RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEMARAHAN DAN KASIH SAYANG


__ADS_3

...***...


Saat sang Prabu menuju ke halaman depan Istana, sang prabu terkejut melihat kondisi yang sudah tidak terkendalikan lagi.


"Ya Allah, apa yang sedang terjadi sebenarnya?." Dalam hati sang prabu merasa iba dengan apa yang ia lihat. Ia tidak tega melihat prajuritnya dihajar oleh rakyat yang sedang marah.


Sang Prabu mengatur nafasnya, ia mencoba memberi tenaga dalam melalui hembusan nafasnya, dan ia membaca shalawat badar. Mereka yang tadinya mengamuk terdiam karena mendengar suara indah itu.


Di waktu yang bersamaan Raden Ganendra Garjitha dan saudara-saudaranya yang lain terheran melihat itu. Mengapa mereka semua terdiam saat mendengarkan suara merdu dari adiknya untuk menenangkan mereka?.


Setelah dua kali mengulangi bacaan sholawat badar, sang prabu mengatur hawa murninya, dan ia menatap mereka semua.


"Lihatlah!. Bagaimana sang prabu menggunakan sihirnya, untuk membuat kalian semua menjadi tenang."


Tiba-tiba saja dua orang wanita muda datang, wajah mereka tidak bisa dilihat karena tertutup oleh caping itu.


Mereka yang menyadarinya, kembali bersuara dan marah-marah. Apakah benar rajanya melakukan sihir?.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah."


Sang prabu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh mereka. Begitu juga dengan Syekh Asmawan Mulia dan Pedanda istana.


"Kalian semua hentikan." Syekh Asmawan Mulia dan Pedanda Istana berusaha untuk menenangkan mereka semua.


"Tenanglah kalian semua. Yang saya bacakan tadi itu adalah sholawat badar. Sholawat untuk meminta perlindungan kepada Allah SWT, juga untuk menenangkan kalian yang sedang marah. Itu bukanlah sihir." sang prabu berusaha untuk menjelaskan kepada mereka, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang menimbulkan perpecahan bagi mereka.


"Jika yang saya baca tadi adalah mantra sihir, saya yakin kalian akan kesakitan atau menderita. Karena sihir adalah kekuatan jahat, bukan kekuatan menenangkan hati yang mendengarnya." Sang prabu tidak habis pikir mengapa mereka mudah terpengaruh?.


"Jangan dengarkan dia!. Dia hanya membela diri saja!. Yang dia katakan adalah sebuah kedustaan belaka." Putri Ambarsari memanasi mereka semua agar tidak mempercayai rajanya?.


"Sudahlah Gusti prabu!. Janganlah engkau mencoba membela diri." Mereka semua marah pada sang prabu.


"Kami tidak Sudi dipimpin raja yang zalim seperti kau!."


Teriakan-teriakan kemarahan keluar dari mulut mereka semua. Tidak ada satupun dari mereka yang mau mendengarkan sang prabu. Kemarahan telah menguasai diri mereka, sehingga suasana semakin panas.


"Kau bekerja sama dengan tukang sihir!. Keluarkan dukun itu!. Akan kami hukum dukun itu!." Teriakan itu, perkataan itu begitu menyakitkan. Tuduhan-tuduhan kepada sang prabu, mengatakan orang bertopeng yang selama ini melindungi mereka adalah dukun sihir?.


"Aku yakin rayi Prabu tidak akan bisa berkutik lagi." Raden Ganendra Garjitha sangat senang melihat kemarahan rakyat Suka Damai, hatinya terasa puas.


"Bagus!. Kalau perlu hajar saja raja kalian itu." Raden Gentala Giandra tidak akan pernah melupakan kejadian hari ini. Dimana seorang raja diserang oleh rakyatnya sendiri.


"Kau bisa merasakan penderitaannya rayi prabu."


putri Ambarsari dan Putri Andhini Andita tersenyum puas, mereka semua merasa bangga hati karena telah berhasil membuat raja dibenci oleh rakyatnya.


Sementara itu di dalam Istana.


Ratu Dewi Anindyaswari yang sedang belajar, tiba-tiba mendengarkan suara keributan.


"putraku cakara casugraha." Nalurinya sebagai seorang ibu mengatakan bahwa terjadi sesuatu pada anaknya.


"Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari langsung meninggalkan kamarnya, ia ingin melihat apa yang terjadi di luar.


"Gusti ratu."


Ayudiyah Purwati menyusul Ratu Dewi Anindyaswari, ia merasa bertanggungjawab atas keselamatan ratunya itu.


Kembali ke luar halaman Istana.


Kemarahan itu semakin menjadi-jadi, tiba-tiba ada seorang pemuda yang mengambil tombak prajurit, dan pemuda itu mendekati prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia berjalan dengan cepat, ia mengayun tongkat itu ke arah sang prabu. Mereka semua yang ada di sana menjadi saksi, apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu.


Tapi siapa sangka, sebelum tombak itu hendak mengenai sang prabu, sosok bayangan hitam datang melindungi sang prabu, dengan tangannya ia menangkis serangan itu.


Mereka semua terkejut, termasuk sang prabu itu sendiri. Ternyata orang yang melindungi sang prabu adalah Jaya Satria.


"Keqh."


Sang prabu dan Jaya Satria meringis sakit, karena pangkal tombak itu menggores pergelangan tangan Jaya Satria.


"Nanda prabu!."


Syekh Asmawan Mulia dan Pedanda Istana terkejut, melihat aksi nekat pemuda yang menyerang sang prabu.  Ia yang berada di belakang sang prabu tidak bisa mencegah serangan itu.


"Putraku!."


Kebetulan saat itu Ratu Dewi Anindyaswari melihat kejadian itu, ia sangat cemas, dan segera menghampiri putranya.


"Gusti ratu!."

__ADS_1


Ayudiyah Purwati mengikuti Ratu Dewi Anindyaswari dari belakang, ia harus selalu dekat dengan ratunya.


Sedangkan Jaya Satria?. Ia mendorong pemuda itu agar menjauhinya. Mereka semua melihat itu, melihat kemarahan orang bertopeng yang beberapa kali menolong mereka dari marabahaya yang mengancam penduduk kota raja.


"Putraku. Putraku cakara casugraha. Nanda baik-baik saja nak?." Ratu Dewi Anindyaswari memeriksa putranya.


Disaat sang Ratu sedang mencemaskan keadaan anaknya, Jaya Satria menghadang pemuda yang menyerang prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Kalian!." Jaya Satria tidak dapat menahan amarahnya, tubuhnya mulai memancar aura merah.


Para Pedanda istana dan Syekh Asmawan Mulia yang menyaksikan itu merasa cemas, mereka takut suasana akan semakin kacau karena kemarahan Jaya Satria.


"Nanda jaya satria. Syekh guru mohon tenangkan dirimu!."


Syekh Asmawan Mulia berusaha untuk mengingatkan Jaya Satria, jangan sampai menuruti amarahnya.


"Kalian ini manusia!. Bukannya binatang!." Suaranya sangat terdengar keras, hingga mengalihkan pandangan Ratu Dewi Anindyaswari. Ia seperti mengenali suara itu, serta aura kemarahan itu.


Sementara mereka terdiam. Tidak berani menjawab ataupun berbuat sesuatu, termasuk Raden Ganendra Garjitha dan saudara-saudaranya yang lainnya yang ikut berbaur dengan rakyat Suka Damai.


"Bukankah sudah aku katakan pada kalian!. Untuk menggunakan akal pikiran kalian, sebelum mendapatkan informasi apapun yang kalian terima!." Hatinya panas, namun ia masih bisa menahannya.


"Nanda prabu. Cobalah untuk berbicara dengan mereka."


Pedanda Istana mengkhawatirkan keadaan yang nantinya semakin kacau, jika kemarahan itu tidak bisa dikendalikan.


"Baiklah. Saya akan mencobanya."


prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga tidak mau Jaya Satria lepas kendali.


"Jaya satria, tenangkan dirimu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghampiri Jaya Satria, mengingatkan Jaya Satria agar tidak terbawa emosi.


"Oh putraku."


Ratu Dewi Anindyaswari terkejut melihat ada noda merah di pergelangan tangan putranya. Ia ingin mengatakan tapi rasanya belum waktu yang tepat, karena putranya sedang berhadapan dengan rakyatnya.


Tapi disisi lain, matanya juga menangkap darah yang sama di pergelangan tangan orang yang tadinya melindungi putranya. Hatinya terasa bergetar gemuruh, ia merasakan perasaan cemas. Ia tadi sangat jelas melihat, yang terkena serangan itu hanyalah orang itu, sementara itu anaknya berada dibelakangnya?.


Kita tinggalkan perasaan penasaran Ratu Dewi Anindyaswari, kita lihat bagaimana sang prabu menyelesaikan masalah yang terjadi?.


"Jaya satria. Aku mohon tenangkan dirimu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menepuk pundak Jaya Satria, ia tidak mau ada kemarahan dalam penyelesaian masalah ini.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah."


"Lagi?. Aku membuatnya sedih."


Seketika hatinya luluh, ia menjatuhkan dirinya dihadapan sang prabu, bersujud dihadapan sang prabu. Ia menangis, menangis karena dirinya yang lemah.


Sementara itu mereka semua yang menyaksikannya, melihat bagaiman isak pilu itu begitu terasa menusuk hati.


"Maafkan hamba gusti prabu. Jika kehadiran hamba, hanya membuat gusti prabu difitnah oleh rakyat, dengan mengatakan bahwa hamba adalah seorang dukun." Hatinya terasa perih mendengarkan apa yang mereka teriakkan tentang dirinya.


"Hamba bersumpah demi Allah, yang maha melihat dan menyaksikan apa yang telah hamba lakukan."


Sumpah diucapkan jaya Satria beriringan dengan suara petir yang menyambar, membuat mereka semua terkejut.


"Hamba melakukan kebaikan. Melindungi mereka semua Demi Allah. Hamba bersumpah, jika hamba seorang dukun, maka kutuklah hamba"


Lagi, suara petir seakan menyambut sumpah dari Jaya Satria.


"Suara petir ini, seperti suara sumpah seorang raja dihadapan rakyatnya ketika diadili." Pedanda istana yang telah berpengalaman, seakan mengenali suara sambutan petir jikala seorang raja mengucapkan sumpahnya.


Sementara mereka tidak percaya mendengarkan apa yang dikatakan Pedanda istana?. Maksudnya itu Jaya Satri adalah seorang raja?. Tidak mungkin ada dua raja dalam satu kerajaan.


"Itu mustahil!." Raden Ganendra Garjitha tidak mengerti sama sekali.


"Maksudnya orang bertopeng itu ada kemungkinan memiliki potensi menjadi raja?." Dalam hati putri Andhini Andita mencoba mengambil kesimpulan seperti itu jika memang benar.


"Jelaskan pada kami gusti prabu, siapa orang yang bertopeng itu gusti prabu."


Raden Hadyan Hastanta yang menyamar menjadi rakyat biasa menyuarakan seperti itu, membuat mereka semua ikutan.


Jaya Satria bangkit, ia menghadap ke arah mereka semua. Matanya melirik ke arah sang prabu.


"Saya adalah abdi setia mendiang gusti prabu kawiswara arya ragnala. Dan sekarang saya adalah, abdi setia gusti prabu asmalaraya arya ardhana." Jaya Satria langsung menjelaskan kepada mereka agar tidak salah faham.


"Tapi kenapa kau menggunakan penutup wajah, apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan dari kami?."


Masih ada pertanyaan dari mereka, yang membuat mereka semua penasaran akan sosok dibalik topeng itu.

__ADS_1


"Apakah kau nantinya diam-diam merebut tahta kerajaan suka damai? Kau yang sekarang tidak ingin memperlihatkan wajahmu, bisa jadi nanti meniru wajah sang prabu, dan kau berniat menggantikan sang prabu."


Mereka menghujani Jaya Satria dengan pertanyaan-pertanyaan yang menusuk.


"Demi Allah. Saya menggunakan penutup wajah ini bukan ada niat jahat sedikitpun, kepada junjungan saya prabu asmalaraya arya ardhana."


Ucapan itu diiringi suara petir keras, membuat mereka terkejut, dan ada yang berteriak karena kaget.


"Bagi saya. Meskipun saya memiliki potensi untuk menjadi raja. Prabu asmalaraya arya ardhana adalah raja yang saya hormati." Lagi, kali ini suara petir itu lebih keras dari yang tadi.


"Siapakah dia sebenarnya?. Mengapa aku dapat merasakan aura putraku padanya?."


Ratu Dewi Anindyaswari merasakan ikatan batin dengan orang misterius itu. Entah mengapa ia merasakan ketulusan dari ucapan orang itu.


"Dengarkan kalian semua!. Saya bukanlah seperti yang kalian pikirkan!. Saya melindungi kerajaan ini dengan jalan yang benar, hanya saja saya tidak ingin memperlihatkan siapa saya."


Jaya Satria ingin meluruskan permasalahan yang membuat mereka berpikiran buruk pada sang prabu.


"Jaya Satria. kau lebih tenang sekarang. Alhamdulillah hirobbil a'lamin." prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa tenang melihat itu, ia dapat merasakannya sendiri.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, nanda jaya satria sudah bisa mengendalikan amarahnya." Begitu juga dengan Syekh Asmawan Mulia yang merasa tenang


"Saya hanya tidak ingin kalian melihat wajah yang buruk rupa ini. Saya hanya tidak ingin kalian membenci gusti prabu, hanya karena kondisi wajah saya." Jaya Satria memegang topeng yang ia gunakan.


"Jaya satria."


Batin Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa cemas melihat itu, apakah ia akan memperlihatkan wajahnya pada mereka?.


"Ya, kami hanya ingin melihat wajahmu!." putri Andhini Andita membuka suaranya.


"Baiklah. Akan saya perlihatkan. Tapi satu syarat." Jaya Satria mengajukan syarat pada mereka.


"Setelah ini. Kalian berjanjilah, bahwa kalian harus memikirkan setiap apa saja yang kalian dapatkan. Apapun informasi mengenai prabu asmalaraya arya ardhana, kalian harus mencaritahu kebenarannya. Jangan mudah terpengaruh oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab."


Mata itu melirik pada orang-orang yang mencurigakan, mereka yang merasa diperhatikan langsung terkejut, dan berusaha bersembunyi.


Jaya Satria memegang kuat topeng itu, ia mencoba membukanya, mereka menunggunya dengan perasaan berdebar-debar. Seburuk apakah wajah itu sehingga ia mengenakan topeng?. Apakah ada bekas luka?.


Namun ketika ia ingin melepaskan topeng itu, tangannya ditahan oleh Ratu Dewi Anindyaswari. Mereka semua terkejut dengan apa yang dilakukan oleh ratu kerajaan Suka Damai.


"Jika kau tidak ingin memperlihatkannya, kau tidak usah memaksakannya nak"


Air mata ratu Dewi Anindyaswari jatuh berderai, entah mengapa tangannya bergerak sendiri menahan tangan itu agar tidak memperlihatkan wajahnya.


"Kau tidak perlu melakukannya. Aku percaya kau adalah orang yang baik nak."


Hatinya berkata ada sesuatu yang membuatnya ingin melindungi pemuda itu.


"Ibunda."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa terharu melihat itu, tanpa sadar ia menangis, air matanya jatuh begitu saja.


"Terima kasih, gusti ratu."


Jaya Satria juga menangis, ia merasakan sentuhan kelembutan seorang ibu yang sangat ia inginkan. Selama bersembunyi dibalik topeng itu, ia tidak bisa merasakannya.


"Terima kasih."


Jaya Satria menggenggam tangan Ratu Dewi Anindyaswari, ia tidak dapat menahan perasaan rindunya.


"Jangan menangis nak. Kau harus kuat."


Ratu Dewi Anindyaswari tidak mengerti, mengapa ia berkata seperti itu. Ia hanya mengikuti nalurinya sebagai seorang ibu, yang hendak melindungi anaknya saat membutuhkan pertolongan.


"Entah mengapa aku melakukannya."


Dalam hati ratu Dewi Anindyaswari memikirkannya, bahkan ia mengusap sayang kepala pemuda itu seakan ia sedang mengelus kepala putranya.


Ratu Dewi Anindyaswari menatap mereka semua, mereka menatap mereka dengan pandangan lembut penuh kasih sayang.


"Pemuda ini adalah orang kepercayaan mendiang kanda prabu kawiswara arya ragnala." Ratu Dewi Anindyaswari ikut menjelaskan.


"Jika kalian mengenali kanda prabu. Pasti kalian tidak akan kecewa, karena tidak mungkin kanda prabu bekerjasama dengan pendekar golongan jahat. Bahkan kanda prabu menyuruh putranya untuk memeluk agama islam, agama yang baik. Jadi tidak memungkin pemuda itu orang jahat." Ucapnya dengan lembut, sambil menatap Jaya Satria.


"kalian tidak boleh menyimpulkan dari satu pihak saja. Kalian harusnya membuka telinga satunya lagi, sebagai perbandingan untuk mencaritahu sebuah kebenaran."


Apakah mereka semua akan mendengarkan apa yang akan dikatakan Ratu Dewi Anindyaswari?. Temukan jawabannya, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.


Next halaman.

__ADS_1


...***...


__ADS_2