RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEMARAHAN DALAM PERTARUNGAN


__ADS_3

...****...


Tampaknya Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani kewalahan menghadapi nini kabut bidadari.


"Yunda, kita harus bisa mengalahkannya. Jika tidak, kita yang akan dikalahkan yunda."


"ya itu benar. Aku akan menggunakan jurus nampak angin gempar, jurus yang diajarkan jaya satria padaku. Sementara itu kau alihkan perhatiannya, sedangkan aku mencoba memusatkan ilmu kanuraganku."


"Baiklah yunda, kita akan melakukannya dengan hati-hati. Supaya dia tidak menyadari rencana yang telah kita buat yunda."


Tenaga mereka cukup terkuras, karena itulah putri Andhini Andita yang dianugerahi kemapuan untuk mengatur siasat, mencoba untuk bertarung dengan akal dibandingkan banyak menggunakan tenaga.


"Kalian tidak perlu berbicara berbisik-bisik seperti itu. Sebentar lagi juga kalian aka mati ditanganku."


"Diam kau nenek tua!. Kami tidak akan mudah menyerah hanya karena kau lebih tua dari kami."


"Kurang ajar!. Berani sekali kau menyebutku nenek tua!. Rupanya kalian ingin mati di tanganku!." Nini Kabut Bidadari sangat murka. Ia tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita.


Ya, Putri andhini andita memang sengaja memancing kemarahan dari nini kabut bidadari. Ia menganggukkan kepalanya, memberi kode pada adiknya untuk menyerang.


putri Agniasari Ariani mengeluarkan pedang kecil panjang yang ia simpan dengan tenaga dalamnya. Pedang dengan sarung merah menyala bergaris hitam putih, gagang pedang itu senada dengan sarungnya. Begitu juga dengan isinya yaang memancarkan aura merah hitam dan putih yang melambangkan watak manusia.


"Pedang warna kehidupan?." Nini Kabut Bidadari sepertinya mengenali pedang yang berada di tangan Putri Agniasari Ariani.


pedang yang dimiliki oleh putri agniasari bukanlah sembarangan pedang. Pedang itu adalah pedang panggilan jiwa yang ia miliki dari jiwa keturunan Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta. Begitu juga dengan Raden Hadyan Hastanta.


Pedang panggilan jiwa sendiri adalah pedang yang lahir dari hati yang bersih, keturunan langsung dari Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta. Pedang yang tidak semuanya bisa dipanggil datang begitu saja.


Jurus dasar pedang itu adalah mengeluarkan kekuatan angin, maka jurus pedang itu adalah jurus pedang pusaran angin meniti kehidupan, yang tergambar pada pedang Warna Kehidupan yang berada digenggaman tangannya.


Ayunan pedang itu sangat cepat, hampir tidak bisa dibaca oleh mata biasa. Gerakan itupun menipu hingga nini kabut bidadari beberapa kali terkena pukulan dari gagang pedang itu, walaupun pelan, namun pengaruhnya lumayan berbahaya.


"Rayi agniasari arinani sangat hebat. Bukan hanya pandai memainkan jurus, akan tetapi ia juga bisa memanggil pedang panggilan jiwa." Dalam hati Putri Andhini Andita merasakan perasaan cemburu. Ia bahkan tidak mengetahui cara memanggil pedang panggilan jiwa itu.


Sementara itu. Nini Kabut Bidadari sepertinya terkena gagang dari Pedang Warna Kehidupan.


"Oqhogh." Nini Kabut Bidadari mundur beberapa langkah. Tubuhnya terasa sakit hanya karena terkena gagang saka?. Apalagi pedang itu memancarkan aura merah, menyiratkan pemilik pedang itu sedang marah. Itu sangat mengganggu bagi Nini Kabut Bidadari.


"Sialan, pedang itu sungguh sangat menyulitkan aku untuk menyentuhnya." Nini Kabut Bidadari tidak menyangka, akan menghadapi musuh yang memiliki pedang aneh.


"Pedang ini, bukan ciptaan dari tangan manusia, melainkan ciptaan dari panggilan jiwa kami yang merupakan keturunan dari prabu bahuwirya jayantaka byakta. Jadi panggilan jiwa kemarahan yang aku miliki saat ini, bisa menjadi kekuatanku untuk mengalahkanmu!."


"Oh, pantas saja aku tidak bisa menyentuhnya. Sepertinya jiwamu sedang bergejolak, karena itulah pedang itu memancarkan aura warna yang menyilaukan.'' ucap Nini Kabut Bidadari mulai merasa gusar karena pedang itu memang tidak mudah ia patahkan. Selama ini, sudah banyak pedang yang berhasil ia patahkan. Namun siapa sangka, pedang Warna Kehidupan berbeda dengan pedang yang lainnya.


Namun saat ia sedang memikirkan cara mengatasi pedang itu, ia dikejutkan dengan serangan cepat. gerakan seseorang yang sedang menyentuh tubuhnya, akan tetapi serangan itu cukup mengejutkan tubuhnya seperti terkena sengatan listrik.


"Keqh." Ia meingis sakit, dan ia berusaha fokus untuk mlihat siapa yang menyerangnya.


"Kurang ajar, itu adalah jurus nampak angin gempar." Dalam hatinya mengumpat marah. Ia salurkan tenaga dalamnya ke telapak tangannya, ia hantam kuat ke arah perut orang yang menyerangnya itu.


"Eqhaaak."


"Yunda."


Putri Andhini Andita


mengerang kesakitan, tubuhnya terlempar ke arah Putri Agniasari Ariani. Untungnya adiknya itu bisa menangkap tubihnya, jika tidak ia akan terguling ke tanah.


"Aku sangat marah, benar-benar marah!." Nini Kabut Bidadari mengeluarkan jurus andalannya. Matanya melotot lebar, ia satukan telapak tangannya. Ia keluarkan seluruh tenaga dalamnya, hingga keluar kabut merah dari tubuhnya. Kabut yang disertai dengan racun berbahaya.


"Yunda, kita harus berhati-hati. Wanita itu mengeluarkan jurus aneh."


"Sepertinya itu jurus yang cukup berbahaya,,, ubbhaak." Putri Andhini Andita terbatuk karena tidak tahan dengan serangan tadi.


"Yunda bertahanlah." Putri agniasari sangat mengkhawatirkan keadaan kakaknya. Di samping itu, Nini Kabut Bidadari merapal mantram untuk memperkuat jurusnya.


"Jiwaku jiwa berkelana, jiwaku yang membawa amarah."


"Yunda, kita harus menggunakan jurus pelindung. Racun itu akan melukai kita-."


Belum sempat putri agniasari mengatakan pada kakaknya, ia sudah terkena pukulan keras dari Nini Kabut Bidadari. pukulan itu mengenai perut kirinya.


"qhaaakqh." Tubuh putri agniasari terlempar jauh ke belakang, ia terhempas ke tanah. Tubuhnya terasa sangat sakit, ada darah segar keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Rayi." Putri Andhini Andita sangat terkejut melihat adiknya yang berguling di tanah dengan keadaan terluka parah.


Dan saat itu pula, Nini Kabut Bidadari memanfaatkan kelengahan Putri Andhini Andita. Ia hantam punggung Putri Andhini Andita hingga berteriak kesakitan, kondisinya sama dengan putri agniasari.


...****...


Semetara itu di istana kerajaan Suka Damai. Kedua ratu suka damai merasakan firasat buruk mengenai putri mereka.


"Astagfirullah ya Allah. Apa yang terjadi pada putriku." Ratu Dewi Anindyaswari yang baru saja menyelesaikan melaksankan sholat zuhur merasa gelisah. Ia memikirkan putrinya yang saat ini sedang berada di kerajaan kegelapan.


"Rayi, rayi dewi." Terdengar suara Ratu Gendhis Cendrawati dari arah luar, dan ia masuk ke kamar Ratu Dewi Anindyaswari dengan paniknya sambil menangis sedih.


"Yunda, ada apa yunda?. Mengapa yunda begitu gelisah?. Katakan yunda."


"Rayi dewi." Ia memeluk erat ratu Dewi Anindyaswari sambil menangis sedih. Hatinya begitu gelisah, membuatnya tidak nyaman sama sekali.


"Demi dewata yang agung, aku mendapatkan firasat buruk tantang putriku, dan putrimu rayi. Mereka mengalami kesulitan saat menghadapi musuh yang lebih kuat dari mereka rayi."


"Astaghfirullah halazim ya allah. Ternyata kita memiliki firasat buruk yang sama yunda. Aku sangat mencemaskan mereka semua."


"Kita harus bagaimana rayi dewi?. Aku sangat takut dengan keadaan anak-anak kita."


"Bersabarlah yunda. Semoga saja anak-anak kita baik-baik saja."


"Semoga saja mereka baik-baik saja rayi dewi."


"Aamiin ya Allah. Semoga saja."


Kecemasan seorang ibunda pada anak-anaknya, ketika mereka jauh dari jangkauan. Selalu cemas, memikirkan keselamatan mereka. Hanya do'a penguat mereka untuk meyakinkan bahwa anak-anak mereka baik-baik saja. Apakah kekhawatiran mereka hanyalah bentuk kecemasan saja?. Temukan jawabannya.


...***...


Kembali ke pertarungan.


pedang yang dipegang oleh putri Agniasari Ariani menghilang entah kemana, karena tidak ada lagi aura semangat dari diri putri agniasari ariani dalam keadaan seperti ini. Karena itulah pedang itu menghilang, hawa kehidupan yang hilang bersama Putri Agniasari Ariani yang sedang terluka.


"Yunda!."


Jaya Satria yang sedari tadi bertarung dengan Prabu Wajendra Bhadrika, akhirnya pikirannya teralihkan dengan suara teriakan kesakitan dari Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani. Tanpa sadar ia memanggil keduanya dengan sebutan yunda atau kakak?.


"Kurang ajar!. Dia malah kabur!."


Prabu Wajendra Bhadrika merasa kesal, namun ia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Jaya Satria dengan meninggalkan pertarungan.


Sedangkan Jaya Satria terbelalak kaget, karena melihat keadaan Putri Agniasari Ariani terluka parah. Ada noda darah di mulut serta lehernya. Mata itu terpejam erat, artinya putri agniasari saat ini tidak sadarkan diri?.


Matanya juga melihat kondisi Putri Andhini Andita yang hampir sama. Mendadak emosinya memuncak tinggi, hingga aura merah lepas dari tubuhnya, matanya memerah menyala, sepasang  taring putih panjang menghiasi bibirnya.


Jaya Satria dengan pelan menggendong putri Agniasari Ariani, ia baringkan tubuh putri Agniasari Ariani di tepi pohon, yang dapat mengalaskan tubuh Putri Agniasari Ariani agar tidak terlalu berbaring di tanah. Begitu juga dengan Putri Andhini Andita yang tidak sadarkan diri. Jaya Satria menggendongnya, membaringkannya di sebelah putri Agniasari Ariani.


"Tunggulah sebentar, yunda. Akan aku bunuh orang yang telah membuat yunda berdua terluka seperti ini." Amarah telah menguasai dirinya. Ia berdiri sambil menatap kosong pada keduanya.


Setelah itu, tiba-tiba keluar sebilah pedang yang aneh, pedang kecil namun, lengkungan pedang itu mirip naga. Jaya Satria membalikkan tubuhnya, menatap tajam ke arah Nini Kabut Bidadari.


DEG


Nini Kabut Bidadari sangat terkejut melihat penampilan Jaya Satria yang terlihat mengerikan dari yang sebelumnya. Bagaimana mungkin ada sepasang taring di bibir ranum itu?. Sebenarnya siapa dia?.


Sementara itu di sisi lain.


Prabu Asmalayata Arya arahan yang sedag betarung dengan Putri Gempita Bhadrika. Tubuhnya juga memancarkan aura merah menyala. Penampilannya sama dengan Jaya Satria saat ini. Di tangannya ada pedang yang sama juga dengan Jaya Satria.


"Apa yang terjadi sebenarnya?. Mengapa penampilannya seperti itu?." Ia bertanya-tanya karena heran dengan penampilan sang Prabu.


Sedangkan Raden Hadyan Hastanta yang berhasil memukul mundur Segala geni, mengalihkan pandangannya ke arah Jaya Satria, dan ia terkejut saat melihat pedang itu.


"Bukankah itu pedang sukma naga pembelah bumi?. Bagaimana bisa jaya satria mempunyai pedang itu?. Pedang yang seharusnya dimiliki oleh keturunan prabu bahuwirya jayantaka byakta." Raden Hadyan Hastanta sangat tidak percaya itu, namun ucapannya menarik perhatian prabu Wajendra Bhadrika, Nini Kabut Bidadari, dan juga Syekh Asmawan Mulia serta Perapian Suramuara yang tadi sempat terlupakan dalam pertarungan penting itu.


"Rayi prabu, apa maksudnya ini?. Mengapa jaya satria bisa menggunakan pedang tingkat tertinggi dari pewaris eyang prabu?. Katakan padaku rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta melihat adiknya yang berhenti bertarung dengan Putri Gempita Bhadrika. ia ingin adiknya menjelaskan alasan itu.


Tapi?.


"Diamlah raka!. Kau tidak tau betapa besarnya kemarahan yang aku rasakan saat ini!."

__ADS_1


Ketika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Raden Hadyan Hastanta. "Nenek tua itu melukai yundaku!. Yunda andhini andita dan juga yunda agniasari ariani, dan kau masih saja bertanya kepadaku, apakah kau pikir aku memiliki waktu untuk menjelaskan semua itu?." Setelah itu ia berjalan cepat menghampiri jaya satria.


"Kemarahan rayi prabu ketika marah. Itu mengingatkan aku pada masa lalu, ketika kami sering memancing kemarahannya. Tapi mengapa pedang itu bisa menjadi dua?. Sebenarnya siapa jaya satria?. Tidak mungkin orang biasa bisa memanggil pedang panggilan jiwa. Apalagi memanggil pedang tertinggi pedang sukma naga pembelah bumi." Raden Hadyan Hastanta tidak percaya, jika ia melihat dua pedang kembar tertinggi dari pewaris prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Nanda prabu, nanda jaya satria. Kendalikan kemarahan kalian, cepat mengucap kalimat istighfar. Jangan sampai nanda berdua dikuasai oleh amarah." Syekh Asmawan mulia mencoba mengingatkan keduanya, namun tidak didengarkan.


"Jaya satria." Paman Perapian Sukamara juga terejut melihat itu, karena ia dulu juga pernah melihat penampilan itu.


Sedangkan prabu Wajendra Bhadrika, dan putrinya penasaran, bagaimana bisa ada dua orang memiliki kemarahan yang sama?. Benar-benar orang yang mencurigakan dan penuh tanda tanya.


"Kau!. Berani sekali kau menyakiti yundaku!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengacungkan pedangnya ke arah Nini Kabut Bidadari.


"Kita habisi saja dia, hamba tidak rela karena dia telah melukai yunda andhini andita juga yunda agniasari ariani."


"Ya, kita habisi dia. Todak akan aku ampuni dia karena telah membuat yundaku terluka." Amarah semakin memuncak dari dalam tubuh mereka, mangsa telah berada di depan mata mereka, dan bersiap-siap untuk menyerangnya.


"Apa?. Jaya satria mengatakan yunda?. Apakah aku tidak salah dengar?."


Di saat seperti itu, Raden Hadyan Hastanta masih bisa menangkap ucapnya jaya satria yang mengatakan yunda?. Apa maksudnya?. Nanti kita jelaskan. Kita simak bagaimana nasib Nini Kabut Bidadari yang menjadi target dari pedang sukma naga pembelah bumi milik prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


"Kurang ajar!. Kenapa tiba-tiba aku merasa gentar?. Kakiku seakan terpaku ditanah, aku merasakan firasat buruk yang akan menimpa diriku!."


Dan benar saja, tanpa ia duga, prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria melesat cepat ke arahnya, mengayunkan pedang itu ke arahnya.


"Keqh, hqaaaaaaaaaaaaaaak."


Nini ka5but Bidadari berteriak keras. Selain merasakan sakit, sukmanya yang keluar dari tubuhnya seakan terbelah menjadi dua, dicabut paksa oleh pedang itu. Tak lama kemudian, Nini Kabut Bidadari jatuh ke tanah, tubuhnya pucat pasi dengan mulut menganga lebar, mata melotot lebar karena menahan sakit yang luar biasa.


Mereka yang menyaksikan itu sangat terkejut. Itulah akibat dari tebasan pedang Sukma Naga Pembelah Bumi. konon kabar yang beredar, satu tebasannya dapat membunuh siapa saja dalam hitungan satu jam. Namum ini digunakan dua orang sekaligus.


"Nini kabut bidadari." Putri Gempita Bhadrika yang ingin mendekati Nini Kabut Bidadari, namun ditahan oleh ayahandanya.


"Sebaiknya jangan mendekat, atau kau akan celaka putriku." Ia tidak mengerti mengapa itu terjadi. Namun yang ia tangkap, pedang yang digunakan kedua orang itu sangat berbahaya.


"Nanda prabu, nanda jaya satria. Sykeh guru mohon agar nanda berdua mengendalikan amarah. Jangan turuti kemarahan itu nanda." Syekh Asmawan Mulia mendekati mereka, mencoba untuk menenangkan amarah mereka.


"Tenangkan diri nanda. Sadarlah nanda prabu, tenangkan pikiran kalian, ingatlah Allah-."


Namun ketika Syekh Asmawan Mulia belum sempat melanjutkan kata-katanya, ia telah ditotok oleh jaya satria, hingga membuat syekh guru tidak bisa bergerak.


"Mereka yang jahat harus kami singkirkan, syekh guru." Ucap Jaya Satria dengan penuh amarah yang luar biasa.


"Jaya satria."


"Jika paman perapian suramuara tidak ingin bernasib sama dengan syekh guru, sebaiknya jangan mencoba untuk mencegah kami." Kali ini Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang berbicara.


Perapian Suramuara sangat memahami kemarahan itu, ia hanya diam saja, ia tidak akan berani membantah.


"Kurang ajar!. Jangan sombong dulu kau!. Hanya karena kalian telah membunuh nini kabut bidadari dengan menggunakan pedang itu. Bukan berarti aku takut padamu!." Segala Geni sangat marah, ia tidak terima kematian Nini Kabut Bidadari. Ia melompat ke arah mereka, dan menantang untuk bertarung.


"Kita lihat saja dulu situasinya putriku, apakah mereka mampu melawan segala geni." Prabu Wajendra Bhadrika berkata pada anaknya.


"Baiklah ayahanda." Ia juga ingin melihat apa yang akan terjadi, ia juga penasaran.


"Siapa jaya satria sebenarnya?. Mengapa ia memiliki aura kemarahan yang sama dengan rayi prabu?." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta bertanya-tanya. Karena itu bukanlah suatu kebetulan, namun ini kejadian yang tidak pernah ia duga sebelumnya.


"Raka, cepat salurkan hawa murnimu pada yunda andhini andita." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melirik ke arah Raden Hadyan Hastanta.


"Sandika rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta tidak membantah. Karena ia tidak mau kena dampak kemarahan adiknya itu.


"Paman perapian suramuara, tolong lepaskan syekh guru. Tolong bantu yunda agniasari ariani, aku mohon kali ini agar tidak untuk menghalangi kami membinasakan mereka." Meskipun masih dikuasai oleh amarah jaya Satria masih bisa berkata sopan pada paman Perapian Suramuara. Dan ia tidak mau menjadi murid durhaka, karena telah berani menotok gurunya.


"Baiklah jaya satria. Akan aku lakukan apa yang kau inginkan." Ia hanya menurut, dari pada Jaya Satria semakin mengeluarkan amarahnya.


"Kau!. Kau juga akan menyusul temanmu!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengancam Segala Geni.


"Majulah kalian, aku tidak takut sama sekali."


Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saling melirik satu sama lain, menganggukkan kepala mereka.


"Majulah!." Segala Geni mengeluarkan senjatanya juga berupa tameng api yang sangat panas, ia akan menggunakan tameng api untuk menangkis sabetan dari pedang sukma naga pembelah bumi.


"Dengan kekuatan yang aku miliki, akan aku segel kekuatan kalian tanpa sisa. Setelah itu akan aku bunuh kalian berdua." Segala Geni yang memiliki jurus yang dapat menghilangkan kekuatan seseorang merasa percaya diri. Tapi apakah ia mampu melakukannya?. Temukan jawabnya.

__ADS_1


Vote nya kakak.


...****...


__ADS_2