara Casugraha. Ia kembali ke bilik anaknya, untuk mengurus pemakaman anaknya.
Setelan pemakaman selesai. Prabu Mahardika Bandana kembali berbincang-bincang dengan Raden Cakara Casugraha.
"Meskipun putriku tidak bisa diselamatkan, tapi setidaknya kau telah menghajar lelaki biadab itu." Hatinya sangat sedih, ia sangat kecewa.
"Maaf, jika hamba telah mengecewakan gusti prabu. Hamba tidak menyangka akan terjadi seperti itu." Raden Cakara Casugraha merasa menyesal.
"Aku tidak menyelahkanmu anak muda." Prabu Mahardika Bandana mencoba untuk menguatkan hatinya. "Semuanya terjadi atas kehendak dewata yang agung." Lanjutnya lagi.
Raden Cakara Casugraha hanya diam saja. Ia menyimak apa yang akan diutarakan oleh Prabu Mahardika Bandana. "Seperti janjiku, aku akan mengangkatmu menjadi senopati agung kerajaan sepat rapih." Prabu Mahardika masih ingat dengan janjinya.
"Mohon ampun gusti prabu. Hamba tidak bisa menerima jabatan itu. Hamba harus melanjutkan pengembaraan. Karena banyak yang harus hamba pelajari selama pengembaraan." Raden Cakara Casugraha mengatakan alasannya.
"Baiklah kalau itu yang kau inginkan anak muda." Prabu Mahardika Bandana tidak bisa memaksakan Raden Cakara Casugraha untuk menerima tawarannya.
"Terima kasih atas pengertiannya gusti prabu." Raden Cakara Casugraha memberi hormat pada Prabu Mahardika Bandana.
"Jika aku boleh meminta. Aku ingin mengetahui nama aslimu. Aku yakin kau bukan dari golongan bawah." Prabu Mahardika Bandana sedikit penasaran dengan identitas Raden Cakara Casugraha.
Haruskah ia mengatakan siapa ia yang sebenarnya?. Baiklah, sang prabu hanya ingin mengetahui nama aslinya sajakan?.
"Hamba cakara casugraha gusti prabu." Jawabnya dengan senyuman ramah.
"Sungguh nama yang sangat bagus. Pantas saja kau memiliki hati yang baik." Prabu Mahardika Bandana merasa kagum dengan arti nama Raden Cakara Casugraha. "Akan aku namamu, jika suatu hari nanti kita bertemu lagi. Cakara casugraha, kau adalah pendekar yang sangat baik hati." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
Setelah itu ia pamitan pada Prabu Mahardika Bandana, untuk melanjutkan pengembaraannya. Apa yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Jangan lupa tinggalkan jejak. Gelap itu tidak baik.
...*** ...