
...***...
Istana Kerajaan Suka Damai.
Ratu Dewi Anindyaswari sangat senang anaknya baik-baik saja. Tadinya ia sangat mengkhawatirkan keadaan anaknya yang diselimuti oleh kemarahan.
"Apa yang terjadi sebenarnya, katakan pada ibunda nak." Ratu Dewi Anindyaswari terlihat sedih?. "Sudah lama rasanya nanda tidak semarah itu. Apa yang terjadi pada raka mu nak?." Tentunya sebagai seorang ibu, ia mengetahui jika sumber itu berasal dari anaknya, raga asli anaknya.
"Raka prabu sangat marah pada seorang raja yang sangat kejam ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjawab pertanyaan ibundanya. "Apalagi saat raka prabu melihat bagaimana mereka yang tewas di sana menyimpan dendam yang sangat membara ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang menahan kesedihan yang ia rasakan saat itu.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Putraku cakara casugraha." Ratu Dewi Anindyaswari tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan anaknya saat itu. "Tapi tetap saja nak. Nanda prabu jangan mengikuti kemarahan yang merugi itu nak. Ibunda tidak mau terjadi sesuatu pada nanda." Ya, sebagai seorang ibu itulah yang ia rasakan. Kecemasan yang ia rasakan sangat dalam, hingga ia tidak bisa membiarkan anaknya merasakan kesedihan.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencium tangan ibundanya. "Maafkan nanda ibunda. Sungguh maafkan nanda. Kemarahan yang dirasakan raka prabu saat ini, adalah bentuk kesedihan yang sangat dalam. Sungguh maafkan nanda, ibunda." Dengan perasaan sedih ia meminta maaf pada ibundanya. Perasaan bersalah karena telah membuat ibundanya merasa sangat sedih.
"Nanda harus bisa menjaga amarah nanda. Jangan sampai nanda dikuasai oleh kemarahan yang berlebihan." Ratu Dewi Anindyaswari mengusap sayang kepala anaknya. Itu adalah ungkapan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. "Ibunda mohon, bantulah rakamu dalam menjaga amarahnya nak."
"Nanda akan berusaha dengan baik ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menenangkan diri. "Tapi ananda tidak bisa berjanji pada ibunda. Karena jika nanda berjanji, maka akan terasa sangat berat untuk menepatinya ibunda. Nanda hanyalah manusia biasa yang ingat pada janji, namun tanpa sadar kadang nanda melanggarnya karena keadaan." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa sangat berat, atau karena benar-benar lupa?. Tapi yang pasti, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria atau nama aslinya Raden Cakara Casugraha sebisa mungkin akan melakukan yang terbaik.
Sementara itu masih dilingkungan istana kerajaan Suka Damai.
Raden Jatiya Dewa sedang mengitari taman istana. Saat itu ia tidak sengaja bertemu Putri Andhini Andita yang terlihat sedang sedih. Rasanya sangat aneh melihat keadaan Putri Andhini Andita seperti itu sekarang.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Raden Jatiya Dewa mengucapkan salam, karena ia tidak mau membuat Putri Andhini Andita terkejut dengan kedatangannya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Balas Putri Andhini Andita.
__ADS_1
"Apakah hamba boleh duduk di sini gusti Putri?." Dengan perasaan yang sungkan ia bertanya pada Putri Andhini Andita. "Maaf, jika kiranya hamba mengganggu Gusti Putri."
"Silahkan raden." Putri Andhini Andita merasa tidak keberatan sama sekali. "Panggil saja namaku. Jangan kaku begitu. Lagipula kau adalah seorang pangeran jatiya dewa. Rasanya aneh saja dipanggil seperti itu oleh Raden."
"Baiklah, andhini andita." Agak ragu, tapi apa boleh buat bukan?. "Tapi apakah aku boleh memanggilmu nimas?." Dalam hatinya ingin berkata seperti itu, namun belum berani.
"Aku tidak tahu harus berkata apa padanya." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran mereka saat itu.
Setelah itu tidak ada pembicaraan diantara mereka. Karena keduanya masih canggung, apalagi dengan apa yang terjadi pada mereka sebelumnya. Hingga Raden Jatiya Dewa memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Gusti prabu mengatakan, jika istana ini sedang berkabung. Karena calon menantu kerajaan suka damai mengalami-." Ia melihat kesedihan di mata Putri Andhini Andita. Sehingga ia tidak melanjutkan ucapannya.
"Kami telah berjanji akan bertemu dengannya jatiya dewa." Putri Andhini Andita mencoba untuk tegar. "Tapi ia malah datang dalam keadaan seperti itu." Putri Andhini Andita menghela nafasnya yang terasa sangat lelah.
"Jadi begitu?." Dalam hatinya sangat gelisah mendengarkan ucapan Putri Andhini Andita yang tampak terluka. "Sebesar apa cinta yang kau rasakan padanya?." Raden Jatiya Dewa mencoba untuk menekan perasaan cemburunya dalam keadaan yang seperti itu.
"Mungkin aku tidak akan sanggup untuk kehilangannya. Tapi sebenarnya apa yang telah terjadi padanya?. Sehingga ia malah datang dalam keadaan yang seperti itu?. Apakah ia adalah cinta pertama mu?." Entah kenapa hatinya tidak terima, sakit. Namun ia hanya ingin memastikannya bahwa pangeran yang katanya akan menjadi calon suaminya itulah yang membuat Putri Andhini Andita jatuh cinta pada pandangan pertama?.
"Tidak. Namun cinta pertama yang aku rasakan pada rayiku, raden cakara casugraha." Ia tidak menyembunyikan apapun pada Raden Jatiya Dewa tentang perasaannya saat itu.
"Raden cakara casugraha?." Raden Jatiya Dewa mengulang kata-kata Putri Andhini Andita. "Apakah aku tidak salah dalam mendengar?." Dalam hatinya sangat terkejut mendengarnya.
"Ya. Aku memang telah jatuh cinta pada rayiku cakara casugraha." Jawabnya sambil mengingat masa lalu.
"Tapi bagaimana mungkin itu bisa terjadi?." Ia bingung.
__ADS_1
"Ya. Sebelumnya aku jatuh cinta pada rayiku sendiri." Putri Andhini Andita hanya tersenyum kecil. "Mungkin itu rasanya agak aneh bagimu."
"I-i-itu sangat aneh sekali. Ba-bagaimana mungkin kau bisa mencintai rayimu sendiri?." Raden Jatiya Dewa hampir saja kehilangan kata-kata. "Rasanya sangat tidak percaya sama sekali." Raut wajahnya terlihat sangat aneh.
"Ahaha!. Kau ini lucu sekali jatiya dewa." Putri Andhini Andita malah tertawa geli melihat ekspresi Raden Jatiya Dewa.
"Tapi itu memang sangat aneh andhini andita. Aku baru pertama kali mendengar kisah cinta satu darah seperti yang kau alami." Raden Jatiya Dewa memang merasa aneh. Sementara itu Putri Andhini Andita malah semakin tertawa geli melihat raut wajah Raden Jatiya Dewa. "Apakah aku tidak bisa memiliki kesempatan untuk mendapatkan dirimu andhini andita." Akhirnya Raden Jatiya Dewa mengatakan apa yang ingin ia katakan.
Putri Andhini Andita menghentikan tawanya, ia tidak menduga bahwa Raden Jatiya Dewa akan berkata seperti itu setelah ia mengalami kepahitan?.
"Mungkin apa yang aku katakan sungguh tidak pada saat yang tepat, namun rasanya-." Raden Jatiya Dewa merasa berat mengatakannya, namun terasa sesak jika ia tahan juga terasa sangat berat.
"Ya. Aku mengerti perasaan seperti itu. Karena aku pernah merasakan perasan itu." Ya, Putri Andhini Andita pernah merasakan perasaan mencintai seseorang. Sehingga ia ingin mengungkapkan perasaan yang ia rasakan saat itu.
"Ya, tentunya kau merasakan perasaan itu andhini andita." Raden Jatiya Dewa mencoba untuk tersenyum, walaupun terasa sangat pahit.
"Kau tidak usah berkecil hati jatiya dewa. Karena perasaan cinta akan datang dengan sendirinya. Jika kau bisa meyakinkan seseorang, bahwa perasaan cinta yang kau rasakan itu lebih besar dari yang lainnya." Bukan berarti Putri Andhini Andita tidak menghargai bagaimana perasaan Raden Jatiya Dewa padanya. Ia hanya tidak mau Raden Jatiya Dewa merasa kehilangan perasaan cintanya setelah merasakan perasaan yang membuncah di dalam dirinya saat ini.
"Ya." Raden Jatiya Dewa tersenyum kecil. Ia memahami apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita. "Untuk saat ini aku tidak ingin memaksakan kehendak. Memaksakan perasaan cintaku. Apalagi dalam keadaan seperti ini, jadi aku harus bersabar." Dalam hatinya. "Tapi, apakah suatu hari nanti aku bisa memiliki kesempatan untuk mendapatkan cintamu andhini andita?." Raden Jatiya Dewa tidak ingin menyerah begitu saja untuk mendapatkan cinta dari seorang wanita yang sangat ia cintai?.
"Aku tidak janji, namun itu semua tergantung dari usaha yang kau lakukan nantinya." Putri Andhini Andita hanya tersenyum kecil. Apakah itu artinya ia memberikan kesempatan pada Raden Jatiya Dewa untuk mendapatkan cintanya?.
"Aku akan berusaha dengan baik. Lihat saja pada waktunya. Aku akan membuktikan, bahwa jatiya dewa tidak akan main-main dalam perasaan cinta terhadap seorang wanita yang ia cintai." Raden Jatiya Dewa seperti memiliki semangat hidup, sehingga ia akan melakukannya dengan segenap hatinya.
"Semoga Allah SWT meridhoi apa yang kau inginkan jatiya dewa." Putri Andhini Andita juga merasakan ketulusan yang disampaikan oleh Raden Jatiya Dewa. Hanya saja saat ini ia belum bisa menerima cintanya Raden Jatiya Dewa setelah apa yang ia rasakan.
__ADS_1
Apakah akan ada jalinan asmara diantara mereka nantinya?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...